Alina tidak pernah berpikir dirinya akan dicintai dan menikah. Bahkan, ia sudah menyiapkan tabungan masa tua barangkali pernikahan tidak pernah terjadi dalam hidupnya.
Namun, ternyata Tuhan memiliki rencana lain. Arka hadir dengan cinta dan rumah yang selalu Alina impikan.
Bagaimana kisahnya? Ikuti terus ya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noorinor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Alina ingat mengajak Arka saling mengenal, tapi ia tidak menyangka Arka akan secara resmi mengenalkannya pada orang tuanya. Bahkan sampai memperkenalkannya pada pembantu dan tukang kebun di rumahnya.
"Ini Bi Euis dan Teh Santi yang bantu Bunda ngurus rumah, kalau ini Mang Ujang yang ngurus kebun sekaligus jaga rumah," ujar Arka sambil menunjuk satu per satu orang.
Alina tersenyum kikuk. Kalau seperti ini, orang mungkin akan berpikir dirinya diperkenalkan sebagai calon menantu keluarga ini.
"Saya Alina," ucapnya memperkenalkan diri. Ia sudah terlanjur datang, tidak mungkin menolak untuk berkenalan.
Alina menjabat tangan mereka satu per satu. Sudah beberapa kali membantu Bu Ratih membuat cookies di rumah itu, ia baru tahu mereka memiliki pembantu dan tukang kebun.
"Iya, Teh. Nanti kalau butuh apa-apa Teteh bilang aja ke saya atau Teh Santi ya," kata Bi Euis saat Alina menjabat tangannya.
Alina semakin kikuk. Perkataan Bi Euis membuatnya seperti orang yang akan tinggal daripada orang yang datang sebagai tamu.
"Iya, Bi. Makasih," balasnya sambil tetap tersenyum.
"Oh ya, A Arka udah sibuk di dapur lho pagi-pagi. A Arka secara khusus bikin sarapan buat kita hari ini," ujar Bu Ratih sambil memegang tangan Alina setelah Alina selesai menjabat tangan semua orang.
"Semoga aja sarapannya nggak bikin kamu sakit perut ya, Alina," ucap Pak Dirga menimpali, sekaligus menggoda putranya yang akhirnya membawa pulang calon menantu ke rumah.
"Ya nggak mungkin lah. Arka aja bikinnya penuh cinta," sambar Bu Ratih. Baru juga ia memberi kesan baik, sudah dijatuhkan begitu saja oleh suaminya.
Alina terkekeh mendengar keributan kecil itu. Begitu pun Bi Euis, Teh Santi, dan Mang Ujang. Sementara Arka hanya pasrah karena kalau tidak begitu masalahnya pasti akan panjang.
"Kita langsung sarapan aja sekarang," ujar Arka berniat mengajak Alina ke ruang makan, tapi ibunya sudah lebih dulu menggandeng Alina pergi.
"Kamu sama Papa aja, Bunda mau sama Alina," ucap Bu Ratih langsung pergi begitu saja tanpa memberi kesempatan Arka protes.
Arka hanya pasrah mengikuti di belakang. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain itu karena Alina adalah calon menantu impian ibunya. Ibunya pasti sangat senang karena Alina akhirnya memberinya kesempatan, meski baru sekadar ingin saling mengenal.
"Sabar ya, A Arka. Teh Alina dikuasai Bunda kamu," ujar Pak Dirga berjalan di samping putranya.
Nada bicaranya terdengar meledek karena biasanya ia hanya memanggil nama Arka tanpa embel-embel A atau Aa. Ia mengikuti cara orang-orang di rumahnya memanggil Arka dan Alina.
Arka melirik ayahnya tanpa membalas. Ayahnya memang sering meledeknya, bahkan saat ibunya mulai menjadikan Alina topik obrolan ketika Alina masih awal-awal pindah di samping rumah mereka.
Bi Euis, Teh Santi, dan Mang Ujang tidak ingin mengganggu kebahagiaan keluarga kecil itu. Mereka berpencar untuk melakukan pekerjaan mereka masing-masing.
****
Bu Ratih tidak berbohong ketika mengatakan Arka sudah menyiapkan sarapan untuk mereka. Di meja makan sudah tersedia sarapan untuk empat orang. Arka menyiapkan roti gandum panggang, sosis goreng, telur ceplok, alpukat, tomat, dan selada yang sudah dihias sedemikian rupa.
"Ganti nih menu sarapannya? Nggak ada lagi nasi kuning dan gorengan?" tanya Pak Dirga menatap meja makan.
Mereka dianggap keluarga paling kaya oleh tetangga, tapi menu sarapan mereka biasanya hanya nasi kuning dan gorengan atau nasi goreng rumahan buatan Bu Ratih. Baru kali ini mereka sarapan roti.
"Libur dulu. Arka mau ngasih yang terbaik buat Alina," ujar Bu Ratih.
"Lho, bukannya Teh Alina juga suka sarapan nasi kuning dan gorengan ya? Belinya juga bareng sama A Arka, kan?" ucap Pak Dirga tidak berhenti meledek putranya.
Alina menatap Arka. Ia tidak ingat pernah membeli nasi kuning dan gorengan bersama Arka. Mereka sering papasan di penjual nasi depan rumah, tapi tidak pernah sampai membelinya bersama.
Pak Dirga terkekeh melihat Arka dan Alina yang sedang saling menatap, sebelum mengoreksi ucapannya sendiri, "Maksud Papa, kalian sering ketemu di penjual nasi kuning."
"Maaf, Papa salah ngomong. Maklum faktor U, suka belibet kalau ngomong," alibinya.
Dosen sekaligus Wakil Dekan seperti Pak Dirga tidak mungkin belibet. Lagipula, sejak kapan belibet diukur dari usia?
"Udah dong, Pa. Jangan diledekin terus anaknya," ucap Bu Ratih menengahi.
Pak Dirga hanya menyengir. Alina ikut terkekeh. Kehangatan seperti ini yang ia impikan bersama keluarganya. Sayangnya, ia tidak pernah merasakannya.
"Keluarga kalian seru juga," ujar Alina. Ia tahu Pak Dirga sedang meledeknya dan Arka, tapi tidak mempermasalahkannya.
"Iya, seru. Mau join nggak jadi anggota tambahan?" tanya Pak Dirga seakan tidak ada habisnya.
Mereka sampai belum sempat duduk karena Pak Dirga terus mengoceh.
"Nanti sarapannya keburu dingin," kata Arka menyela, takut Alina tidak nyaman dengan pertanyaan ayahnya.
Ia kemudian menarik satu kursi agar Alina bisa duduk di sana. "Duduk di sini. Nggak usah dipikirin pertanyaan Papa. Nggak jelas."
Alina tersenyum melihat wajah kesal Arka. Padahal, Arka diam saja dari tadi diledek ayahnya. Sekarang kesal karena sang ayah menanyakan itu.
Bu Ratih dan Pak Dirga saling menyenggol melihat betapa manisnya putra mereka memperlakukan perempuan. Tatapan mereka seolah mengatakan, "Bentar lagi kita punya cucu nih."
****
Setelah selesai sarapan, Arka memanaskan mobil untuk bersiap ke kafe. Kali ini, ia akan pergi bersama Alina agar Alina tidak perlu naik motor.
Tidak lama, Alina datang dengan barang bawaannya. Tadi ia sempat pulang untuk mengambil earphone dan tas tablet di rumahnya.
"Mau berangkat sekarang, A?" tanya Alina menghampiri Arka.
Posisi Arka sedang berada di samping mobilnya dengan pintu pengemudi yang terbuka. Ia membalikkan badan begitu mendengar suara Alina.
"Iya, mana barangnya. Biar aku simpan di belakang," ujar Arka meminta barang Alina.
Alina langsung menyerahkannya. Tabletnya masih yang sama yang sering ia bawa. Untungnya, tablet itu tidak rusak setelah Bu Wati menjatuhkannya waktu itu.
"Nanti di sana kamu ke ruangan aku aja, ya. Aku mau cek ke dapur barangkali butuh bantuan," ucap Arka setelah menyimpan barang Alina di jok belakang.
Alina sadar sekarang sudah berbeda. Ia bukan lagi sekadar pelanggan yang kenal baik dengan pemilik kafe, dan harus mulai terbiasa dengan itu.
"Iya, A," sahut Alina menuruti kata Arka.
****
Kafe Ruang Temu masih sepi. Belum ada pelanggan yang datang karena kafe belum buka. Hanya ada karyawan yang sedang piket sebelum kafe buka.
"Udah fix jadi Bu Bos ini mah," bisik Ningsih pada Yuna dengan tangannya yang sedang sibuk membersihkan meja.
"Worth it sih kalau yang ini, yang sebelumnya kan cuma morotin Bos Arka," ujar Yuna menanggapi Ningsih.
Arka mencintai Alina, tapi dia bukan laki-laki tanpa masa lalu. Ada perempuan di masa lalunya yang memang mengambil keuntungan finansial darinya.
Semua karyawan di kafe itu tahu karena mereka menjadi saksi Arka dimanfaatkan.
"Iya, bener," ucap Ningsih, setuju bahwa Alina lebih worth it untuk bos mereka.
Alina ini tipe cewe ga peka atau gimana yak.