Yamada adalah seorang jenius.
Ia mampu memahami hampir segala sesuatu dengan cepat—akademik, olahraga, teknologi, strategi, bahkan berbagai keterampilan yang dianggap sulit oleh orang lain.
Masalahnya hanya satu.
Dia terlalu malas untuk menggunakannya.
Bagi Yamada, hidup yang ideal hanyalah hidup tenang tanpa masalah.
Tidak perlu menjadi nomor satu.
Tidak perlu mendapat perhatian.
Tidak perlu berusaha lebih keras dari yang diperlukan.
Sampai suatu hari, kehidupannya berakhir.
Ketika membuka mata kembali, Yamada mendapati dirinya berada di dunia yang tidak pernah ia kenal.
Lebih aneh lagi, ia tidak terlahir sebagai bayi.
Ia terbangun dalam tubuh seorang anak laki-laki berusia lima belas tahun.
Tubuh itu memiliki kehidupan, keluarga, kenangan, dan sebuah rahasia yang tidak diketahui Yamada.
Kemudian sebuah suara terdengar di kepalanya.
[System Initialization.]
[Host detected.]
[Synchronization rate: 17%.]
[Warning.]
[This body already possesses an owner.]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardyan1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: Kelas yang Membosankan
Hari pertama kelas di Akademi Sihir Asteria. Kelas 1-F, kelas paling bawah, kelas untuk siswa dengan mana rendah atau tidak terdeteksi, kelas yang sering disebut kelas buangan atau kelas petani oleh anak-anak bangsawan. Kelas tempat Yamada ditempatkan setelah insiden tes mana 0 di aula pendaftaran kemarin.
Ruang kelasnya sendiri sebenarnya tidak buruk: meja kayu panjang yang menghadap papan tulis besar dari batu tulis hitam, jendela besar yang menghadap ke taman akademi, dan sebuah papan lingkaran sihir besar di depan yang bisa menyala jika dialiri mana oleh guru.
Tapi bagi Yamada, yang sudah membaca semua buku dasar sihir selama tiga hari di bawah pohon maple dan bahkan sudah mengoreksi buku Archmage Liriel di kereta, kelas ini adalah definisi dari kata membosankan.
Yamada hampir tidur. Bahkan belum lima menit sejak guru masuk, kelopak matanya sudah mulai turun, kepalanya mulai miring, dan topi tidurnya— yang sebenarnya adalah jaketnya yang dilipat— sudah siap di atas meja sebagai bantal darurat.
Guru yang mengajar hari itu adalah Guru Maren, seorang pria paruh baya dengan jubah abu-abu, kacamata bulat, dan rambut yang mulai menipis di tengah. Dia adalah guru teori dasar, terkenal sabar tapi juga terkenal sangat... lambat dan detail dalam menjelaskan.
"Mana adalah energi kehidupan yang mengalir melalui tubuh setiap makhluk hidup, yang berasal dari alam, dari udara, dari tanah, dari air, dan dapat diserap melalui pernapasan dan meditasi..." Suaranya monoton, seperti sedang membaca buku ensiklopedia dengan nada datar.
Yamada menguap lebar, tanpa ditutup-tutupi, dengan suara "Huaaam" yang cukup keras hingga beberapa siswa di depan menoleh.
"...dan energi mana tersebut dapat dikendalikan melalui sirkuit sihir yang dibangun di dalam pikiran, yang disebut Sirkuit Imajiner, yang kemudian diproyeksikan ke dunia nyata melalui lingkaran sihir..."
Yamada menopang dagunya dengan tangan kiri, tangan kanannya memainkan pensil arang di atas meja, menggambar lingkaran-lingkaran kecil yang tidak ada artinya. Matanya setengah terpejam.
Ini semua sudah ada di buku. Bahkan lebih lengkap di buku. Bahkan buku yang dia baca di desa, yang sampulnya sudah sobek, menjelaskan hal yang sama hanya dalam dua halaman, bukan dua jam seperti yang dilakukan Guru Maren.
Guru Maren kemudian menggambar sebuah lingkaran sihir di papan batu tulis hitam besar di depan kelas, dengan kapur putih. Lingkaran sihir api dasar, tingkat 1, yang seharusnya diajarkan di minggu pertama.
Lingkaran itu terlihat... cukup benar bagi siswa baru. Ada lingkaran luar, lingkaran dalam, empat simbol elemen di empat arah mata angin, dan satu simbol inti di tengah.
"Baiklah, anak-anak. Ini adalah lingkaran sihir api dasar yang benar menurut buku teks standar. Tapi..." Guru Maren mengetuk papan dengan tongkat kayunya, dengan senyum kecil yang terlihat seperti sedang memberi jebakan. "...di dalam lingkaran ini, ada tiga kesalahan fatal yang akan membuat lingkaran ini meledak jika dialiri mana lebih dari 50 poin. Siapa yang bisa menemukan dan memperbaiki kesalahan ini? Ini adalah soal ujian tahun lalu, tidak ada yang bisa menjawabnya dengan sempurna."
Tidak ada yang menjawab. Seluruh kelas 1-F terdiam, menatap papan dengan kening berkerut. Beberapa siswa bangsawan yang ditempatkan di kelas ini karena mana mereka kecil, mencoba terlihat pintar dengan mengerutkan kening, tapi tidak ada yang berani angkat tangan. Beberapa siswa desa hanya menunduk, takut salah.
Suasana hening, hanya terdengar suara burung di luar jendela dan suara kapur Guru Maren yang mengetuk papan.
Yamada, yang tadinya hampir tertidur, membuka matanya sedikit, melirik papan tulis dari sudut mejanya di barisan paling belakang. Tatapan malasnya yang setengah mengantuk itu tiba-tiba fokus, seperti kucing yang melihat benang kusut.
Tiga kesalahan fatal. Dia melihatnya dalam tiga detik.
Kesalahan pertama: simbol penghubung antara timur dan barat terbalik 15 derajat, membuat aliran mana bertabrakan.
Kesalahan kedua: lingkaran dalam terlalu besar 2 milimeter, membuat inti tidak stabil.
Kesalahan ketiga: simbol inti api menggunakan simbol api lama, bukan simbol api baru yang lebih efisien, yang membuat konsumsi mana boros 30%.
Tiga kesalahan yang sangat mendasar, kesalahan yang bahkan tidak akan dilakukan oleh Yamada yang baru belajar 10 menit di kamarnya.
Yamada mengangkat tangan, dengan malas, tangan kanannya terangkat setengah, seperti orang yang setengah ingin ke toilet.
Guru Maren yang sudah hampir putus asa karena tidak ada yang menjawab, terkejut melihat ada yang mengangkat tangan, apalagi dari barisan belakang, dari anak yang tadi menguap keras.
"Yamada? Anak dengan mana 0 kemarin? Kau ingin mencoba?" Tanya Guru Maren, dengan nada yang tidak meremehkan, tapi penasaran, karena dia sudah mendengar rumor tentang anak desa yang mengoreksi buku Archmage Liriel di kereta.
"Bagian ini salah. Tiga bagian." Jawab Yamada pelan, sambil berdiri, masih dengan wajah mengantuk, membawa kapur putih yang disodorkan guru.
Yamada berjalan ke papan tulis, dengan langkah santai, tidak terburu-buru. Sepatu bot desanya yang masih berdebu menginjak lantai marmer akademi yang bersih.
Dia menghapus tiga simbol di papan, dengan gerakan cepat, tanpa ragu. Suara kapur dihapus dengan penghapus kain terdengar nyaring di kelas yang hening.
Ces, ces, ces.
Kemudian dia menggambarnya kembali, dengan kapur yang sama, tapi dengan sudut yang berbeda, ukuran yang berbeda, dan simbol yang berbeda.
Gerakannya cepat, bersih, presisi. Tidak ada coretan yang salah, tidak ada garis yang gemetar. Tiga simbol baru itu terlihat jauh lebih sederhana, jauh lebih bersih, dan jauh lebih... masuk akal daripada tiga simbol sebelumnya yang rumit.
"Kalau seperti ini, sirkuitnya stabil. Aliran mana tidak bertabrakan, inti tidak goyah, dan konsumsi mana berkurang. Bahkan anak dengan mana 30 bisa menyalakannya tanpa meledak." Kata Yamada, sambil mengetuk papan dengan kapur, menunjuk tiga simbol barunya.
Guru Maren melihat papan itu, mendekat, dengan kacamata bulatnya yang hampir jatuh ke hidung. Dia diam, tidak langsung menjawab. Dia memeriksa ulang, dari kiri ke kanan, dari atas ke bawah, dengan jari telunjuknya mengikuti aliran mana yang digambar Yamada.
Satu menit berlalu. Kelas semakin hening, semua siswa menahan napas, menatap punggung Yamada yang kurus dan papan tulis yang kini terlihat berbeda.
Kemudian Guru Maren mengangguk pelan, lalu mengangguk lebih keras, dengan mata yang membelalak di balik kacamatanya.
"Benar. Benar sekali. Ini... ini jauh lebih stabil daripada teori buku teks. Bahkan... bahkan lebih efisien daripada perbaikan yang diajukan oleh guru senior tahun lalu. Tiga kesalahan diperbaiki dengan tiga goresan. Sempurna."
Seluruh kelas 1-F terdiam. Bukan hening karena tidak tahu, tapi hening karena terkejut. Anak mana 0, anak desa, anak yang ditertawakan kemarin karena kristalnya tidak menyala, baru saja memperbaiki soal ujian yang tidak bisa dijawab oleh siapa pun di kelas ini, bahkan oleh beberapa siswa kelas B yang mengintip dari jendela.
Yamada kembali ke tempat duduknya di barisan belakang, dengan langkah yang sama malasnya, meletakkan kapur kembali ke meja guru, dan duduk, menopang dagu lagi, siap untuk melanjutkan tidur siangnya yang tertunda.
"Sudah? Boleh tidur lagi?" Tanyanya pelan, dengan nada yang benar-benar bertanya, bukan sarkasme.
Guru Maren masih menatap papan, dengan wajah yang tidak bisa menyembunyikan kekagumannya, dengan tangan yang sedikit gemetar karena menemukan sesuatu yang langka.
"Yamada." Panggilnya, dengan suara yang lebih lembut, lebih serius.
"Hm?" Yamada membuka satu mata.
"Siapa yang mengajarimu teori sirkuit seperti ini? Siapa gurumu di desa? Apakah ayahmu seorang Archmage yang menyamar jadi petani? Atau ibumu seorang penyihir istana?"
"Belajar sendiri." Jawab Yamada jujur, dengan suara yang masih mengantuk. "Dari buku. Buku di rak rumah."
"Berapa lama kau belajar? Berapa tahun kau belajar teori tingkat lanjut seperti ini? Tiga tahun? Empat tahun?" Tanya Guru Maren, karena teori yang baru saja diperbaiki Yamada adalah teori tingkat tiga, yang biasanya baru diajarkan di tahun kedua akademi.
Yamada berpikir sejenak, menghitung dengan jari, mengingat kapan dia pertama kali membuka buku Dasar Sihir di kamarnya setelah bereinkarnasi.
"Beberapa hari. Mungkin tiga hari? Empat hari? Sejak aku bangun dari pingsan. Aku baca pas lagi gabut di bawah pohon."
Kelas langsung gaduh. Bukan gaduh biasa, tapi gaduh yang meledak, seperti sarang lebah yang disiram air.
"Beberapa hari?! Tiga hari memperbaiki soal ujian tahun lalu?!" "Bohong! Mana mungkin!" "Mana 0 tapi bisa teori tingkat tiga?!" "Dia pasti sudah belajar diam-diam selama bertahun-tahun, pura-pura mana 0!"
Elena yang duduk dua bangku di depan Yamada menutup wajahnya lagi, tapi kali ini bukan karena malu, tapi karena tidak tahu harus bangga atau harus khawatir, karena Yamada kembali membuat heboh dengan kemalasannya.
Dan di barisan paling belakang, di sudut kelas yang paling gelap, di mana tidak ada yang menyadari keberadaannya sejak tadi, Aria Luvellia yang berambut biru keperakan, yang seharusnya berada di kelas S, kelas elit, tapi entah kenapa memilih untuk duduk di kelas 1-F hari ini, hanya tersenyum tipis, senyum yang sama seperti di kereta, senyum yang melihat sesuatu yang menarik.
"Menarik." Bisiknya pelan, hanya untuk dirinya sendiri, sambil menuliskan tiga simbol baru Yamada ke dalam buku catatannya yang tebal. "Sangat menarik, Yamada. Mana 0 yang bisa memperbaiki sirkuit Archmage. Sepertinya akademi tahun ini tidak akan membosankan."
Yamada yang mendengar bisikan itu dari seberang kelas— karena kelas 1-F yang hening tadi membuat bisikan itu terdengar— hanya menarik jaketnya untuk menutupi wajah, dan akhirnya tertidur beneran di atas meja, dengan dengkuran pelan, meninggalkan seluruh kelas yang masih gaduh membicarakan dirinya.
[Skill Proficiency Increased: Basic Magic Analysis Lv.1 -> Lv.2 (18% -> 34%)]
[Unique Trait: Lazy Genius - Activated. Efficiency +300% when host is sleepy.]