NovelToon NovelToon
JERAT CINTA SANG MAFIA

JERAT CINTA SANG MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:932
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

Satu-satunya hal yang lebih berbahaya daripada membobol brankas mafia... adalah jatuh cinta pada pemiliknya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26

Bab 26: Deru Mesin di Atas Aspal Basah

​Pukul tiga lewat lima belas menit. Udara malam di halaman parkir belakang Kasino Royale Vane bergemuruh hebat di bawah guyuran rintik hujan gerimis yang menyapu permukaan aspal. Lampu-lampu sorot darurat berwarna merah dan biru berkedip liar di sekeliling dinding perimeter luar, menandakan bahwa seluruh sistem keamanan klan Vane telah menyadari hilangnya Black Ledger dan pembobolan di sektor tiga.

​VROOOOM!

​Suara raungan mesin V8 berkapasitas besar menggema menggelegar di pelataran parkir privat. Sebuah sedan sport berperforma tinggi berwarna hitam legam—mobil pribadi modifikasi khusus milik Devan Argantara—meluncur liar dari balik pilar beton dengan kecepatan eksplosif, mengibas genangan air dan menciptakan kepulan asap tipis dari gesekan ban berteknologi tinggi pada aspal basah.

​Di dalam kabin kemudi yang bernuansa gelap, Devan Argantara mencengkeram lingkar kemudi dengan otot-otot lengannya yang menegang. Wajahnya begitu dingin, terkonsentrasi penuh, dan memancarkan aura predator yang siap merobek siapa pun yang mencoba menghalangi jalan mereka.

​Di kursi penumpang depan, Aria duduk tegak dengan sabuk pengaman melintang sempurna di atas gaun satin sutra champagne gold yang dikenakannya. Rambut panjangnya tergerai berantakan tertiup sisa angin kabin, namun mata gelapnya tidak lepas dari layar konsol navigasi taktis di hadapannya.

​“Tuan Devan, unit pengejaran klan Vane sudah mulai bergerak!” suara Erick melengking tegas melalui radio komando di telinga mereka. “Tiga mobil SUV lapis baja hitam keluar dari gerbang utama sektor utara, mencoba memotong jalur pelarian Anda di tikungan terowongan tol lingkar kota!”

​"Biarkan mereka mencoba," balas Devan dingin, suaranya berat dan mantap.

​Tanpa ragu sedikit pun, Devan menginjak pedal gas hingga ke lantai. Mobil sport hitam itu melesat bagai peluru kendali menembus jalanan kota yang basah, melibas belokan tajam dengan teknik drift yang sempurna tanpa kehilangan traksi sedikit pun.

​Aria merasakan gravitasi tubuhnya terdorong kuat ke samping akibat tikungan ekstrem tersebut. Alih-alih merasa takut, adrenalin menderu deras di dalam darahnya. Wanita itu menatap layar konsol pelacak di pangkuannya, jemarinya bergerak lincah mengetik kode peretasan jarak jauh.

​"Mereka menggunakan dua mobil SUV untuk mencoba menjepit kita dari sisi kiri dan kanan, sementara satu mobil di belakang membawa tim penembak jitu," lapor Aria cepat dan akurat, suaranya tajam tanpa ada keraguan. "Lewati jalur terowongan bawah, Devan. Aku bisa melumpuhkan sistem lampu lalu lintas dan gerbang tol otomatis di sana untuk menjebak mobil pengejar."

​Devan melirik sekilas ke arah Aria lewat sudut matanya, mendapati wanita itu tengah fokus penuh mengendalikan sistem siber jalan raya. Ada kilatan kekaguman yang teramat dalam di mata kelam sang bos mafia. Di tengah situasi hidup dan mati, wanita di sampingnya ini tidak pernah kehilangan ketenangannya—selalu menjadi mitra paling mematikan dan sepadan yang pernah ia miliki.

​"Lakukan, Little Bird," perintah Devan singkat.

​Aria menekan tombol Enter terakhir pada konsol portabelnya.

​BZZZZT!

​Di ujung terowongan kota sepanjang dua kilometer yang berada di depan mereka, lampu lalu lintas yang tadinya menyala hijau mendadak berubah menjadi merah total secara serentak. Bersamaan dengan itu, gerbang tol otomatis berdinding baja hidrolik bergeser turun secara mekanis, menutup jalur jalan raya tepat di belakang mobil SUV pertama klan Vane.

​BAM!

​Mobil SUV lapis baja paling depan milik klan Vane gagal mengerem tepat waktu dan menabrak gerbang baja yang tertutup rapat, menciptakan kecelakaan beruntun yang langsung melumpuhkan dua kendaraan pengejar di belakangnya.

​"Kerja bagus," pungkasi Devan dengan senyum tipis di bibirnya.

​Namun, ancaman belum sepenuhnya berakhir. Mobil SUV ketiga yang membawa tim penembak jitu berhasil melompati reruntuhan kecil di bahu jalan, tetap menempel ketat di belakang mobil sport Devan dengan jarak kurang dari sepuluh meter.

​RAT-TAT-TAT-TAT!

​Suara letusan senjata api laras panjang berperedam menyalak nyaring, menghantam bagian belakang bodi mobil sport lapis baja Devan. Percikan api berhamburan dari kaca spion dan bodi logam belakang.

​"Sial, mereka menggunakan peluru penembus zirah!" seru Aria, menoleh ke belakang melalui kaca kabin.

​Devan tidak panik. Ia memutar kemudi dengan gerakan tangan yang sangat terukur, memanfaatkan tikungan curam menuju jembatan layang pelabuhan lama. Tempat itu sepi, gelap, dan dikelilingi kontainer-kontainer pelabuhan raksasa—arena bertarung yang sempurna bagi seorang penguasa dunia bawah tanah.

​"Pegang sandaran tanganmu, Aria," ucap Devan dengan nada suara yang berubah menjadi dingin mematikan.

​Sebelum Aria sempat merespons, Devan mendadak menginjak pedal rem secara drastis!

​SKRRT—BAM!

​Mobil sport hitam itu berhenti berputar seratus delapan puluh derajat dalam satu sentakan maut, menghadap tepat berlawanan arah dengan mobil SUV pengejar yang masih melaju kencang ke arah mereka.

​Melihat kesempatan itu, pengawal di dalam SUV musuh langsung mengarahkan moncong senapannya keluar jendela, bersiap memberondong tembakan fatal.

​Namun Devan jauh lebih cepat. Ia menekan tombol khusus di konsol tengah mobil—sistem pelontar suar darurat dan lampu sorot kilat tinggi yang dimodifikasi khusus untuk kendaraan taktis Argantara.

​FLASH!

​Pendar cahaya putih berintensitas sepuluh ribu lumen menyembur terang dari bagian depan mobil sport, menyilaukan mata pengemudi SUV klan Vane secara total dalam kegelapan malam.

​Pengemudi musuh kehilangan kendali, membanting setir ke kiri hingga kendaraannya menabrak tumpukan kontainer besi besar di tepi pelabuhan.

​BOOM!

​Benturan keras itu membuat mobil SUV tersebut berhenti total dengan kepulan asap pekat membubung tinggi ke udara.

​Devan mengembalikan persneling mobilnya, memutar balik kendaraannya dengan mulus, lalu kembali melesat menembus jalan raya perbukitan menuju markas utama klan Argantara.

​Di dalam kabin yang kembali sunyi dan tenang, deru mesin V8 berangsur-angsur mereda menjadi dengungan stabil yang menenangkan. Hujan gerimis di luar mulai berhenti, menyisakan jalanan aspal yang basah dan memantulkan pendar lampu kota di kejauhan.

​Aria menghembuskan napas panjang, merilekskan bahunya yang sempat menegang. Ia merapikan gaun satin emasnya yang sedikit bergeser, lalu menatap Devan yang kembali fokus mengemudikan mobil dengan satu tangan di setir, sementara tangan kanannya terulur santai di atas konsol tengah.

​"Pelarian yang sangat dramatis, Tuan Argantara," sindir Aria halus, walau ada nada kagum yang tak bisa ia sembunyikan di balik suaranya.

​Devan menoleh sekilas, menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan dominasi dan kemenangan mutlak. "Di duniaku, pelarian selalu harus diakhiri dengan gaya, Aria."

​Aria membuang pandangannya ke luar jendela, menatap pepohonan perbukitan yang mulai memasuki kawasan teritorial markas Argantara. Misi Kasino Royale telah tuntas, Black Ledger berada di tangan mereka, dan klan Vane kini lumpuh total.

​Namun di tengah kemenangan besar malam ini, Aria menyadari bahwa pelarian sesungguhnya yang sedang ia hadapi bukanlah melarikan diri dari kejaran musuh—melainkan melarikan diri dari dekap erat perasaan yang kian mengikatnya pada pria di sampingnya.

1
Ariany Sudjana
wah mantap ini Aria dan Devan bisa jadi pasangan mafia tangguh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!