NovelToon NovelToon
SISTEM MATA SAKTI RAJA GIOK

SISTEM MATA SAKTI RAJA GIOK

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Anak Genius / Fantasi
Popularitas:12.3k
Nilai: 5
Nama Author: Cherlly

Gibran Dirgantara, seorang pemuda desa yang berniat mengadu nasib di ibu kota, harus menelan kenyataan pahit saat dicampakkan dan dihina habis-habisan oleh mantan pacarnya, Siska, bersama kekasih konglomeratnya yang arogan. Namun, saat harga dirinya diinjak-injak di tengah kerasnya persaingan pusat pelelangan batu giok, Gibran secara ajaib membangkitkan entitas misterius bernama "Sistem Mata Sakti Raja Giok" yang menyatu langsung dengan saraf penglihatannya. Berbekal mata dewa yang kini mampu menembus lapisan batu kotor untuk melihat energi murni di dalamnya, Gibran memulai jalan balas dendam yang elegan untuk meremukkan kesombongan mereka yang meremehkannya, memborong batu-batu bernilai triliunan dari tumpukan sampah, dan merangsek naik menjadi master giok nomor satu yang paling ditakuti di dunia modern.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5

Brak! Brak! Brak!

Suara hantaman godam besi dari luar terdengar semakin brutal menghancurkan engsel pintu rolling door toko.

Pintu besi tebal itu akhirnya rubuh ke lantai dengan suara dentuman yang memekakkan telinga.

Bruk!

Debu tebal mengepul ke udara menutupi pandangan semua orang di dalam ruangan yang mendadak sunyi ketakutan itu.

Dari balik kepulan debu, selusin pria berjas hitam melangkah masuk dengan formasi rapi dan wajah tanpa ekspresi.

Mereka segera membuka jalan di tengah, menundukkan kepala dengan penuh hormat.

Seorang wanita muda dengan setelan jas kerja putih yang sangat elegan melangkah masuk membelah barisan pengawal tersebut.

Langkah sepatu hak tingginya menggema dingin di atas lantai ubin toko yang kotor.

Tuk. Tuk. Tuk.

Wajah wanita itu sangat cantik dan nyaris sempurna, namun memancarkan aura es yang membekukan udara di sekitarnya.

Rambut hitam panjangnya dibiarkan terurai sebahu, membingkai sepasang mata tajam yang kini menatap mengintimidasi ke sekeliling toko.

Gibran menyipitkan matanya menatap wanita berkuasa itu dengan tenang.

[Terdeteksi entitas dengan tingkat otoritas mutlak di area ini.]

[Status ancaman fisik: Netral. Potensi aliansi: Sangat Tinggi.]

Suara sistem kembali berdengung memberikan informasi berharga kepada Gibran secara langsung di kepalanya.

Bos toko buncit yang tadinya memegang tongkat bisbol kini menjatuhkan dirinya berlutut di lantai dengan tubuh bergetar hebat.

"N-Nona Aurel Larasati... Maafkan kelancangan saya yang menutup pintu toko tanpa izin dari pihak manajemen pasar!" ucap bos toko itu dengan suara merengek ketakutan.

Rio menelan ludah dengan susah payah sambil mencoba merapikan kerah kemejanya yang kusut.

Pria arogan itu memaksakan sebuah senyum menjilat dan melangkah maju mendekati wanita bernama Aurel tersebut.

"Nona Aurel, suatu kehormatan luar biasa bisa bertemu dengan Anda di sini. Saya Rio Mahendra, ayah saya adalah..."

"Aku tidak peduli siapa ayahmu," potong Aurel dengan nada suara sedingin es tanpa menoleh sedikit pun ke arah Rio.

Langkah Rio langsung terhenti kaku seolah baru saja disiram air es tepat di wajahnya di musim dingin.

Siska yang berdiri di belakang Rio hanya bisa menundukkan kepala, tidak berani menatap langsung ke arah wanita yang auranya sangat menekan itu.

Aurel melangkahkan kaki jenjangnya melewati Rio begitu saja seolah pria itu hanyalah udara kosong yang tidak berguna.

Mata tajam Aurel langsung tertuju pada dua preman kekar yang tergeletak pingsan, lalu perlahan beralih menatap Gibran yang berdiri santai.

"Kudengar ada lalat yang berani memaksa menahan pelanggan dan merampas batu giok di wilayah kekuasaanku," ucap Aurel memecah keheningan.

Bos toko buncit itu buru-buru merangkak maju memeluk kaki pengawal Aurel mencoba membela diri.

"Nona Aurel, pemuda gembel ini yang menipu saya! Dia mencuri batu giok bernilai miliaran dari toko saya dan mengamuk memukul anak buah saya!" fitnah bos toko itu sambil menunjuk Gibran.

Rio yang merasa mendapat celah menjilat langsung ikut memanaskan suasana dengan cepat.

"Benar, Nona Aurel. Pemuda miskin ini berniat merampok toko ini dengan kekerasan, saya dan pacar saya adalah saksi mata kejadiannya!" tambah Rio dengan percaya diri yang dipaksakan.

Gibran hanya tersenyum sinis dan menggelengkan kepalanya mendengar kebohongan konyol yang keluar dari mulut dua pengecut itu.

Aurel menghentikan langkahnya tepat di depan Gibran, menatap mata pemuda berjaket lusuh itu dalam-dalam untuk mencari kebohongan.

Namun Aurel justru tersentak kecil melihat ketenangan dan rasa percaya diri mutlak yang terpancar dari mata pemuda itu.

"Kalian pikir manajemen Larasati buta dan tuli? Kamera pengawas khusus di pasar ini merekam semuanya sejak pemuda ini menaruh uang lima puluh ribu di atas etalase," ucap Aurel dengan suara mematikan.

Wajah bos toko dan Rio kembali memucat pasi seperti mayat hidup mendengar ucapan telak tersebut.

Mereka lupa bahwa Keluarga Larasati memiliki kendali penuh atas keamanan tak terlihat di seluruh sudut pasar pelelangan ini.

"Kalian berdua, bawa bos sampah ini ke ruang interogasi manajemen dan cabut izin usahanya hari ini juga," perintah Aurel kepada dua pengawalnya tanpa ampun.

Dua pengawal berjas hitam langsung maju menyeret bos toko buncit yang meronta-ronta menangis minta ampun itu keluar dari ruangan dengan kasar.

Aurel kemudian kembali memusatkan perhatiannya sepenuhnya pada Gibran yang masih berdiri diam.

Tatapan dingin wanita itu sedikit melunak menyadari pemuda ini memiliki nyali yang sangat langka.

"Namaku Aurel Larasati. Bolehkah aku melihat batu giok yang baru saja memicu semua kekacauan konyol ini?" tanya Aurel dengan nada yang jauh lebih sopan.

Gibran mengangguk pelan dan merogoh sakunya perlahan.

Ia mengeluarkan batu sebesar kepalan tangan itu dan membiarkannya terbuka di telapak tangannya.

Sring.

Cahaya hijau bening memikat seketika kembali memancar memenuhi ruangan begitu batu itu bersentuhan dengan cahaya lampu.

Mata tajam Aurel langsung melebar sempurna, topeng sedingin esnya hancur seketika melihat kilauan magis tersebut.

"Hijau kaisar tanpa cacat... Dan ini adalah Giok Sutra Es tingkat atas!" gumam Aurel dengan napas tertahan dan mata berbinar.

Tangan wanita elegan itu sedikit bergetar saat ia memakai sarung tangan putih khusus untuk menyentuh batu tersebut dari tangan Gibran.

Para pengawal jas hitam di belakang Aurel ikut menahan napas melihat harta karun langka yang biasanya hanya muncul dalam legenda pelelangan itu.

"Tuan..." Aurel terdiam sejenak menyadari ia belum mengetahui nama pemuda hebat di depannya ini.

"Gibran. Panggil saja Gibran," jawab pemuda itu santai sambil memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana.

Aurel mengangguk pelan, berusaha keras mengembalikan wibawanya sebagai putri mahkota bisnis perhiasan terhebat di kota.

"Tuan Gibran, Keluarga Larasati sedang sangat membutuhkan batu tingkat dewa ini untuk pameran internasional bergengsi bulan depan."

"Aku akan membelinya darimu seharga tiga setengah miliar rupiah tunai hari ini juga. Apakah kau bersedia melepaskannya?" tawar Aurel tanpa ragu dan menatap penuh harap.

Glek.

Suara Rio dan Siska menelan ludah terdengar sangat keras memecah kesunyian di sudut toko itu.

Tiga setengah miliar rupiah tunai.

Angka gila itu sepuluh kali lipat dari total seluruh batas kartu kredit yang dibanggakan Rio selama ini.

Siska merasa kakinya tidak lagi menapak bumi, kepalanya pusing berputar menyadari ia baru saja membuang pria bernilai miliaran demi seorang anak manja.

"Tawaran yang sangat adil untuk transaksi pertamaku. Lakukan pembayarannya sekarang," jawab Gibran tanpa ekspresi terkejut sedikit pun di wajahnya.

Aurel segera memberi isyarat tangan kepada asisten wanitanya di belakang.

Hanya dalam waktu kurang dari satu menit, sebuah koper perak dan sebuah kartu kecil diserahkan kepada Gibran.

"Di dalam koper ini ada uang tunai lima ratus juta untuk keperluan mendesakmu saat ini, Gibran."

"Dan ini kartu hitam VIP khusus dari bank kami dengan saldo penuh tiga miliar rupiah di dalamnya," jelas Aurel menyerahkan kartu elit berwarna hitam pekat itu.

Gibran menerima koper dan kartu itu dengan sangat tenang dan wajah datar.

Padahal di dalam hatinya Gibran sedang berteriak kegirangan melihat kekayaan pertamanya yang turun dari langit ini.

Tring.

Ponsel retak di saku Gibran berbunyi menampilkan notifikasi SMS dari bank yang mengonfirmasi masuknya dana raksasa dengan deretan angka nol yang sangat panjang.

Gibran sengaja menoleh menatap Rio dan Siska yang sedari tadi mematung dengan wajah penuh penyesalan dan keputusasaan.

"Bagaimana, Tuan Muda Rio? Apakah tawaran seratus jutamu tadi masih berlaku untuk uang recehanku ini?" sindir Gibran telak sambil mengibaskan kartu hitam VIP di tangannya.

Wajah Rio memerah seperti kepiting rebus.

Urat malunya benar-benar sudah putus dan hancur diinjak-injak tanpa ampun di depan putri konglomerat nomor satu itu.

"K-kau hanya sedang beruntung hari ini, Gembel! Jangan sombong dulu!" rutuk Rio dengan suara bergetar nyaris menangis.

Pria arogan itu langsung berbalik dan berlari keluar toko menembus hujan karena sudah tidak sanggup lagi menahan rasa malu yang menghancurkan jiwanya.

Siska menatap Gibran dengan mata berkaca-kaca penuh air mata buaya.

Ia mencoba memanggil nama mantan pacarnya itu dengan suara yang dibuat sangat lembut dan memelas.

"Gibran... Sayang, aku bisa jelaskan semuanya, tolong dengarkan aku dulu..." rengek Siska melangkah maju mencoba meraih lengan Gibran.

Plak!

Gibran menepis tangan Siska dengan sangat kasar seolah sedang menepis lalat kotor yang menjijikkan.

"Simpan air mata buayamu itu untuk pria bodoh yang baru saja meninggalkanmu berlari keluar sana. Kita sudah selesai," ucap Gibran memotong dengan tatapan membunuh.

Gibran membalikkan badannya dan berjalan keluar dari toko bobrok itu menuju lobi utama pasar.

Ia meninggalkan Siska yang jatuh terduduk meratapi kebodohannya sendiri dengan tangisan histeris yang tidak dihiraukan siapa pun.

Aurel menatap punggung Gibran yang perlahan menjauh dengan sorot mata penuh ketertarikan yang sangat mendalam.

"Pemuda itu sangat tenang saat menerima uang miliaran pertamanya, dia jelas bukan kuli biasa. Cari tahu semua latar belakangnya sekarang juga tanpa ketahuan," bisik Aurel kepada asisten utamanya.

Langkah awal sang Raja Giok di kota ini telah ditorehkan dengan tinta emas yang tidak akan pernah bisa dihapus oleh siapa pun.

1
nadymaddy
💚💟
setiawan
🤩🥳
nurul khusna
🌹🥳
fitri
semangat gibran🥰
pricilia
seru banget🥰
gofur
sangat menarik ingin cepat di lanjutkan crita nya
sasa
💕💋
yani
🥳🥳
samuel df
mantap kaka 😘
clara
mantap
DD
bab ini diulang ya Thor 😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!