NovelToon NovelToon
Malam Rahasia Tuan Viktor

Malam Rahasia Tuan Viktor

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia / Romansa
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Julian_06

Pernikahan Anne Avantie Anderson dan pria yang dicintainya batal secara sepihak setelah keluarga sang kekasih menolak hubungan mereka. Di tengah keputusasaan, Anne mengikuti rencana adik sepupunya untuk membuat Davin datang menjemputnya. Ia sengaja pergi ke sebuah bar dalam keadaan mabuk, berharap pria yang masih dicintainya itu akan membawanya pulang dan kembali melanjutkan pernikahan mereka.

Namun, malam yang seharusnya menjadi jalan untuk menyelamatkan hubungannya justru berubah menjadi awal dari kehancuran hidupnya.

Anne terjebak dalam rencana adik sepupunya sendiri dan mendapati dirinya harus menghabiskan malam bersama seorang pria yang tidak pernah ia kenal sebelumnya. Saat itulah ia menyadari bahwa selama ini dirinya telah menjadi korban dari kejahatan dan tipu daya sang adik sepupu.

Fitnah, kesalahpahaman, dan berbagai masalah yang menimpanya perlahan berubah menjadi aib yang membuat Anne memilih meninggalkan kota dan memutus semua hal yang mengingatkannya pada malam itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julian_06, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pria 4 Tahun Lalu

Malam itu Viktor melangkahkan kaki

jenjangnya menuruni mobil mewahnya untuk memasuki sebuah ruang VIP yang ada di dalam sebuah hiburan malam.

Sebelumnya ia telah melepas jas serta

menarik dasinya yang terasa mencekik seharian ini, dia ingin minum sebentar untuk melepas rasa penatnya setelah seharian di hadapkan dengan setumpuk pekerjaan.

Tidak luput juga menutup wajahnya dengan sebuah topeng yang hanya menampilkan bibirnya, serta sorotan tajam dari manik matanya.

Kemanapun ia ingin menenangkan diri ia

tak mau ada yang mengusiknya ketika

mengenali wajahnya hingga ia selalu memberi kesan misterius dengan penampilannya.

Dia melangkah memasuki pintu ketika

para penjaga membungkuk hormat, tidak

lama sorot lampu beraneka warna langsung menyambutnya.

"Singkirkan orang-orang itu!"

Viktor melirik ke arah Vin untuk ia menyingkirkan siapapun yang menduduki

ruang VIP miliknya di ujung sana.

Tidak lama orang-orang itu di tendang keluar dari sana, Viktor dengan segala atensinya memasuki ruangan itu setelah Vin membersihkan dahulu sofa itu dengan tisu.

Bosnya mengidap OCD meski tidak akut namun ia tetap memiliki rasa khawatir.

Pelayan datang menuang segelas anggur

untuk Viktor lalu pergi memberi ruang privasi untuknya.

"Tuan, anak buah kita sudah berhasil

melacak Niel, jadi sepertinya kita bisa menangkapnya dengan cepat." ucap Vin

yang berdiri di sebelah pria itu.

"Lakukan dengan cepat, orang gila seperti dia tidak akan bisa mencari lubang sempit untuk bersembunyi." balasnya dengan senyum angkuh.

Vin mengangguk, dia kemudian pergi dari hadapan bosnya.

***

Di waktu yang bersamaan Anne telah berjanji akan mengajak ketiga anaknya makan di luar, dia sudah berdandan begitu rapi menatap postur tubuhnya di depan cermin, dia terlihat anggun dengan jeans denim dan atasan rajut berwarna merah muda.

Sementara Matteo mengenakan kemeja

formal yang begitu tampan.

Sedangkan Marco mengenakan kemeja

casual berwarna putih, dan Marcella mengenakan gaun peri yang sangat indah.

"Mami sebenarnya kenapa mau mengajak kami makan malam di luar?apakah mami memiliki banyak uang?" tanya Matteo yang penasaran.

"Ah, mami ingin merayakan hari jadi mami karena sudah di terima kerja." ujar Anne dengan perasaan senang karena ia telah bekerja dua hari ini.

"Tapi mami tidak perlu merayakannya di

luar, kita bisa memasak lebih banyak dan makan bersama di rumah itu sudah lebih dari cukup." balas Matteo dengan penuh

pengertian.

"Ya, nona, Matteo benar." bibi Nora menyahut.

Marco juga langsung menyahut, "kakak benar nami, kita bisa merias rumah kita dengan cantik untuk dinner."

Anne jadi terharu dengan pengertian kedua anaknya dia lalu berjongkok di depan mereka dan tersenyum, "anak pintar, tapi tidak apa sekali-kali kalian juga harus merasakan makanan enak itu, mami mencari uang hanya untuk membahagiakan juga mengenyangkan perut kalian. Sisanya mami mudah memperhitungkannya untuk di tabung jadi jangan khawatir." balas Anne.

Marcella yang merasa paling banyak makan pun mendekat lalu memeluk Anne, "makasih mami, berkat mami Marcella tidak pernah kelaparan, tapi Marcella juga sedih karena maminya sudah bekerja keras sendiri selama ini dan dia hanya bisa makan".

"Ya, sama-sama sayang." tidak tahan Anne untuk menciumi pipi gemuk Marcella.

"Marcella janji jika besar nanti, Marcella akan mengganti semuanya." balasnya.

Matteo mendengus mendengar itu, "kamu tidak akan dapat mengganti kasih sayang yang sudah mami beri, meski sebesar gunung dan seluas lautan sekalipun tidak dapat menggantikannya, karena kasih sayang mami tidak terhingga."

Marcella mengerjap mendengar kata-kata kakaknya dia malah jadi semakin sedih karena takut tak bisa membalas jasa ibunya.

Sementara Anne terperangah dengan kata-kata putranya.

"Lalu apa yang harus Marcella lakukan

untuk mami jika besar nanti?" dia bertanya dengan mata memerah hampir meneteskan air mata.

Anne hendak terkekeh melihat tingkah menghibur anak-anaknya namun tak mau

membuat hati Marcella makin sedih.

"Kamu hanya cukup diet untuk mengurangi beban mami dan bibi Nora ketika menggendongmu, karena jika tubuhmu makin gemuk mami tidak akan mau menggendongmu lagi." sahut Marco anak tengah dengan santainya.

Mendengar itu Anne tidak bisa untuk

menahan tawanya, Marcella pun malah makin sedih, dia menangis sambil berkata terbata-bata, "baiklah Marcella akan diet mulai sekarang, aku tidak mau mami jadi tidak sayang Marcella gara-gara Marcella gendut."

Anne terkekeh kemudian mengangkat

tubuh putrinya itu, "lihatlah mami masih

kuat, kakak-kakak hanya ingin mengontrolmu aaja." ujar Anne mencoba menenangkan putrinya.

"Benarkah?"

"Yap, kalau begitu ayo kita pergi keburu cafenya tutup."

"Oke!" jawab ketiganya serentak.

Mereka pun pergi menggunakan taksi online.

Setelah melakukan pemesanan meja Anne dan ketiga anaknya juga bibi Nora duduk dengan tenang sembari melihat suasana.

Ini adalah kali pertama Anne mengajak

ketiga anaknya makan di luar, meski ia harus mengeluarkan lebih banyak uang namun ia merasa senang dapat melihat wajah bahagia mereka.

Tidak lama makanan pesanan mereka datang, ketiga anak itu menatap dengan

sumringah mereka mendapatkan menu impian mereka selama ini, seperti Pasta Carbonara, Risotto, Chicken Milianese, dan beberapa dessert dengan bentuk kartun yang disukai anak-anak.

Mereka pun makan dengan tenang dan lahap, selalu ada tingkah anaknya yang menggemaskan, Marco mengajak bicara lebih dulu makanannya, Marcella memerhatikan dessert yang dibentuk menyerupai kartun serta ada gambar cinderela di cup nya, hal ini membuat Marcella malah bermain main dengan cup itu ketimbang dessert , sedangkan Matteo makan dengan tenang dan elegan tidak memainkan makanan itu lebih dulu seperti adik-adiknya.

"Em, mami tinggal sebentar ya, mami ingin ke toilet." Anne berujar ketika anaknya tengah makan dan bangkit dari duduknya.

Ketiganya pun mengangguk.

"Jangan lama-lama ya nona!" ujar bibi Nora.

"Siap, bi."

Anne bergegas mencari toilet, mulanya ia melihat toilet di lantai satu ini sangat ramai sehingga ia tak tahan dan bergegas naik ke lantai dua, akhirnya dia menemukan toilet di sana cukup sepi.

Dia segera masuk di salah satu biliknya, dan berkutat beberapa saat.

Setelah itu, dia pun keluar.

Namun ketika ia akan turun ke lantai satu sebuah suara yang familiar memanggilnya.

"Anne!"

Dia menoleh dan ternyata melihat sekerumunan orang sedang makan bersama, mereka semua adalah teman kerja Anne di kantor baru, yang memanggilnya tadi adalah wanita yang pernah meminta nomor Max padanya.

Dia terlihat mendekatinya.

"Hai Anne kebetulan sekali kamu disini, ayo kita makan-makan." ajaknya.

Anne tersenyum canggung ia ingin menolaknya namun wanita itu keburu menarik lengannya, di sana ia juga melihat ada temannya yang duduk di bilik sebelahnya, dia juga tampak menyapa ke arah Anne dengan senyuman.

Akhirnya Anne pun duduk dengan terpaksa di antara mereka.

"Kebetulan sekali ada Anne disini, jadi formasi kita lengkap untuk makan malam

bersama." ucap wanita bernama Imelda itu.

"Tapi, maaf sebelumnya, saya ..." belum selesai untuk menjelaskan, ucapannya sudah lebih cepat di sela oleh Imelda.

"Hei, tidak ada tapi-tapian ... kamu adalah anggota baru di divisi kita, jadi anggaplah melakukan makan malam ini sebagai bentuk perkenalan." sahutnya.

Anne termenung apa yang Imelda katakan sedikit benar, menjalin hubungan pertemanan yang baik dengan rekan kerja adalah langkah awal dalam melakukan sebuah pekerjaan, ia pun akhirnya mengangguk menanggapi mereka dengan senyuman, "baiklah, aku setuju."

la berfikir akan mengabari bibi Nora untuk pulang dahulu dan memesankan taksi online untuk mereka dulu.

Imelda nampak tersenyum, tidak lama beberapa pelayan datang menyuguhkan

berbagai makanan dan minuman, ketika itu Anne memanfaatkan kesempatan itu untuk mengirim pesan pada bibi Nora, bibi Nora pun setuju, dia tak keberatan karena tahu Anne baru mulai kerja sehingga ia harus bersikap menghargai ajakan rekannya.

Anne pun merasa lega karena anak-anaknya juga tak keberatan.

Ketika dia menatap ke depan dan melihat semua makanan tersaji dia baru menyadari jika makan malam ini bercampur dengan pesta alkohol, ia bukan peminum yang handal, pertama kali sekaligus terakhir ia minum alkohol semua berakhir kacau ia juga tak ingin kejadian itu terulang lagi.

Sebelumnya ia melihat berbagai minuman bermerk itu ada di depannya semuanya adalah minuman mahal.

Ia tak lagi-lagi mau mengeluarkan banyak uang hanya untuk membeli minuman tidak berguna ini.

"Mari kita cheers, kita rayakan malam ini." Imelda nampak mengangkat gelasnya ke udara.

Anne tersenyum kaku dia enggan untuk

melakukan itu, namun demi menghargai

rekannya ia lalu mengangkat gelas itu ke

udara, dengan perasaan harap-harap cemas, tapi ia juga tak berminat untuk meminumnya, barang kali menempelkan bibirnya ke ujung gelas akan di sangka minum.

Dia mengatukan gelas itu pada gelas milik teman-temannya hingga dentingnya

terdengar.

Satu tegukan mereka minum bersama, namun hanya gelas Anne yang masih terisi penuh.

Imelda melirik dengan sinis Anne.

Seperti ada yang sedang terencana dalam otaknya.

"Terima kasih Imelda atas jamuan makan malamnya." kata Alista wanita yang duduk di bilik sebelah Anne bekerja.

Imelda pun tersenyum.

"Oh iya siapa yang akan membayar semua makanan ini?" sahut yang lain menatap Imelda dan Anne bergantian, tadinya memang Imelda yang merencanakan makan-makan ini dia juga sempat mengatakan jika mereka akan makan dengan gratis hanya saja tidak mengatakan siapa yang akan membayari mereka.

"Biasanya anak baru yang baru bergabung disini yang akan mentraktir kita seperti budaya kita selama ini." singgung Imelda menatap Anne sinis.

Apa?

Anne tercengang mendengarnya, ia adalah anak baru disini tapi ia juga tak menginginkan makan malam ini kenapa jadi ia yang harus menanggung semuanya?

"Kamu tidak keberatan kan Anne?" tanya Imelda, rekan dekat wanita itu pun ikut

tersenyum puas.

Anne sangat gugup untuk memberi keputusan.

Tapi ia juga tidak bisa menyangkalnya dengan penolakan, teman-temannya pasti akan membencinya.

Bagaimanapun juga pesanan mereka malam ini melebihi targetnya, ia tidak akan mampu membayar semua ini karena ia hanya membawa uang pas untuk membayar makanan anak-anaknya.

"Tunggu dulu, minuman ini sangat mahal,

bagaimana jika aku ikut iuran saja?" sanggah Alista yang merasa tak enak hati, dia pernah menjadi junior dan di perlakukan kurang baik oleh Imelda jadi ia juga tahu apa yang kini di rasakan Anne.

Imelda menatap Alista sinis dia tahu

wanita ini hanya sedang mencoba membantu Anne.

"Aku juga, aku akan membantu seperempatnya."sahut yang lain sambil

menyodorkan kredit cardnya.

Anne sedikit merasa tenang karena merasa teman-teman yang lain sedang memberinya pengertian.

Namun Imelda segera menyela, "hei kalian ini bagaimana? kenapa malah membantunya, ini sudah kewajiban Anne,

dan bergulir jadi jangan merasa kasihan. Anne ini sesungguhnya orang kaya, lihatlah dompet yang dia gunakan." Imelda menunjuk dompet besutan Gucci yang di pegang Anne.

Semua mata kemudian tertuju padanya, dan tahu jika dompet itu bukan palsu, Anne tercengang bagaimana dia bisa memerhatikannya sedetil ini, tentu ia memiliki ini ketika ayahnya dulu masih berjaya, mungkin benda ini juga jadi satu-satunya barang yang tak ikut ia jual untuk kebutuhan hidupnya.

"Bagaimana?" Imelda menatapnya.

Anne bingung, jika ia mengatakan tidak bersedia mungkin Imelda akan tidak menyukainya, bagaimanapun ia karyawan

baru disini.

"Aku akan membayarnya, tapi aku tidak membawa uang lebih jadi aku akan

menghubungi orang rumah dulu." kata Anne pada akhirnya.

Imelda tersenyum, dia tak mempermasalahkan bagaimana caranya, yang penting ia puas dengan yang dia lakukan.

"Permisi." ucap Anne bangkit.

Dia pergi entah kemana, ia hanya mengikuti kemana kakinya akan melangkah.

Sambil memegang ponsel dia berharap cemas, ia ingin meminta bantuan pada Max, tapi ada rasa canggung karena dia sudah banyak meminta bantuan padanya, di saat ia tengah kebingungan, Imelda terlihat menyusulnya, dan berdiri menatapnya dengan tangan terlipat dan senyum sinis.

Anne mengeraskan dirinya menghadapi

wanita itu, kini mereka berada di sebuah

lorong, entah apa yang akan wanita itu lakukan, tapi ia harus memiliki keberanian, dia bukan bos di kantornya bukan orang berkuasa yang harus dia takuti kan?

"Apa aku sudah memiliki salah padamu?"

tanya Anne membuka suara.

"Ya." balasnya sangat terus terang dengan senyum sinisnya.

Anne tercengang dengan balasan itu.

"Apa itu katakan? pasti kamu sengaja juga kan melakukan ini padaku? mengerjaiku untuk membayar seluruh biaya makan itu?" Anne tidak dapat menahan diri untuk meluapkan seluruhnya, karena bagaimanapun hidupnya sudah sangat sulit jadi ia harus sedikit berani.

"Ya, aku memang sengaja." balasnya tampak sekali tatapan tak suka.

"Karena kamu sudah memberiku kontak palsu Max, kamu pasti memiliki hubungan spesial kan dengannya? sehingga tak suka jika aku yang meminta kontaknya." sahutnya.

Anne tercengang, ia tak berfikir jika Imelda akan berbalas dendam dengannya seperti ini, bagaimanapun ia tak memiliki hubungan dengan Max, tapi dia juga tidak mau Max terpengaruh dengan wanita ini, lihatlah dia begitu licik.

"Oh, astaga kau berbalas dendam padaku karena itu? Ku beri tahu sekali lagi aku dan Max adalah saudara, aku hanya memberi tahu nomor ponselnya yang aku simpan, jika sudah tidak aktif itu bukan urusanku, kenapa mau malah membebankan ku dengan biaya ini?" balas Anne protes.

"Kamu membantah?"

"Max adalah kakakku, lalu apa kamu tidak takut jika aku akan melaporkan padanya tentang yang kamu lakukan padaku saat ini?" Anne memancingnya.

Namun wanita itu tak seperti yang dia

fikir, Imelda tetaplah wanita licik, dia tersenyum sinis melihat keberanian Anne.

"Lalu kamu juga tidak takut kehilangan pekerjaanmu? kamu fikir Max selalu bisa

membantu mu?" balasnya begitu menohok. Anne termenung, ia tak memiliki mekuatan lebih soal ini, lagi pula dia begitu butuh pekerjaan ini.

"Jika malam ini kamu tidak mau membayar tagihan itu, maka kamu akan makin kesulitan ke depannya. Ingat ini, aku bisa membuatmu di jauhi semua orang di kantor juga kehilangan pekerjaanmu." tekan Imelda dengan jemari menunjuk lalu menjauh pergi.

Anne mendesahkan nafasnya kesal, ia harus mencari jalan keluar untuk malam ini jika bisa tanpa harus merepotkan Max.

Dia berjalan tidak menentu sambil memikirkan jalan keluar ini, pikirannya

gelisah, ia tak mau kehilangan pekerjaannya, tapi dari mana ia harus mendapatkan uang itu?

Saat ia tengah berpikir ia tak menyangka akan tiba di sebuah bar di gedung ini, ia mengitari pandangannya ke sekeliling dan terselip sebuah ide bodoh di otaknya, bagaimana jika aku menggoda pria hidung belang saja untuk mendapat uang?

Namun di tengah ia berpikir, pandangannya tiba-tiba tertuju pada sosok yang tidak asing sedang duduk menyesap winenya di sebuah sofa ruangan VIP.

Pria itu memiliki tubuh tinggi tegap, punggung yang kokoh juga sebuah simbol di punggungnya yang terlihat ketika pria itu membuka kancing depan kemejanya hingga kerah belakangnya turun, dia melihat gambar singa dengan sayap seperti ingin menerkamnya di sana.

Pria itu!

Anne tercengang menutup mulutnya

tidak menyangka, degup jantungnya berdebar kencang, seluruh kakinya bergetar.

Tidak salah lagi jika dia adalah pria di malam itu, pria yang sudah menghancurkan hidupnya.

Pria yang sudah merenggut kehormatannya tanpa memberinya tanggung jawab apapun, karena dia hidupnya menderita, karena dia ia di benci semua orang, bahkan ayahnya kecelakaan karena fitnah itu.

Lalu dia harus hamil sendirian dan melahirkan tiga anak sekaligus bahkan merawatnya sendirian.

Mengingat semua itu malah membuat amarahnya semakin memuncak.

la mengepalkan tangannya dengan tekad

yang sudah dia kumpulkan untuk mendatanginya di ruangan itu.

Namun saat baru tiba di depan pintu

ruangan itu, penjaga di sana menahannya, "apa yang akan nona lakukan di sini? ini adalah ruangan VIP."

Anne tercengang menatap mereka, tidak menyangka dia bisa menyewa ruang VIP.

Sepertinya hidup pria itu selama beberapa tahun terasa menyenangkan, bahkan tak peduli ada ia yang telah menderita marenanya.

Anne semakin meledak-ledak ia tak menghiraukan bodyguard itu dengan

berteriak sambil menatap ke arah pria di atas sofa itu, "dasar kau bajingan!"

Sontak saja semua orang tercengang, body guard itu tak menyangka atas apa yang di lakukan gadis itu pada bosnya, bahkan pria itu berbalik ketika mendengar makian terlontar untuknya.

Viktor terhenyak, dia langsung saja melihat Anne yang berdiri di sana.

Ia menyorotnya dengan dalam, dengan ekspresi wajah yang dingin, "apa kau sedang mengataiku?"

Lengkung di bibirnya terbentuk begitu samar, hampir tak terlihat, sepertinya Anne tidak mengenali ia sebagai direktur di kantornya.

Anne tercengang mendengar suaranya

yang berat dan dingin.

Aura yang memancar darinya terasa begitu menikam membuat nyali Anne hampir menciut, Anne sedikit bergetar mengapa pria ini terlihat sangat dominan.

Apakah dia telah salah orang? Tapi ia yakin ia tidak salah, selain memiliki tatto di punggungnya dia juga mengenakan topeng yang sama persis seperti malam itu.

"Ya, aku ingin membunuhmu! Empat tahun yang lalu kamu sudah membuat hidupku hancur!" Anne menentangnya, ia fikir tak ada yang harus dia takuti untuk membela kehormatannya yang telah terenggut.

Pria itu memicingkan mata.

Dia termenung menyelami ingatannya empat tahun yang lalu, namun kemudian ia ingin menunggu penjelasan lebih darinya.

"Empat tahun yang lalu aku mabuk, kamu datang setelah di sewa oleh adik sepupuku dan... kamu meniduriku!" ucapnya dengan suara yang tidak tertahankan lagi, air matanya hampir menetes.

"Arghh! aku ingin membunuhmu bajingan!" murka Anne sambil meronta, dia hendak menerjang tubuh pria itu dengan memberi pukulan namun dengan cepat pria itu menahan tubuhnya dengan mencekal tangannya yang mungil dalam genggamannya.

Pria itu menatapnya dengan tajam sampai membuat Anne merasa sorot mata itu mengandung sinar laser yang membelahnya dua.

"Mengapa kau tiba-tiba marah tidak jelas

seperti ini padaku? bukankah aku di sewa untuk menidurimu? apa kau lupa ketika itu bahkan kau yang menawarkan tubuhmu dahulu padaku? kau yang menciumku dahulu?" Anne tercengang, apakah benar seperti yang pria itu katakan? Mengapa ia tak ingat jika ada part seperti itu malam itu, ia tidak dapat menahan rasa malu itu, namun apapun itu ia benar-benar ingin menghabisi pria ini malam ini juga.

"Argh... lalu mengapa kau malah memanfaatkan ku saat itu? dasar pria mesum! Mengapa juga kau tidak menggunakan pengaman? hah! kamu sudah menghancurkan ku aku ingin memotong burungmu!" racau Anne sambil memukul-mukul pria itu meski tangannya masih dalam kendalinya.

Pria itu memicing mendengar kalimat

protes darinya, "apa kamu hamil?"

1
Resume
baguss
Lian_06: Thanks ya ,rating dan komentar nya😃, nantikan update cerita ini ya, jangan lupa tinggalkan jejak disetiap babnya agar semakin semangat Authornya😉😄
total 1 replies
𝓮𝓵𝓯𝓪𝓷𝓪𝔂𝓪 ₳ⱤⱤ₣₳₳ 🕸🌪
dimana² uang lebih berkuasa 🤭 sebaiknya kamu jujur ke Viktor kalo ada 3 buntut krn kejadian itu biar anak²mu ada yg melindungi nya
𝐀⃝🥀Weny
heem.. the power isi money /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
𝐀⃝🥀Weny
issshhh... licik banget si Victor 😏🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
🤣🤣🤣si Victor moduuuus... bilang aja kangen🤣🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: iya, mau ketemu aja cari² kesalahan Anne 😅🤣🤣🤣
total 2 replies
Mita Paramita
rasain tuh Anne dikerjain Viktor 🤣🤣🤣
Mita Paramita
salah paham lagi nih Viktor ke anne🤣🤣🤣 kapan ketahuan ny sih Anne dan kapan Viktor ketemu anaknya
Mita Paramita
anne polos banget ketemu Viktor ga pernah liat wajah ny 🤣🤣🤣 Viktor pake topeng
𝓮𝓵𝓯𝓪𝓷𝓪𝔂𝓪 ₳ⱤⱤ₣₳₳ 🕸🌪
kamu itu jgn polos² amat jd orang 🤦‍♀️ jgn mudah percaya orang lain meski itu rekan kerja mu sendiri
Mita Paramita
anne terlalu polos gampang gak enakan di pergaulan teman teman ny🤣🤣🤣 untuk ada Viktor nih 🫡
Lian_06: Kadang terlalu baik malah dimanfaatin 😭
total 1 replies
𝓮𝓵𝓯𝓪𝓷𝓪𝔂𝓪 ₳ⱤⱤ₣₳₳ 🕸🌪
emang triples anaknya viktor 🤭 ajak triples ke kantor biar ketemu daddy nya
Lian_06: Thanks ya udah mampir baca🤗😄. Ajak triplets nya nanti biar makin suprise buat Daddy Viktor 🤭
total 1 replies
Mita Paramita
rasain tuh Imelda makanya jangan senioritas🤣🤣🤣kalo udah ketauan rugi sendiri kn 🫡
Lian_06: Bener banget tuh, aku jujur kesel juga🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!