Kiamat zombie mungkin itu hanya cerita film dan dalam buku. Tapi bagaimana jadinya jika itu terjadi?
Itu yang dirasakan oleh Hayden Vihaan pria berusia dua puluh lima tahun yang terjebak dalam kiamat zombie. Dia yang dari dulu di rawat oleh kakeknya seorang ilmuan sudah memang mempersiapkan semuanya. Kendaraan yang bisa di tumpangi enam orang di sulap menjadi mobil ajaib yang memiliki sistem pertahanan yang kuat. Tidak hanya mobilnya tapi villa yang memiliki bangker dan pertahanan sama kuatnya.
Bagaimana cerita selanjutnya yuk simak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumarlin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 11
Hayden menatap Sarah dan anggota kelompoknya dengan raut wajah tenang. Ia tahu betul betapa berbahayanya mengungkapkan identitas asli mereka—seorang ahli medis pembawa data riset krusial, mantan tentara bayaran, dan seorang anak yang merupakan kunci biologis penawar wabah. Informasi itu hanya akan menjadikan mereka sasaran empuk.
"Kami hanya keluarga yang mencoba bertahan hidup," ujar Hayden, suarasa mantap tanpa keraguan. Ia melangkah sedikit ke samping, merangkul bahu Fiora secara alami dan menariknya mendekat. "Ini Fiora, istriku. Dan ini putra kami, Leo."
Fiora sempat terkejut, tubuhnya membeku sejenak merasakan lengan kokoh Hayden mengikat bahunya. Namun, sebagai sosok yang cerdas, ia dengan cepat menangkap alur permainan Hayden. Fiora merapatkan tubuhnya ke sisi Hayden, mengusap lembut kepala Leo yang bersandar takut di pinggangnya, memainkan peran seorang ibu yang protektif dengan sangat sempurna.
"Kami melarikan diri dari wilayah selatan setelah pos pertahanan di sana hancur," lanjut Hayden, menatap tepat ke mata Sarah untuk membangun kepercayaan. "Kami tidak mencari masalah. Kami cuma butuh sedikit bahan bakar dan tempat aman untuk anak kami beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan ke tempat kerabat kami."
Sarah memperhatikan interaksi mereka bertiga seraya meneliti raut wajah Hayden yang sarat akan proteksi seorang kepala keluarga. Ketegangannya perlahan mencair. Keberadaan sebuah keluarga kecil di tengah dunia yang luluh lantak selalu berhasil melunakkan hati para penyintas.
"Seorang ayah yang membawa anak istrinya menembus zona merah..." gumam Sarah seraya menurunkan senjatanya sepenuhnya. Ia menoleh ke arah dua rekannya lalu mengangguk pelan. "Kalian nekat, tapi aku menghormati itu."
Sarah menunjuk ke arah barikade kayu yang mulai dibuka oleh Tom. "Masuklah. Kami punya sedikit pasokan bahan bakar dan makanan hangat di dalam pos. Untuk malam ini, keluarga kalian aman bersama kami."
Sarah menuntun mereka melewati barikade kayu menuju kompleks pos pengungsian yang ternyata dibangun memanfaatkan bekas stasiun pemancar radio tua. Tempat itu diperkuat dengan pagar kawat ganda dan menara pantau sederhana. Di dalam, terdapat sekitar belasan penyintas lainnya yang hidup dengan teratur dan disiplin.
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mereka bertiga bisa duduk di dekat perapian yang hangat. Leo tertidur lelap di pangkuan Fiora setelah menyantap sup hangat pemberian kelompok Sarah, sementara Hayden duduk bersandar di dekat mereka, matanya tetap waspada mengamati sekeliling.
Fiora menyandarkan kepalanya pelan ke bahu Hayden, memperkuat sandiwara mereka sebagai sepasang suami istri di hadapan para penyintas lain. Namun, di balik sikap tenang itu, pikiran mereka berdua bekerja keras menyusun strategi baru.
"Sarah dan kelompoknya punya pertahanan yang solid, tapi mereka terisolasi," bisik Fiora sangat pelan, hampir tak terdengar di antara gemeretak kayu bakar. "Dr. Evan tadi menyebutkan kalau mereka punya peralatan radio jarak jauh yang masih berfungsi, tapi kekurangan daya."
Hayden melirik ke arah Dr. Evan dan Tom yang sedang sibuk merawat generator di sudut ruangan. Sebuah ide mulai terbentuk di kepalanya.
"Kita tidak bisa memproses antibodi Leo sendirian di jalanan, Fiora," bisik Hayden membalas. "Kita butuh fasilitas laboratorium Oase, tapi melintasi zona merah ratusan kilometer hanya dengan satu *Armored Rover* terlalu berisiko. Kita butuh sekutu."
Hayden merencanakan langkah selanjutnya. Ia akan menawarkan keahlian taktisnya dan bantuan teknis untuk memperbaiki generator kelompok Sarah sebagai imbalan atas akses ke radio jarak jauh mereka. Melalui radio itu, Hayden bisa menghubungi faksi penentang Aegis atau jaringan laboratorium Oase secara terenkripsi untuk mengatur penjemputan atau mengonfirmasi keamanan rute mereka.
Dengan bergabung sementara bersama kelompok Sektor Tujuh, mereka tidak hanya mendapatkan perlindungan dan persediaan makanan yang stabil untuk memulihkan tenaga Leo, tetapi juga mendapatkan markas operasi yang aman untuk mematangkan rute perjalanan menuju Oase.
Hayden memindai seluruh ruangan stasiun radio tua itu. Ia tahu, makin lama mereka berada di lingkungan asing, makin besar risiko identitas asli Leo dan data riset Dr. Aris terbongkar. Sandiwara sebagai keluarga kecil harus dijaga seerat mungkin, tanpa ada celah sedikit pun bagi Dr. Evan maupun Sarah untuk mencurigai darah sang bocah.
Saat malam makin larut dan mayoritas penyintas telah terlelap, Hayden memberi kode pada Fiora. Mereka menggeser posisi duduk ke sudut paling gelap di dekat tumpukan logistik, memanfaatkan deru suara generator tua untuk menyamarkan percakapan.
"Skenario 'keluarga' ini bekerja baik, tapi kita nggak boleh lengah," bisik Hayden dingin, matanya mengawasi pintu keluar. "Jangan pernah biarkan Dr. Evan mendekati Leo dengan peralatan medis apa pun. Kalau mereka tahu Leo adalah kunci mutasi antibodi, kelompok ini bisa berubah dari sekutu jadi ancaman."
Fiora mengangguk pelan seraya mempererat selimut di tubuh Leo. "Aku mengerti. Tapi Hayden, kita butuh kepastian. Sebelum kita nekat menembus zona merah menuju Oase, aku harus mengecek kondisi antibodi dalam darah Leo secara berkala. Kita harus memastikan sel penawarnya tetap stabil dan nggak terkontaminasi oleh patogen udara."
Hayden menyipitkan mata, otaknya berputar cepat menyusun strategi baru.
"Di ujung lorong tadi aku melihat ada ruang penyimpanan alat medis darurat milik stasiun," bisik Hayden. "Besok pagi, aku akan menawarkan diri membantu Tom memburu pasokan makanan di luar. Itu bakal mengalihkan perhatian Sarah dan memberi kamu alasan untuk tetap di sini menjaga Leo."
"Lalu bagaimana dengan ekstraksi sampelnya?" tanya Fiora pelan.
"Gunakan mikroskop lapangan milik Dr. Evan secara sembunyi-sembunyi saat ruangan itu kosong," pangkas Hayden mantap. "Kamu ambil sampel darah Leo sedikit saja, lakukan pemindaian cepat, lalu musnahkan kaset ujinya. Jika hasil antibodinya stabil, kita langsung gunakan radio jarak jauh mereka untuk memetakan rute teraman ke Oase dan hengkang dari sini sebelum keberadaan kita terlacak Aegis."
Fiora menatap Hayden lurus-lurus, lalu mengangguk yakin. Rencana baru telah terbentuk: menjaga penyamaran ketat, menguji stabilitas antibodi Leo secara mandiri, dan memanfaatkan fasilitas kelompok ini tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.