Di luar pagar sekolah, Affan dan Monisha adalah sepasang suami istri karena perjodohan wasiat keluarga.
Di dalam kelas, mereka adalah dua kutub yang berpura-pura tidak kenal. Affan si ketua OSIS yang harus menjaga reputasinya, sementara Mona hanya ingin lulus dengan tenang.
Mereka sepakat merahasiakan pernikahan ini rapat-rapat. Namun, menyembunyikan status pernikahan di lingkungan SMA tidaklah mudah. Hanya dalam waktu satu minggu, kecemburuan merusak segalanya. Kecurigaan teman-teman, teror dari siswa yang menyukai Mona, hingga kecerobohan mereka sendiri meledakkan rahasia besar tersebut ke seluruh sekolah.
Kini, mereka harus menghadapi konsekuensi sosial, aturan ketat sekolah, di atas perasaan sayang yang sudah tumbuh di antara mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ngambek 34.
Malam hari ruang tengah rumah bernuansa minimalis itu terasa lebih dingin daripada suhu pendingin ruangan yang berembus pelan.
Tidak ada suara televisi, tidak ada denting sendok yang beradu, pun tidak ada sapaan hangat yang biasa mengisi rumah tangga normal. Bagi Affan dan Mona, rumah ini telah berubah menjadi medan perang tanpa senjata. Senjata mereka adalah keheningan.
Mona duduk di tepi ranjang, menatap nanar sebuah kotak beludru merah kecil di atas meja rias. Di dalamnya terbaring sebuah kalung perak dengan liontin giok kuno yang mulai memudar warnanya.
Itu adalah kalung wasiat dari almarhum kakeknya, satu-satunya barang berharga yang tersisa sebagai pengingat masa kecilnya di desa. Rendy yang membawa kalung pemberian kakeknya Mona, justru Rendy juga yang mengembalikannya. Namun, di mata Affan, segalanya tampak berbeda.
Affan melangkah masuk ke kamar, baru saja selesai membersihkan diri.
Handuk kecil masih bertengger di lehernya.
Sepasang matanya yang biasa menatap Mona dengan mata antusias, kini meredup, menyiratkan luka yang berusaha ia sembunyikan di balik topeng kesabarannya.
Affan melirik kotak beludru itu, lalu membuang muka dengan rahang yang mengeras..
Di belakangnya, Mona menyadari kehadiran Affan. Ia berdiri, mencoba memecah dinding es di antara mereka. "Fan, soal yang tadi sore di sekolah..."
"Nggak perlu dijelaskan," potong Affan dingin. Suaranya datar, tanpa emosi, namun justru itu yang paling menyakitkan bagi Mona.
Affan berjalan menuju lemari, mengambil kaus ganti tanpa memandang Mona sedikit pun.
"Kamu salah paham, Fan. Rendy cuma mau balikin—"
"Balikin apa? Komitmen masa kecil kalian?" Affan berbalik tiba-tiba. Tatapannya menembus langsung ke manik mata Mona. Ada kilatan amarah yang tertahan di sana. "Kita emang dijodohin, Mon. Pernikahan ini bukan mau kita. Tapi setidaknya, hargai status kamu sekarang. menerima barang seperti itu dari cowok lain di depan umum?" Affan terkekeh sinis, sebuah tawa kering yang sarat akan rasa kecewa. "Kamu membuat saya kelihatan seperti orang bodoh."
Mona tertegun. Kata-kata Affan menghantam dadanya begitu keras hingga ia merasa sesak. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, membuat pandangannya mengabur. Mengapa Affan begitu keras kepala? Mengapa cowok itu tidak mau mendengarkan satu kalimat saja penjelasannya?
"Itu bukan cincin, Affan!" suara Mona meninggi, bergetar menahan tangis. Ia melangkah mendekati meja rias, meraih kotak itu dengan tangan gemetar, lalu membukanya lebar-lebar di hadapan Affan. "Lihat! Ini kalung! Ini kalung wasiat dari almarhum Kakek! Rendy cuma mengembalikan kalung ini yang kemarin sempat di bawa. Kenapa kamu selalu menyimpulkan semuanya sendiri?!"
Affan terpaku. Matanya turun menatap benda di dalam kotak. Seutas rantai perak tipis dengan liontin giok hijau tua. Bukan lingkaran cincin emas atau berlian yang ia bayangkan tadi sore.
Keheningan kembali menyergap, namun kali ini atmosfernya berubah. Rasa bersalah yang teramat sangat mendadak merayapi dada Affan, menggantikan rasa cemburu yang membakar sejak tadi. Ia memandang kalung itu, lalu beralih menatap wajah Mona yang kini sudah basah oleh air mata.
Mona menurunkan tangannya, bahunya bergetar hebat. "Kamu kenapa si engga percaya sama saya hah?!."
"Mon, bukan gitu..." Affan melangkah maju, tangannya refleks terulur ingin menghapus air mata di pipi gadis itu.
Namun, Mona mundur satu langkah. Penolakan itu membuat tangan Affan menggantung di udara, kosong dan dingin.
"Lagian kamu mikirin apa sih? Saya mau kasih penjelasan main kabur aja seperti bocil! Kamu pikir saya mau direbut Rendy begitu?, Saya gak segila itu buat berpaling dari kamu demi Rendy yang kemarin membuat saya malu di sekolah, otak saya masih waras Fan!" bisik Mona lirih. Ia menghapus air matanya sendiri secara kasar, lalu berjalan melewati Affan menuju tempat tidur, memunggungi cowok itu dan menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya seperti kepompong.
Affan berdiri mematung di tengah kamar. Penyesalan kini menghujamnya bertubi-tubi.
Ia menatap punggung Mona yang bergerak naik turun karena isakan yang tertahan.
Malam itu, di bawah atap rumah yang sama, jarak di antara mereka terasa jutaan kilometer lebih jauh daripada sebelumnya.
Affan belum sempat menyentuh tempat tidur nya, Mona lebih dulu mengambil selimut, bantal, guling, lalu diletakkan nya di atas sofa ruang tamu. "KAMU TIDUR DIRUANG TAMU! GAK ADA JATAH MALAM INI!"
Affan tersenyum tipis, yasudah mau gimana lagi kalau Mona sudah ngeluarin mode macan betina nya. Ia menerima lapang dada dan tidur di sofa ruang tamu hingga pagi harinya bentol-bentol karena di gigit nyamuk.
......................
...****************...
To be continue,
jujur aja mona sm sahabatnya
klo sudah menikah sm afan