Ini adalah cerita tentang seorang Putra Suci dari aliran lurus yang dikhianati gurunya sendiri. Tubuhnya dihancurkan dan tulangnya dicabut satu per satu sebelum ia dibuang hidup-hidup ke dasar Kegelapan.
Namun, ia tidak memilih mati.
Dengan sisa kekuatan yang dimilikinya, ia mencabut tulang fananya yang rapuh dan menggantinya dengan tulang para musuh yang telah ia bunuh.
Setiap tulang menjadi sumber kekuatan baru. Setiap rasa sakit membawanya selangkah lebih dekat pada jalan kultivasi yang menentang kehendak langit.
Di sisinya berdiri seorang iblis wanita yang menguasai Seni Darah. Dengan sihir terlarang itu, ia menyatukan kembali tubuh sang Putra Suci yang telah hancur dari dalam.
Bersama, mereka menapaki jalan berdarah menuju Surga Sembilan Lapis.
Ia tidak kembali untuk menuntut keadilan.
Ia kembali untuk mencabut tulang punggung para dewa dan menjadikannya singgasana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Runtuhnya Salah Satu Menara
Di dalam Kepompong Benang Darah, Xue Ling'er perlahan membuka mata.
Rasa lelah yang menggerogoti tubuhnya telah berkurang. Yang tersisa hanya rasa lapar yang menusuk.
Saat ia bangkit, sesuatu jatuh ke pangkuannya.
Lima jantung kultivator Inti Emas tahap akhir, beberapa tulang rusuk, dan potongan tulang punggung yang masih berlumuran darah.
Ling'er langsung tersenyum.
"Makanlah."
Mo Xie berdiri di sudut kepompong. Jubah abu-abunya menutupi tubuh bagian atas, tetapi tak mampu menyembunyikan aura mengerikan yang kini terpancar darinya.
"Tiga Tetua Jiwa Baru Lahir puncak telah menjaga tiga sisi hutan. Seorang Leluhur Transformasi Ilahi juga sedang menuju ke sini."
Sepuluh benang darah melesat dari tangan Ling'er dan menancap pada kelima jantung.
Darah dan Qi Yang segera diserap.
Warna pucat di wajahnya perlahan kembali.
"Tiga Jiwa Baru Lahir puncak bukan lawan yang bisa kita hindari dengan berlari."
Ling'er menjilat darah di bibirnya.
"Kalau Leluhur Transformasi Ilahi tiba, bahkan tubuhmu mungkin tak akan mampu menahannya."
"Itulah sebabnya kita tidak menunggu."
Mo Xie mengangkat tangan kanannya.
"Kekuatan sebuah formasi bergantung pada penyangganya. Kita hancurkan satu sebelum mereka sempat mengepung kita."
Ia menatap lengan kanannya.
"Aku juga membutuhkan tulang lengan yang cukup kuat untuk menyempurnakan tubuh ini."
Ling'er menyeringai.
"Rencana yang gila." Ia berdiri. "Tapi aku menyukainya."
Di sisi timur Hutan Kabut Ilusi, sebuah menara giok berdiri menjulang setinggi puluhan meter.
Menara itu menjadi penyangga utama Formasi Pengunci Langit.
Cahaya emas menyelimuti kawasan tersebut. Kabut Yin yang beracun tak mampu menembusnya, sementara ruang di sekeliling hutan telah terkunci rapat.
Di puncak menara, seorang lelaki tua berjubah putih duduk bersila.
Tetua Zhao.
Ia adalah kultivator Jiwa Baru Lahir puncak dan salah satu kekuatan utama Istana Dao Surgawi.
Kesadaran spiritualnya menyebar ke seluruh hutan.
Ia menunggu.
Ia tahu pembunuh Penguasa Kota masih berada di dalam hutan.
Namun ia tidak menyangka musuh itu telah tiba tepat di bawah kakinya.
Mo Xie berdiri di antara kabut.
Tak ada riak Qi.
Tulang Emas di dadanya menekan aura kedua lengan iblis hingga hampir tak tersisa.
Tatapannya jatuh pada dasar menara.
Ia tidak menyerang dengan tinju.
Jika menara itu dihancurkan secara langsung, Tetua Zhao pasti akan segera menyadarinya.
Mo Xie menempelkan telapak tangan kanan pada fondasi menara.
Domain Penghancur Gunung mengalir melalui kakinya. Kemudian kekuatan itu disalurkan ke lengan Kera Iblis.
Tak ada ledakan. Hanya terdengar suara retakan dari dalam tanah.
Krek...
Fondasi menara mulai bergeser. Tanah di bawahnya amblas. Batu-batu giok yang menopang menara kehilangan pijakan.
Beberapa saat kemudian...
Boom!
Menara raksasa itu miring dan runtuh.
Cahaya emas di seluruh sisi timur hutan pecah bersamaan.
Tetua Zhao langsung membuka matanya. Kemarahan memenuhi wajahnya.
"Binatang!" Tubuhnya melesat dari reruntuhan. "Berani kau menghancurkan Formasi Pengunci Langit!"
Mo Xie berdiri di tengah debu dan puing. Tetua Zhao tidak memberi kesempatan.
Qi emas meledak dari tubuhnya. Cahaya menyilaukan memenuhi langit.
Jiwa Baru Lahir miliknya keluar dari tubuh dan membesar menjadi sosok raksasa setinggi belasan meter.
Avatar emas itu memiliki empat lengan.
Satu menggenggam pedang, Satu memegang kapak, Satu membawa cambuk. Sementara tangan terakhir menggenggam cermin penakluk iblis.
Tubuh asli Tetua Zhao berada di tengah dada avatar tersebut.
"Matilah!" Kapak emas turun.
Tekanan mengerikan menghantam bumi dan pepohonan di sekelilingnya tumbang.
Mo Xie menyilangkan kedua lengannya untuk menahan serangan.
Booom!
Tanah di bawah kakinya hancur, sementara tubuhnya amblas hingga lutut.
Tulang-tulang iblisnya berderit menahan kekuatan Qi Yang yang sangat besar. Bahkan organ fananya ikut bergetar.
Darah mengalir dari sudut bibir Mo Xie.
"Kau hanyalah tumpukan tulang busuk!" Suara Tetua Zhao menggema dari dalam avatar.
"Mati!"
Kapak kembali terangkat. Cambuk emas menyambar dari samping. Namun sebuah tawa lembut terdengar dari balik reruntuhan.
"Dewa palsu yang terbuat dari cahaya."
Tetua Zhao menoleh.
Xue Ling'er berdiri di antara kabut. Darah mengalir dari kedua pergelangan tangannya.
"Seni Darah Yin Agung!"
Ratusan rantai darah melesat ke udara.
"Jaring Kutukan Pembusuk Jiwa!"
Rantai darah hitam kemerahan melilit keempat lengan avatar emas.
Cahaya emas mendesis. Energi Yin dari darah Ling'er mulai mengikis avatar tersebut.
Gerakan raksasa itu seketika terhenti.
Wajah Tetua Zhao berubah.
"Sihir Darah Yin!" Tatapannya tertuju pada Ling'er. "Kau... Gadis Suci yang diasingkan!"
Ling'er tersenyum dingin. "Aku lebih suka disebut Penenun Darah."
Ia menoleh kepada Mo Xie. "Mo Xie! Sekarang!"
Mo Xie tidak menjawab.
Ia sudah bergerak. Domain Penghancur Gunung meledak dari kedua kakinya.
Tubuhnya melesat ke langit.
Tulang Emas di dadanya berdenyut keras, mengalirkan Qi yang telah dimurnikan ke lengan Kera Iblis.
Lengan kanan itu ditarik ke belakang. Sumsum iblis bergetar.
Seluruh kekuatan terkumpul dalam satu kepalan.
"Seni Iblis Kuno..." Tatapan Mo Xie menjadi dingin. "Hantaman Pemecah Langit!"
Tinju Kera Iblis menghantam dada avatar emas.
Kraak!
Perisai Qi pecah.
Tinju itu menembus cahaya emas dan menghantam tubuh asli Tetua Zhao.
Booom!
Dada Tetua Zhao meledak.
Tulang rusuknya hancur dan darah menyembur dari punggungnya.
Jiwa Baru Lahir di dalam Dantiannya retak sebelum sempat melarikan diri.
Krak!
Jiwa itu pecah.
Avatar emas yang memenuhi langit langsung kehilangan sumber kekuatannya.
Tubuh raksasa tersebut membeku sebelum berubah menjadi serpihan cahaya yang jatuh seperti hujan emas.
Mayat Tetua Zhao terlempar dari langit.
Mo Xie menangkapnya dengan lengan Harimau Kegelapan.
Ia mendarat di tanah dan melempar tubuh itu ke lumpur.
Tatapannya kemudian jatuh pada lengan kanan Tetua Zhao.
"Tulang ini cukup bagus." Tanpa ragu, Mo Xie mencengkeram lengannya.
Srak!
Seluruh lengan beserta tulang belikat tercabut dari tubuh sang Tetua.
Darah menyembur ke jubah Mo Xie. Ia mengikat tulang lengan emas itu di punggungnya.
Ling'er datang menghampirinya. Wajahnya kembali pucat setelah mengerahkan Seni Darah Yin Agung.
"Jalan timur sudah terbuka." Ia menatap reruntuhan menara. "Leluhur Transformasi Ilahi itu akan segera mengetahui bahwa formasinya telah hancur."
"Kita tidak punya banyak waktu."
Mo Xie mengangguk.
Ia memandang ke luar hutan. Surga Sembilan Lapis terbentang di kejauhan.
Selama ini mereka diburu. Namun malam ini berbeda.
Mo Xie telah menghancurkan salah satu penyangga Istana Dao Surgawi dan membunuh seorang Tetua Jiwa Baru Lahir puncak.
Ia menatap tulang emas di punggungnya.
"Kita tidak akan menunggu mereka datang." Senyum tipis muncul di wajahnya. "Mulai sekarang, kita yang akan mendatangi mereka."
Ling'er tertawa kecil. "Dan mencabut tulang mereka?"
"Ya, Satu demi satu, tapi untuk saat ini kita harus pergi dari sini, selagi formasi sedang melemah.."
Keduanya kemudian melesat menembus kabut.
Di belakang mereka, reruntuhan Menara Timur masih dipenuhi cahaya emas yang perlahan padam.