NovelToon NovelToon
Genius Keturunan Klan Phoenix

Genius Keturunan Klan Phoenix

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Anak Genius
Popularitas:35.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nur Hali

Riu Han melangkah keluar dari pintu teleportasi yang menghubungkan Alam Bawah ke Dunia Atas, namun terpisah dari dua sahabatnya, Genbu si Kura-kura Hitam dan Bai Wing si Harimau Putih, karena sistem pengiriman yang acak. Sendirian di hamparan bunga asing, ia bergegas menuju arah kepulan asap untuk mencari petunjuk.

Kedatangan Riu Han ternyata memancarkan Aura Giok Nirvana yang telah hilang selama dua puluh tahun, menarik perhatian dua penguasa di tempat itu — masing-masing mengutus orang kepercayaan mereka, Bai Mo dan Zi Lan, untuk mengawasi sosok yang membawa aura tersebut.

Sementara itu, Riu Han tiba di sebuah pondok kayu dan bertemu dengan Su Zan Si, seorang pemburu tunggal yang ternyata juga berasal dari Alam Bawah. Su Zan Si dengan ramah memberikan arahan serta penjelasan penting: mengapa kekuatan dan gerakan Riu Han terasa terbatas di sini, bagaimana energi tubuhnya akan menyesuaikan diri, serta gambaran luas tentang dunia ini yang terdiri dari Empat Wilayah dan puluhan alam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Benih Api Surgawi di Jurang Merah

Riu Han, Genbu, dan Bai Wing melesat di antara samar cahaya bintang, memandangi ribuan pulau yang tersebar di angkasa luas ini. Pilihan mereka jatuh pada sebuah pulau yang berwarna gelap pekat — permukaannya terbuat dari batu hitam yang keras bagai besi tempa, kokoh dan tak tergoyahkan di bawah telapak kaki. Mereka melangkah masuk, menyusuri setiap sudutnya, mata mereka tak luput meneliti setiap bayangan.

Sudah lebih dari sebulan sejak ketiganya memulai perburuan dan latihan di alam semesta mini ini. Hari demi hari, pertarungan demi pertarungan, mereka tidak terburu-buru menaikkan tingkatan — justru sebaliknya, mereka menahan diri, memadatkan fondasi hingga tak ada celah sedikit pun. Kini, setelah lebih dari tiga puluh hari, kekuatan mereka perlahan naik ke Dewa Kecil Tingkat Enam.

Keputusan Riu Han untuk melambat ternyata membawa hasil yang nyata. Ia paham benar: yang terpenting bukanlah angka yang tertulis di tingkatan, melainkan kekuatan yang menyatu di dalam diri. Energi yang murni, pemahaman atas konsep alam, penguasaan gerak dan perasaan terhadap dunia di sekitar — inilah yang membedakan seorang jenius sejati dari mereka yang hanya mengejar bayangan kekuatan. Siapa pun yang terburu-buru melompat tinggi, pada akhirnya hanya akan berhenti di setengah langkah menuju keabadian, tanpa mampu melangkah lebih jauh lagi.

Dengan fondasi yang kokoh itu, ketiganya melangkah menuju pulau berikutnya — pulau berapi yang memancarkan cahaya kemerahan dari kejauhan. Permukaannya berwarna merah menyala dan jingga terbakaran, tanahnya terasa hangat meski dari kejauhan. Di tengah pulau itu terbentang sebuah jurang yang dalam, seperti luka di permukaan bumi, semakin ke bawah semakin menyala, nyala api tak pernah padam di sepanjang dindingnya. Panas yang menyengat memenuhi udara, membuat napas terasa berat, namun ketiganya melangkah mantap, menuruni lereng yang curam.

Semakin dalam mereka turun, semakin terang cahaya yang memancar dari dasar jurang — bukan api merah biasa, melainkan cahaya hitam pekat yang berdenyut pelan, hidup dan bernapas.

Ggggeerrr...

Suara geraman bergema dari kegelapan.

"Hati-hati!" seru Riu Han.

Ketiganya melesat ke udara sejenak, lalu mendarat kembali di atas batu yang hangat. Di hadapan mereka muncul seekor kadal raksasa sebesar sapi, kulitnya bersisik tebal berwarna merah menyala, matanya melotot tajam. Tak lama kemudian, puluhan ekor lagi muncul dari celah tanah dan sela-sela batu, mengelilingi mereka. Uap panas keluar dari lubang hidung makhluk-makhluk itu, menguap ke udara.

Siut! Siut! Siut!

Mereka menyerang serentak. Tingkat kekuatan mereka — sepuluh akhir, setara dengan Dewa Kecil tingkat tertinggi, sejajar dengan ketiganya.

Namun sebulan penuh latihan telah mengubah mereka. Tanpa senjata, hanya dengan tangan dan kaki, mereka bergerak berpadu. Pukulan Genbu berat dan menghantam, sapuan Bai Wing cepat dan tajam, serangan Riu Han tepat dan mematikan. Kulit kadal itu keras, namun bukan perisai yang tak bisa ditembus. Tubuh mereka yang kuat kini menjadi sasaran yang mudah bagi ketiganya yang telah mengasah indra dan kekuatan fisik hingga batas yang sempurna. Tak butuh waktu lama hingga puluhan makhluk itu tergeletak diam di atas tanah yang panas.

Seperti biasa, Genbu dan Bai Wing mengumpulkan Kristal Roh, membaginya sama rata — tujuh untuk masing-masing, tak lebih tak kurang.

"Mari kita lanjutkan," ajak Riu Han.

Mereka turun lebih dalam. Sepanjang jalan, kadal-kadal api terus muncul dari bawah tanah, namun tak satu pun mampu menahan langkah mereka. Semakin ke bawah, semakin panas udaranya, semakin terang cahayanya, hingga akhirnya mereka tiba di dasar jurang yang terdalam. Di sana, di tengah cekungan batu yang kosong, menyala segumpal api hitam — kecil, tenang, namun memancarkan kehangatan yang luar biasa.

Dari jarak beberapa meter saja, panasnya terasa menyengat, seakan udara di sekitarnya terbakar.

"Keluarlah," panggil Riu Han pelan.

Dua cahaya kecil melayang keluar dari tempat persembunyiannya — berwujud burung kecil yang cantik. Yang satu berwarna merah kekuningan, bersinar seperti tungku yang menyala. Yang lain berwarna biru kehijauan, memantulkan cahaya seperti logam murni yang ditempa hingga bersih.

"Bagaimana keadaannya?" tanya Riu Han.

Burung merah itu — Roh Tungku Ajaib — menatap gumpalan api hitam di depannya. "Tuan, itu adalah Benih Api Surgawi. Ia masih sangat muda, baru saja terpisah dari induknya. Ini adalah Api Surgawi tingkat pertama."

"Jelaskan padaku apa sebenarnya benih api ini," minta Riu Han.

"Baik, Tuan," jawab Roh Tungku dengan suara yang lembut namun jelas. "Benih api adalah bagian dari api itu sendiri, yang dipisahkan dari sumber aslinya — bisa karena terpaksa, bisa juga karena kehendak induknya. Bagaimanapun caranya, ia adalah bagian yang asli, bukan tiruan. Saat ini ia seperti bibit yang baru ditanam, atau seperti bayi yang baru lahir. Ia butuh dipelihara, diberi makan, dan tumbuh. Ketika ia dewasa nanti, kekuatannya akan sama persis dengan induknya — bahkan mungkin melampauinya, jika dirawat dengan benar."

Riu Han mengangguk, pemahaman itu meresap perlahan. Sebuah bagian dari kekuatan purba, yang terpisah dan tumbuh sendiri — sungguh luar biasa.

"Kalau begitu, kalian berdua apa? Tingkat berapa kekuatan kalian?" tanyanya.

Dua roh itu menunduk sedikit. "Kami berasal dari Api Surgawi juga, Tuan. Namun kami dijadikan roh harta sejak masih sangat kecil. Roh Tungku ini berada di tingkat empat, dan Roh Alat Penempaan di tingkat lima."

Riu Han menatap mereka, lalu menatap benih api hitam itu.

Burung merah itu tersenyum paham. "Anda benar, Tuan. Anak ini jika tumbuh dewasa akan melampaui kami berdua."

"Baiklah," ucap Riu Han mantap. "Saat ini, bisakah kalian memegang dan menjaganya untukku?"

"Kami bisa," jawab Roh Tungku. "Kami akan menjaganya dengan baik. Anda boleh mengirim kami masuk ke dalam Cincin Ruang sekarang."

Dengan isyarat mata, Riu Han memberi aba-aba. Dua roh itu mendekat, mengelilingi benih api hitam itu, melindunginya dengan cahaya mereka sendiri. Riu Han menarik napas, lalu menggerakkan tangan — ketiganya lenyap, masuk ke ruang tersembunyi di dalam Cincin Ruang, tempat yang aman dan penuh kehidupan.

Riu Han menghela napas panjang, beban kecil terangkat dari bahunya. Ia memastikan sekali lagi tak ada yang tertinggal, tak ada bahaya yang mengancam tempat ini.

"Ayo pergi," ajaknya pada dua sahabatnya.

Ketiganya melesat naik, meninggalkan jurang yang menyala di belakang mereka, kembali ke hamparan luas angkasa mini. Pulau demi pulau menanti di kejauhan — masing-masing menyimpan rahasia, bahaya, dan anugerah yang tak terduga. Di tempat ini, perjalanan mereka belum berakhir, dan kekuatan yang tumbuh perlahan di dalam diri mereka, bersama dengan benih api yang kini berada di bawah perlindungan mereka, perlahan menuju masa depan yang tak terbayangkan.

1
Bg Byl
Cerita yang cukup menarik dg alur cerita yg lambat tapi cukup detail untuk dapat dinikmati. Tetap semangat Thor, sehat selalu & terima kasih. ❤️
Edu Juan
lama kuat mc nya
Adek Darmansyah
Gass truss thorr
Adek Darmansyah
mantap alur ceritanya, walaupun ada sedikit kosakata yg terlalu kekinian,👍👍
Adek Darmansyah
Gas truss thorr
Iwan Duan
lanjooooooot
M Amir
lanjuuuttt Q tunggu
☯️꧁༒⫷Loͥngͣ ͫTian ⫸༒꧂☯️
ceritanya jadi berubah ya, yin lin jadi rui lin, yang tadinya saudara angkat jadi kakak beradik 😄😄😄
jhoni
keren jalan cerita , berbudil luhur tapi ga naif
jhoni
pasti niru jurus son goku neh, kamehame ya thor😜
M Amir
lanjuuuttt👍👍👍🙏🙏
Prima Saputra
Seru banget ni cerita mudah2an ngga putusditengah jalan.
M Amir
lanjuuuutttt👍👍👍
M Amir
lanjuuut
M Amir
up yg banyak tor👍👍👍
GeBe AW
bagus, saya selalu mengikutinya,
M Amir
seharusnya novel ini menjadi yg no 2 setelah bo cang
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Lanjut Up Thor
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Tetap semangat Thor 💪💪
M Amir
lanjuuuttt👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!