Lin Chen adalah pewaris sah dari Keluarga Lin di Ibukota Jingcheng. Namun, karena intrik ibu tirinya dan adik tirinya (Lin Tian), meridiannya dihancurkan, dia dijebak atas kejahatan penggelapan, dan dibuang ke kota kecil Donghai sebagai orang cacat. Tunangannya yang kejam, Ye Mei, akhirnya membunuhnya di gang gelap.
Namun, takdir berkata lain. Lin Chen terbangun 5 tahun di masa lalu, tepat di hari ia dibuang ke Donghai. Kali ini, ia tidak hanya membawa ingatan masa depannya, tetapi jiwanya telah terikat dengan [Sistem Penguasa Urban Tertinggi]. Mulai dari menyembuhkan tubuhnya, membangun kerajaan bisnis, hingga menguasai seni bela diri kuno, Lin Chen bersumpah akan menginjak-injak mereka yang pernah mengkhianatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Kematian Sang Langit
Debu beton dan asap putih perlahan menipis, tersapu oleh angin dingin yang berembus masuk melalui dinding pabrik yang hancur.
Seluruh mata di dalam ruangan menatap ke arah kawah raksasa di tengah pabrik dengan napas tertahan. Jantung Lin Tian dan Xiao Teng berdegup sangat kencang hingga nyaris melompat dari dada mereka.
Saat tirai debu itu akhirnya menghilang, siluet dua sosok itu terlihat jelas.
Lin Chen berdiri tegak. Mantel hitam panjangnya robek di beberapa bagian, dan untuk pertama kalinya sejak ia kembali ke dunia ini, seutas garis darah merah segar mengalir dari sudut bibirnya. Tangan kanannya yang membentuk postur pedang sedikit gemetar, mengeluarkan uap panas.
Di seberangnya, berjarak sekitar sepuluh meter, Tetua Huang berdiri kaku. Jubah abu-abunya hancur lebur menyisakan kain compang-camping.
Satu detik... dua detik berlalu dalam keheningan yang mencekam.
Tiba-tiba, sebuah garis merah diagonal muncul memanjang dari bahu kiri hingga ke pinggang kanan Tetua Huang.
CROT!
Darah menyembur deras dari luka tebasan tersebut. Tetua Huang terhuyung mundur, matanya membelalak dipenuhi ketidakpercayaan dan keputusasaan yang absolut.
"T-Tidak mungkin..." suara Tetua Huang terdengar seperti suara angin yang bocor dari paru-paru yang robek. "Kultivasimu hanya di Kelas Bumi... Bagaimana kau bisa membelah... Serangan Pengekang Jiwa-ku...? Teknik pedang apa itu...?"
Lin Chen mengusap darah di sudut bibirnya dengan ibu jari. Matanya memancarkan kedinginan sang penakluk.
"Teknik yang dikirim dari surga untuk memotong nyawamu," jawab Lin Chen datar.
Kenyataannya, benturan tadi memberikan dampak yang cukup besar pada tubuh Lin Chen. Meskipun fisiknya dilindungi oleh Tulang Giok Naga, benturan dengan energi murni dari seorang ahli Tahap Langit menghabiskan hampir 85% Qi di dalam Dantian-nya. Jika bukan karena Giok Penelan Surga yang dengan gila-gilaan memompa energi alam untuk menyembuhkan luka dalamnya, organ-organ Lin Chen pasti sudah retak.
Sistem benar, batin Lin Chen. Membunuh ahli Tahap Langit secara frontal saat ini masih menguras terlalu banyak tenaga. Aku tidak boleh membiarkan pertarungan berlarut-larut.
Menyadari ia tidak memiliki harapan lagi untuk hidup, wajah Tetua Huang berubah menjadi sangat buas. "J-Jangan pikir kau menang, Bocah! Jika aku mati, aku akan menyeretmu ke neraka bersamaku!"
Tetua Huang memukul dadanya sendiri, membakar seluruh esensi darah dan sisa-sisa Qi di Dantian-nya untuk menciptakan ledakan bunuh diri yang setara dengan bom termobarik. Jika ia meledak, seluruh pabrik baja ini akan rata dengan tanah!
"TETUA HUANG! APA YANG KAU LAKUKAN?! KAMI MASIH DI SINI!" teriak Lin Tian panik, merangkak mundur dengan histeris.
Namun, Lin Chen tidak memberinya kesempatan.
Menggunakan sisa Qi terakhirnya, Lin Chen mengaktifkan Langkah Bayangan Naga. Ia menghilang dari tempatnya dan muncul tepat di hadapan Tetua Huang bahkan sebelum pria tua itu selesai mengembangkan energinya.
"Di hadapanku, bahkan kematianmu harus menunggu izinku," bisik Lin Chen sedingin es.
Tangan kiri Lin Chen yang dilapisi sisa Qi putih menembus pertahanan dada Tetua Huang layaknya menembus tahu, mencengkeram langsung ke pusat Dantian pria tua itu, dan meremukkannya dari dalam!
BLAARR!
Energi bunuh diri itu padam seketika layaknya lilin yang disiram air. Tetua Huang memuntahkan darah hitam, matanya meredup, dan tubuhnya jatuh berlutut sebelum akhirnya tersungkur tak bernyawa di depan sepatu Lin Chen.
Seorang Grandmaster Tahap Langit... pilar penyangga Keluarga Lin... mati!
[Ding!]
[Berhasil membunuh musuh Tahap Langit (Awal). Evaluasi: Kemenangan Sulit.]
[Mendapatkan 15.000 Poin Sistem.]
[Peringatan: Cadangan Qi Host saat ini berada di bawah 10%. Harap hindari pertarungan tingkat tinggi selama 12 jam ke depan untuk mencegah kerusakan permanen pada Dantian.]
Lin Chen menarik tangannya. Ia mengontrol pernapasannya, memastikan postur tubuhnya tetap tegak dan memancarkan dominasi mutlak, menyembunyikan kelemahannya dari musuh-musuh yang masih tersisa.
Melihat Tetua Huang mati semudah membalikkan telapak tangan, mental Xiao Teng hancur berkeping-keping.
"M-Monster! Dia bukan manusia!" teriak Xiao Teng dengan suara melengking. Ia menoleh ke arah dua pengawalnya yang sedang dipukuli mundur oleh Paman Bai yang menggunakan lengan baru sekuat baja.
"Tinggalkan orang tua itu! Bawa aku pergi dari sini! SEKARANG!" raung Xiao Teng.
Kedua pengawal Keluarga Xiao itu tidak membuang waktu. Mereka juga ketakutan setengah mati melihat Lin Chen. Mereka segera menembakkan bom asap tebal ke arah Paman Bai, lalu menyambar tubuh Xiao Teng dan melesat kabur menembus atap pabrik.
Paman Bai hendak mengejar, namun Lin Chen mengangkat tangannya.
"Biarkan anjing Keluarga Xiao itu lari," perintah Lin Chen dengan tenang. "Mereka akan menyebarkan teror ke seluruh Ibukota untuk kita. Fokus kita malam ini ada di sini."
Tatapan Lin Chen perlahan beralih ke arah tumpukan peti kayu.
Di sana, Lin Tian sedang meringkuk gemetar, air mata dan ingus bercampur di wajahnya. Celana mahalnya telah basah oleh urine. Arogansi sang Tuan Muda Keluarga Lin telah lenyap tak bersisa, digantikan oleh ketakutan primitif akan kematian.
Lin Chen berjalan perlahan mendekatinya. Setiap langkahnya bergema seperti detak jam kematian di telinga Lin Tian.
"J-Jangan bunuh aku... Kakak! Lin Chen! Aku adikmu!" Lin Tian berlutut dan bersujud membenturkan kepalanya ke lantai pabrik yang kotor. "Ini semua ide Ayah dan Ibu! Aku hanya disuruh! K-Kau tidak bisa membunuhku, Keluarga Lin memiliki puluhan Master lain... dan kakek masih punya koneksi militer!"
Lin Chen berhenti tepat di depan Lin Tian. Ia menatap ke bawah dengan pandangan penuh rasa jijik.
"Kau memanggilku Kakak setelah kau meracuniku, mencabut meridianku, dan membuangku seperti sampah?" Suara Lin Chen begitu pelan, namun menusuk tulang. "Kau tidak pantas menyebut kata itu."
Lin Chen mengangkat kakinya dan menginjak bahu Lin Tian, menekannya ke lantai beton hingga terdengar suara tulang retak.
"AARRGHH!" Lin Tian menjerit kesakitan.
"Tapi jangan khawatir. Aku tidak akan membunuhmu malam ini," ucap Lin Chen.
Mendengar itu, Lin Tian berhenti menjerit, menatap Lin Chen dengan secercah harapan.
"Aku sudah bilang padamu dan kekasihmu," lanjut Lin Chen, matanya beralih menatap Ye Mei yang masih tergantung di rantai, "Tujuh hari. Jika dalam waktu tujuh hari kau dan orang tuamu tidak berlutut dan bersujud di depan makam ibuku di Gunung Barat, aku sendiri yang akan datang ke kediaman Lin dan mencabut kepala kalian satu per satu."
Lin Chen menekan kakinya sedikit lebih keras, membuat Lin Tian kembali melolong. "Ini baru peringatan pertama. Sampaikan pada ayahmu... kehancuran Keluarga Lin tidak akan terjadi dalam semalam. Kalian akan merasakan bagaimana rasanya kehilangan segalanya, secara perlahan, dari hari ke hari. Persis seperti yang kalian lakukan padaku."
Lin Chen melepaskan injakannya. Ia kemudian membalikkan badan, berniat pergi.
"L-Lin Chen! Tunggu!"
Sebuah suara serak dan lemah memanggil dari arah rantai besi. Ye Mei, dengan wajah yang hancur dan tubuh penuh luka, menatap Lin Chen dengan air mata penyesalan yang deras.
"L-Lin Chen... kau masih mencintaiku, kan?" isak Ye Mei, mencoba menggunakan sisa-sisa pesonanya di masa lalu. "Lin Tian menyiksaku... dia monster! Tolong, lepaskan aku. Bawa aku bersamamu. Aku bersedia menjadi pelayanmu, aku bersedia melakukan apa saja... Aku menyesal telah mengkhianatimu..."
Langkah Lin Chen terhenti. Ia tidak berbalik, hanya menolehkan kepalanya sedikit.
Matanya yang dulu pernah memandang wanita itu dengan penuh kasih sayang, kini kosong layaknya menatap sebuah batu kerikil di pinggir jalan.
"Menyesal?" Lin Chen tersenyum sinis. "Kau tidak menyesal karena telah mengkhianatiku, Ye Mei. Kau hanya menyesal karena kau mengkhianatiku untuk pria yang salah, dan sekarang pria yang kau buang ternyata lebih kuat."
"T-Tidak... Lin Chen, kumohon..." Ye Mei menangis histeris.
"Lima tahun yang lalu, di gang bersalju itu, cintaku padamu mati bersamaan dengan tusukan belatimu," ucap Lin Chen tanpa emosi. "Di mataku, kau sudah menjadi mayat sejak malam itu. Dan aku tidak punya urusan dengan mayat."
Setelah mengatakan itu, Lin Chen melangkah pergi menembus kepulan asap, meninggalkan Ye Mei yang meratap putus asa dalam kegelapan pabrik, di bawah kekuasaan Lin Tian yang kini menatap wanita itu dengan tatapan membunuh untuk melampiaskan ketakutannya. Nasib Ye Mei kini jauh lebih buruk daripada kematian.
Di dalam SUV Hitam, perjalanan kembali ke Penthouse.
Begitu pintu mobil ditutup dan mobil melaju menjauhi kawasan pabrik, Lin Chen langsung menyandarkan punggungnya ke kursi dengan kasar.
Wajahnya seketika memucat, dan ia terbatuk pelan, mengeluarkan setetes darah hitam ke sapu tangannya.
"Tuan Muda!" Paman Bai dan Ah Fei yang duduk di depan terkejut bukan main. "Anda terluka?!"
"Hanya guncangan Qi. Jangan panik," ucap Lin Chen sambil mengusap keringat dingin di dahinya. "Aku memaksakan diri menggunakan Seni Pedang Roh secara maksimal untuk membelah Domain Tetua Huang. Cadangan Qi-ku nyaris kosong."
Paman Bai mengertakkan giginya. "Sialan! Jika hamba sedikit lebih cepat membereskan anjing Keluarga Xiao, hamba bisa membantu Anda melawan pria tua itu!"
"Kau sudah melakukan tugasmu dengan baik, Paman Bai," Lin Chen tersenyum tipis melihat lengan baru pengawalnya itu. "Setidaknya, malam ini kita telah membuktikan bahwa Keluarga Lin bukanlah dewa yang tak tersentuh."
Lin Chen menatap keluar jendela, melihat lampu-lampu Ibukota yang berkelebat cepat.
Aku tidak boleh gegabah lagi, pikir Lin Chen. Ibukota memiliki puluhan keluarga besar. Tetua Huang mungkin hanya satu dari sekian banyak ahli Tahap Langit yang bersembunyi di balik layar. Aku harus memulihkan tenagaku, dan membangun aliansi kuat di sini.
"Ah Fei," panggil Lin Chen.
"Ya, Tuan Muda!"
"Keluarga Lin pasti akan membalas dendam dengan segala koneksi politik dan bisnis mereka setelah kehilangan Tetua Huang. Besok, mereka akan membekukan aset apa pun yang mencurigakan di Ibukota. Aku butuh pijakan yang legal dan dihormati di kota ini."
"Maksud Anda... sebuah perusahaan baru, Tuan?" tanya Ah Fei.
Lin Chen menggeleng. "Tidak. Perusahaan terlalu lama dibangun. Kita akan mengambil alih sesuatu yang sudah besar, namun sedang sekarat."
Lin Chen teringat akan sebuah informasi dari ingatan masa lalunya. "Di Distrik Timur Ibukota, ada sebuah balai lelang dan firma barang antik legendaris bernama Paviliun Sembilan Harta (Jiubao Ge). Pemiliknya, Keluarga Fang, sedang berada di ambang kebangkrutan karena dijebak oleh Keluarga Lin dan dituduh menjual barang palsu tingkat nasional. Temui mereka besok pagi. Katakan bahwa seseorang bersedia membersihkan nama mereka dan membayar hutang mereka, dengan syarat... aku mengambil alih 70% saham firma tersebut."
Mata Paman Bai berbinar. "Menggunakan Paviliun Sembilan Harta? Itu adalah tempat berkumpulnya para kolektor elit, pejabat tinggi, dan praktisi bela diri untuk mencari artefak! Jika kita menguasainya, intelijen dan uang akan mengalir masuk bagaikan air!"
"Tepat," jawab Lin Chen. Ia memejamkan matanya, membiarkan Giok Penelan Surga perlahan menyembuhkan tubuhnya. "Keluarga Lin mencoba mencekik leherku. Maka aku akan membangun tembok dari emas dan besi di depan pintu rumah mereka.