Xiao Yu dipaksa ikut pemilihan selir oleh orangtuanya demi mengangkat derajat keluarga. Padahal gadis ini ingin masuk militer.
Akhirnya ia ikut pemilihan selir dengan berpura-pura bodoh. Tapi sungguh suatu hal ajaib. Dia justru terpilih.
Ternyata pangeran Zhang Li sengaja memilih selir bodoh untuk protes pada raja bahwa ia lelah terus disuruh mencari seorang pendamping.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 31
"Selir Kui itu benar-benar menyebalkan!" bisik Bao'er berapi-api. Sorot matanya masih memancarkan kejengkelan yang dalam. "Bisa-bisanya dia tersenyum manis tanpa dosa seolah tidak terjadi apa-apa semalam. Padahal jelas-jelas dialah yang merencanakan semua ini sampai Nona dan Selir Lan hampir mati."
Bao'er makin mendekatkan posisinya ke Xiao Yu, menurunkan volumenya semaksimal mungkin hingga hampir seperti desisan.
"Lalu pelayannya itu... Mei Lin! Lihat cara dia melengos tadi? Bukannya merasa bersalah karena majikannya ketahuan culas, malah berlagak sok suci. Kalau tidak ingat kita sedang di depan Pangeran dan banyak prajurit, sudah kupukul mukanya!"
Xiao Yu menyandarkan kepalanya ke dinding kereta yang berguncang halus seiring putaran roda. Bibirnya mengukir senyum tipis, menatap Bao'er yang sedang emosional itu.
"Biarkan saja mereka berlagak seperti itu, Bao'er," sahut Xiao Yu santai, suaranya tenang dan teratur. "Aku tidak peduli selama dia tidak benar-benar menyerangku."
"Tapi aku kesal, Yu'er!" gumam Bao'er sambil meremas kain roknya sendiri. "Tapi... bicara soal tadi pagi, Selir Lan hebat juga ya? Aku sampai melotot waktu dia membalas sindiran Selir Kui. Dia kan sepertinya tipe penakut sekali, kok tiba-tiba berani begitu?"
Xiao Yu menatap ke luar celah tirai kereta, mengamati barisan pepohonan Hutan Selatan yang mulai memudar di kejauhan.
"Dia bukan tiba-tiba berani," bisik Xiao Yu pelan, mengingat detail gemetar di bahu Selir Lan dan kepalan tangannya yang tersembunyi di dalam jubah. "Dia takut setengah mati. Kamu tidak lihat, tangan dan bahunya gemetar hebat waktu bicara tadi. Tapi rasa marahnya karena dikerjai sampai hampir mati jauh lebih besar daripada rasa takutnya."
Bao'er tertegun mendengarnya. "Jadi... dia cuma pura-pura kuat di depan Selir Kui?"
"Iya," gumam Xiao Yu dengan pendar ketertarikan di matanya. "Dan itu langkah yang bagus. Orang seperti Selir Kui selalu mengincar mangsa yang terlihat lemah dan pasrah. Begitu Selir Lan menunjukkan gigi, walau itu cuma gertakan pura-pura, Selir Kui akan pikir dua kali untuk melakukan hal yang sama."
"Benar juga," angguk Bao'er, rasa kesalnya berangsur berganti kekaguman. "Selir Kui tadi langsung kaku waktu Selir Lan menyebut soal 'niat buruk'."
"Sekarang, begitu kita sampai di istana, mungkin permainannya akan beda lagi. Meskipun aku berniat keluar dari sini, tapi aku tidak akan tinggal diam jika dia melakukan hal yang sama padaku. Kita harus makin waspada."
Bao'er mengangguk mantap. "Aku mengerti, Yu'er. Oh, ya ... Omong-omong soal serigala. Apa maksud kamu, kalau kamu yang membunuh serigala itu?"
"Rupanya kamu masih ingat soal itu." Xiao Yu tersenyum.
"Tentu saja. Ayo ceritakan padaku. Aku belum mendengar sama sekali tentang itu karena tadi malam lelah sekali," kata Bao'er semangat.
Xiao yu menceritakan tentang perjuangan dia melawan serigala hingga tuntas.
"Tunggu, kalau kamu melawannya, bukannya Selir Lan tahu kalau kamu bukan selir bodoh?" potong Bao'er.
"Ya."
"Lalu?"
"Dia terkejut," sahut Xiao Yu tenang, pandangannya lurus menatap jemarinya sendiri. "Tapi dia tidak punya pilihan selain menyimpan rahasia itu. Dia tahu aku yang menyelamatkan nyawanya dari serigala-serigala itu."
"Tapi bagaimana kalau Selir Lan tidak sengaja kelepasan bicara di depan orang lain?" desak Bao'er khawatir, tubuhnya makin condong ke depan. "Dia kan penakut, Yu'er! Kalau Selir Kui mengintimidasi atau menakut-nakutinya lagi, bagaimana kalau dia malah membocorkan kemampuan panah dan beladiri kamu untuk menyelamatkan dirinya sendiri?"
Xiao Yu menggeleng pelan. Senyum tipis yang sarat makna terukir di bibirnya.
"Dia memang penakut, Bao'er, tapi dia tidak bodoh," bisik Xiao Yu halus. "Kau dengar sendiri dia tidak ingin menceritakan banyak hal tentang pertemuan kita berdua dengan serigala malam itu."
Bao'er ingat ketika A-chui yang bertanya soal lolongan keras itu. "Ya. Selir Lan malah bilang tidak bertemu Serigala."
"Dia mengerti. Kalau dia bilang kita ketemu dengan serigala, orang akan mempertanyakan kenapa kita bisa lolos. Itu serigala besar," jelas Xiao Yu.
Bao'er menganggukkan kepala akhirnya paham. "Selir Lan sengaja menghindari apa yang ada hubungannya dengan serigala guna menghindarkan dari pertanyaan kenapa kalian tidak diserang oleh serigala kan?"
"Ya."
"Dia selir berhati malaikat rupanya."
"Setiap manusia itu awalnya lahir dengan sifat baik, Bao'er, tapi kemudian keadaan yang memaksa mereka untuk berubah," ujar Xiao Yu bijak. "Dia tahu kalau rahasiaku terbongkar, aku yang akan dalam bahaya," lanjut Xiao Yu pelan, tatapannya menerawang menatap bayangan pohon-pohon yang melintas di luar jendela kereta. "Dan malam itu, dia memilih untuk melindungiku, sama seperti aku memilih untuk menyelamatkannya."
Bao'er terdiam sejenak. Kejengkelan yang tadi membakar dadanya kini sepenuhnya melarut, berganti dengan rasa hormat yang tak disangka-sangka pada sosok Selir Lan.
"Ternyata di balik sifat penakutnya, Selir Lan punya pendirian yang sangat teguh," gumam Bao'er pelan. Ia lalu menghela napas panjang, bersandar pada dinding kereta di samping Xiao Yu.
Xiao Yu tersenyum tipis, mengusap bahu pelayannya itu dengan lembut. "Ya, tapi ingat, tujuanku masih sama. Aku ingin masuk militer. Bermain dengan senjata bukan permainan putri-putrian seperti ini," keluh Xiao Yu.
"Kamu masih ingin menjadi prajurit?" Tanya Bao'er heran.
Xiao Yu hanya menyeringai kecil, menyandarkan kepalanya dengan lebih santai. "Ya. Itu adalah impian yang bisa aku banggakan."
"Bukankah menjadi selir juga bisa membuatmu bangga?"
"Aku serius soal ini, Bao'er. Seni beladiri adalah kesukaan ku sejak kecil."
Bao'er diam beberapa saat. "Aku bukan mau meruntuhkan impianmu menjadi prajurit, tapi bukannya orang tuamu akan kecewa kalau sampai kamu dipulangkan?"
"Tapi berada di dalam kediaman dalam ini benar-benar menyiksa. Setiap hari harus berdandan rapi, memakai gaun berlapis-lapis yang berat. Rasanya bahuku kaku semua. Ototku terasa kendur karena tidak konsisten berlatih," ujar Xiao Yu menunjukkan lengannya.
Bao'er menipiskan bibir melihat Xiao pamer.
Ia merenggangkan jemarinya sejenak, membayangkan beratnya busur panah hitam kesayangannya dibandingkan dengan cangkir teh porselen yang biasa ia pegang di istana.
"Lagipula," lanjut Xiao Yu dengan tatapan tajam yang berkilat penuh ambisi, "medan perang jauh lebih jujur daripada tempat ini. Di medan perang, musuh menatapmu dari depan dengan pedang terhunus. Tapi di kediaman dalam... musuh tersenyum manis padamu sambil menusukkan belati dari belakang."
Bao'er menghela napas panjang, merapikan selimut tipis di atas pangkuan Xiao Yu sambil menggeleng-gelengkan kepala.