“Sikapmu sekarang sama seperti wanita murahan.”
“Kau yang membuatku terlihat seperti itu, jadi jangan salahkan aku.”
•••
Giselle Uchiyama tak pernah tahu apa arti sebenarnya dari kebahagiaan sebelum ia bertemu dengan seorang pria yang anehnya dapat membuat Giselle bertingkah gila hanya untuk mendapat perhatian.
Namun…
Bagi Jio Pratama, Giselle hanyalah iblis berparas bidadari yang siap menghancurkan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vienbluu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14
•••
"Aku kira kau hanya pandai memukuli orang saja ternyata kau juga pandai mengemudi."
Jio tak menanggapi.
"Kita akan pergi kemana? Atau aku saja yang memilih tempatnya, aku tahu banyak tempat bagus yang biasa orang kunjungi untuk kencan mereka.”
“Oh, kau pasti sudah mereservasi tempat untuk kita kencan kan?"
"Bisa kau diam saja, kepalaku jadi sakit mendengarkan ocehanmu sedari tadi!"
"Astaga… aku tebak kau tak pernah berpacaran atau pun kencan buta sebelumnya. Baiklah aku jadi yang pertama, dengar akan aku jelaskan apa itu kencan."
Jio memutar mata, muak.
"Kencan biasa dilakukan untuk mengenal satu sama lain sebagai pasangan.”
“Kita bisa jalan bersama, makan bersama, melakukan hal-hal seru bersama, belajar mengerti perasaan pasangan kita dan yang terpenting adalah bicara satu sama lain.”
“Tanpa bicara bagaimana kita akan melakukan hal-hal yang kusebutkan tadi? Jadi berhenti menyuruhku diam!"
Jio berdecak, "Dan dengarkan aku sekarang, aku tidak berniat untuk kencan denganmu dan melakukan hal-hal yang kau sebutkan tadi."
Giselle mengangguk, "Emh... kau akan lakukan. Kau–"
"Tutup mulutmu atau kuturunkan di sini!"
Giselle mendengus kasar, memilih tak melanjutkan ucapannya.
Jio kembali fokus mengemudi, bersyukur gadis itu bisa diam meskipun tak tahu berapa lama dia tahan untuk tak bersuara.
Mobil yang Jio kemudikan memasuki area sekolah menengah atas khusus seni, membuat Giselle bingung ditambah laju mobil berhenti saat sampai di tempat parkir basement sekolah tersebut.
"Bukankah kita akan berkencan, kenapa kita ke sini?"
"Sudah kubilang aku ada urusan. Kau ikut atau ingin tetap di sini, tetap tinggal di sini pun tak masalah itu bahkan lebih baik."
"What the hell, kau menawarkan atau memang menyuruhku tetap tinggal? Kau akan meninggalkanku begitu? Harusnya aku sadar kau memang sejahat itu..." Ucap Giselle mencebik.
"Tck, berhenti memasang ekspresi begitu."
Jio membuka pintu mobilnya, berjalan lebih dulu meninggalkan Giselle yang berteriak padanya untuk menunggu gadis tersebut.
"Kau benar-benar menyebalkan. Tunggu aku brengsek sialan!"
Sebenarnya Jio tak benar-benar berniat meninggalkannya, buktinya Jio hanya melangkah pelan sembari menunggu gadis tersebut turun dari mobilnya.
Setelah turun dari mobil, Giselle berlari mengejar pria yang berjalan lebih dulu itu. Meraih lengan Jio dan mendekapnya erat.
Jio merasa risih, berusaha melepas lengannya. Namun sia-sia justru gadis itu dengan tiba-tiba menarik tengkuk Jio kemudian mengecup bibir itu lebih lama dari yang pertama kali dilakukannya.
Giselle menyeringai.
"Hukuman untukmu karena berani meninggalkanku."
Hanya sebuah kecupan, tapi tetap saja membuat Jio tersentak. Gadis ini benar-benar berani.
•••
"Kau serius mengajakku kemari?"
Pasalnya Jio membawanya ke aula tempat biasa diadakan pertunjukan seni sekolah tersebut.
Untuk apa pula dia membawanya kemari, itu menjadi pertanyaan besar di kepala Giselle saat ini.
Terlihat banyak wali murid serta siswa-siswi yang memenuhi gedung aula. Jio menarik Giselle untuk duduk di kursi kosong pada barisan tengah tersebut.
Pertunjukan seni yang dibawakan oleh sebagian siswa-siswi sekolah menengah atas dari berbagai departemen itu dimulai.
Macam-macam pertunjukan mulai dari musikal klasik, drama, tari modern, tari terapan dan sebagainya.
"Kalau kau pikir dengan membawaku kemari akan membuatku jera, kau salah besar. Lakukan hal ekstrim lainnya saja, berusahalah lebih keras." Bisik Giselle.
"Aku tak peduli kau jera atau tidak."
"Setelah ini ayo pergi ke club."
Jio menoleh, “Pergilah sendiri, setelah ini aku ada urusan."
"Apa lagi?”
“Ya Tuhan… kau mau aku menghukummu lagi?!" Giselle menjerit tertahan.
"Sepertinya kau tak keberatan dengan itu, jujur padaku kau suka saat aku menciummu, bukan?"
"Itu kau sebut ciuman?"
Jio berdeham.
'Astaga Jio sadarlah apa yang kau katakan!?'
"Oh… aku bisa lakukan lebih dari itu, sungguh. Tadi itu bukan apa-apa."
"Diam."
Giselle mengangkat bahu, kembali menyaksikan pertunjukan seni yang sedang berlangsung.
Empat jam berlalu, pertunjukan seni yang mereka saksikan itu selesai dengan ucapan terima kasih dari seluruh siswa-siswi yang ikut berpartisipasi dalam acara tersebut, tak luput dengan iringan musik yang menjadi soundtrack perpisahan mereka dengan penonton di sana.
Para penonton mulai meninggalkan aula tersebut secara bergantian termasuk Giselle juga Jio.
Saat berjalan keluar aula Jio tiba-tiba berhenti di depan pintu seraya mengecek ponselnya membuat Giselle ikut berhenti tentunya. Jio melihat ke segala arah seperti tengah mencari seseorang.
Tepat sepersekian detik berikutnya seorang gadis tiba di hadapan keduanya dan langsung memeluk pinggang Jio yang dibalas oleh pria itu dengan tersenyum seraya mengusap puncak kepala gadis tersebut.
Giselle melongo melihat keduanya bergantian dengan raut wajah kebingungan.
Tak percaya apa yang dilihatnya, bagaimana mungkin Jio yang seketus itu saat bicara padanya bisa tersenyum selebar ini sambil memeluk seorang gadis tepat di hadapannya.
Giselle menyentak lengan gadis itu dengan kasar, menariknya menjauh dari Jio.
"Apa-apaan kau!" Pekik gadis tersebut.
"Kau yang apa-apaan, kau tak tahu malu memeluk seorang pria di depan kekasihnya?!”
“Kau hanya bocah ingusan, harusnya di usiamu sekarang kau belajar dengan benar bukannya mengganggu pacar orang!"
"Apa katamu?!"
Gadis itu melotot kemudian menoleh ke arah Jio yang terlihat memijit pelipisnya.
"Sejak kapan Kakak suka gadis urakan dan kasar seperti dia?!”
“Kakak, jelaskan apa maksudnya?"
"Kakak?" Gumam Giselle.
"Aku adiknya, mau apa kau?!"
Jio yang tak tahan melihat kedua gadis di hadapannya ini berdebat pun menarik lengan Yasmeen, ketika gadis itu mulai maju selangkah lebih dekat pada Giselle.
Jika dibiarkan mungkin kedua gadis ini akan adu jambak rambut satu sama lain.
"Yasmeen sudahlah… kemari."
"Iya tapi siapa dia?"
"Sudah kubilang aku kekasih Kakakmu.”
“Giselle Uchiyama." Ujar Giselle percaya diri, seraya menjulurkan tangannya.
"Uchiyama."
"Aku darah campuran, aku menggunakan marga Jepang dari ibuku."
"Aku tidak sebodoh itu Nona Uchiyama, aku sudah tahu tanpa harus kau jelaskan!" Ketus Yasmeen.
Jio terkekeh melihat raut wajah kesal Giselle, ternyata melihat perdebatan gadis itu dengan adiknya lebih menghibur dari apapun.
"Yasmeen sudah..."
Yasmeen mendengus, "Ibu dan Ayah ke mana? Mereka tidak datang?"
"Ibu sedang tak enak badan, Ayah juga sedang sibuk. Tak apa jika hanya Kakak yang datang, kan?"
Yasmeen mengangguk pelan sedikit kecewa, Ayahnya selalu saja sibuk dengan urusan pekerjaan.
“Bagaimana tarianku tadi?"
"Bagus, lebih hebat dari tahun lalu. Kau mau pulang bersama Kakak?"
"Tidak, aku masih ada acara bersama teman-temanku. Nanti aku telepon supir rumah untuk menjemputku."
"Baiklah kalau begitu, Kakak pulang dulu."
"Kakak benar-benar berpacaran dengan gadis itu?" Tunjuk Yasmeen ke arah Giselle yang melipat tangan berusaha menahan kekesalannya.
"Berhati-hatilah saat pulang nanti, kabari Kakak setelah sampai."
Yasmeen mengangguk tak lupa menjulurkan lidahnya ke arah Giselle berada, kemudian berlalu pergi ke pintu aula tersebut.
Giselle berjalan terlebih dahulu menuju parkiran sambil menghentakkan kaki, Jio berada tepat di belakangnya tahu jika gadis itu terlewat kesal sekarang ini hanya bisa menahan senyumnya.
"Adikmu menghinaku! Bisa-bisanya dia mengatakan aku gadis urakan!"
"Dia tidak menghina, dia hanya mengatakan apa yang dilihatnya."
"Pantas saja kau tak punya pacar. Baru saja mengenalkan seorang gadis, Adikmu langsung mencacinya."
"Aku tak pernah membawa seorang gadis, aku juga tidak bermaksud mengenalkanmu pada Adikku."
"Ya, itu tidak bisa disebut sebagai perkenalan! Kenalan macam apa itu, tidak elite."
Mungkin keputusan Jio membawa Giselle datang pada pertunjukan seni sekolah Yasmeen adalah hal yang tak pernah ia bayangkan akan dilakukannya. Perihal dirinya yang tak pernah memperkenalkan seorang gadis manapun pada anggota keluarganya.
Meskipun kejadian Yasmeen yang bersikap sama ketusnya dengan Giselle tidak bisa dianggap sebuah perkenalan, tetap saja Yasmeen sudah melihat Giselle.
Tinggal menunggu waktu bagi Yasmeen untuk membuka mulut di rumah nanti, meski tak yakin Yasmeen akan mengatakan kejadian ini pada Ibu serta Ayahnya.
Selama ini Yasmeen selalu menyimpan semua rahasia Jio yang ia ketahui terutama dari Ayahnya termasuk saat Jio mendapat lebam pada bagian tubuhnya setelah menyelesaikan pertandingan.
Sebenarnya Yasmeen seringkali memarahinya dan mengancam akan mengadu pada Ayahnya jika dirinya tetap tak berhenti melakukan boxing.
•••Vienbluu (annavienbluu)