Sejak lahir, Emira Prawira hanyalah boneka hidup—dirancang untuk patuh, dibentuk untuk menyenangkan pria yang telah dijodohkan dengannya. Ia menelan setiap penghinaan, tersenyum di depan kamera, dan berpura-pura bahagia sebagai tunangan Marko Gunawan, sang pewaris dingin yang tak pernah sedetik pun memandangnya dengan lembut.
Tapi semua berubah saat seorang pria kembali ke dalam hidupnya.
Daniel Mahendra—konglomerat muda yang dijuluki "sang kaisar", pria paling berkuasa sekaligus paling diidamkan di negeri ini. Di mata dunia ia dingin dan tak tersentuh. Namun di hadapan Emira, ia rela menurunkan seluruh takhtanya. Posesif, memuja, dan tak kenal batas: "Cukup minta, dan akan kuberikan segalanya."
Ketika keluarga yang seharusnya melindunginya justru mengkhianatinya, Emira harus memilih—terus menjadi korban, atau bangkit menjadi wanita yang ditakuti dan dicintai. Di balik senyum lembutnya tersimpan dendam yang membara, rahasia keluarga yang berdarah, dan sebuah dunia kekuasaan yang jauh lebih gelap dari yang pernah ia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naysol C., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Tiga bulan yang ditetapkan sebagai tanggal pernikahan pun berlalu.
Emira sedang didandani dengan gaun putih model duyung. Ia begitu cantik sampai Regina tak henti-hentinya memotretnya.
Kemudian upacara pernikahan dimulai. Emira melangkah menuju altar didampingi Bara, yang lalu menyerahkan tangan Emira kepada Daniel sebelum mengundurkan diri. Berdiri di altar, keduanya mengucapkan janji sesuai yang telah ditetapkan, lalu melemparkan buket mawar yang jatuh tepat ke tangan Regina.
Upacara berlangsung tanpa hambatan sedikit pun. Emira merasa menjadi wanita paling bahagia di sisi pria yang ia cintai, meninggalkan segala kekhawatirannya jauh-jauh.
Mereka selalu bersama karena Daniel tak mau lepas dari sisinya. Saat itu, Daniel memperkenalkan Rocky pada Emira, mengatakan bahwa Rocky adalah temannya.
Regina bersama Wisnu menghampiri dan merebut Emira dari Daniel. Rocky bersama Wisnu mencegah Daniel menyusul Emira.
"Tenang," ucap Rocky. "Kalau kau terus bersikap posesif, kemungkinan besar dia malah kabur darimu."
"Tenang saja, Bos," sahut Wisnu. "Tempat ini dijaga ketat. Sekalipun dia ingin kabur, itu mustahil."
Daniel mendengus kesal. "Apa kalian ingin aku ditinggalkan oleh istriku sendiri?"
Rocky bersiul mengejek. "Wah, tak kusangka kau bakal menikah duluan. Kukira kau bakal berakhir sendirian, tua, dan botak."
Daniel mengangkat sebelah alis. "Ha. Apa kau ingin mati...?" Ia tersenyum. "Hei, kelihatannya justru kau yang bakal sendirian dan botak."
Leo muncul, menyandarkan kedua tangannya di antara Rocky dan Wisnu.
"Kalian salah. Si Daniel ini bakal jadi ayah lebih dulu daripada kau."
"Selamat, ya, calon ayah..." Wisnu melirik Leo. "Sepertinya cuma kau yang belum punya ikatan dengan siapa pun."
"Itu sih kau yang ngomongin dirimu sendiri. Kau juga tak bersama siapa pun. Bahkan kau sudah ditolak oleh teman Emira."
Wisnu tersenyum penuh kemenangan. "Memang benar. Tapi pada akhirnya dia menerima jadi kekasihku."
Sementara mereka asyik dengan dunia mereka sendiri, di sisi lain Emira dipuja-puji karena kecantikannya, dan orang-orang berkata bahwa ia dan Daniel adalah pasangan yang serasi.
Teman-teman Vira tak membiarkan Emira tenang, sampai Vira harus turun tangan agar Emira bisa berganti ke pakaian yang lebih nyaman, sebab sebentar lagi mereka akan berangkat menuju bulan madu.
Ketika Emira pergi memeriksa kopernya untuk berganti pakaian, tiba-tiba pintu kamar terketuk. Saat membuka pintu, wajahnya membeku dalam keterkejutan — ibunya berdiri di hadapannya.
"Kenapa kau tak mengirimkan undangan pernikahanmu?" Ratna berkata dengan geram. "Apa kau tak punya orang tua? Kau mau kita jadi bahan tertawaan semua orang?" Ia berteriak. "Aku tahu kabar pernikahanmu dari orang lain, dan aku jadi bahan olok-olok mereka."
Emira menjawab dingin, "Nyonya. Anda keliru. Bukankah Anda dan suami Anda yang mengusirku dari rumah? Waktu itu Anda mengatakan aku ini memalukan dan tak berguna."
Plak! Sebuah tamparan mendarat. "Berani-beraninya kau membalas ucapanku dan menatap mataku! Gara-gara bocah itu kau jadi pemberontak. Kau menikah dengannya cuma karena marah pada Marko yang punya simpanan dan tak memperlakukanmu selayaknya tunangan. Tapi coba katakan, apa yang membuatmu yakin dia berbeda?"
"Ibu," Emira berkata dengan marah. "Ibu tahu betul kenapa Marko memutuskanku. Gara-gara Papa yang ingin merebut perusahaan keluarganya." Ia menangis. "Tapi Marko menyadarinya, dan ia mengira aku berkomplot dengan kalian."
Ratna menjambak dan mengguncang rambutnya sambil berteriak. "Dasar tak tahu diuntung! Seharusnya aku tak pernah membesarkanmu, apalagi membiarkanmu hidup." Ia melepaskan cengkeramannya, membuat Emira jatuh ke lantai. "Biar kukatakan padamu, pria yang kau nikahi itu — orang tuanya adalah pembunuh."
Emira terkejut, lalu bereaksi sambil berteriak di sela air matanya. "BOHONG! Ibu cuma mau mengacaukan hidupku!"
"Kalau kau begitu yakin, kenapa tak kau selidiki saja? Atau tanyakan pada Bara, apa benar orang tua Daniel yang membunuh orang tuanya — bos Mafia Emas terdahulu."
Ibunya keluar sambil membanting pintu, meninggalkan Emira tergeletak di lantai dengan penampilan berantakan, menangis dan menyangkal bahwa mustahil para pembunuh orang tua Bara adalah orang tua Dani-nya tercinta.
Setelah menjernihkan pikirannya, ia berpikir bahwa memang ada yang ganjil sejak awal. Tapi kalau yang dikatakan ibunya benar, Bara pasti takkan menghadiri pernikahan ini, dan orang tua Daniel pun tak pernah menunjukkan tanda kebencian terhadap Bara, begitu pula sebaliknya.
Ia bangkit dan memutuskan untuk tidak memercayai kata-kata ibunya, karena ia mengenal Bara, dan Bara takkan tinggal diam seandainya itu benar.
Ia merapikan diri dan keluar dari kamar dengan penuh percaya diri, siap berangkat bulan madu bersama suami tercinta.
Mereka sedang berpamitan dengan orang-orang terkasih di bandara, tapi untuk memastikan, Emira diam-diam mengamati reaksi Bara terhadap yang lain.
Namun sebagaimana Emira mengenal Bara, Bara pun tahu kapan ada sesuatu yang mengusik Emira. Ia mendekat selagi yang lain lengah dan berkata dengan suara pelan.
"Ada apa? Kenapa kau gelisah? Dan jangan bilang ini soal pernikahanmu, karena aku takkan percaya."
"Saat aku pergi berganti pakaian tadi, Ibu datang dengan panik dan menuntutku karena tak mengiriminya undangan..." Emira melirik yang lain, tapi mereka masih lengah. "Tapi dia bilang, para pembunuh orang tuamu adalah mertuaku."
Bara tersenyum lembut dan memeluknya. "Dasar bodoh, jangan percaya padanya. Dia cuma ingin menyakitimu. Soal pembunuhnya, itu orang lain. Jadi tenang saja..." Ia melepaskan pelukan dan mengecup dahinya. "Nikmatilah bulan madumu."