NovelToon NovelToon
LIKA LIKU HATI

LIKA LIKU HATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Dosen
Popularitas:24.5k
Nilai: 5
Nama Author: Sopaatta

'Hati manusia seluas samudra.'
Di dalamnya terdapat banyak hal baik dan buruk.
》Kadang bahagia, sedih, cemburu, emosi, marah, benci, kecewa, datang silih berganti.

》Kadang merasa ragu-ragu dan sulit membuat keputusan, karena isi kepala dan perasaan saling bertentangan.

》Kadang harus berjuang untuk memulihkan rasa sakit, kecewa akan masa lalu yang penuh luka. Oleh sebab itu :

~••°°••~
"Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan."
~••°°••~

》Ikuti kisah perjuangan dan pemulihan hati orang-orang berintegritas mempertahankan kredibilitasnya di Novel : "LIKA LIKU HATI"

Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗

Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13. Keluarga Nelson

...~•Happy Reading•~...

Setelah tiba di rumah, Nelson meletakan ransel di kamar dan segera masuk ke kamar mandi. Dia ingin membersihkan badan dan pikirannya yang mulai bercampur dengan berbagai kejadian di kampus dan terus mengikutinya sepanjang jalan pulang ke rumah.

Walau sudah di rumah pun, pikiran yang menggagu hatinya tidak mau beranjak. Dia berharap setelah mandi, kondisinya lebih baik saat bertemu Mama dan Papanya.

Ketika sedang mandi, terdengar suara dari luar kamar mandi. "Nel, kau kah itu?"

"Hiiiiii... Wenniiii..." Nelson membuka sedikit pintu dan menunjukan wajah penuh busa dan rambut tertutup busa shampo untuk mengganggu Mamanya.

"Anak nakal." Bu Weny mendorong wajahnya dengan telapak tangan sambil menggeleng. "Cepat guyurrr." Teriak Mamanya. Nelson jadi tertawa dalam kamar mandi sambil mengguyur kepalanya.

Tidak lama kemudian, Nelson keluar dari kamar mandi dan mencari Mamanya. "Kenapa Mama tanya siapa? Apa ada yang masuk mandi di sini saat aku dan Papa gak ada?" Mimik wajah dan sikap Nelson seakan curiga.

"Anak nakal." Bu Weny mengambil handuk dari tangan Nelson, lalu bantu mengeringkan air yang masih menetes dari rambutnya.

"Kenapa pulang seperti penyusup? Mama gak kunci pintu, jadi kaget dengar suara air dari kamar mandi." Mamanya menjelaskan.

"Trims, Ma." Nelson mengambil handuk basah dari tangan Mamanya. "Tadi mau panggil, tapi pikir Mama lagi istirahat." Nelson menjelaskan setelah menjemur handuk.

"Iyaa. Mama baring-baring di kamar. Hari ini Mama agak lelah.Tadi bantu orang melahirkan." Mamanya menjelaskan sambil berjalan ke meja makan.

"Mama masih bantu orang lahiran? Bukannya Mama sudah pensiun dari bidan?" Nelson melihat Mamanya yang duduk di kursi meja makan dengan wajah bangun tidur. Dia ikut duduk di depannya.

"Tadi Mama dipanggil tetangga, minta bantuan. Bumilnya sudah gak keburu dibawa ke rumah sakit. Mereka takut brojol di jalan. Jadi tetangga ingat Mama dan minta tolong...." Bu Weny menceritakan yang dilakukan sepanjang pagi hingga siang.

"Oh, gitu. apa bayi dan ibunya baik-baik saja, Ma?"

"Puji Tuhan, mereka baik. Bayi laki-lakinya sehat dan tampan, ibunya sehat. Jadi ingat masa-masa di rumah sakit." Bu Weny menceritakan sambil tersenyum.

"Puji Tuhan." Nelson ikut bersyukur, karena Mamanya sudah lama tidak menolong orang melahirkan, tapi masih diberikan kemampuan menolong orang.

"Kau sendiri, mengapa pulang jam segini? Kau bilang cuma sebentar ke kampus, jam segini baru pulang." Mamanya protes.

"Biasa Ma. Kalau ketemu Angga, agak susah menghindar, apa lagi kabur dari dia. Ada saja yang diomongin dan banyak printilannya." Nelson tersenyum ingat kelakuannya dan Angga.

"Ngomong-ngomong, tidak ada yang bisa dikunya anak Mama yang tampan ini?" Nelson memegang dagu untuk meledek Mamanya yang masih mau menceritakan kondisi bayi yang baru lahir.

"Gara-gara kau, Mama lupa bikin minuman." Bu Weny berdiri dan memukul pundaknya lalu berjalan ke belakang.

"Ini kunya tegor, tapi jangan dihabisin. Ingat Papamu." Bu Weny mengingatkan, karena tahu terigu goreng buatannya sangat disukai Nelson.

"Mama emang the best. Trims, Ma." Nelson tersenyum senang melihat terigu goreng setengah wadah plastik buatan Mamanya yang tidak dijual di mana pun. Hanya ada dan bisa nikmati di rumah.

Tidak lama kemudian Bu Weny meletakan teh panas dua cangkir di atas meja. "Sini, Mama pindahin tegor buat Papa, sebelum semua pindah ke perutmu." Bu Weny segera mengambil wadah plastik lain, lalu memindahkan beberapa buah.

"Kadang sudah kunya ini, lupa berhenti." Nelson jadi tersenyum lihat isi wadah di depannya sudah berkurang banyak.

"Ma, aku mau ke gunung temui Kakek." Ucap Nelson setelah nyeruput teh panas buatan Mamanya.

"Mengapa tiba-tiba mau bertemu Kakek?" Bu Weny terkejut mendengar permintaan Nelson.

"Ini lagi gak bisa fokus, Ma. Pikiranku terbagi dan terus bercabang." Nelson memegang pinggiran kepala dengan raut wajah suram, kusut.

"Bukannya kau sedang susun skripsi?" Alis Bu Weny berkerut dan kembali duduk di depan Nelson setelah menyimpan terigu goreng.

"Nah, kan." Nelson menepuk dahinya. "Aku lupa bilang Mama, kalau skripsi sudah selesai, sudah ok. Tinggal ujian..." Nelson menjelaskan status skripsinya.

"Apa kau gak bisa tinggal di sini sambil persiapkan diri? Mama sepi, kalau kau pergi." Bu Weny coba menahan.

Nelson tersenyum dalam hati, karena sudah tahu, Mamanya akan keberatan. "Anggap saja, aku lagi pergi kuliah, Ma." Nelson merayu, supaya diizinkan.

"Tapi kalau pergi kuliah, sore kau sudah di rumah bersama Mama. Kalau ke gunung, kau tidak akan pulang. Mama sepiii..." Bu Weny sangat senang kalau Nelson sudah pulang ke rumah. Suasana rumah akan ramai dan hangat dengan gurauan atau ledekannya.

"Sore, kan, Papa sudah pulang. Mama bisa berduaan." Nelson menggoda Mamanya yang sedang serius.

"Anak nakal." Bu Weny memukul tangan Nelson. "Berapa lama di tempat Kakek?"

"Tergantung kondisi, Ma. Kalau sudah bisa fokus, aku pulang. Yang pasti, sebelum ujian sudah di sini."

"Kau biasanya gak begini. Apa yang bikin gak bisa konsentrasi?" Bu Weny heran dengan keadaan putra kesayangannya.

"Ya, tiba-tiba saja ada banyak topik di pikiranku. Lagi mikir yang ini, yang lain ikut nimbrung. Usir pergi yang satu, yang lain datang." Nelson tidak bisa menjelaskan yang dia rasakan, tapi dari gerakan tangan bisa menunjukan kondisi pikiran dan hatinya sedang tidak kompak.

Bu Weny jadi serius menatapnya. "Apa ada wanita yang kau sukai?" Bu Weny menebak penyebab Nelson tiba-tiba mau menyepi.

Pertanyaan Bu Weny membuat Nelson tersentak. "Bukan suka, Ma. Cuma mengganggu." Nelson coba menghindar. Dia ingat Alena dan gadis yang memberi juice.

"Kalau gak tertarik padanya, abaikan saja. Jangan alihkan dengan pergi ke tempat Kakekmu." Bu Weny tahu kebiasaan putranya. Dia akan melatih tubuh dan pikiran sambil membantu Kakeknya, dengan memotong atau membelah kayu.

"Itu yang agak sulit, Ma. Mereka tiba-tiba muncul tanpa diundang. Jadi gak enak mikirnya. Apa lagi hati ikutan gatal, pingin garuk pake garpu." Ucap Nelson disertai gerakan jari ingin menggaruk. Bu Weny jadi tersenyum dengar pengakuan putranya.

Nelson jadi tersenyum dalam hati mendengar celetukan tentang suasana hati yang dia dirasakan. Namun Bu Weny tertegun mendengar putranya membicarakan tentang urusan hatinya.

Sebab biasanya jika sedang berdua di rumah, Nelson hanya membicarakan tentang kuliah, prestasi yang diperoleh di kampus, diutus mewakili fakultas atau universitas, atau pertemanan dan kegiatannya dengan Angga dan Monce. Kadang juga menceritakan keikutsertaan Evie, pacar Angga dalam pertemuan mereka.

Sehingga apa yang baru didengar bahwa Nelson merasa terganggu oleh gangguan para wanita, merupakan perkembangan baru dan menarik perhatian dan perlu diketahui sebagai Mamanya.

"Mereka?" Bu Weny bertanya sambil memajukan wajah. "Ada berapa banyak wanita yang sudah berani menggodamu?" Mata Bu Weny membesar oleh rasa penasaran dan ingin tahu, karena ternyata Nelson mulai merasa terusik dengan pendekatan para wanita.

...~•••~...

...~•○♡○•~...

1
Rahmawati
padahal udah dapet nilai cumlaude masih aja gk seneng,, emg Alena kurang bersyukur
Rahmawati
berarti udah setengah tahun lebih, baby Jerry udah besar pasti tambah ganteng kayak papa nelson
❥␠⃝ ͭ🍁Hermina🧣❣️
si alena memang ya. gak ke teman, cowo, ke orang tua juga dirayu supaya nuruti maunya🙈🙈🙈
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒
hahaha.. sukuriiin.. dasar mata duitan
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒
ga ush manja Alena. aku aja hamil naik motor.
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒
aku jd deg²an. kasian ortu Nelson pasti kecewa bngt. yg pasti Nelson kepancing ma..pa.. jangan terlalu disalahkan ya
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒
sepertinya begitu Nelson. yah mau gimana lagi sdh jalan hidupmu diatur sama Tuhan.. eh . author 🤭
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒
mana takut Alena dengan Tuhan. dengan cara menjebak Nelson aja udah kelihatan ga takut dosa
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒
diajak bicara baik² malah banyak tingkah
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒
Nelson anak baik. aku sedih banget baca di paragraf ini.😭
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒
udah telat Angga. Alena sudah merusak hidup Nelson. 😭
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒
aku kok nebak Alena hamil ya😭. kasian dong nelson
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒
tdnya aku juga nira dari Alena🤭
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
Alena kau itu jadi orang kok tak pandai bersyukur sudah bagus kan lulus cumlaude kau maunya kek Nelson summacumlaude gitu itu artinya rezekimu hanya sampai cumlaude itu sudah berkat dari Tuhan meski kau sudah belajar jungkir balik kalo Tuhan berkehendak lain iya segitu pencapaian yang kau dapat right 🤭
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒
memang ga layak banget. coret sama spidol merah yang tebal
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒
ikut sedih rasanya. Alena jahat
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒
kamu memang ga punya harga diri sama sekali Alena
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒
iya nih. pdhl baru aja beberapa waktu lalu mama Nelson menasehati dan mengingatkan. jahat ih Alena
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒
aduh Nelson.. kenapa kamu kepancing. orangnya Alena lagi😭
⚔️⃠❥␠⃝ ͭ🍁🧸𝐘𝐖💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱
Itu salah mu sendiri, Alena, sok²n gk mau di tpt Ortu Nelson, gk dengerin apa kata mreka klo hrs istrht 40 hari
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!