NovelToon NovelToon
Dibuang Keluarga Ku,Dipilih Suamiku

Dibuang Keluarga Ku,Dipilih Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Nikahmuda
Popularitas:11.2k
Nilai: 5
Nama Author: sopiakim

Diasingkan keluarga sendiri dan dituntut menopang hidup sang kakak yang seorang model, Aruna terbiasa mengalah hingga dijebak orang tuanya ke dalam pernikahan paksa dengan Kaivan Adikara. Kaivan yang dingin dan perfeksionis terlanjur menuduh Aruna sebagai wanita licik yang sengaja menjebaknya demi menumpang hidup, membuat hari-hari Aruna di rumah itu terasa makin kelam dan penuh prasangka.

​Di tengah dinginnya dinding rumah Kaivan dan tekanan dari keluarga yang terus merendahkannya, Aruna perlahan belajar berhenti mengemis kasih sayang. Namun tepat saat Aruna mulai menyerah dan menutup hatinya rapat-rapat, Kaivan justru baru menyadari luka mendalam yang disimpan sang istri-memaksa pria itu berjuang dari nol untuk menebus kesalahannya sebelum semuanya terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26.Perhatian dan gengsi

Matahari pagi menyusup malu-malu di balik tirai kamar lantai dua, membiaskan sinar keemasan yang jatuh tepat di atas meja samping ranjang. Di sana, sebuah mangkuk bubur yang masih mengepulkan uap tipis menanti untuk disentuh.

Aruna duduk menyandar pada kepala ranjang, menatap bingung pada porsi sarapan yang ada di hadapannya. Pagi ini, bukan Bi Asih yang mengantarkan makanan itu, melainkan sosok tinggi tegap yang kini berdiri kaku di dekat pintu dengan setelan kemeja abu-abu gelapnya.

"Kenapa cuma dilihat?" suara Kaivan memecah keheningan kamar. Nada suaranya datar, tetapi ada getaran ketegangan yang tertahan di sana. "Dokter gizi menyuruhmu makan tepat waktu. Aku tidak mau mendengarnya mengeluh saat datang jam sembilan nanti."

Aruna mengedipkan matanya pelan, mencoba mencerna situasi. "Pak Kaivan... belum berangkat ke kantor?"

Kaivan membuang pandangannya ke arah jendela, membetulkan letak jam tangan mewahnya dengan gerakan kaku yang sengaja dibuat sibuk. "Ada berkas yang harus kupelajari di rumah pagi ini. Jangan berpikiran yang tidak-tidak."

Aruna menundukkan kepala. Jemari tangan kirinya yang bebas memegang sendok dengan canggung. Ia mengambil sedikit bubur, lalu memasukkannya ke dalam mulut. Rasanya gurih dan lembut, tetapi tenggorokannya masih terasa sempit untuk menelan. Baru tiga sendok tertelan, Aruna sudah meletakkan kembali sendoknya.

"Saya sudah kenyang, Pak," bisik Aruna lirih.

Kaivan melangkah mendekat. Alisnya bertaut tajam, memancarkan rasa tidak puas yang sangat jelas. "Tiga sendok? Kau bilang itu cukup untuk memulihkan tubuhmu?"

"Saya benar-benar tidak nafsu makan..."

"Makan lima sendok lagi, Aruna," potong Kaivan tegas. Pria itu menarik kursi kayu di dekat meja rias, lalu mendudukinya tepat di samping ranjang Aruna. Tindakan spontan itu membuat Aruna terperanjat pelan, refleks menggeser duduknya sedikit menjauh.

Melihat respons Aruna yang menyusut takut dan menjauhinya, dada Kaivan mendadak terasa disengat nyeri asing. Namun, bukannya melunak, rahangnya justru makin menegang kaku.

"Kenapa menjauh?" cerca Kaivan dingin. "Kau pikir aku akan memukulmu?"

"T-tidak, Pak..." jawab Aruna gugup. Matanya menatap lantai, tak berani beradu pandang dengan manik mata tajam milik suaminya.

Kaivan menghela napas kasar. Jemari tangannya yang panjang meraih mangkuk bubur hangat tersebut. Dengan gerakan kaku dan canggung—seolah-olah tugas ini adalah hal paling asing yang pernah ia lakukan seumur hidupnya—Kaivan menyendok bubur itu sedikit.

"Buka mulutmu," perintahkan Kaivan pendek.

Aruna membelalakkan matanya, menatap Kaivan dengan tatapan tak percaya. "Pak Kaivan... biar saya makan sendiri—"

"Aku bilang buka mulutmu," ulang Kaivan dengan nada yang lebih dalam, tidak menerima bantahan. Namun, alih-alih kasar, sendok yang ia pegang justru tertahan dengan sangat hati-hati beberapa sentimeter di depan bibir Aruna. Pria itu bahkan menyenggol sedikit bagian pinggir sendok agar buburnya tidak terlalu panas.

Bingung, takut, dan cemas berbaur menjadi satu di dalam benak Aruna. Ia tak mengerti kenapa pria yang kemarin menguncinya dan mengancam akan menghancurkan hidupnya, kini bersusah payah menyuapinya dengan raut wajah kaku dan gengsi yang kentara. Dengan ragu, Aruna akhirnya membuka mulutnya sedikit dan menerima suapan itu.

"Satu," gumam Kaivan kaku, menyendokkan porsi kedua. "Jangan berpikir aku melakukan ini karena peduli padamu. Aku cuma tidak mau jadwal kerjaku berantakan kalau kau pingsan lagi."

Aruna menerima suapan kedua, lalu menelannya perlahan. "Saya tidak pernah minta Pak Kaivan membuang waktu di sini..."

Gerakan tangan Kaivan terhenti sejenak di udara saat mendengar balasan lirih itu. Sorot matanya menajam, menatap tajam ke arah bibir Aruna yang pucat.

"Memangnya siapa yang menunggumu di luar sana kalau aku pergi?" cetus Kaivan, suaranya mengandung sindiran tajam yang tiba-tiba beracun. "Teman baristamu itu? Si Bagas?"

Nama itu kembali meluncur dari bibir Kaivan. Aruna tersentak, menatap Kaivan dengan kerutan bingung di dahinya. "Kenapa... Pak Kaivan selalu membawa-bawa Bagas?"

"Karena kau terus-terusan memikirkannya!" bentak Kaivan pelan, berusaha menahan volume suaranya tetapi gagal menyembunyikan getaran amarah yang pekat. Ia meletakkan mangkuk itu kembali ke meja dengan benturan yang agak keras. "Kau pikir aku tidak tahu? Sepanjang hari kau cuma menatap jendela, memikirkan laki-laki miskin itu! Kau pikir dia pahlawanmu?"

"Pak Kaivan, saya tidak—"

"Tutup mulutmu!" potong Kaivan cepat. Pria itu berdiri mendadak dari kursinya, membuat Aruna sedikit terperanjat. Kaivan berjalan membelakangi ranjang, menyilangkan tangan di dada sambil menatap lurus ke arah dinding. Napasnya memburu pelan. Rasa cemburu yang membakar nadinya terasa sangat memuakkan bagi gengsi setinggi langit yang ia miliki.

Aruna menatap punggung tegap Kaivan dengan rasa bingung yang luar biasa. Pikirannya benar-benar kacau. Pria di hadapannya ini begitu penuh kontradiksi. Kaivan menyuapinya dengan penuh kehati-hatian, memastikan suhunya tidak terlalu panas, tetapi di detik berikutnya pria itu membentaknya dan melemparkan tuduhan cemburu yang tak masuk akal.

Kenapa dia sebegini marahnya soal Bagas? batin Aruna bingung. Bukannya dia membenciku? Bukannya aku cuma jaminan utang baginya?

Keheningan yang mencekik kembali menguasai ruangan itu selama beberapa menit, sebelum akhirnya suara ketukan pintu memecahkan ketegangan.

Bi Asih melangkah masuk dengan ragu-ragu. "Maaf, Pak Kaivan... Sekretaris Dimas sudah menunggu di bawah bersama berkas yang Bapak minta."

Kaivan berdehem kaku, merapikan lengan kemejanya yang sedikit kusut. Ia balik menatap Aruna, kembali mengenakan topeng wibawanya yang dingin dan tak tersentuh.

"Habiskan obatmu," kata Kaivan singkat, nada suaranya kembali datar tanpa emosi. "Aku sudah menyuruh Bi Asih mengganti seprai dan merapikan kamar ini. Kalau kau butuh sesuatu, bilang pada Bi Asih. Jangan mencoba berjalan sendirian kalau kakimu masih lemas."

Aruna hanya mengangguk pelan, masih terlalu kebingungan untuk mencerna perubahan sikap pria itu. "Baik, Pak."

Kaivan melangkah kaku menuju pintu, namun tepat sebelum keluar, ia menoleh sedikit tanpa menatap mata Aruna. "Dan satu lagi. Jangan pernah mencoba melihat ke arah jendela lagi hari ini. Angin sore tidak bagus untuk lukamu."

BAM.

Pintu terkatup rapi. Aruna terdiam mematung di atas tempat tidur, menatap pintu yang baru saja tertutup.

Bi Asih mendekati tempat tidur seraya menyunggingkan senyum tipis yang hangat. "Nona Aruna... Pak Kaivan tadi pagi bangun jam lima subuh cuma buat menyuruh koki memasak bubur ayam kampung ini, loh."

Aruna menoleh kaku ke arah Bi Asih. "A-apa, Bi?"

"Iya, Nona," ujar Bi Asih lembut seraya mengusap pelan bahu Aruna. "Pak Kaivan bahkan mengecek sendiri dapur dan mewanti-wanti koki supaya tidak memakai penyedap rasa berlebihan karena Nona masih masa pemulihan. Beliau itu... gengsinya setinggi langit, Nona. Tapi dari kemarin, matanya tidak bisa bohong kalau beliau sangat cemas."

Kalimat Bi Asih terasa menghantam kesadaran Aruna dengan keras. Dada gadis itu bergemuruh hebat, dikuasai oleh rasa bingung yang makin dalam.

Pria yang menguncinya di kamar dingin, pria yang menyebutnya barang jaminan tiga puluh miliar, pria yang memandangnya penuh kebencian... adalah pria yang sama yang bangun subuh hanya untuk memastikan makanan sarapannya aman, dan menyuapinya dengan jemari yang berguncang canggung?

Aruna menyentuh dadanya yang berdegup tidak teratur. Rasa takut yang selama ini mendominasi pikirannya mulai bersanding dengan rasa asing yang tak sanggup ia namai. Dinding kebencian yang ia bangun untuk melindungi dirinya sendiri perlahan terasa goyah oleh perhatian-perhatian kaku yang terbungkus oleh duri gengsi seorang Kaivan Adikara.

_Bersambung

1
Diki Nd
👍👍👍👍
Diki Nd
💪💪💪
dinda aja
sukaaa lanjutkan yahhh
dinda aja
🤭🤭🤭🤭
Pendi Gudung
lanjuttt min
Fadillah Langsa
lanjut napa kak
Ijal Messi
ngakak 🤭🤭
Ijal Messi
lanjuttt
Ijal Messi
🤣🤣🤣
li za
mana kelanjutan nya min
Lenovo A
lanjuttt
Bambang Suanto
duhhh ngakak keciduk
Bambang Suanto
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Bambang Suanto
sedihh
Industri Kreatif
asli seruuu
sosa
Seruu parah
sosa
Sukaa
Rian Moontero
lanjooott👍👍
Isannn
😍😍😍
Alle Salsa
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!