NovelToon NovelToon
Under The Autumn Canopy

Under The Autumn Canopy

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan / Tamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: air sungai

​Di bawah langit kelabu Inggris yang selalu basah oleh gerimis, Aurora "Rory" Vance melangkah masuk ke kampus paling bergengsi di Britania Raya hanya berbekal koper tua, beasiswa penuh, dan keteguhan hati. Sebagai gadis dari kalangan menengah ke bawah yang realistis dan tak punya waktu untuk urusan cinta, prioritas Rory hanya satu: bertahan hidup dan mempertahankan IPK-nya.
​Namun, tradisi Freshers' Week (PKKMB) di kampus elit ini jauh dari kata ramah. Para senior panitia yang keras dan disiplin tanpa ampun siap menyaring siapa yang pantas berada di sana. Di tengah tekanan fisik dan mental itu, Rory bertabrakan dengan Julian Edward Radcliffe senior tingkat tiga sekaligus ketua panitia kedisiplinan yang berasal dari salah satu dinasti bangsawan terpandang di Inggris.
Julian adalah definisi kesempurnaan yang dingin, tampan, cerdas, kaya, dan tak tersentuh. Namun, di balik tatapan tajam dan wibawanya yang mendominasi, Julian menyimpan beban ekspektasi keluarga yang mencekik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon air sungai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dinding Kaca dan Draf Penukaran

Kehangatan dari dekapan Julian pagi itu terasa begitu erat, namun di balik kehangatan tersebut, Rory merasakan sesuatu yang janggal. Ada ruang hampa yang tiba-tiba membentang di antara mereka sebuah firasat tak kasat mata bahwa pria yang sedang merengkuhnya kini tengah memikul rahasia yang teramat berat.

Ibu Rory menelepon kembali dua jam kemudian dari rumah sakit di Zurich. Prosedur awal regeneratif saraf Ethan berjalan lancar tanpa komplikasi. Berita itu membawa kelegaan yang luar biasa besar bagi Rory. Bertahun-tahun ia hidup dalam bayang-bayang ketakutan akan kehilangan adik satu-satunya, dan kini harapan itu nyata terbuka lebar.

Namun, sebagai seorang wanita yang terlatih berpikir kritis dan analitis, Rory tahu betul tidak ada keajaiban yang datang tanpa harga dalam dunia nyata.

Sore harinya, gerimis tipis kembali membasahi pelataran Gedung Sains St. Jude’s College. Rory duduk di sudut perpustakaan Coldwell, memindahkan data analisis spektroskopi ke dalam dokumen laporan perkembangan hibah Helios. Gemma duduk di seberang mejanya, memperhatikan sahabatnya dengan tatapan penuh selidik.

"Rory," panggil Gemma pelan, menghentikan ketukan jarinya di atas meja kayu. "Kamu kelihatan aneh hari ini. Harusnya kamu senang luar biasa karena operasi adikmu berjalan lancar, tapi matamu seolah-olah sedang mencari sesuatu yang hilang."

Rory merapatkan laptopnya sedikit, menatap Gemma. "Gemma jika seseorang membutuhkan dana sebesar seratus lima puluh ribu franc Swiss dalam waktu semalam, dari mana dana sebesar itu bisa diperoleh tanpa menyentuh rekening hibah resmi?"

Gemma menaikkan alisnya, mendesah pelan. "Rory, di kampus ini cuma ada satu nama yang bisa memindahkan dana sebesar itu dalam hitungan menit tanpa birokrasi bank yang berbelit-belit. Dan kita berdua tahu siapa orangnya."

"Julian," bisik Rory pelan. "Tapi dia sudah melepaskan semua akses rekening pribadi keluarga Radcliffe minggu lalu. Jika dia mendapatkan dana itu semalam"

"Berarti dia kembali ke Radcliffe Manor," potong Gemma cepat, suaranya sarat akan keprihatinan.

"Rory, kamu tahu betul Arthur Radcliffe bukan tipe orang yang memberi bantuan cuma-cuma, apalagi untuk orang luar. Jika Senior Julian mendatangi ayahnya semalam, pasti ada kesepakatan bisnis atau pribadi yang harus dia bayar."

Dada Rory berdesir hebat. Kata-kata Gemma menghantam kesadarannya seperti bongkahan es.

Segera setelah jam perpustakaan usai, Rory melangkah cepat menyusuri koridor menuju ruang asisten dosen dan laboratorium independen di lantai tiga. Namun, ketika ia sampai di depan laboratorium, pintu ruangan tersebut terkunci dari dalam.

Di balik kaca transparan pintu laboratorium, Julian berdiri bersama dua pria berjas hitam kelabu yang membawa koper kulit tebal staf hukum utama keluarga Radcliffe, termasuk Mr. Henderson. Di meja kerja, tumpukan berkas hukum bersampul biru dan merah menumpuk rapi.

Rory mematung di luar pintu kaca.

Melalui celah transparan itu, Rory melihat Julian memegang pulpen emasnya. Wajah Julian tampak sangat dingin, datar, dan tanpa ekspresi kembali ke wujud "Senior Radcliffe" yang kaku dan tak tersentuh seperti saat pertama kali Rory mengenalnya di hari pertama kuliah.

Julian menandatangani lembar demi lembar berkas hukum tersebut di bawah pengawasan Mr. Henderson. Sebelum menaruh pulpennya, Julian sempat terhenti sejenak, menatap halaman terakhir draf dokumen itu dengan rahang yang mengeras rapat.

Rory mengangkat tangannya, hendak menggetok pintu kaca tersebut. Namun tepat pada saat itu, Julian menoleh ke arah pintu.

Mata hazel Julian bertemu langsung dengan mata cokelat jernih Rory melalui dinding kaca yang memisahkan mereka.

Ada kilat kepedihan dan penyesalan yang sangat dalam terpancar dari mata Julian sebelum pria itu dengan cepat mengalihkan pandangannya, merapatkan berkas-berkas tersebut, dan menyerahkannya kepada Mr. Henderson.

Mr. Henderson menerima berkas tersebut, membungkuk hormat kepada Julian, lalu berjalan menuju pintu dan membukanya.

"Miss Vance," sapa Mr. Henderson kaku saat berpapasan dengan Rory di ambang pintu. Pria tua itu memberikan senyum tipis yang sarat akan kemenangan terselubung. "Senang melihat Anda dalam keadaan baik."

Tanpa menjawab sapaan tersebut, Rory melangkah masuk ke dalam laboratorium. Pintu kaca di belakangnya tertutup otomatis.

Julian berdiri di dekat meja kerja, merapikan kemeja hitamnya dan membalikkannya membelakangi Rory, berpura-pura sibuk memeriksa tabung reaksi di bawah mikroskop.

"Julian," panggil Rory, suaranya tenang namun bergetar pelan oleh ketegangan yang menumpuk.

"Rory. Kamu belum pulang?" jawab Julian tanpa berbalik, suaranya terdengar sangat datar terlalu datar. "Data sampel untuk uji klinis tahap dua dari Cambridge sudah masuk. Kita harus menyelesaikannya sebelum besok pagi."

Rory tidak bergerak menuju mejanya. Ia tetap berdiri di tengah ruangan, menatap punggung tegap Julian.

"Dokumen apa yang baru saja kamu tandatangani bersama pengacara Ayahmu, Julian?" tanya Rory langsung, menanggalkan seluruh basa-basi akademis.

Tangan Julian yang sedang memegang pipet membeku di udara selama beberapa detik. Ia perlahan meletakkan alat laboratorium itu, lalu berbalik menghadapi Rory. Wajahnya dipasang rapat-rapat oleh topeng ketenangan yang dingin.

"Hanya penyesuaian hak kepemilikan paten industri setelah proyek ini selesai, Rory. Formalitas biasa untuk memastikan dana transfer medis kemarin terakomodasi secara legal," kilat Julian halus.

Rory melangkah satu pijakan lebih dekat. "Jangan berbohong padaku, Julian! Aku mengenalmu. Aku tahu bagaimana caramu menatap dokumen yang kamu benci! Transfer seratus lima puluh ribu franc Swiss untuk Ethan kemarin apa yang diminta Ayahmu sebagai gantinya?!"

Julian menatap Rory. Di bawah pendar lampu neon laboratorium yang serba putih, keteguhan di wajah gadis itu tampak begitu murni. Rasa sakit di dada Julian makin mencengkeram erat. Ia ingin sekali merengkuh Rory, memberitahunya bahwa ia melakukan ini semua karena ia tidak sanggup melihat Rory menderita. Namun ia tahu, jika ia jujur sekarang, Rory yang berprinsip tinggi akan membatalkan pengobatan Ethan dan mengembalikan uang itu walau harus mengorbankan nyawa adiknya sendiri.

Julian menyilangkan tangannya di dada, membetulkan postur tubuhnya, dan memberikan tatapan dingin sebuah seni akting terbaik yang harus ia mainkan demi melindungi wanita yang dicintainya.

"Arthur Radcliffe adalah seorang pebisnis, Rory," kata Julian, suaranya berubah menjadi rendah dan berjarak. "Dia memberikan jaminan medis untuk keluargamu, dan sebagai gantinya, aku menyetujui integrasi riset ini ke bawah naungan Radcliffe Corp setelah kita lulus nanti. Itu transaksi yang sangat logis."

Rory menatap Julian tak percaya. "Hanya integrasi riset? Julian, Ayahmu mencoba menghancurkan karier kita minggu lalu! Kenapa kamu menyerahkan hasil kerja keras kita kembali ke tangannya?!"

"Karena aku harus bersikap realistis, Aurora!" potong Julian, menaikkan volumenya satu tingkat dengan nada yang disengaja tegas dan tajam. "Aku tidak bisa selamanya hidup di flat sewaan empat kali lima meter itu dan mengandalkan tiket kereta murah ke Cambridge! Aku seorang Radcliffe. Pada akhirnya, aku harus kembali ke dunia tempat aku dibesarkan."

Kata-kata itu menghantam dada Rory seperti tamparan keras.

'Aku seorang Radcliffe.' Seolah-olah kalimat itu adalah garis batas tebal yang sengaja digambar Julian untuk memisahkan dunia mereka kembali.

Rory membeku di tempatnya. Air mata menumpuk di pelupuk matanya, namun ia menahannya dengan sekuat tenaga agar tidak jatuh. Ia menatap Julian lurus-lurus, mencari celah kebohongan di mata hazel itu, namun Julian berhasil menyembunyikannya di balik tatapan kaku yang tak tertembus.

"Jadi.." bisik Rory, suaranya serak, "kamu menukarkan kebebasan yang baru saja kita perjuangkan demi kembali ke duniamu yang lama?"

Julian mengepalkan tangannya di belakang punggung, membiarkan buku-buku jarinya memutih dan kuku-kukunya menancap di telapak tangannya sendiri untuk menahan rasa sakit luar biasa saat mengucapkan kalimat berikutnya.

"Aku menukarkannya demi solusi paling efisien untuk kita semua, Miss Vance," jawab Julian dingin, sengaja kembali menggunakan panggilan formal itu. "Adikmu selamat, riset kita mendapatkan jaminan pasar industri penuh, dan aku mendapatkan kembali posisiku. Bukankah semua pihak diuntungkan?"

Rory mundur satu langkah. Kepalanya menggeleng pelan. Senyuman getir dan penuh rasa kecewa terukir di bibirnya.

"Aku mengira kamu berbeda dari mereka, Julian," kata Rory pelan namun berartikulasi sangat tajam. "Aku mengira kebebasan dan kejujuran yang kita bagi di flat sederhana itu adalah hal nyata. Tapi ternyata, harga dirimu dan perasaanku hanyalah komoditas yang bisa kamu negosiasikan di meja bisnis Ayahmu."

Rory merapikan tas selempangnya, berbalik, dan mendorong pintu kaca laboratorium tanpa menoleh lagi.

Langkah kakinya bergema cepat menjauhi ruangan tersebut.

Begitu pintu kaca tertutup rapat dan sosok Rory menghilang di belokan koridor, pertahanan Julian sepenuhnya runtuh. Ia menyandarkan kedua tangannya di atas meja laboratorium, menundukkan kepalanya dalam-dalam, dan menghembuskan napas yang bergetar hebat. Airmata penyesalan dan kepedihan yang sejak tadi ia tahan perlahan menetes di atas permukaan meja besi yang dingin.

Di dalam saku mantelnya, draf kesepakatan rahasia yang asli masih tersimpan Surat perjanjian pemutusan hubungan pribadi permanen dengan Aurora Vance dan pengumuman pertunangan resmi dengan Victoria Montgomery pasca kelulusan.

Julian mengangkat kepalanya, menatap pintu kaca yang kini kosong.

"Maafkan aku, Rory" bisik Julian pada kehampaan ruangan yang sepi. "Biarkan kamu membenciku sebagai pria yang menyebalkan dan egois... asal kamu dan keluargamu tetap selamat dan utuh di dunia ini."

Badai terbesar dalam hubungan mereka kini telah resmi menghantam. Bukan karena keraguan atau pengkhianatan murni, melainkan karena sebuah pengorbanan rahasia yang terbungkus dalam kesalahpahaman yang teramat dalam.

1
stevany indri
maya sang cucu sj usianya sdh 50thn,,,, bgmn mgkn kejadian antara kakek Julian&nenek aurora terjd 50thn yg lalu... ada2 sj
stevany indri
aurora lahir thn 1969....kejadiannya thn 1968, bgmn mgkn terjd.... 😳
stevany indri
u maya... kakek&nenek tp u Julian junior mestinya uyut deh
Forta Wahyuni
maya tapi cucu, koq manggil ayah dan ibu n bingung thor. Julian cicit krn anak maya, hadeh suka2 thor lah. 🙏🙏🙏
Maya Elvin
siap kk👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!