Arka Khontacron adalah pemilik perkebunan anggur terbesar di Buleleng tepatnya di Bali. Arka memiliki saudara kembar laki-laki yaitu Phat Shrabeus kakak nya. Mereka tinggal di Seririt, Nama desanya, Desa Sagara. Desa mereka dalam beberapa bulan ini selalu banyak kasus orang-orang desa yang hilang, terutama wanita. Banyak masyarakat yang komplen ke polisi, tapi hasilnya juga sama. Tapi kasus itu mulai terbuka kembali pada malam itu akibat Arka menemukan mayat Pak Braun Ghum di dalam perkebunan miliknya. Pak Braun ialah pemilik peternakan domba di sebelah perkebunan anggur milik keluarga Khontacron dan juga Arka sering bermain bersama anaknya Sara Mhiomorin waktu kecil. Arka memanggil polisi untuk menyelediki kejadian tersebut, tapi bukannya mencari bukti. Polisi menyeret Arka sebagai tersangka, apakah bisa arka menemukan pelaku yang sebenarnya?
Ini ialah kisah cinta ringan dari Zodiak Taurus, bisakah dia bersabar menghadapi kejadian tersebut atau malah menjadi keras kepala.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DOLPIN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13. KARTU AS BARU
Pintu ruang pemeriksaan tiba-tiba terbuka dengan keras.
Arka langsung menoleh.
Ayahnya masuk lebih dulu.
Di belakangnya, Phat berjalan dengan langkah cepat.
Wajah keduanya tampak tegang.
“Arka!”
Arka berdiri.
“Ayah?”
Ayahnya langsung menghampirinya.
“Apa yang kau lakukan di sini?”
“Aku dipanggil polisi untuk memberikan keterangan.”
“Kau seharusnya memberitahuku!”
“Aku sengaja tidak ingin memberitahu kalian.”
Ayahnya menatapnya tajam.
“Kenapa?”
Arka tidak menjawab.
Phat kemudian melangkah maju.
“Karena dia sudah mulai mencurigai kita, ayah.”
Arka menoleh.
“Apa maksudmu?”
“Jangan berpura-pura tidak tahu!”
Phat menunjuk ke arah Pak Thom.
“Dia sudah bicara, bukan?”
Pak Thom langsung menundukkan kepala.
Arka semakin bingung.
“Memangnya apa yang kalian takutkan?”
Phat tidak menjawab.
Tatapannya justru beralih kepada Sara.
Wajahnya berubah.
“Kau.”
Sara terkejut.
“A–apa?”
“Semua ini terjadi karena mu.”
Sara berdiri.
“Aku hanya ingin cepat menyelesaikan ini, dan apa yang terjadi kepada ayahku!”
“Kau membuat Pak Thom ditangkap!”
Phat melangkah mendekatinya.
“Kalau kau tidak bicara kepada polisi—”
“Phat!”
Arka berdiri di antara mereka.
“Jangan dekati Sara.”
Phat menatap Arka dengan marah.
“Minggir!”
“Tidak!”
“Arka!, ini bukan urusanmu!”
“Tentu saja ini urusan ku juga!”
Phat mengepalkan tangannya.
“Dia menghancurkan semuanya!”
Sara mundur satu langkah.
Phat semakin dekat.
Tangannya perlahan terangkat.
Arka langsung bergerak untuk melindungi Sara.
“Phat, jangan!”
Namun sebelum tangan Phat sempat bergerak lebih jauh—
sebuah suara terdengar dari belakang mereka.
“Berhenti.”
Suaranya santai.
Tidak keras.
Bahkan terdengar seperti seseorang yang sedang meminta dua orang berhenti bertengkar biasa.
Namun seluruh ruangan langsung diam.
Phat perlahan menoleh.
Seorang pria berdiri bersandar di kusen pintu.
Seragam kepolisian melekat rapi di tubuhnya.
Rambutnya sedikit berantakan, tetapi ekspresinya tenang.
Ia memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
Kemudian tersenyum tipis.
“Kalau kalian mau berkelahi, setidaknya jangan di dalam kantor polisi.”
Arka menatap pria itu beberapa detik.
Wajahnya perlahan berubah.
“...Bastian?”
Pria itu tersenyum.
“Akhirnya kau mengenaliku, Arka.”
Arka tidak percaya.
“Kau, sungguh Bastian?”
“Sudah lama sekali, Arka.”
Bastian berjalan masuk dengan santai.
Ia kemudian berdiri di antara Phat dan Sara.
Tatapannya beralih kepada Phat.
“Turunkan tanganmu.”
Phat menatapnya dingin.
“Siapa kau tiba-tiba ikut campur?”
Bastian mengangkat alis.
“Oh~”
Ia menunjuk lambang di seragamnya.
“Sepertinya kau belum tahu.”
Phat terdiam.
Bastian tersenyum kecil.
“Mulai minggu ini, aku kepala kepolisian yang baru ditempatkan di Desa ini.”
Ruangan mendadak hening.
Arka masih menatapnya.
“Jadi kau yang ditugaskan ke sini?”
Bastian mengangguk.
“Benar.”
Ia menepuk bahu Arka dengan santai.
“Aku tidak menyangka kita bertemu lagi dalam keadaan seperti ini.”
Arka tersenyum tipis.
“Dari semua tempat, kenapa harus di sini?”
“Sepertinya hidup memang suka bercanda.”
Bastian kemudian menatap ayah Arka.
Senyumnya perlahan menghilang.
“Dan aku rasa, kita perlu membicarakan beberapa hal.”
Ayah Arka membalas tatapannya.
“Apa maksud Anda?”
Bastian mengambil sebuah map dari tangan petugas di belakangnya.
“Kasus Pak Braun.”
Ia meletakkan map tersebut di atas meja.
“Pak Thom.”
Kemudian matanya beralih kepada Phat.
“Dan laporan mengenai orang-orang yang hilang di Desa ini.”
Phat terdiam.
Bastian tersenyum tipis lagi.
“Tenang saja.”
Nada suaranya tetap santai.
“Aku tidak akan terburu-buru,kok.”
Ia menarik kursi dan duduk.
“Karena aku punya banyak waktu untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di desa ini.”
Arka menatap Bastian.
Entah mengapa, kedatangan teman lamanya itu justru membuat suasana terasa semakin berat.
Arka merasa mungkin ada seseorang yang benar-benar bisa membantunya menemukan kebenaran.