NovelToon NovelToon
IBU TIRI LUAR BIASA

IBU TIRI LUAR BIASA

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Ibu Tiri / Ibu Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Duda / Cinta Murni
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: YoshuaSatrio

Karena tak tahan dengan desakan keluarga dan masalah yang bertubi menghimpit keluarganya, Sutami(28tahun) menerima pinangan Juragan Waluyo(45tahun), seorang duda kaya yang memiliki seorang putra dan dua putri yang berbeda watak.

Menjadi ibu tiri bukan impian Sutami, tapi demi menyelamatkan kehormatan keluarga dari stigma 'perawan tua pembawa sial', maka pernikahan pun dilangsungkan.

Mampukah Sutami menjalankan perannya sebagai istri sekaligus ibu tiri?
Bagaimana cara Sutami menghapus stigma masyarakat tentang 'ibu tiri jahat?’

Mari berimajinasi bersama. Semua tokoh dan kejadian dalam cerita hanya sebuah karangan. Jika ada kebetulan yang dibetulkan, silahkan disalahkan kebetulannya yang disama-samakan.
Semoga semua berbahagia. —yosh—

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JALAN KELUAR ATAU JALAN BUNTU

Siang itu, matahari terasa begitu terik. Sutami baru saja berbelok di ujung gang. Dari kejauhan ia melihat kerumunan warga. Ada belasan orang berdiri di depan halaman rumahnya.

Jantung Sutami seketika berdetak lebih cepat. Ia meremas tuas gas motor matiknya, menambah kecepatan. Debu dan angin panas menerpa wajahnya yang sudah basah oleh keringat.

Semakin dekat, suara-suara itu mulai terdengar. Ada yang menghela napas, ada yang menggelengkan kepala. Di teras, ia melihat sosok Mak Mia duduk lemas di lantai, ditemani oleh Bu RT. Di sampingnya Pak Sukimin bersandar pada dinding, wajahnya tertunduk dan kedua tangannya memegangi kepala.

Sutami mematikan mesin motor dengan tangan gemetar. "Ada apa ini, Pak?" tanyanya lirih.

"Maling, Nduk. Rumahmu diobrak-abrik maling," jawab seorang warga yang berdiri di halaman.

Sutami belum sempat melangkah lebih jauh, ketika dari arah berlawanan muncul Kuswara dengan wajah panik dan napas tersengal-sengal, seolah baru berlari jauh.

“Ada apa? Aku baru saja tiba di kantor, terus ditelepon Pak RT. Katanya rumah kemalingan!” seru Kuswara. Ia langsung menghampiri Mak Mia dan berjongkok di depannya. “Mak... Pak... kalian nggak apa-apa?"

Mak Mia hanya menggeleng lemah dan air mata kembali jatuh di pipinya.

Kuswara lalu berdiri dan menatap ke arah Sutami. Matanya merah, entah karena marah atau karena pura-pura.

“Pasti karena itu! Keluarga ini kena sial terus, pasti karena kamu!" seru Kuswara menunjuk tepat ke wajah Sutami. "Katanya kalau ada perawan tua di rumah ini, maka kesialan akan terus datang! Terbukti sudah sekarang!” tuduhnya dengan suara lantang.

Seketika dada Sutami terasa sesak. Ia ingin membantah, ingin berteriak. Bibirnya bergetar, tapi rasanya ada sesuatu yang berat di tenggorokannya, hingga tak ada satu katapun yang keluar. Ia hanya menunduk. Rasanya sakit sekali, seolah seluruh mata warga yang menatapnya ikut menghakimi dan menyalahkan dirinya.

Salah satu tetangga, Bu Murni mendekat dan menepuk bahu Sutami pelan. “Wes, Mbak yang sabar. Sudah, turuti saja adikmu itu, menikah lalu hdup bahagia. Dengan begitu kamu tidak akan dituduh lagi sebagai pembawa sial oleh adikmu itu.”

Sutami hanya mengangguk kecil. Ia tidak mampu menjawab.

..............

Malam itu menjadi malam yang sangat panjang dan menyesakkan bagi Sutami. Ia berbaring di ranjang, memandang kosong pada rangka kayu dan atap genteng yang dibuat sendiri oleh Pak Sukimin.

“Siapa sih yang tidak mau menikah...” gumam Sutami lirih. “Tapi, apakah setelah menikah kita pasti bahagia?”

Sutami berusaha memejamkan matanya, tapi pikirannya terus melayang, teringat pada beberapa pria yang pernah datang untuk meminangnya.

“Mas Darman... dia perjaka, anak seorang petani. Ayahnya lumayan kaya, tapi... tatapan matanya liar. Baru pertama bertemu, aku sudah tidak nyaman.”

Sutami menghela napas, kemudian mengingat sosok pria kedua. "Lalu Mas Amran... anak orang kaya juga. Tapi aku pernah melihatnya menjadi petugas penertib di pasar. Caranya membentak pedagang sangat kasar!"

Sutami kini memiringkan tubuhnya, menatap kosong pintu kamarnya yang menutup.

“Dan Mas Rahmat... dia seorang duda. Belum punya anak. Tapii jika dia baik, mengapa istri pertamanya sampai harus ninggalin dia?"

Pikirannya berputar semakin kacau. Hingga tanpa ia sadari, kelopak matanya terpejam dan Sutami pun terlelap.

........

Keesokan harinya, matahari belum sepenuhnya terlihat. Sutami dan Mak Mia masih sibuk menyiapkan sarapan di dapur, sedangkan Pak Sukimin menyapu halaman rumah.

Sebuah mobil Avanza silver berhenti di depan rumah, lalu turun seorang pria berjas rapi dan seorang pria berkemeja

"Permisi, ini rumah Bapak Kuswara, ya?" tanya si makelar sambil melihat-lihat.

Kuswara keluar dari dalam dengan kemeja rapi dan senyum lebar. "Betul, Pak. Silakan masuk, ini rumahnya. Sertifikatnya juga sudah saya siapkan."

Dari dalam rumah, Mak Mia muncul disusul Sutami. "Le... tamu siapa?"

"Oh ini calon pembeli, Mak. Rumah reyot ini mau saya jual buat lunasi hutang," jawab Kuswara enteng.

"Menjual rumah? Jual ke siapa? Utang apa?" potong Sutami.

"Kalian pikir motor yang dipakai Bapak, sepeda yang dipakai Emak, dan juga uang yang dulu aku berikan untuk DP motormu itu uang siapa? Itu uang pinjaman, Mbak! Aku minjem bosku di pabrik!" bentak Kuswara.

"Belum lagi biaya persiapan lamaran kemarin. Meskipun aku akhirnya ditolak, semua biaya yang sudah aku keluarkan tidak mungkin aku tarik lagi kan? Dan semua itu juga aku pinjam dari Pak Waluyo!"

Wajah Kuswara merah padam, matanya melotot tajam, seolah hendak menelan Sutami bulat-bulat. "Sekarang aku ditagih! Aku cuma diberi waktu satu minggu! Kalau nggak bayar, aku akan berakhir di penjara!" Tak sedikit pun Kuswara menurunkan nada bicaranya. Seolah ingin melimpahkan kesalahan dan kebohongannya pada Sutami.

"Ini apa lagi Ya Tuhan!" pekik Mak Mia lalu duduk lemas di lantai teras rumah.

Pak Sukimin uang tadi masih berdiri memegangi sapu lidi, kini berjalan pelan mendekati istrinya, menatap tak berdaya ke arah putranya. "Jadi, maling itu adalah putraku sendiri... Memangnya berapa hutangmu itu?" Sekuat tenaga Pak Sukimin menahan amarah, dengan suara bergetar, ia berdiri menatap Kuswara.

Sutami meletakkan celemeknya di meja dapur, lalu mengambil langkah cepat, berdiri tepat di depan Kuswara. "Pantas kau kemarin melarangku lapor polisi, jadi ini semua ulahmu?" tanyanya tegas.

Mak Mia tak kuasa menahan tangis. "Cuma rumah ini yang kita punya... Kau sudah ambil semua tabungan kami... memangnya berapa hutang itu?" pekiknya diantara isak.

Kuswara menatap dingin pada ibunya, tapi cepat-cepat ia membuang muka. "Ya banyak pokoknya! Hitung aja sendirilah, berapa yang sudah kukeluarkan untuk kalian!"

Plak!

Pak Sukimin kehabisan kesabaran, ditamparnya wajah Kuswara dengan sisa tenaganya. "Anak Durhaka! Bapak tak pernah mengajarimu jadi seperti ini!"

Tapi pria itu tak lagi muda. Syok berat yang bertubi membuatnya ambruk tak sadarkan diri.

"Pak! Bapak!" teriak Sutami.

.........

Di rumah sakit, Mak Mia duduk di samping brangkar, wajahnya pucat dan tubuhnya tampak lemas. Ia menatap kosong ke wajah suaminya yang baru saja tertidur pulas setelah dokter menyuntikkan obat.

Sutami berdiri dibelakang Mak Mia, merangkul pundak ibunya. "Mak istirahat dulu, berbaringlah di situ, biar aku yang bicara sama Kuswara."

Air mata kembali menetes di pipi Mak Mia. Rasanya masih tak percaya jika putranya begitu tega mencurangi keluarganya sendiri.

Sutami berjalan keluar meninggalkan rumah sakit, setelah mengirimkan pesan singkat pada Kuswara.

✉️Jika kau masih punya hati nurani, hentikan apapun yang sedang kau lakukan! Berikan aku alamat pabrikmu! Biarkan aku bicara pada bosmu!

Langkah Sutami sedikit ragu, tapi ia kemudian menguatkan diri. "Aku harus menyelamatkan rumah orang tuaku!"

...****************...

Bersambung

1
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
waduh 😣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Sabar Tami,jgn sampai kau jadi stres 🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Ga bisalah,
rasain tuh 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
pengen ku lempar pk sendal tuh mulutnya 😤
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
berpindah duduk
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Enak aja, kamu hrs berusaha dari bawah
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
itu kan salahmu sendiri, kenapa korupsi 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
jangan bikin gara" 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
mau apalagi kamu 😤
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Dara biasa makan cake 🤭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
betul 🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
sembarangan 😤
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
ga sakit tuh tenggorokan Bu 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
semua itu bukan salahmu Tami 🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
apa ini jalan terbaik 🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
bicarakan dengan kepala dingin 🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
betul 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Dara dong 🤣
yosh—: 😮‍💨apesnya jadi author nggk ada yg dukung😁
total 1 replies
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
setuju 👍🏻
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Waduh jgn berantem diluar, malu sama tetangga 🥺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!