NovelToon NovelToon
Epos Tak Berujung: Pedang Sampah Terbang

Epos Tak Berujung: Pedang Sampah Terbang

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Action / Fantasi
Popularitas:107
Nilai: 5
Nama Author: Liam Harrison

Kaelen—seorang pendekar dengan pedang besi berkarat yang menyimpan misteri dimensi lain—bersama Lyra, seorang alkemis cerdas berdarah dingin, nekat menerobos reruntuhan kuil kuno peninggalan Mazhab Pedang Purba.

Diintai oleh bayangan mematikan dari Faksi Tengkorak Darah dan desakan ancaman dari pengkhianat faksi lokal bernama Vance, perjalanan mereka bukan sekadar pelarian, melainkan perburuan berbahaya demi menemukan Jiwa Artefak Reruntuhan Langit. Menghadapi entitas Qi gelap, formasi penjara kuno, dan bisikan purba yang menguji jiwa, Kaelen dan Lyra harus mempertaruhkan nyawa untuk mengungkap kebenaran di balik masa lalu yang terkubur, sebelum perangkap pengkhianatan merenggut nyawa mereka di ujung lorong yang sunyi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liam Harrison, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Fajar Baru di Atas Reruntuhan Abadi

Sinar matahari senja menembus celah-celah pepohonan pinus di lereng Lembah Bintang Kelabu, memantulkan bias jingga keemasan yang menghangatkan permukaan tanah basah. Kabut tebal yang selama ini menyelimuti kawasan reruntuhan kuil kuno perlahan-lahan mulai tersingkap, seolah tunduk pada perubahan esensial yang baru saja terjadi di dalam perut bumi. Di atas hamparan rumput liar yang basah oleh embun sore, Kaelen merebahkan tubuh Lyra dengan penuh kehati-hatian. Suasana di sekitar terasa begitu hening, menyisakan deru angin lembah yang berbisik pelan di antara bebatuan karang.

Kaelen duduk bersila tepat di samping gadis itu. Wajah Lyra tampak sangat pucat, dan bibirnya yang tadinya kemerahan kini menyisakan garis biru gelap—tanda bahwa racun bayangan dari Cermin Pembalik Jiwa milik Liliyana masih mengunci jalur meridian di dalam tubuhnya. Tanpa membuang waktu, Kaelen memusatkan pikiran dan menyatukan kesadarannya dengan inti energi dari Pedang Besi Berkarat yang kini telah berubah wujud menjadi bilah baja gelap berukir garis purba. Senjata itu tidak lagi memancarkan hawa busuk kemerahan atau karat penyesatan, melainkan denyutan spiritual yang stabil, hangat, dan menenangkan.

Dengan mengarahkan telapak tangannya tepat di atas dada Lyra, Kaelen mulai menyalurkan esensi murni dari Jiwa Artefak Reruntuhan Langit. Aliran energi biru pucat merambat lembut, menyusup ke dalam titik-titik akupuntur gadis itu untuk membakar sisa-sisa miasma hitam yang tertinggal. Proses tersebut membutuhkan konsentrasi tinggi. Setiap gelombang racun yang dihancurkan memicu reaksi kejang kecil pada tubuh Lyra, membuat kening gadis itu berkerut menahan rasa sakit yang luar biasa bahkan dalam keadaan tidak sadar. Kaelen menggigit bibirnya, memperketat kontrol tenaga dalamnya agar tidak melukai organ vital Lyra.

"Bertahanlah, Lyra. Kau tidak boleh menyerah di sini," gumam Kaelen dengan suara serak.

Setelah seperempat jam berlalu dalam keheningan yang menegangkan, sebuah batuk kecil akhirnya terdengar dari bibir Lyra. Kelopak mata gadis itu bergetar perlahan sebelum terbuka lebar, menampakkan binar safir yang kini kembali jernih meskipun masih dihiasi kelelahan yang amat sangat. Napasnya memburu, namun rona hangat mulai merayap kembali ke kulit wajahnya yang semula putih pasi. Ia mengerjap beberapa kali, mencoba mengenali lingkungan sekitar, lalu menoleh menatap pemuda yang setia mendampinginya.

"Kaelen... apa kita sudah... di permukaan?" tanya Lyra dengan suara nyaris tak terdengar, jemarinya bergerak lemah mencengkeram ujung jubah Kaelen.

"Ya, kita sudah keluar dari lorong bawah tanah itu," jawab Kaelen lembut, menghentikan penyaluran energinya dan membiarkan Lyra bersandar pada pundaknya. "Racun di tubuhmu sudah berhasil ku-netralkan sebagian besar. Sisa pemulihannya hanya membutuhkan waktu istirahat dan meditasi ringan."

Lyra menghela napas panjang, seolah beban ribuan ton baru saja terangkat dari dadanya. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling, mendapati langit senja yang damai tanpa ada lagi bayangan musuh yang mengejar. "Liliyana... bagaimana dengannya?"

"Dia sudah lenyap," ucap Kaelen singkat, tatapannya menerawang jauh ke ufuk barat tempat matahari hampir sepenuhnya tenggelam. "Kutukan artefaknya sendiri merenggut raganya, dan tebasanku memastikan jiwanya tidak lagi tersisa untuk kembali mengancam dunia ini."

Mendengar konfirmasi itu, Lyra memejamkan mata sesaat, meresapi realitas bahwa mimpi buruk yang selama ini menghantui perjalanan mereka akhirnya benar-benar berakhir. Faksi Sekte Kuno dan para pemburu bayangan kehilangan pemimpin terkuatnya di wilayah tersebut. Namun, alih-alih merasa sepenuhnya aman, insting alkemis Lyra justru membisikkan sebuah peringatan bahwa kehancuran Liliyana hanyalah awal dari gelombang ketidakpastian yang jauh lebih besar di dunia kultivasi.

"Kekuatan artefak yang menyatu dengan dirimu..." Lyra mengubah topik, menatap lurus ke arah pedang baja gelap yang terselip rapi di sisi pinggang Kaelen. "Aku bisa merasakan resonansinya dari sini. Energi itu... terasa begitu masif, seolah-olah seluruh hukum alam di lembah ini tunduk di bawah kehendakmu."

Kaelen ikut melirik senjatanya. Ia mengangkat tangan kanannya, memanggil pedang tersebut tanpa menyentuhnya. Bilah baja itu melayang ringan di udara, berputar pelan dengan memancarkan pendaran cahaya biru keperakan yang memesona, sebelum akhirnya kembali bersarang di dalam sarungnya dengan bunyi klik yang mantap. "Aku bisa merasakannya juga. Artefak ini bukan sekadar senjata peninggalan masa lalu; ia adalah bagian dari kesadaran kosmik yang memilih untuk mempercayakan takdirnya kepadaku. Tapi kekuatan besar selalu menuntut tanggung jawab yang setimpal."

Hari berganti malam dengan cepat di dataran tinggi Lembah Bintang Kelabu. Suhu udara merosot drastis, memaksa Kaelen menyalakan api unggun kecil di dekat mulut gua perlindungan alami yang mereka temukan di lereng bukit. Cahaya kemerahan api menari-nari di atas permukaan batu, menerangi wajah keduanya yang duduk berdampingan sambil menikmati sisa-sisa perbekalan kering.

"Apa rencana kita selanjutnya, Kaelen?" tanya Lyra setelah beberapa saat terdiam, memecah malam yang tenang sambil menghangatkan kedua tangannya di dekat nyala api. "Berita tentang runtuhnya kelompok Liliyana dan bangkitnya energi artefak di sini pasti akan segera terdengar oleh para tetua agung dari sekte-sekte besar di daratan tengah. Kita tidak mungkin bisa bersembunyi selamanya."

Kaelen merespons dengan melempar sepotong ranting kecil ke dalam kobaran api, memperhatikan percikan kecil yang melompat ke udara sebelum padam. "Kita tidak perlu bersembunyi, Lyra. Selama ini kita selalu berlari karena kita tidak memiliki kekuatan untuk melawan arus utama dunia kultivasi yang korup. Sekarang situasinya berbeda. Pedang ini dan esensi artefak di dalam dantianku menuntut jawaban atas kehancuran masa lalu."

"Maksudmu... kau berniat mendatangi sekte-sekte besar itu?" mata Lyra membelalak kaget.

"Bukan sekadar mendatangi, tapi menuntut pertanggungjawaban," tegas Kaelen, suaranya mengandung wibawa mutlak yang membuat udara di sekitar mereka terasa memadat. "Faksi Sekte Kuno dan pihak-pihak lain yang memanipulasi perang dan penderitaan demi ambisi keabadian harus dihentikan. Perjalanan kita baru saja melangkah ke babak yang sebenarnya."

Malam itu dihabiskan dalam keheningan yang penuh perenungan. Di bawah naungan bintang-bintang yang mulai bertaburan di langit malam, Kaelen menggunakan waktu istirahat tersebut untuk menyelaraskan sisa-sisa energi kosmik yang baru diserapnya ke dalam aliran darah dan meridian tubuhnya. Setiap sirkulasi Qi menghasilkan suara dengungan halus bagai ombak samudra yang menghantam karang, menandakan bahwa tingkat kultivasinya telah menembus batasan fana dan melangkah ke ranah spiritual yang jauh lebih tinggi—ranah di mana sedikit sedikit orang di daratan ini mampu mencapainya.

Keesokan paginya, ketika matahari memancarkan sinar pertamanya menembus kabut tipis pagi hari, Kaelen dan Lyra telah berdiri tegap di puncak bukit Lembah Bintang Kelabu. Kondisi fisik Lyra telah pulih sepenuhnya berkat kombinasi ramuan alkimia dan limpahan energi murni dari Kaelen semalam. Gadis itu mengenakan jubah perjalanan baru yang lebih ringkas, sementara Kaelen tampak semakin tenang dengan tatapan mata yang memancarkan ketajaman setara bilah pedang legendaris.

"Kapan kita berangkat?" tanya Lyra sambil mengencangkan ikatan tas perbekalannya.

Kaelen tersenyum tipis, sebuah ekspresi langka yang jarang sekali terlihat di wajahnya selama beberapa bulan terakhir perburuan yang melelahkan ini. Ia menoleh ke arah timur, arah di mana menara-menara megah dari sekte-sekte penguasa daratan tengah berdiri megah menantang langit.

"Sekarang," jawab Kaelen mantap.

Mereka melangkah bersama menuruni lereng bukit, meninggalkan reruntuhan kuil kuno dan Lembah Bintang Kelabu di belakang. Langkah kaki mereka mantap, beriringan dengan gemerincing angin pagi yang membawa harapan baru. Di hadapan mereka, dunia kultivasi yang luas, kejam, dan penuh intrik sedang menanti kedatangan sang pembawa keseimbangan yang baru. Lembaran epos telah terbuka lebar, dan tidak ada lagi kekuatan di bumi ini yang mampu menghentikan langkah mereka menuju takdir abadi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!