NovelToon NovelToon
Dikiranya Numpang Hidup, Padahal Aku Bos Suamiku

Dikiranya Numpang Hidup, Padahal Aku Bos Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam / Identitas Tersembunyi
Popularitas:81.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

"Mas bilang jatah uang belanja Nisa dipotong dua juta untuk Sisil. Nisa pikir, kalau Sisil sudah dapat uang tunai dua juta dari Mas Rian, buat apa lagi dia pakai kartu kredit atas nama Nisa? Lagi pula, Nisa kan cuma wanita bodoh yang nggak punya penghasilan. Nisa takut nggak sanggup bayar tagihan kartu kredit itu bulan depan."


Demi cinta yang ia kira tulus, Annisa yang baru berusia 24 tahun itu rela menyembunyikan identitas aslinya. Ia berpura-pura cuma gadis yatim piatu biasa saat dipersunting Rian, pria yang kini berumur 28 tahun. Annisa cuma ingin menguji—apakah Rian benar-benar mencintainya atau cuma mengincar hartanya.

Dan suatu hari, jawaban dari ujian itu makin jelas kelihatan.

Tiga tahun pengorbanannya. Tiga tahun penyamarannya. Tiga tahun kesabarannya menahan hinaan mertua dan ipar demi menjaga harga diri Rian ... semuanya dibalas dengan pengkhianatan murahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34. Keretakan Rumah Tangga Fandi

Kata-kata Annisa bagaikan sebuah tembok baja yang halus namun mustahil untuk ditembus.

Annisa sedang menegaskan bahwa ia tidak akan pernah membiarkan dirinya terseret dalam drama rumah tangga orang lain. Ia tidak ingin menjadi bahan rumor, ia tidak ingin namanya dicemarkan, dan ia menghormati batas-batas etika kerja dengan sangat tinggi.

Fandi membisu. Lidahnya serasa kelu. Rasa hormat dan kagumnya pada ketegasan Annisa makin membumbung tinggi, namun di saat yang sama, ada rasa perih dan kehilangan yang aneh merayapi dadanya. Annisa telah menutup pintu rapat-rapat, membatasi interaksi mereka hanya sebatas hitam di atas kertas.

"Saya mengerti, Mbak Annisa," panggil Fandi akhirnya, menerima panggilan formal itu dengan senyuman pahit yang sangat tipis. "Jika itu keputusan terbaik menurutmu untuk menjaga profesionalisme perusahaan ... saya akan menghormatinya."

"Terima kasih atas pengertiannya, Pak Fandi," sahut Annisa tulus. Ia membungkuk sopan secara formal. "Permisi, saya harus menghadiri penandatanganan draf dengan tim hukum."

Annisa membalikkan badannya, melangkah anggun menyusuri koridor lantai lima puluh didampingi sekretarisnya. Langkah kakinya terdengar mantap dan berirama di atas lantai marmer yang mengilap.

Fandi Prasetyo berdiri mematung di tengah lorong yang sepi. Pria itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana jasnya, menatap punggung tegap sang Komisaris Utama yang kian menjauh hingga menghilang di balik pintu kaca eksekutif.

Ada rasa hampa yang tertinggal di udara. Fandi sadar, Annisa Septiani adalah wanita yang sangat langka—seorang penguasa muda yang memiliki benteng kehormatan begitu kokoh hingga tak ada seorang pun yang sanggup meruntuhkannya demi alasan emosional.

***

Sementara itu, begitu Annisa melangkah masuk ke dalam kamar mandi pribadi di ruang kerjanya dan mengunci pintu dari dalam, ketegangan yang ia pertahankan seketika luluh.

"Ugh ...," ringis Annisa pelan.

Ia bersandar pada tepi wastafel marmer yang dingin. Wajahnya yang semula memancarkan wibawa mendadak pucat pasi. Bulir-bulir keringat dingin membasahi pelipis dan lehernya. Rasa mual yang teramat sangat kembali merayapi dadanya, sementara pusing hebat menghantam tempurung kepalanya bagaikan berputar tanpa arah.

Annisa membuka kran air, membasuh wajahnya dengan air dingin seraya memejamkan mata rapat-rapat.

Ia telah berhasil menegakkan benteng pembatas untuk Fandi. Ia telah melindungi harga dirinya dari fitnah Rissa. Namun, perang di dalam tubuhnya sendiri kini makin tak menentu. Tubuhnya kian hari kian rapuh, mengirimkan sinyal-sinyal aneh yang makin tak bisa lagi ia rasionalisasikan sekadar sebagai "kelelahan biasa".

Annisa memegangi perutnya yang terasa bergejolak pelan, meratapi fisiknya yang kian merosot di tengah puncak kejayaan bisnis yang baru saja ia raih.

***

Suasana malam di dalam rumah mewah dua lantai di kawasan Menteng itu terasa begitu hening, dingin, dan mati. Tidak ada kehangatan sebuah tempat tinggal yang menyapa saat pintu kayu jati berukir itu terbuka. Hanya aroma wewangian ruangan yang mahal dan gaung langkah sepatu pantofel kulit yang memantul di atas marmer mengilap.

Fandi Prasetyo melepaskan jas abu-abu gelapnya, menyangkutkannya secara asal di sandaran sofa ruang tamu. Pria itu mengusap wajahnya yang lelah dengan kasar. Garis rahangnya yang tegas mengetat, memperlihatkan tekanan emosional dan beban pikiran yang sangat berat.

Di ujung ruangan, Rissa berdiri menyandarkan tubuhnya pada bingkai pintu menuju area taman belakang. Wanita itu mengenakan gaun tidur sutra panjang, memegang segelas anggur merah yang sudah hampir habis. Matanya yang sembap dan merah menatap kehadiran Fandi dengan pendar kekecewaan yang tak lagi disembunyikan.

"Kamu baru pulang jam sepuluh malam lagi, Mas Fandi?" tanya Rissa. Suaranya terdengar dingin, parau, dan sangat menyindir.

Fandi menghentikan langkahnya menuju tangga naik ke lantai dua. Tanpa menoleh ke arah istrinya, Fandi menjawab singkat dengan suara berat yang bernada amat datar. "Ada rapat evaluasi alokasi dana dengan tim direksi investasi."

Rissa terkekeh sinis—sebuah tawa pudar yang memecah kesunyian rumah mereka. "Rapat evaluasi? Atau kamu habis menunggu di depan kantor Vantara cuma buat bisa melihat wajah Komisaris Utama itu?"

Fandi menghentikan napasnya sejenak. Pria itu memutar badannya perlahan, menatap Rissa lurus-lurus dengan sepasang mata cokelat gelapnya yang amat dingin dan tajam. Tidak ada gejolak amarah meledak-ledak di sana—hanya ada kelelahan jiwa yang sudah mencapai batas puncaknya.

"Cukup, Rissa," ucap Fandi pelan namun penuh tekanan. "Jangan mulai lagi dengan tuduhan kekanak-kanakanmu itu."

"Kekanakan?!" jerit Rissa, melemparkan gelas anggurnya ke dalam pot tanaman hingga pecah berantakan. Prak! "Aku ini istri kamu, Mas Fandi! Aku yang tahu persis bagaimana perubahan caramu memandang wanita! Sejak kamu kenal Annisa, kamu makin tidak pernah menganggap aku ada di rumah ini!"

"Pernikahan kita sudah mati jauh sebelum aku mendengar nama Annisa Septiani kembali, Rissa!" pangkas Fandi dengan suara berat yang menggelegar di ruang tamu.

Kata-kata Fandi seketika menghentikan jeritan Rissa. Wanita itu membeku di tempatnya.

Fandi melangkah mendekat, berdiri tiga tapak di hadapan Rissa. Postur tubuhnya yang tinggi tegap kini memancarkan keputusasaan dan kebenaran pahit yang selama ini selalu mereka hindari di bawah satu atap.

"Jujurlah pada dirimu sendiri, Rissa," lanjut Fandi, suaranya kembali memelan namun sangat menusuk ulu hati. "Apakah kita pernah benar-benar sejalan selama empat tahun terakhir? Apakah kita pernah memiliki komunikasi yang sehat sebelum kasus Vantara ini ada?"

Rissa menundukkan kepalanya, jemarinya meremas kain gaun tidurnya erat-erat. Air mata yang hangat mulai merembes membasahi pipinya.

Kenyataan pahit yang diucapkan Fandi adalah kebenaran mutlak yang selama ini dicoba ditutupi oleh Rissa. Keretakan rumah tangga mereka bukanlah barang baru yang muncul secara mendadak. Jauh sebelum Fandi menginjakkan kaki di kantor Vantara Group, pernikahan mereka sudah hancur dari dalam akibat ketidakcocokan visi hidup yang sangat mendalam.

Rissa selalu menuntut kehadiran Fandi untuk memenuhi gaya hidup sosialita dan validasi publiknya, sementara Fandi adalah pria pekerja keras yang dingin, fokus pada ekspansi bisnis, dan membenci kepalsuan pameran kemewahan. Mereka jarang berbincang, tidak pernah saling memahami, dan hanya bertahan di bawah satu atap demi menjaga nama besar dua keluarga pengusaha di mata relasi bisnis.

Fandi tidak pernah berselingkuh. Fandi tidak pernah membagi hatinya pada wanita lain. Namun, ketiadaan rasa saling menghargai di rumah itulah yang membuat Fandi makin tenggelam dalam kesibukan kariernya di Prasetyo Group.

"Aku diam saat kamu menghamburkan uang ratusan juta untuk hal-hal yang tak penting demi gengsimu. Aku diam saat kamu diam-diam berselingkuh dengan pria lain," ucap Fandi dingin. "Aku tetap memenuhi seluruh kewajiban finansialku sebagai suami tanpa kurang satu rupiah pun. Tapi ketika kamu nekat melangkah ke kantor Vantara Land, menerobos ruang kerja Annisa, dan melontarkan fitnah murahan seperti wanita tak berpendidikan...."

Fandi mendekatkan wajahnya, menatap Rissa dengan sorot mata yang penuh keharuan dan rasa jijik.

"...kamu bukan cuma mempermalukan dirimu sendiri, Rissa. Kamu merendahkan harga diriku dan mencoreng nama baik Prasetyo Group di hadapan mitra bisnis utama kita!"

"Aku ... aku cuma takut kehilangan kamu, Mas," rintih Rissa dengan tangis yang pecah, merapatkan kedua tangannya di dada.

"Kamu bukan takut kehilangan aku," sahut Fandi tanpa emosi. "Kamu cuma takut kehilangan status dan fasilitas sebagai istri pimpinan Prasetyo Group."

Fandi merogoh saku dalam baju kemejanya, mengeluarkan sebuah dokumen bermaterai bersampul putih yang sudah ditandatanganinya sejak dua minggu lalu. Pria itu meletakkannya di atas meja kaca ruang tamu.

"Pengacaraku sudah menyiapkan draf gugatan perceraian secara beradab," ujar Fandi tegas. "Tidak perlu ada perselisihan harta atau pameran perselisihan di media. Kita selesaikan pernikahan yang salah ini secara hukum minggu depan."

Rissa menatap dokumen di atas meja itu dengan mata melotot ketakutan. "Mas Fandi ... Nggak! Aku gak mau cerai!"

"Keputusanku sudah mutlak, Rissa," potong Fandi tanpa ragu. Pria itu membalikkan badannya, melangkah menuju tangga lantai dua tanpa menoleh lagi ke belakang. "Dan jangan pernah satu kali pun kamu berani melangkahkan kakimu mendekati Annisa Septiani lagi. Jika kamu menyentuh atau mengganggu Annisa, aku tidak akan segan menggunakan seluruh tim hukum Prasetyo Group untuk menyeretmu ke pengadilan."

Bersambung...

1
vania larasati
lanjut
Mutaharotin Rotin
aduuuh Anisa sembrono 🫣🫣
Mutaharotin Rotin
kok cuma 1 bab Mak ghin 🥰🙏
Nar Sih
cerita mommy slalu bagus👍🥰
Nar Sih
semoga fandi bisa sgra menyelamat ksn mu anisa
Oma Gavin
feeling mu sudah bener kenapa tetap nekat jalan tanpa prasangka buruk
iqha_24
deg2an, mommy lanjuut
I Pehh
lanjut mom, sllu d tunggu upnya💪
Halimah
Udah ga waras nih Rissa
Cicih Sophiana
Rissa dari pada uangdi buang sia sia kan lebih baik untuk bersenang senang... misal nya belanja, ke salon atau jalan jalan ke luar negri kan asik... ini kok malah di buang sia sia ngasih makan orang jahat...
Teh Euis Tea
si rissa bodoh bgt punya uang bukannya hidup tenang pergi jauh dan memperbaiki diri ini malah di pake buat bayar orang untuk nyelakain anissa, mudah2an anissa dan calon bayinya selamat ya dan si rissa membusuk di penjara
Nar Sih
jgn sampai risa berhssil niat jht nya untuk mencelakai anisa
Wiek Soen
semoga saja Anisa selamat
Wiek Soen
rissa menggali kuburnya sendiri ❤️
Herman Lim
waduh moga aja GPP
vania larasati
lanjut
Kar Genjreng
rissa Ahir tinggal nama kalah telak duhh bodo si kenapa uang di hambur ga jelas coba buat hidup tenang menikmati. pemberian mantan lah ini berulah karena
ga terima di cerai,,, sekarang abis lah riwayat mu ,,,karir ham ur leburur uang di tarik harga diri ha punya lagi tinggal.
Mutaharotin Rotin
laaannjjuut Mak ghin 🥰🥰🙏😍
Mutaharotin Rotin
🤦🤦🤦🤦 aduuuh ada bahaya mengintai Anisa
Oma Gavin
modal nekat rissa semoga senjata makan tuan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!