Seorang abdi negara yang berusia matang, di pertemukan dengan gadis muda yang tingkahnya mirip petasan.
~
"Okee, kalau gitu kita fix tidak ada apa-apa yaa?"
"Iya, saya fix benar-benar pacar kamu!" jelasnya lagi sambil menirukan gaya bicara gadis di depannya.
"Apa?"
"Ihh, Bapak jangan ngawur yaa!"
"Saya tidak ngawur, sudah kamu sebaiknya cepat istirahat."
"Tidak mau! Saya mau Pak Braja tarik kata-kata barusan."
"Pantang bagi saya menarik ucapan yang sudah saya katakan."
"Uhhh! Ranti over kesal, ia mendelik sambil memukul-mukul dada bidang pria tersebut. "Kalau begitu rasakan bagaimana punya pacar yang rewel dan juga merepotkan, satu lagi jangan sampai siapapun tau perihal ini, kalau tidak saya sunatt ulang burung bapak," ancamnya dengan raut ketus yang sayangnya nampak berkebalikan dan begitu konyol.
Mendengus geli, Braja mengangguk mengiyakan ucapan gadisnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mitta pinnochio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gosip tentang Pak Braja
Memiliki pacar seperti Pak Braja itu adalah sebuah beban tersendiri bagi Ranti. Hal itu dikarenakan mereka yang mempunyai latar sosial yang berbeda serta segi pandang yang bertentangan tentunya, Braja dengan otoriter nya selalu di siplin sementara dirinya jauh berbanding terbalik.
Terikat dengan Pak Braja sama saja dengan mengikat diri sendiri, karena semua bermula dari keusilan. Ranti tidak menduga jika pria itu akan bertindak sejauh ini.
Pria itu adalah sosok yang santu dan juga pendiam, bicaranya pun cenderung ketus hingga sikapnya yang kemarin seolah tamparan keras bagi Ranti. Ia terlalu meremehkan akan diamnya Braja, mungkin pikirnya Ranti ini adalah sosok anak kecil yang perlu di beri teguran dengan bersikap demikian.
Teguran yang agak lain dan bikin Ranti susah sendiri, tapi memang dasarnya Ranti yang keras kepala dan juga terlewat bebel atau tidak ada kapoknya. Ia memilih meladeni perlakuan pria itu, ia ingin tau sejauh mana pak Braja dapat bertahan mengatasi kerewelannya.
Okee, cukup beri dia efek jera Ranti, dan buat Pria itu menarik kata-katanya sendiri!
Tapi tak dapat di tampik sihh, jika Ranti juga merasa gugup dan gamang tiap kali akan bertindak. Sebab ia masih tau betul ada batasan yang begitu kentara antara dirinya dan juga Braja.
Kalau ada seseorang yang tau bagaimana? Terlebih itu orang-orang di rumah. Ranti harap-harap cemas jika mengingat akan hal itu.
Ingat saja, tadi pagi ia sampai kucing-kucingan saat sarapan. Bermaksud mengurangi interaksi dengan Pak Braja, Ranti memilih sarapan di dalam kamar dengan alasan yang tak masuk akal.
Berdecak malas sambil mengetuk-ngetukkan jarinya, Ranti berpangku tangan menopang dagu. Dengan tatapan lurus ke depan, sorotnya terpaku rumit akan segerombolan kowal yang tengah mengerubungi seseorang.
Braja, berdiri tegap di depan sana, di tengah lapangan dan menjadi fokus utama para tentara wanita yang saling lempar pandang dengan tatapan kagum yang begitu kentara.
Memang layak sihh, jika Pak Braja banyak di gandrungi lawan jenis. Sosoknya yang gagah pekasa sesuai namanya serta parasnya yang terlewat rupawan, tentu saja membuat sesiapa menaruh atensi jika bertemu dengannya.
Kalau Ranti simpulkan, Pak Braja itu seperti pacar idaman. Ganteng iya, gagah iyaa, banyak uang ... Apalagi! Hmmm, benar-benar tidak ada minusnya. Tapi, sempat kepikiran kenapa belum menikah juga yaa? Apa jangan-jangan ...?
Aihh! Ranti lantas menutup matanya.
Jangan ngawur Ranti! Tentu tidak mungkin jika seorang seperti Pak Braja itu impoten. Memangnya kamu sudah lupa tentang ciuman di pipi kemarin?
"Ya allah, istighfar, nyebut Ranti. Kenapa jadi mikir yang tidak-tidak begini?" serunya sambil elus dada hingga memancing tanya dari rekan di sebelahnya.
"Kamu kenapa?" Niko bertanya sambil memincing heran.
Mereka saat ini sedang berada di lapangan, duduk selonjoran di tepi melihat beberapa taruna serta kowal yang tengah berbaris mendengar intruksi serta informasi perihal tugas wajib yang beberapa minggu lagi akan tiba.
Khusus untuk Ranti serta rekannya yang tidak ikut serta, mereka hanya menyimak hitung-hitung membunuh waktu bosan.
Jangan heran, biar pun bekerja sebagai apatur negara, mereka tentunya tidak selalu di rundung kesibukan yang tiada henti. Sesekali ada kesempatan mereka bisa bersantai ria. Namun, meskipun begitu tak hayal jam kerja yang berkepanjangan juga sering mereka lewati.
"Uhh, tidak. Cuma, anu ... Itu kepikiran sesuatu dirumah, hehehe," sahutnya canggung dengan cengiran lebar. Ranti sampai lupa jika ia tak sendirian.
"Yang benar?"
"Huum."
"Pak Braja ganteng yaa?"
"Huh?"
Niko terkekeh pelan, ia menoleh sekilas kemudian beralih menatap kedepan. "Dari tadi kamu liatin dia terus."
"Huh, enggak tuh," kilahnya sarat akan gugup.
"Jangan bohong, mataku masih cukup sehat untuk melihat rona ketertarikan di wajahmu."
"Ishh, kak Niko jangan bicara asal," Ranti mencebik membuang muka.
"Dengar-dengar kamu ini sepupunya Dan Braja yaa?" ia menoleh, "Asal kamu tau, Dan Braja itu jarang sekali terlihat bersanding dengan lawan jenis."
"Terus?" Tanya Ranti mulai kepo, ia baru tau ternyata selama ini Pak Braja mengenalkan nya sebagai sepupunya alih-alih kerabat art nya di rumah.
"Kamu penasaran?"
"Enggak, biasa saja tuh."
Niko tersenyum, bisa-bisanya gadis ini berbohong, jelas-jelas raut nya sudah menggambarkan jika ia tengah di rundung rasa ingin tau.
"Kurang lebih selama 7 tahun saya bekerja dengan beliau, Pak Braja itu sosok yang anti dekat-dekat dengan lawan jenis. Sekedar bersenda gurau atau bertatap sapa dengan para kowal saja itu tak lebih dari urusan kerja, apa lagi sampai menjalin hubungan asmara. Jujur saya tidak pernah mendapatinya."
"Dan yang kami kami tau pun, sosok perempuan yang dekat dengan Pak Braja itu cuma ....," Niko sengaja menggantung ucapannya sambil melirik Ranti.
"Cuma siapa?" Ranti menatap penasaran, menunggu sambil berkedip cepat akan rasa tak sabar.
"Cuma adiknya, takk! Ahahaha," Niko mengetuk pelipis gadis itu.
"Duhh, kak Niko ihh!"
"Katanya biasa saja tapi kamu antusias begitu."
Ranti hanya merengut sambil menggosok pelan pelipisnya.
"Tapi, dulu seingat saya pernah ada slentingan kalau Pak Braja itu punya kekasih."
"Kekasih?"
"Iya, tapi hal itu sampai sekarang tidak terbukti kebenarannya jadi yaa tidak tahu, benar apa tidak."
"Ohh," Ranti hanya manggut-manggut.
"Tapi kamu harus cukup bangga, Rann."
Menoleh cepat. "Bangga kenapa?"
"Sebab kamu satu-satunya perempuan yang nampak begitu dekat dengan beliau, setelah sekian lama ini lohh Rann!"
"Huh, bangga apanya? Aku biasa aja tuhh,"
Mereka tidak tau saja kalau sikap pak Braja kepadanya, berbanding terbalik dengan yang mereka lihat di luaran. Di tempat kerja benar sosok itu terkenal santun meskipun irit bicara, tapi kalau dengannya? Di lebih mirip patung ogoh-ogoh yang sepanjang waktu bermuka seram, persis demit!
Dan saking asyiknya berbincang dengan netra yang fokus entah kemana? Ranti seketika terhenyak ketika sosok yang ia pikirkan, tau-tau sudah berdiri menjulang di hadapannya. Menoleh kesamping ternyata kak Niko sudah ngacirr jauh disana.
"Ihh, kok aku di tinggal sihh," rengutnya mecucu kesal.
"Di tinggal siapa?" Braja menyahut dengan baritonnya yang gahar.
Nohh, si Ranti gadis pecicilann yang bikin Braja puyeng tidak karuan😆
...----------------🍁🍁🍁----------------...
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
hhuuuuaaaaaaa 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
wesss tabok ae Ran....
jan macam² kamu BajaHitam...
s' BajaHitam ini ya...
klo smp rindu beneran ku tabok pake teflon keramat...
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤭🏃🏃
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣