NovelToon NovelToon
Satu Istri, Dua Pewaris

Satu Istri, Dua Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:759
Nilai: 5
Nama Author: puput11

Aira Dhea Ananta hanya gadis montir yatim piatu yang hidup sendirian. Namun, satu pertemuan tak terduga dengan keluarga Wirasena mengubah hidupnya selamanya.

Sang kakek memaksa Evan Aryasatya Wirasena, CEO dingin yang menganggap cinta sebagai urusan tak berguna, untuk menikahi Aira. Jika menolak, jabatan dan warisannya akan dicabut.

Masalahnya, Aira justru lebih mudah akrab dengan Sean Danendra Wirasena, adik Evan pembalap tengil, dan sangat sefrekuensi dengannya.

Satu gadis. Dua pewaris. Dan sebuah pernikahan yang seharusnya hanya menjadi kewajiban keluarga.

Mampukah Evan menjaga istrinya, sementara Sean harus memendam cinta pada kakak iparnya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon puput11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Wibawa Bos yang Lagi Libur

"Berhenti, Aira! Sean!"

Langkah kaki Aira dan Sean mendadak terhenti di koridor sirkuit yang menuju ke arah parkiran VIP.

Suara bariton yang dingin dan penuh penekanan itu menggema kencang dari arah belakang. Evan berjalan cepat mengejar mereka, memotong jarak dengan aura intimidasi yang pekat. Padahal, kehadirannya di sirkuit hari ini pun hanya karena perintah mendadak dari Papi Surya untuk menggantikan posisi beliau. Status CEO-nya sendiri saat ini masih dibekukan oleh Kakek Baskara akibat skandal pengasingan Aira.

"Pulang dengan saya sekarang, Aira," titah Evan begitu dia berhasil berdiri di depan istrinya.

Aira melipat kedua tangannya di dada. Dia menyandarkan pundaknya ke dinding koridor dengan sikap santai, namun sepasang matanya menatap tajam penuh tantangan.

"Enggak minat. Gue berangkat bareng Sean, ya pulangnya tetap sama Sean," sahut Aira santai tanpa beban.

"Di luar sini banyak kamera wartawan, Aira! Tidak pantas kamu berada di dalam satu mobil dengan Sean!" bentak Evan dingin.

"Apanya yang nggak pantas?" potong Sean sambil menurunkan kacamata hitamnya ke ujung hidung. "Gue cuma mau mengantar kakak ipar gue balik ke paviliun."

"Jaga batasanmu, Sean! Ini menyangkut kehormatan keluarga Wirasena!" tegas Evan dingin tanpa memberi celah.

"Batasan yang mana, Kak?" Sean mendengus sinis. "Lagian, lo masih ngerasa punya kuasa mutlak buat merintah gue?"

Rahang Evan mengeras seketika. "Sean!"

"Mending simpan dulu deh wibawa lo yang lagi libur itu," sindir Sean tanpa rasa takut. "Jabatan CEO lo kan lagi di berhentikan Kakek. Kartu-kartu lo juga dibekukan, kan?"

Tama yang berdiri di belakang Evan hanya bisa memasang wajah pasrah, tidak berani ikut campur melihat perdebatan panas dua bersaudara itu.

Aira terkekeh sinis, melayangkan sindiran yang dingin langsung menembus keangkuhan suaminya. "Oalah, jadi mantan Tuan CEO yang terhormat ini cuma takut namanya jelek?"

Evan menoleh tajam ke arah Aira. "Aira, cukup!"

"Kenapa? Tersinggung?" tantang Aira sambil maju selangkah. "Sadar diri deh. Sejak awal kan lo sendiri yang nggak menginginkan pernikahan konyol ini?"

"Ini bukan masalah keinginan, tapi komitmen!"

"Halah, basi!" cibir Aira telak. "Waktu di depan Kakek, gue udah minta pisah. Itu kan kemauan lo juga? Tapi kenapa sekarang lo malah nggak berani bertindak tegas buat menceraikan gue?"

"Oh... atau jangan-jangan lo takut kehilangan jabatan CEO selamanya dan dicoret dari daftar ahli waris ya kalau membangkang Kakek?" cecar Aira tepat sasaran.

Krek.

Evan mengepalkan tinjunya kuat-kuat di dalam saku celana bahannya. Wajahnya mengeras sempurna, menahan amarah yang meledak sekaligus sebuah rasa asing yang menusuk batinnya. Dia sangat marah karena ucapan Aira seratus persen benar dan tepat sasaran.

Entah kenapa, saat Aira meminta cerai di depan kakek beberapa hari lalu, di dalam lubuk hati terdalamnya, Evan merasa tidak rela. Seharusnya dia senang karena memenangkan logika bisnisnya untuk terbebas dari gadis montir ini.

Namun, perasaan aneh apa yang tiba-tiba muncul di dalam dirinya? Seolah-olah ada insting kuat yang ingin mempertahankan Aira untuk tetap berada di sisinya selamanya.

"Cukup, Aira!" potong Evan tegas, berusaha keras menutupi gejolak batinnya yang kacau.

"Saya bilang pulang dengan saya, ya dengan saya! Orang-orang luar akan berpikiran negatif tentang hubungan kita jika melihatmu keluyuran dengan pria lain!"

Aira memutar bola matanya pelan. "Tuh kan, lo emang cuma mementingkan ego lo sendiri."

Sean yang mulai lelah berdebat kusir langsung menarik pundak Aira, memasang badan untuk melindunginya.

"Sudahlah, Kak. Capek gue dengerin robot sok berkuasa kayak gini. Yuk pergi aja, Kak Aira. Biar gue yang urus kalau dia berani macam-macam," ajak Sean ketus.

Evan menatap adiknya dengan sorot mata membunuh, suaranya merendahkan harga diri Sean selaku adik. "Sean, mundur. Ini perintah mutlak dari kakakmu."

Mendengar gertakan itu, Sean terdiam. Rahangnya mengeras menahan emosi, namun dia terpaksa menahan diri demi meredam keributan publik di area sirkuit.

Memanfaatkan celah saat Sean menahan diri, Evan langsung menyentak pundak adiknya ke samping. Dengan gerakan kaku dan tak terbantahkan, dai merangsek maju lalu meraih pergelangan tangan Aira secara paksa, menariknya menuju mobil sedan mewahnya.

"Heh! Apa-apaan sih lo?! Jangan tarik-tarik, lepasin nggak?!" bentak Aira mencoba menghempaskan cengkeraman tangan kekar suaminya.

Tapi, Evan sama sekali tidak peduli. Pria itu terus menariknya dengan ego yang keras kepala, membukakan pintu penumpang belakang secara kasar, dan memaksa Aira masuk ke dalam sebelum dia sendiri ikut duduk di sebelahnya dan membanting pintu mobil dengan sangat keras.

*

Di dalam kabin mobil sedan mewah, suasananya berubah menjadi neraka dingin yang mencekam. Mobil melesat membelah jalanan kota dengan kecepatan konstan.

Evan duduk bersandar dengan angkuh, menatap lurus ke depan dengan wajah kaku tanpa emosi. Di sebelahnya, Aira juga membuang muka ke arah jendela dengan pandangan yang dingin.

Di kursi depan, Tama dan sang sopir pribadi langsung menunjukkan reaksi tubuh yang tegang. Mereka berdua mematung, menahan napas dalam-dalam agar tidak memicu ledakan amarah dari sang majikan. Tama melirik dari kaca spion tengah, diam-diam menikmati kepanikan bosnya yang tertutup topeng es.

Evan memecah keheningan tanpa menoleh. "Jangan dekat-dekat Sean lagi."

Aira menoleh perlahan, menatapnya sinis. "Hak lo apa ngatur-ngatur gue?"

"Saya suamimu, Aira."

"Suami?" Aira tertawa remeh. "Baru ingat punya istri setelah jabatannya dicabut?"

Rahang Evan mengeras, dia memalingkan kepalanya menatap Aira tajam. "Jaga ucapanmu. Di luar rumah, kau tetap membawa nama besar saya!"

"Kalau gue nggak mau mematuhi aturan konyol lo itu, mantan Tuan CEO yang terhormat, lo mau apa?" tantang Aira dengan binar mata yang menusuk. "Mau mengurung gue lagi di paviliun timur?!"

Pertanyaan tajam itu seketika memutus urat kesabaran Evan di dalam mobil yang melaju kencang tersebut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!