Menikahi seorang duda beranak dua memaksa seorang wanita muda bergelut dalam dinginnya rumah tangga yang penuh penolakan. Di tengah perjuangan dan perlawanannya menembus benteng prasangka sebagai ibu tiri, sebuah rahasia terkuak dan menyadarkannya akan arti takdir yang sebenarnya. Sebuah drama pernikahan yang sarat air mata, sindiran kehidupan, dan ketulusan cinta yang akan mengaduk emosi pembaca wanita dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lewier Lisye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: BADAI DI UJUNG SENJA DAN BENTENG SEORANG IBU
Keheningan yang melingkupi ruang rapat direksi Pratama Tower usai kekalahan telak Hendrawan Kusuma tidak serta-merta membawa angin segar yang menenangkan. Bagi Kirana, aura kemenangan di dunia bisnis yang baru saja ia raih bersama Aris terasa rapuh—seperti hamparan kaca tipis yang siap pecah kapan saja oleh hembusan angin kejahatan yang terdesak.
Di dalam mobil sedan mewah yang melaju cepat membelah jalanan Sudirman menuju Kediaman Pratama, suasana di dalam kabin terasa hening namun sarat akan ketegangan. Aris duduk di samping Kirana, jemari kekarnya menggenggam erat tangan halus istrinya yang masih menyengat hangat. Tatapan mata Aris memancar kekaguman yang tak bertepi, namun di balik pendar cinta itu, ada guratan cemas yang memancar samar dari keningnya.
"Kamu luar biasa hari ini, Kirana," bisik Aris lembut, mengangkat punggung tangan Kirana lalu mendaratkan ciuman dalam di atas cincin emas putih yang melingkar di jari manis wanita itu. "Aku tidak pernah membayangkan bahwa wanita yang dulu menangis diam-diam di sudut kamar utama... kini berdiri anggun menyelamatkan mahkota keluargaku."
Kirana menyandarkan kepalanya di bahu tegap Aris, menghela napas panjang yang menguras sisa-sisa ketegangannya. "Aku tidak menyelamatkan mahkotamu, Mas. Aku hanya melindungi rumah kita. Rumah tempat Leo dan Maya tertawa, tempat kita belajar mengubur prasangka masa lalu."
Kirana memejamkan mata sejenak. Pikiran wanita dewasa itu melayang pada kilas balik perjalanan hidupnya. Betapa tajam sindiran takdir merajam jiwanya selama tiga tahun terakhir. Dulu, ia memasuki rumah tangga Aris sebagai wanita muda yang direndahkan. Ia dipandang sebelah mata oleh keluarga besar Pratama, dituduh sebagai pemburu kemewahan yang mengincar harta duda kaya beranak dua, dan dipaksa menelan mentah-mentah tatapan dingin Aris serta penolakan dari anak-anak yang belum mengerti keadaan.
Kirana mengingat betapa banyak malam yang ia habiskan dengan meremas jemarinya sendiri di atas ranjang yang dingin, membiarkan air mata pernikahan menetes tanpa suara ke atas bantal. Ia bergelut dengan rasa asing, melawan tembok prasangka yang dibangun Aris dan Sheila, hingga akhirnya kenyataan membongkar rahasia besar: bahwa dirinya adalah adik kandung dari ibu biologis Leo dan Maya. Takdir memutar balikkan segalanya. Wanita yang dulu dihina sebagai pengemis harta, kini justru menjadi wali sah pencagar kekuasaan tertinggi Pratama Corp.
Namun, tepat ketika ketulusannya telah menyadarkan Aris dan meruntuhkan benteng keangkuhan pria itu, ancaman baru kembali membayangi kehidupan mereka.
"Pak Aris," suara Pak Wijaya, kepala keamanan pribadi Aris yang duduk di kursi depan samping kemudi, memecah keheningan kabin. Pria paruh baya bertubuh tegap itu memutar tubuhnya dengan raut wajah amat tegang. "Tim keamanan luar di sekolah Leo dan Maya baru saja memberi laporan."
Aris seketika menegakkan posisi duduknya, matanya menyipit tajam. "Ada apa, Wijaya?"
"Hendrawan Kusuma tidak kembali ke kediamannya setelah keluar dari Pratama Tower," ujar Pak Wijaya dengan nada bicara yang memelan namun sarat kewaspadaan. "Dua unit kendaraan taktis yang terdaftar atas nama anak perusahaan Hendrawan terlihat memutari area Sekolah Internasional Garuda tempat Mas Leo dan Mbak Maya bersekolah. Pihak keamanan kita menaruh kecurigaan bahwa Hendrawan berniat melakukan aksi nekat sebelum surat perintah penangkapannya terbit sore ini."
DEGG!
Dada Kirana berdesir hebat. Rasa hangat yang baru saja menyelimuti jiwanya mendadak berubah menjadi hawa dingin yang menusuk tulang. Darahnya seolah berhenti mengalir.
"Leo... Maya..." gumam Kirana dengan bibir bergetar.
Menyerang harta dan saham adalah permainan pria-pria berkemeja mahal di ruang ber-AC. Namun menyentuh dua malaikat kecil yang baru saja merasakan kehangatan pelukan seorang ibu? Itu adalah batas mutlak yang memicu kebangkitan naluri pelindung dalam diri seorang wanita.
"Putar balik mobil ke sekolah sekarang, Pak!" perintah Kirana dengan nada suara yang melengking tegas, mengejutkan Pak Wijaya dan Aris sekaligus. Tidak ada lagi kelembutan lembut seorang istri dalam nada bicaranya—yang ada hanyalah wibawa penuh dominasi dari seorang ibu yang siap menerjang badai demi anaknya.
"Tenang, Kirana," Aris merangkul bahu istrinya, mencoba menenangkan gejolak emosi Kirana meskipun ia sendiri merasakan kepanikan yang membakar dadanya. "Tim keamanan kita di sekolah sangat ketat. Hendrawan tidak akan mudah—"
"Pria terdesak tidak pernah berpikir rasional, Mas!" potong Kirana cepat, menatap lurus ke dalam mata Aris dengan kilatan mata yang tajam. "Hendrawan tahu dia sudah kehilangan segalanya di dunia bisnis. Dia tahu penjara membayanginya. Satu-satunya alat tawar-menawar yang tersisa baginya untuk memaksa kita mencabut gugatan adalah dengan menyandera Leo dan Maya!"
Aris membeku. Logika bisnisnya yang biasa dingin terhentak oleh kebenaran ucapan istrinya. Tanpa membuang waktu, Aris menepuk bahu pengemudi. "Lakukan apa yang dikatakan Nyonya! Pergi ke sekolah sekarang!"
Gerimis tipis mulai mengguyur kawasan Jakarta Selatan ketika sedan hitam yang ditumpangi Aris dan Kirana berhenti mendadak di depan gerbang Sekolah Internasional Garuda. Suasana sekolah sudah tampak lengang karena jam pelajaran telah usai satu jam yang lalu. Hanya tersisa beberapa kendaraan jemputan dan petugas keamanan sekolah yang berjaga di gerbang utama.
Namun, pemandangan di area taman samping gedung perpustakaan sekolah seketika membuat jantung Kirana serasa berhenti berdetak.
Di sana, di bawah naungan pohon beringin tua yang basah oleh air hujan, berdiri dua kendaraan hitam berkaca gelap. Tiga pria berbadan tegap dengan kemeja serba hitam tampak mengelilingi seorang petugas keamanan sekolah yang tergeletak memegang perutnya. Dan di dekat bangku taman, Hendrawan Kusuma berdiri dengan jas abu-abunya yang kusut, mencengkeram kasar lengan kecil Leo, sementara tangan satunya mencoba menarik tubuh Maya yang terisak histeris.
"Lepaskan kami! Mbah Hendra jahat! Lepas!" teriak Leo kecil dengan keberanian luar biasa, mencoba memukul tangan Hendrawan dengan tas sekolahnya yang bergambar pahlawan super.
"Diam kamu, anak kecil!" bentak Hendrawan dengan wajah kalap, matanya memerah penuh dendam. "Jika bukan karena ibu tiri murahanmu itu, aku tidak akan hancur seperti ini! Kalian harus ikut aku!"
"MAMAAA! PAPAAA!" jerit Maya memecah keheningan sore yang basah.
Suara jeritan anak perempuan kecil itu menusuk tepat di pusat jiwa Kirana.
Sebelum Aris atau Pak Wijaya sempat melangkah keluar dari mobil untuk menyusun rencana taktis, pintu sedan telah didorong terbuka lebar dari dalam. Kirana menerobos hujan gerimis tanpa peduli pada pakaian formalnya yang basah kuyup atau sepatu hak tingginya yang menancap di rumput basah.
"HENDRAWAN KUSUMA! LEPASKAN ANAK-ANAKKU!"
Gelegar suara Kirana membelah gemericik air hujan, menghentikan gerakan Hendrawan dan para pengawalnya seketika.
Hendrawan menoleh kaget. Wajahnya yang semula panik berubah menjadi seringai penuh kebencian saat melihat Kirana berjalan cepat mendekatinya. Aris menyusul di belakang Kirana bersama Pak Wijaya dan dua petugas keamanan pribadi yang langsung menyebar mengepung area taman.
"Kirana..." desis Hendrawan dengan nada penuh racun. "Wanita pemberani yang merasa dirinya ratu... Kamu datang menyerahkan diri?"
"Mama!" jerit Maya ketika melihat sosok Kirana. Anak kecil itu mencoba menggapai Kirana, namun salah satu pengawal Hendrawan menahannya.
Kirana berhenti tiga langkah di depan Hendrawan. Hujan melumasi rambutnya yang tersanggul rapi, membuat beberapa helai rambut basah menempel di pipinya yang pucat namun memancarkan ketegasan tiada tara. Tatapan matanya lurus, menghujam tepat ke organ dada Hendrawan tanpa ada sedikit pun pendar ketakutan.
"Kamu bertarung melawanku di ruang direksi, Hendrawan," tutur Kirana dengan nada rendah yang bergetar oleh amarah yang tertahan. "Kamu menyebutku wanita miskin, kamu menyebutku pemimpi kemewahan, dan aku melayanimu dengan aturan hukum yang sah. Tapi menyeret anak-anak yang tidak berdosa ke dalam dendam kotormu... kamu benar-benar telah berubah menjadi binatang!"
"Tutup mulutmu!" teriak Hendrawan histeris, makin mengetatkan cengkeramannya di lengan Leo hingga anak laki-laki itu meringis kesakitan. "Kalian yang menghancurkanku! Aris! Suruh pengawalmu mundur dan cabut semua gugatan di kepolisian sekarang juga! Jika tidak, aku pastikan tangan anak ini patah sebelum kamu sempat menyentuhku!"
"Jangan bergerak!" bentak Aris dengan suara beratnya, melangkah maju berdiri di samping Kirana, membentengi istrinya dengan tubuh tegapnya. "Hendrawan, tempatmu sudah ditentukan di balik jeruji besi. Jangan menambah hukumanmu dengan pasal penculikan anak!"
"Aku tidak peduli lagi dengan hukum!" raung Hendrawan liar. "Aku sudah kehilangan nama baik, kehilangan saham, dan sebentar lagi ditangkap! Aku tidak punya apa-apa lagi untuk dipertaruhkan!"
Di tengah situasi kritis yang menegangkan itu, ketika senjata api tersembunyi mungkin saja ditarik oleh para pengawal Hendrawan, Kirana melangkah maju satu langkah—melewati barisan pelindung tubuh Aris.
"Kirana, jangan!" cegah Aris panik, mencoba menarik tangan istrinya.
Namun Kirana mengibaskan tangan Aris lembut. Matanya tetap terkunci pada Hendrawan.
"Kamu bilang kamu tidak punya apa-apa lagi untuk dipertaruhkan, Hendrawan?" suara Kirana mengalun tenang di antara deru hujan. "Tapi aku punya. Aku punya seluruh jiwa dan raga ini untuk dipertaruhkan demi anak-anakku."
Kirana perlahan mengangkat kedua tangannya ke udara, memperlihatkan telapak tangannya yang kosong tanpa senjata.
"Lepaskan Leo dan Maya," pintaku dengan nada bicara yang amat jernih, memancar keagungan seorang ibu yang sanggup meruntuhkan ego sekeras apa pun. "Tukar mereka denganku. Aku adalah pemegang hak kuasa 40 persen saham pengendali Pratama Corp. Aku adalah orang yang menandatangani dokumen pembatalan rapatmu tadi pagi. Jika kamu menginginkan alat tawar-menawar yang bernilai triliunan rupiah di mata hukum dan media... akulah orangnya. Bukan dua anak kecil yang bahkan belum mengerti arti dari kata 'kekuasaan'."
Seluruh orang di taman itu terperanjat. Aris membelalakkan mata dengan napas tertahan, dadanya serasa dihantam godam besar melihat kegilaan dan keberanian istrinya.
"Kirana! Apa yang kamu lakukan?!" seru Aris dengan suara pecah. "Aku tidak akan pernah membiarkanmu—"
"Mas Aris, diam!" potong Kirana tanpa menoleh sedikit pun. "Ini adalah urusanku sebagai ibu mereka!"
Leo yang berada dalam cengkeraman Hendrawan menatap Kirana dengan mata berkaca-kaca. "Mama Kirana... jangan, Ma... Leo tidak mau Mama ditangkap paman jahat ini..."
Mendengar sebutan "Mama Kirana" yang keluar spontan dari bibir Leo di tengah ancaman bahaya, air mata Kirana menetes, berbaur dengan tetesan air hujan di pipinya. Kata yang dulu begitu sulit diucapkan oleh anak-anak itu, kata yang dulu harus ia perjuangkan dengan cucuran air mata dan rasa terasing di rumah megah Pratama... kini mengalir begitu alami sebagai bukti bahwa ikatan batin mereka telah menyatu sempurna.
Hendrawan menatap Kirana dengan keraguan yang amat sangat. Kebencian, ketakutan, dan kerakusannya bertarung hebat di dalam pikirannya yang makin kacau. Logika liciknya mengakui bahwa Kirana jauh lebih berharga sebagai sandera dibanding dua anak kecil tersebut.
"Maju pelan-pelan!" perintah Hendrawan dengan tangan bergetar, mendorong Leo ke samping hingga anak itu ditangkap oleh Pak Wijaya yang dengan sigap menariknya ke belakang.
Kirana melangkah maju dengan tenang. Setiap pijakan kakinya di tanah basah adalah simbol ketulusan seorang wanita yang telah selesai dengan ketakutan masa lalunya. Dulu ia gemetar menghadapi dinginnya tatapan Aris; dulu ia menangis karena cemoohan Tante Siska; namun sore ini, di hadapan moncong bahaya, ia berdiri tegak bagaikan benteng karang yang tak tergoyahkan.
Saat Kirana berada hanya sejengkal dari Hendrawan, dan saat tangan licik pria paruh baya itu terangkat hendak mencengkeram bahu Kirana...
SRAKKK!
Aris tidak lagi memberi toleransi satu detik pun. Dengan gerakan kilat yang didorong oleh rasa cinta dan kepanikan luar biasa akan keselamatan istrinya, Aris menerjang maju. Pukulan mentah Aris mendarat telak di rahang kiri Hendrawan, membuat pria tua itu tersungkur keras ke atas rumput yang berlumpur.
Bersamaan dengan itu, Pak Wijaya dan tim keamanan pribadi Pratama Corp menyergap tiga pengawal Hendrawan, melumpuhkan mereka dalam hitungan detik sebelum sempat melakukan perlawanan.
Suara sirine mobil kepolisian terdengar meraung-raung dari arah jalan raya, memasuki gerbang sekolah dengan lampu darurat biru-merah yang memantul di kaca-kaca gedung.
Hendrawan mengerang di atas tanah, memegang rahangnya yang terdistorsi, menatap Aris dan Kirana dengan tatapan keputusasaan total saat petugas kepolisian mengepung dan memblokir tangannya dengan borgol besi.
Badai kejahatan itu akhirnya benar-benar tumbang.
Sore merayap menjadi senja yang keemasan di perpustakaan pribadi Kediaman Pratama. Hujan telah reda, menyisakan aroma tanah basah dan dedaunan segar yang menembus jendela kaca yang terbuka separuh.
Di sofa kulit yang empuk, Leo dan Maya telah tertidur lelap karena kelelahan emosional. Maya tertidur dengan kepala bersandar di pangkuan Kirana, sementara jemari kecil Leo menggenggam erat ujung gaun Kirana, seolah takut sang ibu akan menghilang jika ia melepaskannya.
Kirana mengusap lembut rambut halus Maya, mengukir senyum kedamaian yang tak tertandingi oleh kekayaan apa pun di dunia ini. Duka air mata pernikahan, hinaan sebagai ibu tiri, dan pertempuran saham yang menguras jiwa... semuanya terbayar lunas oleh kehangatan dua malaikat kecil yang kini berlindung di bawah dekapannya.
Pintu perpustakaan terbuka pelan. Aris melangkah masuk membawa dua cangkir teh chamomile yang masih mengepulkan uap hangat. Pria itu meletakkan cangkir di meja, lalu berlutut di samping sofa—berada tepat di hadapan Kirana.
Aris menatap istrinya dalam keheningan yang panjang. Pria tegap yang dulu begitu dingin dan berjarak itu kini menatap Kirana dengan pendar keharuan, rasa hormat, dan cinta yang telah menyucikan seluruh keangkuhannya.
"Dokter sudah memeriksa anak-anak, mereka hanya kaget dan lelah," bisik Aris lembut, meraup kedua tangan Kirana yang tidak memangku Maya, lalu menciumnya lama. "Hendrawan dan seluruh kroninya telah resmi ditahan tanpa hak jaminan. Hukum akan memastikan mereka tidak akan pernah menyentuh keluarga kita lagi."
"Terima kasih, Mas," tutur Kirana bening.
Aris menggelengkan kepala pelan, air mata kembali menggenang di sudut mata tegasnya. "Seharusnya aku yang mengucapkannya seribu kali sehari, Kirana. Hari ini... kamu tidak hanya menyelamatkan bisnis keluarga Pratama, tapi kamu mempertaruhkan nyawamu untuk anak-anakku. Kamu mengajarkanku apa arti ketulusan cinta yang sebenarnya—cinta yang tidak bisa dibeli dengan saham, tidak bisa diukur dengan status, dan tidak bisa diruntuhkan oleh fitnah."
Aris mendongak, menatap lurus ke dalam iris mata Kirana yang jernih.
"Dulu aku menikahimu dalam dinginnya kesepakatan dan prasangka kotor," lanjut Aris dengan suara bergetar dari relung hatinya yang paling dalam. "Tapi hari ini, di hadapan Tuhan dan anak-anak... aku ingin meminta kesediaanmu kembali. Maukah kamu mencintaiku bukan lagi sebagai takdir yang memaksamu bertahan, melainkan sebagai pria yang menyerahkan seluruh sisa hidupnya untuk menjadi pelindung dan tempatmu bersandar?"
Kirana menatap suaminya. Takdir memang telah mempermainkan hidupnya dengan cara yang amat dramatis—memberinya air mata di awal, meremukkan harga dirinya di tengah jalan, namun menyadarkannya di akhir bahwa di balik setiap ujian pahit, ada hadiah terindah yang telah disiapkan untuk jiwa yang tulus.
Kirana mengulas senyum paling anggun yang pernah disaksikan Aris. Ia mengulurkan tangannya, mengusap pipi Aris yang basah oleh air mata haru.
"Aku sudah memilih untuk bersandar di sisimu sejak pertama kali aku memutuskan untuk bertahan di rumah ini, Mas," jawab Kirana lembut namun sarat akan kepastian. "Kita telah melewati badai terbesar. Sekarang... saatnya kita membangun masa depan rumah tangga ini bersama-sama."
Aris mengecup dahi Kirana dengan kehangatan yang meresap hingga ke ceruk jiwa. Di bawah naungan senja Kediaman Pratama, di antara lelapnya napas dua anak yang mencintainya, Kirana tahu bahwa drama air mata pernikahannya telah usai—berganti menjadi simfoni cinta sejati yang tak akan pernah tergoyahkan oleh takdir apa pun.
(Namun, ketika kedamaian hakiki baru saja bertunas di rumah tangga Aris dan Kirana, sebuah surat misterius berstempel lambang rumah sakit jiwa tempat Sheila dirawat tiba-tiba tergeletak di atas meja kerja Aris. Sheila dinyatakan menghilang dari fasilitas perawatan khusus sejak badai di sekolah terjadi! Apakah Sheila akan kembali melancarkan aksi balas dendam yang lebih gelap bersama sisa-sisa pengikutnya? Jangan lewatkan kelanjutan drama pernikahan yang makin mengaduk emosi di BAB 27!)
#halo guys, jangan lupa like subscribe dan komen, ngasih gift juga dan bintang 5 yah, jadikan novel ini favoritmu, pantengin terus kelanjutan ceritanya yah 😘