NovelToon NovelToon
Salahkan Aku Mencintaimu

Salahkan Aku Mencintaimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Teen / Idola sekolah
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rhea Vey

SALAHKAN AKU MENCINTAIMU

​Sinopsis

Pernikahan kedua orang tua mereka tidak hanya menyatukan dua kepala, tetapi juga menyematkan status baru bagi Devan dan Aluna: saudara tiri.

​Tinggal di bawah satu atap yang sama membuat mereka tidak pernah benar-benar bisa saling menghindari. Di sekolah, mereka mengikat janji untuk bersikap layaknya kakak-adik biasa—canggung, berjarak, dan sewajarnya. Namun, di balik dinding rumah yang sunyi, perhatian-perhatian kecil Devan, tatapan mata yang tertahan, dan rasa nyaman yang tumbuh mendalam perlahan berubah menjadi perasaan yang tak seharusnya ada.

​Di antara seragam putih-abu, riuk pikuk koridor sekolah, dan keheningan malam di dalam rumah, Devan dan Aluna terjebak dalam dilema cinta pertama yang paling rumit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26: UJIAN DI SEKOLAH

Memasuki pertengahan semester, atmosfer di SMA Garuda berubah menjadi jauh lebih tegang dari biasanya. Pekan ujian tengah semester tinggal menghitung hari. Seluruh siswa disibukkan dengan tumpukan tugas, modul latihan soal, dan jam pelajaran tambahan yang melelahkan. Bagi Aluna yang baru duduk di kelas sepuluh, tekanan akademis ini terasa berkali-kali lipat lebih berat akibat kekacauan emosional dan kecemasan tersembunyi yang terus menggerogoti pikirannya.

Sore itu, perpustakaan lantai dua tampak sedikit lebih ramai dari biasanya oleh para siswa yang belajar kelompok. Namun, Aluna memilih duduk menyendiri di meja sudut yang agak tersembunyi di balik deretan rak buku sejarah. Di hadapannya terhampar dua buku tebal Matematika dan lembaran rumus yang penuh dengan coretan angka.

Aluna menyandarkan dahinya di atas meja berbahan kayu tebal. Keningnya berkerut, napasnya terengah halus akibat rasa pening yang menghantam kepalanya. Rumus-rumus trigonometri yang rumit itu serasa menari-nari tanpa bisa ia cerna sama sekali.

Klek.

Suara tumpukan buku yang diletakkan secara halus di atas meja memecah lamunan Aluna.

Aluna refleks mendongak. Sosok tegap Devan sudah duduk di kursi tepat di hadapannya. Pria itu masih mengenakan seragam OSIS lengkap dengan dasi yang sedikit dilonggarkan di lehernya. Paras tampannya terlihat tenang, namun pendar iris mata cokelat gelapnya memancarkan sorot perhatian yang teramat tajam saat meneliti raut wajah Aluna yang pucat dan kelelahan.

"Masih belum paham bagian mana?" tanya Devan rendah. Suaranya serak, berbisik halus agar tidak memancing perhatian siswa lain yang berjarak beberapa meja dari mereka.

Aluna menghela napas panjang, menunjuk salah satu lembaran soal dengan jemarinya yang agak gemetar. "Nomor lima sama delapan, Kak... Rumusnya bikin pusing. Mana ujiannya lusa lagi."

Devan tidak banyak bicara. Pria yang dikenal sebagai peringkat pertama di angkatannya itu menggeser kursinya berputar, pindah duduk tepat di samping Aluna hingga bahu tegap mereka saling bersentuhan. Aroma kayu cendana yang khas dari tubuh Devan seketika menyelimuti ruang gerak Aluna, menghadirkan rasa hangat yang kontras dengan dinginnya pendingin ruangan perpustakaan.

Devan menarik lembaran kertas Aluna mendekat. Jemari tangannya yang panjang dan kokoh memegang pensil, lalu mulai menuliskan tahapan rumus dengan sangat rapi dan sistematis di atas kertas tersebut.

"Perhatikan pola dasarnya dulu, Aluna," bisik Devan pelan. Kepala Devan memiring mendekat, hingga helai rambut hitamnya yang halus hampir menyapu kening Aluna. "Jangan hafalkan semua rumusnya. Kamu cuma perlu paham logika perubahannya di sini."

Aluna mencoba fokus pada penjelasan Devan, tetapi jarak mereka yang terlalu dekat justru membuat fokusnya makin berantakan. Tiap kali helai napas hangat Devan menyapu ceruk lehernya saat menjelaskan langkah demi langkah, jantung Aluna berdegup gila-gilaan.

Di bawah meja perpustakaan yang tertutup rapat, Devan secara sengaja merayapkan tangan kirinya yang bebas menuju paha Aluna. Tangannya meremas pelan paha halus adiknya di balik rok seragam sekolah, menyalurkan tekanan hangat yang amat posesif.

Aluna tersentak kecil, tubuhnya membeku kaku. Ia menoleh kaget menatap Devan lewat sudut matanya, tetapi Devan tetap melanjutkan penjelasannya dengan raut wajah yang amat tenang dan santun—seolah-olah tangan kirinya tidak sedang melakukan tindakan terlarang di tempat umum.

"Paham?" tanya Devan lembut, memalingkan wajahnya hingga jarak bibir mereka hanya tersisa beberapa sentimeter. Iris mata Devan berbinar gelap, menikmati riak kepanikan dan rona merah di pipi Aluna.

"K-Kak... tangannya..." cicit Aluna sangat pelan dengan suara tercekat, matanya melirik cemas ke sekeliling lorong rak buku.

"Jawab dulu, kamu sudah paham soalnya atau belum?" tekan Devan serak, jemarinya semakin erat mengusap paha Aluna di balik meja.

Aluna mengangguk cepat dengan napas memburu, sepenuhnya menyerah di bawah kendali sang kakak tiri. "P-paham, Kak... Aluna paham."

Devan menyunggingkan senyum tipis yang amat menawan. Ia menarik tangannya kembali ke atas meja, lalu mengusap lembut kepala Aluna dengan penuh kasih sayang—sebuah perpaduan antara bimbingan seorang kakak teladan dan dominasi kekasih yang terlarang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!