Sejak kecil, Alkina selalu tahu bahwa dirinya berbeda di mata kedua orang tuanya. Di rumah, Sisil selalu mendapatkan apa pun yang diinginkan. Ketika Sisil meminta uang, orang tua mereka memberikannya tanpa banyak bertanya. Ketika Sisil melakukan kesalahan, mereka selalu mencari alasan untuk membelanya. Bahkan ketika Alkina berprestasi dan berusaha membuat orang tuanya bangga, keberhasilannya dianggap biasa saja. Berbeda dengan Sisil, Alkina justru selalu dituntut untuk mengalah. "Kamu itu jangan egois... Apa susahnya sih mengalah." Kalimat itu sudah terlalu sering ia dengar. Alkina terbiasa melihat hadiah mahal diberikan kepada Sisil, sementara dirinya hanya mendapatkan barang bekas. Ia terbiasa bekerja membantu pekerjaan rumah, sementara Sisil bebas menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Sampai Alkina berada di titik dimana ia berhenti berharap. Ia tidak lagi meminta dibelikan sesuatu. Tidak lagi menceritakan prestasinya. Tidak lagi menunggu ucapan bangga dari kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fianaqila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 26 Kerinduan yang Tidak Bisa Ditahan
“Dia selalu memastikan kamu aman.” Mata Alkina langsung membesar perlahan. Semua kejadian aneh beberapa minggu terakhir mulai terasa masuk akal. Orang-orang yang menjaga rumah. Jejak yang selalu dihapus. Dan seseorang yang terus melindunginya diam-diam.
“Itu…” napas Alkina mulai memburu, “…semua orang suruhan bang Arkan?”
Mira tersenyum tipis.
“Sebagian besar, iya.”
Air mata Alkina kembali jatuh.
Selama ini abangnya ternyata tidak benar-benar meninggalkannya.
“Aku mau ketemu dia nenek…” Kalimat itu keluar begitu saja.
Begitu tulus. Begitu penuh kerinduan namun wajah Mira perlahan berubah rumit.
“Arkan belum siap.” ucap nek Mira.
Senyum kecil Alkina perlahan menghilang.
“Kenapa?” Mira terdiam beberapa saat sebelum menjawab pelan,
“Karena dia merasa gagal melindungi kamu.”
Deg.
Dadanya langsung terasa sesak.
“Kak Arkan sama sekali tidak salah…”
“Nenek tahu.”
“Tapi dia tidak ak ninggalin aku…” Suara Alkina pecah lagi.
Selama bertahun-tahun ia merasa sendirian namun sekarang ia tahu bahwa di suatu tempat… kakaknya terus menjaganya diam-diam dan itu saja sudah cukup membuat hatinya hangat.
Sementara itu Arkan sedang memeriksa laporan keamanan terbaru di ruang kerjanya.
“Tidak ada pergerakan mencurigakan di sekitar rumah Bu Mira.” Arkan mengangguk kecil.
“Itu bagus.”
“Tapi Nona Sisil masih mencoba mencari lokasi nona Alkina.”
Tatapan Arkan langsung berubah dingin.
“Awasi terus mereka.”
“Baik bos.”
Laki-laki itu hendak pergi sebelum berhenti ragu-ragu.
“Tuan muda…”
“Ya, kenapa?”
“Kalau boleh jujur… menurut saya Nona Alkina pasti akan sangat bahagia kalau tahu Anda masih hidup.”
Tubuh Arkan sedikit menegang. Tangannya perlahan mengepal.
“Belum tentu.” ucap Arkan dengan ragu.
“Tapi dia selalu mencari informasi tentang Anda tuan.”
Tatapan Arkan perlahan meredup.
Ia tahu karena diam-diam ia membaca semua buku harian lama Alkina yang berhasil diselamatkan Mira dari rumah keluarga Wiratmaja.
Dan hampir di setiap halaman ada nama dirinya.
“Kalau bang Arkan masih ada, mungkin aku nggak akan sendirian.”
“Aku kangen bang Arkan.”
“Hari ini mama marah lagi… aku jadi ingat bang Arkan.”
Setiap kalimat itu menghancurkan Arkan perlahan karena adiknya terus berharap pada seseorang yang bahkan tidak berani muncul.
“Aku takut…” bisiknya lirih sementara pria di depannya terdiam.
“Aku takut dia kecewa lihat aku sekarang.” ungkap Arkan.
Malam semakin larut. Di kamarnya, Alkina memandangi foto lama dirinya bersama Arkan kecil yang diberikan Mira.
Tangannya mengusap wajah abangnya pelan lalu perlahan senyum kecil muncul di wajahnya untuk pertama kali setelah bertahun-tahun.
“Abang masih hidup…” Air mata hangat jatuh lagi.
Namun kali ini hatinya tidak lagi terasa sepenuhnya sendirian.
Sejak malam itu sesuatu berubah dalam diri Alkina. Ini pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia bangun pagi dengan perasaan hangat di dadanya.
Meski masih sulit dipercaya Arkan masih hidup. Abangnya masih ada di dunia yang sama dengannya dan pikiran itu membuat Alkina beberapa kali menangis sendiri tanpa sadar.
Pagi itu Mira memperhatikan Alkina yang sedang membantu Rian sarapan, wajah gadis itu terlihat berbeda, lebih hidup, lebih cerah dan penuh semangat. Meskipun matanya masih sembab karena terlalu banyak menangis semalam.
“Kak Alkina senyum terus,” goda Rian kepada kakanya.
Alkina langsung salah tingkah.
“Masa sih, kakak merasa biasa saja.”
“Kakak bohong.” Rian tertawa kecil.
Dan Mira hanya memperhatikan mereka sambil tersenyum tipis. Sudah lama sekali ia tidak melihat Alkina terlihat seringan itu.
Namun di balik semua itu Mira juga tahu keadaan mulai semakin rumit krena sekarang bukan hanya Arkan yang mengawasi dari jauh.
Alkina juga mulai menunggu.
“Nenek...” panggil Alkina
Mira menoleh saat Alkina tiba-tiba memanggil pelan. “Ada apa?”
Alkina terlihat ragu sesaat sebelum akhirnya bertanya,
“Kak Arkan suka makan apa sekarang?”
Deg.
Pertanyaan sederhana itu membuat Mira terdiam sebentar dan sebelum Mira menjawab, Alkina kembali bicara pelan,
“Apa dia masih suka hujan?” “Apa dia baik-baik aja?” “Apa luka kecelakaannya masih sakit?” Pertanyaan demi pertanyaan keluar dengan suara gemetar.
Seolah selama bertahun-tahun Alkina menahan semua rasa rindunya sendiri.
Mira mengusap kepala gadis itu lembut. “Dia baik-baik saja.”
“Aku pengen ketemu nek…” Air mata Alkina langsung menggenang lagi.
Suara itu begitu kecil… dan penuh kerinduan namun Mira tahu Arkan masih belum siap menghadapi momen itu.
Sementara itu di ruang kerjanya, Arkan sedang membaca laporan bisnis keluarga Hendro.
Tatapannya dingin, beberapa aset milik Hendro mulai runtuh perlahan akibat tekanan diam-diam yang ia lakukan selama ini.
“Dua perusahaan mereka bangkrut minggu ini.” lapor tangan kanannya.
Arka mengangguk kecil. “Bagus.”
“Dan beberapa investor mulai menarik diri.”
Tatapan Arkan tidak berubah sedikit pun karena bagi dirinya itu belum cukup.
Tidak akan pernah cukup untuk membayar penderitaan Alkina namun di tengah pembicaraan, salah satu layar monitornya tiba-tiba aktif.
Menampilkan halaman belakang rumah Mira dan di sana Alkina sedang duduk sendirian sambil memeluk foto lama mereka berdua.
Tatapan Arkan langsung membeku. Ia melihat Alkina tersenyum kecil sambil berbicara pelan pada foto itu.
Arkan tahu adiknya sedang membicarakannya. Dadanya langsung terasa sesak. Dalam hatinya ia berkata "maafkan Abang, maafin abang yang tidak bisa melindungi kamu."
“Berhenti dulu.” Anak buahnya langsung diam melihat perubahan wajah Arkan.
Pria itu berjalan mendekati layar perlahan, tatapannya tidak bisa lepas dari Alkina. Begitu banyak luka di wajah gadis itu sekarang. Namun Arkan juga melihat harapan di sana dan itu justru membuatnya semakin takut.
“Aku nggak pantas muncul di depannya…” akhirnya ia mengucapkan pelan
“Tuan muda...”
“Dia terlalu percaya sama aku... Sementara aku...” Suara Arkan mulai berat.
“Padahal waktu dia disiksa… aku nggak ada, aku tidak melindunginya sama sekali, aku tidak datang bantu dia.”
Anak buahnya terdiam krena mereka semua tahu satu-satunya hal yang membuat Arkan bertahan hidup selama ini adalah Alkina dn justru karena itu ia paling takut menyakiti adiknya lagi.
Sementara itu di rumah keluarga Wiratmaja, Ranti mulai kehilangan ketenangan setelah mengetahui Arkan masih hidup.
Ia menangis hampir setiap malam. Jujur saja ia sangat merindukan kedua anaknya. Ia ingin memeluk anaknya yang entah kapan akan kembali bersama dirinya.
“Dia pasti sengaja menjauh dari kita pa…”
Setiawan sama sekali tidak bisa menyangkal karena jika dirinya menjadi Arkan mungkin ia juga akan melakukan hal yang sama.
“Kita gagal sebagai orang tua,” ucap Setiawan pelan.
Ranti menunduk sambil memegang foto kedua anaknya waktu masih kecil.
“Kalau Arkan benar-benar melindungi Alkina sekarang…” Air matanya jatuh lagi.
“…berarti dia juga nggak percaya sama aku.” dan kenyataan itu terasa lebih menyakitkan daripada apa pun.
Setiawan memeluk istrinya, pasangan suami istri itu saling menguatkan sekarang.
Di sisi lain Sisil mulai semakin terdesak. Sisil semakin panik, Ranti membencinya. Dan sekarang beberapa bisnis keluarga kandungnya mulai runtuh tanpa alasan jelas.
“Ada seseorang yang sengaja menyerang kita!”
Hendro membanting meja marah.
“Apa ini ulah Ranti?” Livia terlihat pucat.
“Bukan.” Tatapan Hendro perlahan berubah tajam.
“Ini terlalu rapi, ada orang yang ingin menghancurkan keluarga kita.”
Sisil yang duduk diam langsung menegang.
“Kalau bukan Ranti terus siapa mas?”
“Aku nggak tahu…” Hendro mengepalkan tangan kuat-kuat.
Namun entah kenap pria itu mulai merasa takut seolah ada seseorang yang selama ini diam… akhirnya mulai bergerak dari bayangan.