Tanda tangani ini. Ingat, kita menikah hanya di atas kertas. Jangan pernah bermimpi aku akan menyentuhmu, apalagi mencintaimu!"
Demi melunasi biaya pengobatan ibunya yang kritis, Naura Ayu terpaksa menjual kebebasannya. Dia setuju menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Adrian Mahendra, seorang CEO tampan yang terkenal dingin, kejam, dan tidak tersentuh wanita.
Bagi Adrian, Naura hanyalah 'istri pajangan' demi memuaskan tuntutan sang kakek agar posisinya sebagai pewaris tahta perusahaan aman.Awalnya, semua berjalan sesuai kesepakatan. Mereka hidup dalam dinding pembatas yang dingin. Namun, pesona Naura yang mandiri, tegar, dan tidak silau akan hartanya perlahan mulai mengusik pertahanan hati Adrian.
Saat kontrak hampir berakhir dan Naura bersiap untuk pergi, Adrian justru mengunci pintu rapat-rapat. Tatapan dingin pria itu berubah menjadi kilat obsesi yang membara."Siapa yang mengizinkanmu pergi? Kontrak bisa berakhir, tapi kamu... selamanya milikku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S RIANA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
keposesifan yang mulai tumbuh
Pagi-pagi sekali, mansion megah keluarga Mahendra sudah disibukkan oleh kedatangan belasan orang yang membawa gantungan baju berisi gaun-gaun malam mewah, deretan sepatu hak tinggi bermerek, serta kotak-kotak perhiasan yang berkilauan. Sesuai perintah Adrian semalam, Dimas membawa tim desainer dan penata busana terbaik di ibu kota untuk merombak total penampilan Naura.
Naura berdiri dengan canggung di tengah ruang tamu lantai dua. Di sekelilingnya, tiga orang wanita sibuk mengukur tubuhnya dengan pita meteran, sementara seorang pria penata busana berambut klimis bernama Rey sibuk memilah-milah pakaian dari gantungan.
"Luar biasa... Struktur tulang Nyonya sangat proporsional. Kulitnya yang putih bersih akan sangat cocok dengan gaun berwarna emerald atau navy," celoteh Rey dengan nada heboh khas desainer papan atas.
Rey melangkah mendekati Naura, lalu dengan santai mengulurkan tangan untuk merapikan seuntai rambut hitam Naura yang menutupi lehernya untuk melihat garis bahu gadis itu. "Permisi ya, Nyonya manis, saya rapikan sedikit rambutnya agar kita bisa melihat—"
"Singkirkan tanganmu dari istriku."
Sebuah suara bariton yang berat dan sedingin es memotong kalimat Rey. Ketegangan seketika menyelimuti ruangan.
Adrian Mahendra berdiri di ujung tangga dengan setelan jas kerja yang rapi. Tatapan matanya yang setajam elang terarah lurus pada tangan Rey yang berada di dekat leher Naura. Aura intimidasi yang dikeluarkan sang CEO begitu pekat hingga membuat Rey gemetar ketakutan dan langsung menarik tangannya kembali dengan cepat.
"M-maaf, Tuan Mahendra. Saya tidak bermaksud... saya hanya ingin mengukur garis leher Nyonya," gagap Rey sambil membungkuk berkali-kali.
Adrian melangkah mendekat dengan perlahan. Setiap ketukan sepatu nya di atas lantai marmer terdengar seperti hitung mundur yang menegangkan. Dia berhenti tepat di samping Naura, lalu secara alami melingkarkan tangan kekarnya di pinggang ramping Naura, menarik gadis itu mendekat ke tubuhnya dengan gerakan yang sangat posesif.
Naura tersentak. Tubuhnya menegang saat merasakan kehangatan dada bidang Adrian yang menempel di punggungnya. Dia mencoba memberontak sedikit, namun cengkeraman tangan Adrian di pinggangnya justru semakin mengencang, menguncinya rapat-rapat.
"Ukur saja apa yang perlu diukur. Jangan menyentuh bagian yang tidak perlu," perintah Adrian dingin kepada tim desainer. Matanya lalu menunduk, menatap Naura yang sedang mendelik kesal ke arahnya. "Dan kau... diamlah. Jangan bergerak."
Naura menggertakkan giginya menahan kesal. Pria ini benar-benar gila hormat, pikirnya. Di depan orang lain, dia berakting seolah-olah mereka adalah pasangan suami istri yang saling mencintai, padahal semalam dia memperlakukannya seperti pajangan.
Proses pemilihan baju berlangsung selama dua jam penuh di bawah pengawasan ketat dari mata Adrian yang tidak beralih sedikit pun. Setiap kali Rey menyarankan gaun dengan potongan dada rendah atau bagian punggung yang terbuka, Adrian langsung menolaknya dengan kerutan dalam di dahi.
"Terlalu terbuka. Ganti," potong Adrian tegas saat Naura mencoba sebuah gaun malam berwarna merah dengan belahan paha tinggi.
"Tapi Tuan, ini sedang tren di Paris—"
"Aku tidak peduli dengan Paris. Ganti dengan yang lebih tertutup," sergah Adrian tidak terbantahkan.
Pada akhirnya, pilihan jatuh pada sebuah gaun beludru berwarna biru tua (navy blue) dengan potongan sabrina yang elegan namun sopan, serta gaun-gaun kasual premium untuk pakaian sehari-hari Naura di dalam mansion.
Setelah tim desainer pergi membawa pesanan bernilai ratusan juta rupiah itu, Naura langsung menghempaskan tangan Adrian dari pinggangnya dengan kasar.
"Tuan Adrian, sandiwara Anda tadi terlalu berlebihan!" protes Naura dengan napas terengah-engah karena menahan emosi. "Anda membuat desainer tadi ketakutan setengah mati. Lagipula, dia hanya bekerja, tidak ada maksud lain!"
Adrian yang hendak melangkah pergi, menghentikan langkahnya. Pria itu berbalik, menatap Naura dengan tatapan yang sulit diartikan. Dia melangkah mendekati Naura hingga gadis itu terpaksa mundur beberapa langkah sampai punggungnya membentur pilar ruangan.
Adrian mengunci tubuh Naura dengan meletakkan satu tangannya di pilar, tepat di samping kepala Naura. Wajah mereka kembali begitu dekat.
"Dengar baik-baik, Naura Ayu," ucap Adrian, suaranya rendah namun penuh penekanan. "Kontrak kita memang hanya di atas kertas. Tapi di mata hukum dan di mata dunia saat ini, kau adalah istriku. Apa yang sudah menjadi milik seorang Adrian Mahendra, tidak boleh disentuh, dipandang terlalu lama, ataupun didekati oleh pria lain. Paham?"
"Itu namanya egois! Anda bahkan tidak mencintaiku!" balas Naura berani, matanya menantang langsung manik mata hitam Adrian.
Mendengar kata "cinta", sudut bibir Adrian terangkat, membentuk senyuman sinis yang meremehkan. "Cinta? Tentu saja aku tidak mencintaimu. Jangan bermimpi terlalu tinggi. Ini masalah kepemilikan dan harga diriku sebagai seorang Mahendra. Aku tidak suka barang milikku diganggu. Jadi, jaga sikapmu jika tidak ingin aku menghukummu dengan caraku sendiri."
Adrian memundurkan tubuhnya, merapikan kembali jasnya yang tidak berantakan, lalu berjalan pergi meninggalkan mansion untuk berangkat ke kantornya.
Naura bersandar pada pilar dengan lemas, memegangi dadanya yang berdegup kencang karena kombinasi rasa marah dan gugup. "Pria egois, arogan, tidak punya perasaan!" umpatnya dengan air mata yang menggenang di sudut mata. Dia merasa seperti burung di dalam sangkar emas yang sangat ketat.
Malam harinya, Adrian belum juga pulang hingga pukul sebelas malam. Naura yang merasa bosan dan tidak bisa tidur memutuskan untuk turun ke dapur lantai bawah untuk mengambil segelas susu hangat. Mansion malam itu terasa sangat sunyi dan sebagian besar lampu sudah dipadamkan.
Saat sedang mengaduk susunya di pantry, suara deru mobil terdengar dari halaman depan, disusul dengan langkah kaki yang berat memasuki lobi utama. Naura tahu itu adalah Adrian. Dia bergegas mematikan lampu dapur, berniat kembali ke kamarnya lewat tangga belakang agar tidak perlu berpapasan dengan pria menyebalkan itu.
Namun sial, saat dia baru saja keluar dari area dapur, lampu lobi menyala terang. Adrian berdiri di sana dengan dasi yang sudah longgar dan wajah yang tampak sangat lelah. Bau alkohol tipis menguar dari tubuhnya, menandakan pria itu baru saja menghadiri jamuan bisnis yang melelahkan.
Langkah kaki Adrian terhenti saat melihat Naura yang berdiri membeku memegang segelas susu. Pandangan mata pria itu yang biasanya tajam, kini tampak sedikit sayu namun justru terlihat lebih intens. Tatapannya turun, memperhatikan Naura yang malam ini mengenakan salah satu gaun tidur kasual berbahan satin tipis berwarna putih satin yang baru dibeli tadi siang. Gaun itu melekat sempurna di tubuhnya, memperlihatkan lekuk tubuh Naura yang selama ini tersembunyi di balik baju-baju longgarnya yang usang.
Adrian menelan ludah secara refleks. Efek alkohol yang membakar darahnya bercampur dengan pemandangan di depannya membuat akal sehat sang CEO yang selalu dipuji dingin mendadak goyah.
Dia melangkah mendekati Naura dengan langkah yang pelan namun pasti, mengunci pandangan matanya pada gadis itu seolah-olah Naura adalah mangsa yang tidak akan bisa lari ke mana-mana.