Berawal dari ketidaksengajaan darahnya mengenai gagang pintu berukir naga di tumpukan rongsokan, Raka Mahesa mendadak memiliki akses gerbang penembus dua dunia. Berbekal barang murah modern yang menjadi pusaka di dunia kuno dan herbal purba yang bernilai miliaran di Jakarta, pemulung melarat ini mulai membangun kerajaan bisnisnya untuk merajai kedua dunia tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Brummm.
Mobil sedan mewah berwarna hitam mengkilap berhenti tepat di depan lobi sebuah hotel bintang lima paling elit di Jakarta.
Seorang petugas valet berseragam merah langsung berlari mendekat dan membukakan pintu penumpang bagian belakang.
Ceklek.
Sasa melangkah turun lebih dulu dengan gaun malam hitamnya yang membelah tinggi di bagian paha.
Kecantikan wanita itu langsung menyita perhatian beberapa tamu undangan yang sedang berdiri di sekitar lobi utama.
Tak lama kemudian, Raka menyusul turun dari pintu sebelahnya dengan sangat tenang.
Tap tap tap.
Sepatu kulit hitam mengkilap yang dipakai Raka beradu dengan lantai marmer lobi menghasilkan suara langkah yang tegas.
Setelan jas biru navy seharga setengah miliar itu benar-benar mengubah total postur dan aura pemuda jalanan tersebut.
Ia terlihat tegap, arogan, dan memancarkan tatapan mata sedingin es yang membuat orang segan untuk menatapnya lama-lama.
"Ingat pesanku tadi di mobil Raka, kau adalah asisten pribadiku malam ini," bisik Sasa merapatkan tubuhnya ke lengan Raka.
"Tenang saja Nona Sasa, saya sudah sangat ahli berakting menjadi orang sombong yang irit bicara," jawab Raka dengan suara pelan.
Mereka berdua berjalan berdampingan melewati lorong panjang hotel yang dihiasi lampu kristal raksasa di atasnya.
Dua orang penjaga berbadan tegap memeriksa undangan digital Sasa di depan pintu masuk ruang perjamuan utama.
"Selamat malam Nona Clarissa, silakan masuk dan nikmati hidangannya," sapa penjaga itu membukakan pintu kayu ganda yang sangat besar.
Kriet.
Suasana di dalam ruangan itu langsung membuat Raka sedikit menahan nafas karena terlalu mewah.
Puluhan meja bundar tertata rapi dengan taplak putih, dihiasi lilin dan bunga mawar asli di tengahnya.
Orang-orang yang berkumpul di sana semuanya memakai pakaian yang harganya mungkin bisa untuk membangun satu desa di dunia kuno.
"Di dunia kuno bapak tua itu bertaruh nyawa demi sebotol air bersih, sementara di sini orang membuang anggur mahal seperti air got."
"Dunia ini memang tidak pernah adil, makanya gue harus jadi yang paling kuat biar nggak diinjak," batin Raka menatap dingin ke sekeliling ruangan.
Sasa langsung disambut oleh beberapa pria dan wanita paruh baya yang merupakan rekan bisnisnya di industri farmasi.
Raka hanya berdiri diam setengah langkah di belakang Sasa persis seperti seorang pengawal pribadi kelas atas.
Ia memasang wajah datar tanpa ekspresi, tapi matanya terus bergerak mengamati setiap sudut ruangan mencari ancaman.
Ting ting.
Suara dentingan gelas kaca dari arah meja tengah membuat beberapa orang menoleh ke arah sana.
"Wah wah, lihat siapa yang datang meramaikan pesta kecil kita malam ini."
Sebuah suara pria yang sangat menyebalkan dan penuh nada meremehkan memecah obrolan kelompok Sasa.
Raka menoleh dan melihat seorang pemuda tampan memakai jas putih mencolok berjalan mendekati mereka dengan segelas anggur di tangannya.
Pemuda itu adalah Kevin, pewaris Grup Naga Mas yang fotonya sudah ditunjukkan oleh Sasa siang tadi.
Di belakang Kevin, mengekor dua orang pria berjas hitam yang posturnya sangat besar menyerupai pegulat profesional.
"Malam yang indah Clarissa, aku tidak menyangka kau berani datang ke acara ini setelah kekacauan di pasar herbal kemarin."
Kevin berhenti tepat di depan Sasa lalu tersenyum miring dengan tatapan mata yang sangat licik.
"Urusan pasar herbalku bukan sesuatu yang perlu kau pikirkan Kevin, urus saja bisnis klub malammu yang bermasalah itu," balas Sasa tajam dan dingin.
Beberapa rekan bisnis Sasa perlahan mundur menjauh karena tidak mau ikut campur dalam perseteruan dua naga muda ini.
Kevin tertawa pelan mendengar sindiran Sasa lalu mengalihkan pandangannya ke arah Raka yang berdiri diam.
Mata Kevin memicing tajam menilai penampilan Raka dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Dan siapa pria asing yang kau bawa ini Clarissa? Kurasa aku belum pernah melihat wajahnya di majalah bisnis manapun."
"Dia Raka, asisten pribadiku yang baru, kau tidak perlu repot-repot berkenalan dengannya," jawab Sasa mencoba menutupi identitas Raka.
Namun Kevin malah melangkah maju mengabaikan Sasa dan berdiri berhadapan langsung dengan Raka.
Jarak mereka sangat dekat, tapi Raka sama sekali tidak mundur atau menundukkan pandangannya.
"Asisten pribadi? Sejak kapan Grup Farmasi Bintang mempekerjakan asisten pribadi yang auranya seperti pembunuh bayaran begini?" ejek Kevin tersenyum meremehkan.
Raka membalas tatapan Kevin dengan mata yang jauh lebih dingin dan kosong dari sebelumnya.
"Dan sejak kapan pewaris Grup Naga Mas punya hobi mengurusi urusan dapur perusahaan orang lain?" balas Raka dengan nada suara yang sangat tenang.
Sasa langsung menahan napasnya mendengar Raka berani membuka mulut dan membalas ucapan Kevin secara langsung.
Wajah Kevin sedikit mengeras karena tidak menyangka seorang asisten berani menjawab ejekannya di depan umum.
"Kau punya nyali juga rupanya untuk ukuran seekor anjing peliharaan baru."
Kevin memutar gelas anggurnya perlahan lalu mencondongkan wajahnya ke arah Raka.
"Katakan padaku Raka, berapa gaji yang diberikan Sasa padamu sampai kau mau mempertaruhkan nyawamu untuknya?"
"Aku bisa membayarmu sepuluh kali lipat kalau kau mau pindah bekerja memungut bola golf untukku besok pagi," tawar Kevin secara terang-terangan.
Sasa mengepalkan tangannya menahan amarah karena Kevin mencoba merendahkan Raka di depannya.
Tapi sebelum Sasa sempat membalas, Raka malah tertawa pelan.
Hahaha.
Tawa Raka terdengar sangat tulus dan santai, seolah ia baru saja mendengar lelucon paling lucu sedunia.
"Gaji sepuluh kali lipat? Wah itu tawaran yang sangat menggiurkan Tuan Kevin yang terhormat."
Raka merapikan kerah jas birunya lalu menatap lurus ke dalam bola mata Kevin.
"Tapi saya dengar bekerja untuk Grup Naga Mas itu risiko kematiannya sangat tinggi akhir-akhir ini."
Alis Kevin berkerut rapat tidak mengerti arah pembicaraan Raka.
"Maksudmu apa asisten rendahan? Grupku adalah yang terkuat di kota ini, tidak ada yang berani mencari masalah dengan kami!" bentak Kevin mulai terpancing emosinya.
"Oh masa sih? Lalu bagaimana dengan nasib tiga ekor anjing pelacak yang Tuan kirim semalam ke lahan proyek kosong itu?"
Suara Raka mendadak berubah menjadi sangat berat dan mematikan.