Raelyn Elamora, mahasiswi cerdas yang keras kepala dan doyan balapan liar, mendadak lemas saat sang papa menjodohkannya demi melunasi utang. Calon suaminya adalah Alvarez Arran Danadiaksa CEO muda super dingin dan cekatan yang menguasai bisnis sekota. Raelyn bersumpah tidak akan tunduk pada si "balok es," sementara Alvarez punya seribu cara pintar untuk menjinakkan istri liarnya. Apakah si kepala batu bisa meluluhkan hati si raja es?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seasoulune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 19
Siang harinya, suasana di kamar utama terasa sangat tenang. Alvarez sedang duduk di sofa pojok kamar, fokus menatap layar laptopnya dengan kacamata baca yang bertengger di hidungnya menambah kesan seksi dan cerdas yang berkali-kali lipat. Sementara itu, Raelyn bersandar di ranjang king size, membolak-balik halaman draf skripsinya dengan bosan.
Drrrtt... Drrrtt...
Ponsel Raelyn yang tergeletak di atas kasur mendadak bergetar nyaring. Layar ponselnya menampilkan panggilan video call dari Tisha. Raelyn langsung menggeser tombol hijau dan mengarahkan kamera depan ke wajahnya.
"Gimana kaki lo? Udah mendingan?" tanya Tisha langsung tanpa basa-basi begitu wajahnya muncul di layar.
"Udah kok," jawab Raelyn singkat, menopang dagunya dengan satu tangan.
Tisha di seberang sana tampak menyipitkan matanya, memperhatikan latar belakang video Raelyn dengan saksama. Kamar yang ditempati Raelyn saat ini didominasi warna abu-abu gelap, dengan gorden beludru mahal dan pencahayaan yang sangat elegan sangat kontras dengan kamar tidur Raelyn biasanya yang penuh dengan poster otomotif dan stiker koding.
"Ehh, bentar... lo di mana? Kok kayak bukan kamar lo?" tanya Tisha curiga, memajukan wajahnya ke arah kamera.
Raelyn melirik sekilas ke arah Alvarez yang masih sibuk dengan laptopnya di pojok ruangan, lalu menurunkan volume suaranya menjadi bisikan halus.
"Di kamar Alvarez."
Mata Tisha langsung membelalak sempurna, nyaris melompat keluar dari rongganya.
"HAH?! Kalian udah sekamar?!" teriak Tisha histeris, membuat speaker ponsel Raelyn berdenging.
"Syuut! Berisik banget sih lo!" sentak Raelyn panik, refleks menempelkan jari telunjuknya di depan bibir.
Dia kembali melirik Alvarez, takut suara cempreng sahabatnya mengganggu konsentrasi suaminya.
"Hmm... orang tua Alvarez semalem kesini. Jadi mau gak mau kita harus sekamar biar gak ketahuan."
Tisha langsung menutup mulutnya dengan satu tangan, namun matanya memancarkan binar gosip yang sangat kentara.
"Serius lo?! Terus... terus ada kejadian apa semalem pas tidur berdua? Cerita dong, Lyn! Jangan pelit informasi!" desak Tisha penuh antusiasme.
Wajah Raelyn mendadak terasa menghangat. Ingatannya langsung berputar otomatis ke kejadian semalam.
Memori tentang bagaimana dia meringkuk ketakutan karena petir, bagaimana Alvarez membuang guling pembatas ke lantai, hingga bagaimana dia memeluk pinggang tegap pria itu dengan sangat erat semalaman suntuk di dalam dekapan yang begitu hangat.
Semburat merah jambu perlahan muncul di kedua pipi Raelyn.
"Gak ada," jawab Raelyn ketus, mencoba memasang wajah sedatar mungkin demi menutupi kegugupannya.
"Serius???" Tisha menatapnya tidak percaya, tahu betul tabiat sahabatnya jika sedang berbohong.
"Aduh, Lyn, lo tuh bener-bener ya! Gue kalau jadi lo, udah gue peluk-peluk tuh si Alvarez! Udah ganteng, badannya bagus, kaya raya lagi! Kurang apa coba?!" cerocos Tisha berapi-api, gemas dengan sifat kaku sahabatnya.
Raelyn mendengus sinis, mencoba mengembalikan tameng pertahanan egonya yang mulai runtuh. "Ya itu kan lo, bukan gue."
Meskipun mulutnya berkata demikian, pikiran Raelyn sama sekali tidak sejalan. Bayangan sentuhan tangan lembut Alvarez yang mengeringkan rambutnya pagi tadi, serta ucapan suaminya tentang 'keinginan Mama punya cucu' kembali terngiang-ngiang di kepalanya, memicu debaran bising yang sangat aneh di dadanya.
Raelyn merasa jika dia meneruskan obrolan ini, Tisha pasti akan menyadari bahwa dia sudah mulai jatuh hati pada sang suami kontrak.
"Udah ya, gue mau tidur. Bye!" ucap Raelyn cepat-cepat memotong pembicaraan sebelum Tisha sempat membalas.
Klik.
Panggilan video itu dimatikan sepihak oleh Raelyn. Dia melempar ponselnya ke atas kasur, lalu menarik selimut tebal sewarna arang itu hingga menutupi seluruh wajahnya yang kini sudah merona merah sempurna.
Dia salah tingkah maksimal di balik selimut, meratapi nasib jantungnya yang belakangan ini selalu berdegup tidak normal setiap kali berada di dekat Alvarez.