Nadira Sasmita selalu mengira suaminya adalah lelaki yang paling mengenalnya.
Rendra Kalyana tahu jadwalnya, siapa yang menemaninya, ke mana ia pergi, bahkan siapa yang berada di sekelilingnya ketika ia tidak menyadarinya. Nadira mengira semua itu adalah bentuk perlindungan.
Sampai ia menemukan sebuah buku berisi daftar nama orang-orang terdekatnya.
Di samping setiap nama terdapat jumlah uang.
Sahabat. Sopir. Psikolog. Rekan kerja. Orang-orang yang selama ini ia percaya.
Mereka dibayar oleh suaminya.
Rendra tidak menyangkalnya. Ia hanya mengatakan satu hal: semua dilakukan agar Nadira tetap aman.
Tetapi semakin banyak rahasia yang terbuka, semakin sulit Nadira membedakan cinta dari pengawasan, perlindungan dari kendali, dan perhatian dari kepemilikan.
Ketika rahasia keluarga Kalyana mulai terungkap, Nadira akhirnya dihadapkan pada pilihan yang paling menyakitkan dalam hidupnya:
tetap bersama lelaki yang mencintainya dengan cara yang salah, atau pergi dan kehilangan satu-satuny
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. A. Pusung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 — Klien yang Kukirimkan
Tiga nama pertama kutulis sendiri dalam pernyataan untuk Damar.
Naufal Haris.
Siska Mulyani.
Harun dan Melda Prakoso.
Tidak ada cara yang enak untuk menjelaskan kenapa aku memilih mereka. Selalu ada cara yang terdengar masuk akal.
Ketiga perkara itu nyata. Tidak ada pasangan yang diminta berpura-pura bertengkar. Tidak ada hasil mediasi yang disusun lebih dulu. Nadira membaca dokumen mereka, menemukan masalah yang dilewatkan orang lain, lalu mengambil keputusan berdasarkan keahliannya sendiri.
Aku tetap memilih perkara mana yang akan tiba di mejanya.
Aku sedang berdiri di ruang audit internal ketika Elsa membaca pernyataanku dari layar.
“Kalimat ini terlalu bersih,” katanya.
“Bagian mana?”
Ia membaca, “‘Saya mengarahkan tiga perkara nyata melalui Yayasan Jembatan Keluarga agar Ruang Tengah memperoleh kesempatan membuktikan kemampuannya.’”
“Itu yang terjadi.”
“Bukan seluruhnya.”
Tatapanku tetap padanya.
Elsa menggeser layar ke arahku.
“Kau tidak mengirim tiga perkara secara acak. Kau memilih kasus yang sesuai dengan kekuatan Nadira.”
“Aku membaca ringkasan awal.”
“Kau membaca kelemahan para mediator sebelumnya, lalu memilih perkara yang membuat Nadira terlihat lebih baik.”
“Aku tidak memberinya jawaban.”
“Tidak. Kau memilih ujian yang sudah kauyakini bisa ia menangkan.”
Aku ingin membantah.
Kata-katanya sudah lebih dulu terasa benar.
Pada kasus Naufal, dua pengacara sebelumnya melewatkan hubungan antara rekening pendidikan anak dan utang perusahaan. Aku tahu Nadira selalu memeriksa angka yang berulang. Pada kasus Siska, konflik utamanya bukan perselingkuhan, melainkan kendali atas usaha rumahan. Nadira punya kebiasaan bertanya siapa yang memegang kata sandi rekening sebelum membahas perasaan pasangan.
Harun dan Melda datang dengan pertengkaran hak asuh, tetapi masalah sebenarnya adalah utang keluarga yang disembunyikan.
Aku tidak menentukan apa yang akan Nadira temukan.
Aku memilih kasus yang membuat kemungkinan ia menemukannya sangat tinggi.
“Aku ingin kantornya bertahan,” kataku.
“Dan kau ingin dia percaya bahwa keberhasilan itu muncul tanpa campur tanganmu.”
“Iya.”
Elsa menghela napas, lalu mengganti satu kalimat.
Saya memilih tiga perkara yang menurut penilaian saya sesuai dengan kemampuan Nadira, tanpa memberi tahu bahwa sumber rujukannya berada di bawah kendali saya.
Aku membaca kalimat itu dua kali. Rasanya lebih buruk karena lebih jujur.
Aku menandatangani perubahan itu, lalu membuka arsip Yayasan Jembatan Keluarga. Damar meminta daftar lengkap seluruh klien yang pernah diarahkan, dibiayai, atau dirujuk oleh aku, perusahaan, keluarga, dan yayasan yang terhubung dengan kami.
Tiga nama yang kuakui mudah ditemukan.
Pembayaran rumah aman untuk Selvi.
Biaya pemeriksaan aset Siska.
Pendamping hukum bagi Harun dan Melda.
Semua transaksi memiliki catatan bahwa mediator tidak boleh diberi instruksi tentang hasil. Laksmi membuat aturan itu sebelum aku mengambil alih. Aku mempertahankannya.
Aturan itu tidak membuat penyembunyian sumber rujukan menjadi benar.
Aku membuka pencarian dengan nomor pajak yayasan, perusahaan lapis, dan rekening yang pernah dipakai program bantuan.
Lima hasil muncul.
Tiga kukenal.
Dua lainnya berasal dari tahun ketika aku belum menikah dengan Nadira.
Nama penerimanya disamarkan.
Aku membuka berkas pertama.
Klien Ruang Tengah dengan kode RT-017. Perkara perceraian seorang perempuan yang suaminya bekerja sebagai kepala pengadaan Kalyana Logistics. Yayasan membayar konsultan keuangan dan tempat tinggal sementara.
Aku tidak pernah mengetahui pembayaran itu.
Berkas kedua terkait pasangan yang mengelola perusahaan katering untuk beberapa kantor Kalyana. Setelah mediasi, saham usaha tetap berada pada suami, sedangkan istrinya menerima rumah dan uang tunai.
Aku membaca ringkasan hasil.
Kesepakatannya dapat dianggap adil berdasarkan nilai pada saat itu.
Enam bulan kemudian, perusahaan katering memperoleh kontrak besar dari Kalyana Group dan nilainya naik hampir empat kali lipat.
Aku berhenti membaca.
Jika Nadira mengetahui kontrak itu akan diberikan, ia mungkin tidak akan menyarankan pembagian yang sama.
“Siapa yang menyembunyikan kontrak mendatang?” tanyaku.
Elsa menelusuri dokumen perusahaan.
“Divisi pengadaan Surya.”
“Tanggal persetujuannya?”
“Dua minggu sebelum mediasi selesai.”
Berarti seseorang di keluarga kami mengetahui nilai usaha akan naik, lalu membiarkan Nadira bekerja dengan informasi yang tidak lengkap.
Tidak perlu mengatur keputusannya.
Cukup mengatur fakta yang boleh ia lihat.
Aku mengirim kedua berkas kepada Damar dan menambahkan penjelasan bahwa aku baru menemukannya.
Tidak ada alasan untuk menunggu audit selesai.
Setiap menit penundaan hanya memberiku kesempatan mencari pembelaan baru.
Pencarian diperluas.
Perusahaan-perusahaan lama muncul satu per satu. Sebagian sudah dibubarkan. Sebagian berganti nama. Beberapa pembayaran tidak menyebut Ruang Tengah secara langsung, tetapi tanggalnya cocok dengan konsultasi atau biaya pendukung klien Nadira.
Aku mulai mengenali pola ayahku.
Surya tidak pernah menulis, “Kirim perkara ini kepada Nadira.”
Ia akan membayar rumah aman melalui yayasan, menyuruh pengacara bantuan menyarankan mediator tertentu, lalu memastikan orang-orang yang terlibat mengira pilihan itu muncul dari mereka sendiri.
Cara yang sama dipakainya ketika mengatur dewan direksi.
Cara yang sama kupakai ketika mengatur hidup istriku.
“Kita butuh data kasus dari Ruang Tengah,” kata Elsa.
“Damar tidak akan memberikannya tanpa persetujuan Nadira.”
“Benar.”
Tanganku sempat berhenti di atas ponsel.
Aku hampir menelepon Nadira.
Bukan untuk memintanya pulang atau mendengar penjelasanku. Hanya untuk memberi tahu bahwa kemungkinan jumlahnya lebih dari tiga.
Aku tahu apa yang akan terjadi kalau aku menelepon.
Aku akan menjadi orang pertama yang menjelaskan.
Aku akan mengatur cara ia menerima kabar yang sebenarnya harus ia terima dengan caranya sendiri.
Damar sudah menerima berkas. Ia akan menyampaikannya dengan cara yang dipilih Nadira.
Aku tidak harus menjadi orang pertama yang menjelaskan setiap kali hidupnya berubah.
Sebagai gantinya, aku mengirim permintaan resmi melalui Damar.
Saya menemukan sedikitnya dua rujukan yang tidak saya ketahui dan menduga terdapat perkara lain. Mohon izin untuk mencocokkan nomor perkara tanpa membuka isi rahasia mediasi.
Damar menelepon sebelum memberikan izin pencocokan.
“Saya perlu jawaban yang tidak dibuat tim hukum,” katanya. “Pernahkah Anda menghubungi pihak lawan, pengacara, atau staf Ruang Tengah agar Nadira mengambil hasil tertentu?”
“Tidak.”
“Pernah menahan dokumen dalam tiga perkara yang Anda kirim?”
“Tidak.”
“Pernah memberi Nadira informasi yang Anda tahu berasal dari sumber rahasia perkara?”
“Tidak.”
“Pernah meminta Tara melaporkan isi mediasi?”
Aku berhenti.
“Bukan isi perundingan,” jawabku. “Tapi aku pernah bertanya apakah Nadira terlihat tertekan setelah perkara tertentu.”
“Itu tetap informasi tentang pekerjaannya.”
“Iya.”
“Akan saya masukkan.”
“Masukkan.”
Setelah sambungan berakhir, aku membuka tiga berkas lama dan memeriksa apakah ingatanku sedang berusaha menyelamatkan diriku.
Tidak ada instruksi hasil.
Tidak ada pembayaran kepada pihak lawan.
Ada catatan agar Tara memastikan Nadira beristirahat setelah kasus Siska karena aku tahu ia pulang dalam keadaan marah.
Aku masih ingat malam itu.
Nadira masuk kamar sambil melempar tas ke kursi dan berkata ia membenci orang yang mengira uang bisa menyelesaikan semua masalah.
Aku tertawa waktu itu.
Sekarang aku merasa seharusnya sudah mendengarkan kalimat itu lebih lama.
Bahkan ketika aku tidak mengubah keputusan profesionalnya, aku tetap berdiri terlalu dekat dengan akibatnya.
Jawaban datang satu jam kemudian.
Nadira menyetujui pencocokan nomor dan tanggal. Isi perkara tetap berada dalam kendalinya.
Tidak ada pesan pribadi.
Tidak ada pertanyaan apakah aku baik-baik saja.
Aneh bagaimana ketiadaan sesuatu bisa terasa lebih nyata daripada marah.
Tim audit mencocokkan transaksi sepanjang sore.
Setiap kecocokan baru ditampilkan di layar dengan kode merah.
RT-017.
RT-023.
RT-031.
RT-044.
Nama-nama klien tetap ditutup, tetapi tanggal, jenis bantuan, dan perusahaan sumber mulai membentuk pola.
Perkara yang dikirim jaringan Surya bukan perkara acak. Hampir semuanya menyentuh pegawai, vendor, keluarga direktur, atau aset yang terhubung dengan Kalyana.
Beberapa hasil mediasi menguntungkan pihak lemah.
Beberapa menyelamatkan korban dari keadaan yang buruk.
Empat kesepakatan juga mencegah pemeriksaan aset perusahaan berkembang menjadi perkara terbuka.
Nadira mungkin tetap akan mengambil keputusan yang sama jika mengetahui seluruh fakta.
Itulah bagian yang paling sulit.
Aku tidak bisa mengatakan semua hasilnya buruk.
Aku hanya bisa mengatakan bahwa ia tidak pernah diberi seluruh fakta.
Menjelang pukul enam, Elsa berdiri di depan layar dengan wajah pucat.
“Berapa?” tanyaku.
“Yang bisa dipastikan dikirim olehmu: tiga.”
“Aku tahu.”
“Yang dirujuk melalui jaringan Surya tanpa sepengetahuanmu: sebelas.”
Aku menatap empat belas nomor perkara yang menyala di layar.
Artikel yang dihapus menuduh sedikitnya sembilan.
Kenyataannya lebih buruk.
Elsa membuka satu lampiran terakhir.
Bukan tagihan rumah aman atau bantuan hukum.
Ini daftar target rujukan yang dibuat sebelum Ruang Tengah menerima klien pertamanya.
Nama Nadira tercetak di atas halaman, diikuti penilaian tentang kekuatan, kelemahan, dan jenis perkara yang sebaiknya diberikan kepadanya.
Aku membaca halaman itu tanpa berkedip.
Dokumen tersebut dibuat oleh kantor ayahku.
Tanggalnya tiga bulan sebelum Laksmi meninggal.
Di bagian bawah ada satu instruksi dari Surya:
Bangun reputasinya. Setelah publik memercayainya, arahkan perkara yang perlu diselesaikan tanpa pengadilan.