Update santai sesuai mood Othor 😋
Di rumah dia hanyalah ibu rumah tangga biasa, wanita lembut yang sayang anak dan cekatan mengerjakan pekerjaan rumah tangga.
Namun, bagaimana bila ternyata dia menyimpan rahasia yang tak biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#26
#26
“Aku, tuh, nggak mau cape. Secara, aku, kan tuan putri. Tahu, nggak?!” sembur Mayra acuh, lalu berjalan mendekati meja tempat tasnya berada, “Yaa, ponsel habis baterai lagi, Ck ck ck!” gerutunya, lalu melenggang pergi kembali ke kamar tempat ia disekap sebelumnya.
Klik!
“Huft, hampir saja jantungan.”
Sebelum masuk ke ruangannya, Mayra sempat mencabut kunci yang ada di depan pintu, dan memindahkannya ke dalam. Jadi sewaktu-waktu ia bisa mengintip keluar ruangan jika ingin memeriksa situasi, atau pahit-pahitnya pertolongan tak kunjung datang.
Jika saat itu terjadi, tak ada yang bisa ia lakukan selain membabat habis orang-orang yang telah menculik dan menyekapnya saat ini.
“Duh, mana hape metong, gimana mau memanggil emergency?” gerutu Mayra, sekali lagi memeriksa ponsel lipatnya. Tapi syukurlah dua kartu saktinya masih aman di tempat semula, jika itu hilang, Mayra tak tahu kapan lagi bisa menguasai kedua kartu tersebut.
“Sayang, kamu bobok manis aja, ya? Tak perlu tahu apa yang terjadi, pokoknya pas bangun nanti semua bisa dipastikan beres.” Mayra berbisik di telinga Zea, saat membetulkan letak posisi tidur sang keponakan.
“Duh, imut banget kamu Zea, nanti kalau aku punya suami, mau buat anak se lucu Zea, aahh, bila perlu semuanya perempuan. Jadi anak-anakku akan jadi kesayangan semua orang.
Sungguh random sekali isi kepala Mayra, Belum apa-apa ia sudah membayangkan memiliki anak. Padahal Samuel kekasihnya masih sibuk dengan S2 nya, setelah selesai, barulah rencana pernikahan dibicarakan. Itu berarti 3 tahun dari sekarang.
Benar-benar lama.
•••
Tak jauh dari bangunan tempat Mayra dan Zea di sekap, mobil para agent AG sudah terparkir, selanjutnya mereka akan langsung menyergap ke lokasi tujuan.
Ketua tim membagi pasukan menjadi 3 bagian, satu bagian dipimpin Papi Daniel dan Papa Darren, satu bagian dipimpin Zain, dan bagian terakhir dipimpin Daddy Danesh langsung. Tentu saja sang istri tak boleh berada jauh darinya.
“Kami juga mau bergabung,” kata seseorang yang baru saja tiba.
Daddy Danesh tercengang saat melihat kehadiran dua mantan anak buahnya. “Kalian mau apa di sini?”
Kedua mantan anak buah Daddy Danesh itu menyeringai, “Ikutan, lah. Siapa tahu tenaga kami masih dibutuhkan.”
“Terserah kalian.”
Mereka melangkah mendekati bangunan dua lantai tersebut. Tak perlu mengendap-endap, wong mereka yakin bakal jadi pemenang.
Brak!
Pintu depan langsung di dobrak, dan orang-orang yang sedang berkumpul menikmati pizza menoleh kaget. Seketika aura wajah mereka berubah seram, sebab ada tamu yang datang tanpa undangan.
Tanpa perlu ada perbincangan lagi, perkelahian tak terelakkan, musuh mereka bukan orang-orang dari Indonesia, melainkan para pria Rusia yang notabene bertubuh tinggi besar, jadi perkelahian sangat seimbang
Suasana kini benar-benar kacau, bahkan ada yang sengaja mengunci pintu, agar tak ada satupun yang berhasil melarikan diri.
“Yaaa, pintunya terkunci,” keluh Suzy dan kedua teman lelakinya yang terlambat tiba.
Padahal ini kesempatan menakjubkan, untuk bisa menyaksikan Zain berkelahi.
Ruangan yang semula agar teratur, kini mulai amburadul. Mommy Dhera yang tak ikut repot berkelahi, langsung menyeruak di tengah perkelahian, mencari-cari dimanakah keberadaan cucu dan keponakan cantiknya.
“Mayra, Zea— dimana kalian!?” pekik Mommy Dhera.
Namun, saat hampir mencapai pintu, pria yang tadi dilumpuhkan Mayra mencekal tangan Mommy Dhera.
“Lepaskan, sebelum kamu menyesal!” desis Mommy Dhera.
Namun, pria itu mengabaikannya, ia semakin mengeratkan cengkramannya, karena tadi sudah kalah telak dari gadis yang ukuran tubuhnya jauh lebih kecil darinya. Dan kini, apakah ia akan kalah dari wanita paruh baya?
“Kau tidak dengan ucapanku rupanya.”
Pria itu sudah kadung marah karena sesaat lalu Mayra berhasil melumpuhkannya, jadi sekarang, ia tak mau kecolongan. Lebih baik menyerang duluan, ketimbang dijatuhkan.
Sebuah pukulan melayang, nyaris mengenai wajah Mommy Dhera, namun, wanita yang selama ini anteng di rumah sebagai ibu rumah tangga itu tak serta merta melupakan reflek alami nya bila ada serangan yang menghampirinya.
Tak!
Tak!
Bugh!
Perkelahian yang cukup seimbang, namun sejauh ini Mommy Dhera belum mau menyerah. Sudah kadung basah, mending nyebur sekalian.
Beberapa kali hampir terkena tendangan, namun, hal itu tak lantas melumpuhkannya. Sebaliknya Mommy Dhera seperti kembali mendapatkan ruhnya sebagai seorang petarung. Tak lama kemudian, Mommy Dhera berhasil melumpuhkan lawannya, wanita itu tersenyum puas, saat menyadari bahwa tubuhnya sama sekali tak kehilangan kemampuan melindungi dirinya sendiri.
“Sayang, kamu nggak papa?” Daddy Danesh buru-buru datang, setelah berhasil menjatuhkan lawan terakhirnya. Ia sangat khawatir karena barusan melihat sang istri melawan salah seorang pria sendirian.
“Aman, aku masih cukup keren jika harus kembali ke profesi lamaku,” jawab Mommy Dhera bangga.
“Jangan berani coba-coba,” tegur Daddy Danesh, wajahnya garang tak suka bila sang istri kembali menekuni profesi lamanya.
“Mimi— Didi—”
Tiba-tiba pintu terbuka, menampakkan Mayra di sana. “Mayra— kamu nggak papa, kan, Nak?” Mommy Dhera mendekap Mayra erat, sudah khawatir terjadi apa-apa pada keponakannya, meskipun Mayra bisa melindungi dirinya sendiri.
Tapi namanya juga sudah emak-emak, sudah pasti lebih khawatir akan keselamatan anaknya, ketimbang keselamatan dirinya sendiri. Kalau bisa, sih, tak usah bertemu bahaya.
Mayra mengangguk, “Zea mana?” tanya Daddy Danesh kemudian, setelah memastikan tak ada luka di tubuh Mayra.
“Masih bobok, tuh. Untung saja dia gak lihat keributan ini, bisa-bisa dia shock.”
Daddy Danesh dan Mommy Dhera lega, anggap saja Zea tertidur, dan setelah bangun sudah ada di rumah lagi.
“Dad, Zea baik-baik saja?” tanya Zain, setelah membereskan lawan terakhirnya.
Daddy Danesh mengangguk tenang, “Kamu tak mengkhawatirkan aku?” protes Mayra.
“Nggak.”
Jawaban yang benar-benar menjengkelkan, sejak dulu tak pernah berubah.
“Ck, dasar kulkas, pantas saja masih jomblo. Tingkahmu kayak kanebo kering ketumpahan semen.”
“Kamu bilang apa barusan?”
Mayra pura-pura melirik tembok, “Nggak ada bilang apa-apa. Tuh, temboknya retak, kayaknya kurang semen.”
Di ruang tengah, kawanan pria yang entah datangnya dari mana itu, sudah berhasil dilumpuhkan, mereka kini sudah diikat dengan kondisi tubuh tak baik-baik saja. Ada yang dahinya sobek, ada yang pipinya lebam, ada juga yang bibirnya sobek, dan banyak lagi luka yang tak terlihat mata.
“Woohh! Ternyata cukup menyenangkan bisa menghajar orang lagi,” cetus Marco lega.
Papi Daniel dan Papa Darren pun terlihat senang, mereka seperti kembali bernostalgia seperti saat-saat masih muda dan penuh gairah. Berlarian, berkelahi, bahkan melakukan apapun tak pernah merasa lelah sedikitpun. Tapi sekarang, semua berubah sesuai usia.
Kadang pinggang pegal, padahal baru ngegas istri sebentar, kadang pening karena tekanan darah tinggi memikirkan laporan keuangan perusahaan.
Beberapa saat kemudian beberapa mobil polisi datang ke lokasi, tak perlu heboh, dan membuat keributan. Karena mereka sudah CS dengan keluarga Geraldy, laporan bisa langsung diproses cepat, termasuk memberikan sangsi pada para warga asing yang membuat keributan di negara orang.
•••
Di belahan bumi yang lain, Lynx akhirnya berdiri berhadapan secara langsung dengan musuh yang sesungguhnya.
Alan menyeringai lebar, karena kini ia mengetahui kelemahan wanita di hadapannya.
“Rupanya kamu kini sudah memiliki hidup yang indah.”
“Kamu boleh membunuhku, tapi, jangan sekali-kali kamu berani mengusik mereka,” ancam Lizie dengan desisan marah.
Kling!
Alan menyalakan televisi yang sedang memutar rekaman CCTV. “Bagaimana jika suamimu sendiri yang selalu mengusik hidupku? Apakah aku harus diam saja?”