Demi menyelamatkan seluruh aset perusahaan peninggalan almarhum ayahnya, Maya diwajibkan oleh surat wasiat kakeknya untuk menyerahkan Buku Nikah sebelum batas waktu jam lima sore. Ketika mantan tunangannya berkhianat akibat suap dari sang paman dan waktu tersisa kurang dari satu jam, Maya nekat menarik seorang pria berkaus oblong lusuh di tepi jalan untuk diajak menikah kontrak di KUA dengan imbalan lima ratus juta rupiah.
Maya mengira suami barunya, Arka, hanyalah seorang buruh serabutan miskin. Namun, setiap kali pamannya berusaha menjatuhkan Maya, skema jahat itu selalu hancur secara beruntun lewat bantuan misterius. Maya tidak pernah menyadari bahwa pria sederhana yang tinggal di rumahnya itu adalah Arka Nusantara, CEO penguasa konsorsium bisnis terbesar di kota ini yang sengaja menyamar demi melindunginya dari balik layar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey 18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Undangan dari Puncak Ibu Kota
Malam harinya, suasana di rumah kontrakan sederhana mereka terasa sangat hangat. Udara dingin sisa hujan gerimis di luar tak sedikit pun mengurangi keakraban di dalam ruang makan.
Maya duduk di depan meja kayu seraya menatap dokumen kerja Proyek Wibowo Park yang kini berjalan tanpa kendali atau hambatan sedikit pun. Di hadapannya, Arka meletakkan semangkuk sup ayam hangat yang aromanya menggugah selera.
"Makanlah dulu, Maya," ujar Arka lembut. "Pekerjaanmu tidak akan lari, tapi sup ini bisa dingin kalau didiamkan."
Maya mendongak, menyunggingkan senyum manis yang tulus. Ia menutup map kerjanya lalu meraih sendok. "Terima kasih, Arka. Aku tidak pernah membayangkan kalau masalah pemblokiran bank tadi sore bisa selesai secepat itu."
Arka ikut duduk di kursi hadapannya. "Kuncinya adalah ketegasan. Jika kita menunjukkan keraguan di hadapan orang seperti Bambang Suroso, mereka akan makin melonjak."
Maya mengangguk pelan seraya menyeruput sup hangatnya. Rasa gurih dan hangat seketika menyebar di tenggorokannya. Matanya menatap Arka dengan lekat, memandangi wajah tampan suaminya yang selalu tampak tenang dalam kondisi secemas apa pun.
"Arka," panggil Maya pelan.
"Iya?"
"Setiap kali melihatmu menghadapi orang orang hebat di luar sana," ujar Maya menyuarakan isi hatinya, "aku terkadang merasa kamu bukan sekadar mantan pengawal elite. Kamu punya wibawa yang bahkan membuat para konglomerat terlihat kecil."
Arka tersenyum tipis, menatap balik mata istrinya dengan penuh kehangatan.
"Wibawa itu muncul karena aku memiliki sesuatu yang harus kujaga dengan segenap nyawaku, Maya," jawab Arka tenang namun sangat mendalam. "Dan sesuatu itu adalah kamu."
Pipi Maya mendadak memerah mendengar jawaban tulus suaminya. Jantungnya berdebar kencang, menyalurkan kehangatan yang makin mengikat perasaan cintanya pada Arka.
Tiba tiba, ponsel kerja milik Maya yang tergeletak di meja berdering nyaring.
Maya meraih ponselnya. Melihat nomor tak dikenal berformat khusus ibu kota tertera di layar, ia mengernyitkan alisnya rapat rapat sebelum menggeser tombol hijau.
"Halo, selamat malam," sapa Maya profesional.
Dari ujung telepon, suara seorang wanita paruh baya yang sangat anggun namun dingin dan sarat akan dominasi terdengar menggema.
"Selamat malam, Nona Maya Wibowo," sapa suara di telepon tersebut. "Perkenalkan, saya Ibu Melati Wijaya, Pemimpin Tertinggi Dewan Direksi Jaringan Bisnis Wijaya Group di ibu kota."
Maya tersentak pelan. Matanya membelalak kaget. Nama Keluarga Wijaya dari ibu kota adalah induk utama dari konglomerasi yang dulunya membawahi Megah Pratama Group milik Surya Wijaya!
Maya menatap Arka sejenak, lalu menegakkan posisi duduknya. "Ibu Melati Wijaya? Ada keperluan apa Anda menghubungi saya secara pribadi?"
Melati Wijaya terkekeh pelan di ujung saluran, tawa dingin yang penuh dengan intrik politik bisnis kelas atas.
"Saya menghubungi Anda untuk menyampaikan permohonan maaf resmi atas tindakan gegabah Surya Wijaya dan Bambang Suroso di kota Anda," ujar Melati dengan nada suara yang terkesan sangat halus namun menyimpan ancaman terselubung. "Keluarga Wijaya di ibu kota tidak ingin ada kesalahpahaman berkepanjangan dengan Wibowo Group yang kini menjadi mitra utama Nusantara Group."
Maya menyipitkan matanya seraya menahan rasa curiga. "Permohonan maaf?"
"Benar, Nona Maya," lanjut Melati tegas. "Akhir pekan ini, kami mengadakan Perjamuan Bisnis Tahunan Elit Ibu Kota di Puncak Gedung Merdeka. Seluruh pimpinan konsorsium dan pejabat tinggi negara akan hadir. Saya secara pribadi mengundang Anda dan suami Anda untuk hadir sebagai tamu kehormatan. Kami ingin menyerahkan pengalihan aset sisa Megah Pratama Group secara langsung kepada Wibowo Group di depan seluruh media massa."
Maya menelan ludah. Pengalihan aset sisa Megah Pratama Group adalah penawaran bernilai triliunan rupiah yang bisa merapikan struktur ekspansi Wibowo Group secara nasional!
"Saya akan mempertimbangkan undangan Anda, Ibu Melati," jawab Maya tenang.
"Saya sangat berharap Anda hadir, Nona Maya," bisik Melati dengan nada yang makin dalam. "Karena di perjamuan ini, masa depan Wibowo Group di tingkat nasional akan ditentukan."
Tut... tut... tut.
Sambungan telepon terputus.
Maya menurunkan ponselnya dengan napas memburu pelan. Ia menatap Arka yang sejak tadi mendengarkan seluruh percakapan tersebut melalui pendengarannya yang tajam.
"Arka... Melati Wijaya mengundang kita ke perjamuan elit di ibu kota akhir pekan ini," kata Maya dengan raut wajah cemas bercampur bingung. "Dia menawarkan pengalihan aset Megah Pratama Group secara terbuka. Tapi aku merasa ini adalah jebakan."
Arka berdiri dari kursinya, melangkah mendekati Maya lalu merengkuh lembut kedua bahu istrinya dari belakang.
"Intuisi bisnis milikmu sangat tepat, Maya," kata Arka dengan suara yang sangat dingin dan penuh kepastian. "Melati Wijaya adalah rubah tua di ibu kota. Dia mengumpulkan seluruh fraksi musuh untuk menjebakmu dan merebut kembali kendali Wibowo Park."
Maya mendongak menatap Arka. "Kalau begitu, apakah kita harus menolak undangan ini?"
Arka menyunggingkan senyum tipisnya yang amat misterius. Iris matanya memancarkan aura Dewa Perang yang telah siap untuk meratakan seluruh markas musuh di ibu kota.
"Tidak, Maya," jawab Arka mantap seraya menatap lurus ke depan. "Kita akan datang ke perjamuan itu. Sudah waktunya kita membawa pertempuran ini ke sarang utama mereka dan membersihkan seluruh pengkhianat di ibu kota sampai ke akar akarnya."
Maya menatap profil suaminya yang begitu tangguh dan berani. Rasa takut di dalam dadanya seketika sirnah, berganti menjadi keyakinan penuh bahwa di mana pun mereka berada, Arka akan selalu menjadi pelindung yang tak tertandingi.
"Baik," bisik Maya seraya memegang tangan Arka di bahunya. "Kita berangkat ke ibu kota bersama sama."
itu.