Rasa yang tidak seharusnya ada itu kian tumbuh pada Carol, dari sebuah kekaguman berubah menjadi cinta. Carol mengubur semua itu dalam-dalam karena cinta itu tidak akan pernah bisa dia gapai. Sampai suatu hari dimana ternyata semesta seperti memberinya sebuah kesempatan. Dan Carol tidak mau menyia-nyiakannya, dia berjuang mendapatkan sesuatu yang sebelumnya terasa sangat mustahil itu. Dia mengambilnya meski harus menghadapi banyaknya sudut pandang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MeNickname, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Setelah mendapatkan kopi yang dia butuhkan dan beberapa camilan untuk Carol Andrew langsung kembali ke rumah sakit.
Namun saat masuk ke dalam ruangan dia malah melihat pemandangan yang tidak ia sukai. Pemuda itu lagi.
Carol melotot, dia tahu pasti akan Andrew marah.
Andrew melotot, dia kemudian menyimpan belanjaannya dengan gerakan kasar sampai menimbulkan suara yang cukup nyaring.
"Jadwal besuknya sudah habis." ucapnya tanpa menoleh.
"O-oh, iya Om, eh kak maaf. Kalau begitu aku pulang ya?" Lucas langsung berdiri dan berpamitan pada Carol.
"Oke."
Lucas menghampiri Andrew yang sedang menata belanjaan di atas nakas untuk bersalaman.
"Saya permisi Om, eh kak."
"Hm." Lagi-lagi Andrew hanya menanggapinya singkat dan masih tidak ingin menoleh.
Lucas menurunkan tangannya dan menatap Carol lagi, "Carol aku pulang, cepet sembuh ya."
Kali ini bukan Carol yang menyahut, tapi Andrew, "Tunggu dulu!" ucapnya dingin.
Pria itu mengambil parsel buah dan buket bunga bawaan Lucas dan memberikannya kembali pada pemuda itu.
"Bawa ini!"
"Tapi Om, eh kak.."
"Saya bilang bawa!"
Sumpah demi apapun Carol yang menyaksikan dan mendengarkan tiba-tiba merasa suasana ruangan ini berubah menyeramkan.
"I-iya Om, eh kak." Lucas langsung mengambil kedua benda itu dari tangan Andrew.
"Saya pamit sekarang." ucapnya tanpa menoleh lagi, pemuda itu langsung pergi dan menghilang dibalik pintu.
Andrew masih berdiri, dia memandangi daun pintu yang sudah tertutup rapat itu kemudian kembali menata belanjaannya.
"Andrew.."
"Kenapa dia bisa ada disini?"
"Aku tidak tahu. Tapi dia bilang orang kantor yang memberitahu."
"Nomor kamarnya?"
"Resepsionis."
Andrew terdiam sejenak, sepertinya dia akan menutup akses siapapun yang mencari kamar atas nama Carol.
"Kamu marah?" tanya Carol pelan.
Andrew tidak menjawab dia malah kembali melanjutkan aktifitasnya, setelah semuanya beres dia pun menghampiri Carol.
"Aku gak marah. Ini pesananmu tadi." Andrew menyodorkan sebuah makanan.
Carol mulai tersenyum, "Thank you."
Pria itu sama tersenyumnya, diusapnya puncak kepala gadis itu kemudian dikecupnya lembut, "Cepet sembuh, oke?"
...----------------...
Keesokan harinya setelah Carol diperiksa dokter, Andrew ijin pergi ke kantor sebentar dan akan kembali saat jam makan siang karena kebetulan ada jadwal rapat yang tidak bisa ditinggal.
"Aku tinggal sebentar ya, hubungi aku jika ada apa-apa.
Sepeninggal Andrew, tidak ada yang bisa Carol lakukan selain menyalakan televisi untuk mencari channel yang menarik.
Jarak dari rumah sakit ke kantor tidak terlalu jauh, hanya butuh waktu sekitar dua puluh sampai dua puluh lima menit saja.
Seperti biasa Andrew berhenti di depan lobi dan membiarkan security yang memarkirkan mobilnya.
Pria itu melenggang masuk ke dalam lift menuju ke lantai khusus tempat dimana ruang meeting berada. Tidak butuh waktu lama pintu lift akhirnya terbuka, Andrew melangkah keluar.
Dengan langkah tegap, pria super matang nan tampan itu berjalan menuju ke ruangan tempat dimana rapat akan digelar.
Namun ujung matanya tidak sengaja melihat penampakan Jenn yang sedang berbicara dengan salah satu karyawan.
Matanya melotot heran, "Wanita itu!"
Seakan peka dengan keadaan sekitar, Jenn menoleh ke arahnya dan dia tersenyum saat melihat Andrew sedang menatapnya.
Wanita itu cepat-cepat berjalan ke arahnya meninggalkan karyawan itu yang masih terlihat kebingungan.
"Presdir, senang melihat anda kembali bekerja." sapanya.
"Kenapa kau masih ada disini?"
Jenn tersenyum bingung seakan tidak terjadi apa-apa, "Apa yang Tuan bicarakan? Tentu saja karena saya bekerja disini."
"Kau sudah ku berhentikan sejak tiga hari yang lalu, dan hari ini seharusnya kau sudah tidak ada disini lagi."
"Diberhentikan? Atas alasan apa Tuan?"
"Penganiayaan sesama karyawan, kau sudah membahayakan seseorang Jennie. Dan saya tidak bisa mentoleransinya!"
Jenn terkekeh mendengarnya, "Ternyata perihal itu."
"Ya, karena itu!"
"Tapi Tuan asal anda tahu, dia yang membuat masalah terlebih dahulu dan saya hanya membela diri saat itu. Saya hanya tidak sengaja mendorongnya terlalu keras. Apakah salah jika saya membela diri?"
"Baiklah, tentu saja saya akan meminta maaf pada karyawan magang itu. Tapi apa anda benar-benar akan tetap mengambil keputusan itu, setelah semua pengabdian saya selama ini?" Jennie terus merocos.
"Anda akan mengorbankan seorang sekretaris yang sangat berkompeten seperti saya hanya demi seorang karyawan magang?"
"Atau memang ada hal lain diantara anda dengan dia?"
Mendengar celotehan Jenn membuat Andrew naik pitam, "Tutup mulutmu Jennie! Kau tidak bekerja cuma-cuma disini, kau dibayar dengan bayaran yang jauh lebih baik dari kata sesuai jadi kau tidak berhak membahas semua jasa-jasamu itu."
"Dan kau dengan lancangnya mengeluarkan spekulasi yang tidak-tidak tentang saya? Saya mengambil keputusan ini itu murni karena saya adalah pemimpin perusahaan. Hal yang kau lakukan kemarin itu tidak bisa dibenarkan, kau sudah melukai seseorang."
"Satu lagi yang perlu kau tahu, saya tidak pernah mempertimbangkan seseorang hanya karena jabatannya. Bagi saya semua orang yang berkontribusi di perusahaan saya itu sama rata."
"Jadi jika kau melabeli diri dengan sekretaris yang sangat berkompeten, bagi saya itu hal yang biasa karena itu memang tugasmu."
Tangan Jenn mengepal kuat, dia tidak menyangka Andrew akan tega berbicara seperti itu di depan banyak orang.
Ya, karena para peserta rapat yang semula sudah berada di ruangan berbondong-bondong keluar saat mendengar suara keributan yang ternyata berasal dari Presdir dan Sekertarisnya.