NovelToon NovelToon
Godaan Paman Mantanku

Godaan Paman Mantanku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Sayang, aku ke toilet sebentar ya," ucap Sean halus, sambil menepuk pelan jemari Aura yang berada di atas pangkuan.

​Aura mengangguk pelan, memberikan senyuman terbaiknya. "Jangan lama-lama ya, Sean."

​Sean berdiri dan melangkah menjauhi meja makan melingkar itu, menghilang di antara kerumunan alumni yang sedang asyik mengobrol. Aura kembali menyesap minuman dinginnya, mencoba menikmati suasana. Namun, jarum jam seolah berputar lambat. Lima menit berlalu, lalu sepuluh menit, hingga tak terasa hampir 15 menit Sean tak kunjung kembali ke meja mereka.

​Rasa khawatir dan curiga mulai merayapi pikiran Aura. Dengan menghela nafas panjang, ia berpamitan singkat pada teman-teman seangkatannya lalu berdiri untuk menyusul kekasihnya. Langkah kakinya yang beralaskan gaun anggun dan sepatu hak tinggi mengayun perlahan menyusuri lorong katering yang agak remang-remang menuju area toilet.

​Namun, sebelum langkahnya benar-benar sampai di depan pintu toilet pria, langkah Aura terhenti seketika.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pilihan Dimeja Makan

​Rasa hangat dari pancuran air mandi perlahan membasahi kulit Aura, mengalir menyapu sisa kelelahan dan guncangan emosi yang berkecamuk di dadanya. Namun, rasa perih yang menusuk di bagian sensitif bawah tubuhnya terus menjadi pengingat nyata akan keputusasaan dan kebodohan yang ia lakukan semalam. Setiap sentuhan air seolah menegaskan betapa jauh ia telah melangkah hanya karena tersulut emosi atas pengkhianatan Sean.

​Aura memejamkan mata di bawah guyuran air hangat, membiarkan jemarinya meremas rambutnya yang basah. Isakan kecil kembali lolos dari bibirnya yang pucat. Rasa hina dan penyesalan terasa begitu menghimpit, tetapi ia tahu menangis terus-menerus di kamar mandi ini tidak akan mengubah apa pun. Pria bernama Arsen itu sedang menunggunya di bawah, dan kenyataan bahwa pria itu adalah paman dari Sean membuat situasi ini jauh lebih rumit dari yang pernah ia bayangkan.

​Setelah mengeringkan tubuhnya, Aura mengenakan pakaian bersih yang telah disiapkan di atas meja rias. Sebuah gaun rajut santai berwarna krem berlengan panjang yang begitu pas di tubuhnya, nampak sopan dan hangat. Aura menatap pantulan dirinya di cermin besar. Wajahnya pucat, dengan lingkaran hitam tipis di bawah mata dan bibir yang sedikit bengkak. Menghela nafas panjang untuk mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya, ia melangkah keluar dari kamar mandi.

​Langkah kaki Aura beralaskan sandal kamar yang empuk mengayun perlahan menyusuri koridor mansion yang begitu megah dan lengang. Suasana rumah berarsitektur tinggi itu terasa begitu dingin dan formal, mencerminkan kepribadian pemiliknya. Setiap kali melangkah menuruni anak tangga melingkar berpilar marmer menuju lantai bawah, dadanya berdegup kian kencang bak ditabuh drum.

​Di ujung tangga, bau harum aroma kopi hitam yang baru diseduh dan roti panggang langsung menusuk indra penciumannya. Langkah Aura terhenti sejenak di ambang ruang makan yang sangat luas.

​Di sana, di meja makan kayu jati panjang yang mampu memuat puluhan orang, Arsen duduk di ujung meja dengan posisi tegap dan anggun. Pria bertubuh tinggi besar itu sedang fokus membaca lembaran koran bisnis di tangannya, sementara sebuah cangkir porselen putih mengepulkan uap halus di sampingnya. Setelan jasnya yang rapi memancarkan aura dominasi yang begitu kuat, membuat siapa pun yang berhadapan dengannya merasa kerdil.

​Mendengar kecipak pelan langkah kaki di atas lantai marmer, Arsen perlahan menurunkan korannya. Manik mata tajam berwarna hitam pekat itu bergulir lurus menatap ke arah Aura yang berdiri mematung di dekat tangga.

​"Duduklah," perintah Arsen pelan namun bernada mutlak, menunjuk kursi kosong di sebelah kanannya yang telah tertata rapi dengan piring sarapan.

​Suara Arsen yang berat dan tenang mengalun di udara, memecah keheningan ruang makan yang megah itu. Kata-kata pria itu terlontar begitu lugas tanpa ragu, membuat langkah kaki Aura terhenti seketika di samping kursi.

​"Sebelum kau bicara, isi perut kosongmu dulu. Tadi malam alkohol membuatmu tak terkendali," ucap Arsen santai sembari kembali menyesap kopi hitamnya.

​Mendengar kalimat itu, wajah Aura seketika membara panas. Warna merah merona menjalar cepat dari leher hingga ke ujung telinganya. Rasa malu yang teramat sangat menghantam dadanya kembali, mengingatkan betapa liar dan memalukannya sikap yang ia tunjukkan di hadapan pria asing ini semalam. Aura menundukkan kepala dalam-dalam, tak berani menatap langsung manik mata Arsen yang tajam.

​Dengan jemari yang sedikit gemetar, Aura menarik kursi kayu bermotif ukiran itu perlahan dan duduk di sebelah kanan Arsen. Di hadapannya telah tersaji piring berisi omelette hangat, roti panggang bertabur mentega, dan segelas air putih dingin. Meski perutnya memang terasa mual dan kosong melompong, rasa gugup membuat tenggorokannya serasa menyempit.

​"Makanlah. Aku tidak suka berbicara dengan orang yang lemas," tambah Arsen dingin, namun tangannya meraih teko dan menuangkan air hangat ke cangkir kosong di dekat Aura.

​Aura akhirnya memaksakan diri memegang sendok. Ia mengunyah makanan di hadapannya perlahan-lahan tanpa bersuara, sementara Arsen tetap fokus pada berkas bisnis di tablet pribadinya. Suasana di antara mereka dipenuhi ketegangan yang tertahan, hingga akhirnya piring Aura bersih dan gelas minumnya menyisa setengah.

​Aura meletakkan sendoknya pelan, lalu memberanikan diri mendongak menatap pria yang duduk di sampingnya.

​"Tuan Arsen..." suara Aura terdengar parau dan pelan. "Mengenai kejadian semalam... dan tentang Sean... apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Anda bisa ada di kafe itu?"

​Arsen mematikan layar tabletnya, lalu menyandarkan punggung kokohnya pada sandaran kursi. Pria itu menatap Aura secara intens, mengintimidasi namun tanpa intensi menyakiti.

​"Aku datang ke kafe itu untuk mencari Sean. Dia meninggalkan rapat direksi penting perusahaan keluarga demi menghadiri reuni itu tanpa izin," terang Arsen dengan nada datar namun sarat kekecewaan atas keponakannya. "Tapi alih-alih menemukan calon penerus bisnis yang bertanggung jawab, aku justru menemukanmu yang terpuruk di depan pintu, serta keponakanku yang sibuk bermain api di lorong dengan wanita lain."

​Dada Aura kembali terasa sesak saat fakta tentang Sean diungkit kembali. Pengkhianatan itu masih terasa seperti luka basah yang baru disiram cuka.

​"Lalu... apa yang akan Anda lakukan sekarang?" tanya Aura lirih. "Tentang kita... dan Sean?"

​Arsen menatap tajam ke dalam manik mata Aura yang berkaca-kaca. Sebuah senyum tipis yang penuh arti terukir di bibir tegas sang CEO.

​"Sean sudah membuktikan bahwa dia tidak menghargaimu, begitu juga dengan tanggung jawabnya di perusahaan," ujar Arsen pelan namun penuh penekanan. "Kejadian semalam memang sebuah kesalahan akibat alkohol, tapi aku bukan pria yang akan melepaskan tanggung jawab begitu saja. Sekarang kau punya dua pilihan, Aura."

​Arsen memajukan tubuhnya sedikit, memangkas jarak di antara mereka.

​"Melupakan segalanya dan berpura-pura tidak pernah terjadi apa pun... atau ikut bersamaku untuk membuat Sean membayar mahal atas apa yang telah dia hancurkan."

1
Ryuu
Keren
Ryuu
semangat😍
Ade Chubi
dua pilihan itu ,dua dua nya menguntungkan tuan CEO
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!