Dikhianati istri sendiri, Kai kehilangan segalanya. Yang tersisa hanyalah putrinya, Aurelia — satu-satunya cahaya yang perlahan padam karena penyakit mematikan. Di titik terendah, darah yang tertidur ribuan tahun akhirnya bangkit.
Ia bukan lagi orang yang bisa diinjak. Garis keturunan Naga Tertinggi kini mengalir di uratnya. Ia bersumpah:
Yang mengkhianati akan berlutut. Kota yang membuang akan tunduk. Aurelia akan hidup — walau harus melawan surga sekalipun.
Namun kekuatan naga membuka gerbang dunia lain. Pengkhianatan itu bukanlah akhir, melainkan awal rencana gelap yang melintasi waktu. Kai kini harus melintasi dimensi, menguasai bela diri kuno, dan memimpin tim ke tempat yang tak pernah manusia jangkau. Dan di tengah badai pembalasan, ia paham: kekuatan terbesar bukanlah kemampuan menghancurkan, tapi alasan untuk melindungi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanto Hl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 26 — Gerbang Dunia yang Terlupakan
Langit di belakang mereka perlahan memudar, dan saat Kai menoleh ke belakang, Lembah Akar Pertama telah lenyap — seakan tempat itu hanya menampakkan dirinya sejenak, bagi mereka yang cukup layak untuk melihatnya. Namun satu hal tetap nyata: di kejauhan, di tempat cahaya dan bayangan menyatu, gerbang kecil itu masih berdiri — terbuka, memancarkan sinar keemasan samar yang berdenyut lembut, seakan bernapas.
"Itu bukan jalan pulang," gumam Kaelan, matanya menatap gerbang itu lekat-lekat. "Itu jalan ke tempat yang tak ada catatannya. Para leluhur menyebutnya Rantai Dunia yang Terlupakan — ribuan alam yang terputus dari keseimbangan utama, ditinggalkan, dilupakan, dan kini tumbuh sendiri tanpa penjaga."
Elowen melangkah ke sampingnya, suaranya tenang namun penuh peringatan. "Tempat-tempat itu tidak dijaga bukan karena tidak penting — tapi karena dianggap berbahaya. Di sana, hukum bela diri kuno bercampur dengan kekuatan yang tak dikenal. Siapa pun yang masuk… bisa berubah selamanya."
Kai menatap gerbang itu, lalu ke arah teman-temannya — wajah mereka tak berkerut ketakutan, melainkan penuh tekad. Ia teringat pesan tempat itu: Hidup sesuai apa yang Aurelia ajarkan. Dan Aurelia tidak pernah mundur dari mereka yang membutuhkan pertolongan.
"Dunia-dunia itu mungkin terlupakan," ucapnya tegas. "Tapi penghuninya tidak pantas ditinggalkan sendirian. Jika ada yang membutuhkan pertolongan… kita pergi."
Ren tersenyum tipis, tangannya sudah bersiap. "Kau memimpin, kami mengikuti."
Bersama-sama, mereka melangkah melewati gerbang itu. Udara berubah seketika — terasa lebih tajam, lebih hidup, penuh aroma hutan lembap dan logam yang ditempa. Saat pandangan kembali jernih, mereka berdiri di tepi sebuah lembah luas yang dikelilingi pegunungan berapi yang memancarkan cahaya merah keunguan. Langit di atas berwarna ungu tua, dengan dua bulan yang melintas perlahan, dan di kejauhan, menara-menara batu tinggi menjulang — namun bukan megah, melainkan rusak, sebagian hancur, sebagian tertutup tanaman merambat tebal.
"Di mana kita?" tanya Lyra, membuka buku catatannya yang kini bersinar samar.
Lira — salah satu leluhur yang ikut menemani mereka — mengerutkan dahi. "Ini Dunia Bara. Dulu tempat ini penuh kekuatan api kuno. Penduduknya ahli menempa senjata dari tenaga murni. Tapi ratusan tahun lalu… komunikasi terputus. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi."
Belum sempat mereka melangkah lebih jauh, suara dentang logam dan teriakan terdengar dari bawah tebing tempat mereka berdiri. Mereka mengintip ke bawah — di sebuah lapangan terbuka, sekelompok pemuda dan pemudi berusaha menahan serangan makhluk-makhluk berkulit keras seperti batu, mata mereka menyala merah, gerakan mereka kasar dan mematikan. Jumlah mereka jauh lebih banyak daripada pembela itu, dan perlahan namun pasti, lingkaran pertahanan mereka menyusut.
"Mereka kalah," kata Elara, tangannya sudah mencengkeram gagang pedang. "Kita turun?"
"Kita turun," jawab Kai tegas.
Mereka melompat turun, mendarat di antara makhluk-makhluk itu tanpa ragu. Kai mengeluarkan kekuatan naga — cahaya keemasan meledak dari tubuhnya, mendorong makhluk-makhluk itu mundur. Kaelan di sisi lain, tenaga peraknya memotong jalan mereka. Elara, Ren, Dagan, Lyra, Lirael — semuanya bergerak serempak, seperti satu tubuh dengan banyak tangan. Dalam sekejap, makhluk-makhluk itu mundur, menghilang ke dalam kabut yang tebal di kaki bukit.
Kai berbalik menghadapi kelompok yang baru saja mereka selamatkan — pemimpinnya adalah seorang gadis berambut merah menyala, matanya tajam dan penuh kewaspadaan, di pinggangnya terselip pedang yang sarungnya sudah usang namun gagangnya berkilauan seperti emas murni.
"Siapa kalian?" tanyanya, napasnya masih memburu, tangannya tidak melepaskan gagang pedang. "Mengapa menolong orang asing?"
"Kami hanya lewat," jawab Kai lembut, tidak menunjukkan ancaman apa pun. "Nama saya Kai. Ini saudaraku Kaelan, ibuku Elowen, dan teman-teman kami."
Gadis itu menatap mereka satu per satu, perlahan menurunkan kewaspadaannya. "Namaku Seraphina. Pemuka sisa-sisa kaum Penempa Bara. Kalian datang terlambat seratus tahun… atau mungkin tepat waktu."
Ia mengajak mereka ke sebuah tempat persembunyian di balik dinding batu yang tebal — ruang luas yang hangat, di mana puluhan orang tua, anak-anak, dan yang terluka sedang beristirahat. Wajah mereka penuh kelelahan, namun sesaat melihat tamu-tamu baru itu, secercah harapan kembali menyala.
Seraphina duduk di samping mereka, suaranya berat. "Seratus tahun lalu, sesuatu turun dari langit — kekuatan gelap yang menguasai inti bumi kami. Ia mengubah sebagian orang menjadi makhluk yang kalian lihat tadi — tanpa ingatan, tanpa perasaan, hanya patuh pada satu kehendak. Penguasa baru ini menyebut dirinya Tuan Bawah Tanah. Ia menguasai puncak gunung api tertinggi, dan dari sana… ia menyebarkan pengaruhnya perlahan ke seluruh dunia."
"Apakah tidak ada yang bisa menghentikannya?" tanya Kaelan.
"Dulu ada," jawab Seraphina menunduk. "Kakekku… dia yang terakhir memegang kekuatan Naga Api. Tapi ia menghilang saat mencoba menembus benteng musuh. Sejak itu, kami perlahan terdorong mundur. Setiap bulan kami kehilangan lebih banyak tanah… lebih banyak orang."
Kai menatap api unggun di tengah ruangan itu, berkedip pelan. Ia teringat kata-kata Aurelia: Selama ada orang yang membutuhkan, kita tidak boleh pergi.
"Kami akan menolongmu," ucapnya lantang.
Seraphina mendongak, matanya membesar. "Kalian tahu risikonya? Tidak ada yang kembali dari istananya."
"Kami tidak pergi sendirian," jawab Kai sambil menunjuk teman-temannya. "Dan kami tidak pernah meninggalkan siapa pun."
Malam itu, mereka menyusun rencana. Namun di tengah perbincangan, Lyra yang sedang memeriksa catatan kuno milik kaum itu tiba-tiba terdiam. Wajahnya pucat.
"Ada sesuatu yang aneh…" bisiknya. Ia menunjuk sebuah gambar di halaman terakhir — makhluk yang menyerupai bayangan besar, namun di dadanya terdapat tanda yang membuat semua orang menahan napas.
Tanda itu sama persis dengan tanda yang pernah mereka lihat di Menara Langit Gelap — lambang para Pengatur.
"Mereka tidak pergi," gumam Kaelan, mengepalkan tangannya erat. "Mereka menyebar. Mengambil alih dunia-dunia yang terlupakan satu per satu."
Belum sempat mereka mencerna hal itu, tanah bergetar hebat. Suara gemuruh mendekat — bukan dari kejauhan, melainkan tepat di atas kepala mereka.
Seraphina berlari ke celah batu yang menghadap ke luar, dan wajahnya menjadi pucat pasi.
"Mereka datang… bukan ratusan. Ribuan."
Di kejauhan, di bawah cahaya bulan pucat, lautan makhluk bergerak menuju tempat persembunyian mereka. Dan di barisan paling depan, menunggangi makhluk raksasa yang bernapas api gelap, berdiri sosok tinggi yang wajahnya tertutup topeng perak — Tangan Kanan Tuan Bawah Tanah. Sosok itu menunjuk lurus ke arah mereka.
Dan di balik topeng itu, sepasang mata menyala — mata yang Kai kenal.
Mata gurunya.