"Mas bilang jatah uang belanja Nisa dipotong dua juta untuk Sisil. Nisa pikir, kalau Sisil sudah dapat uang tunai dua juta dari Mas Rian, buat apa lagi dia pakai kartu kredit atas nama Nisa? Lagi pula, Nisa kan cuma wanita bodoh yang nggak punya penghasilan. Nisa takut nggak sanggup bayar tagihan kartu kredit itu bulan depan."
Demi cinta yang ia kira tulus, Annisa yang baru berusia 24 tahun itu rela menyembunyikan identitas aslinya. Ia berpura-pura cuma gadis yatim piatu biasa saat dipersunting Rian, pria yang kini berumur 28 tahun. Annisa cuma ingin menguji—apakah Rian benar-benar mencintainya atau cuma mengincar hartanya.
Dan suatu hari, jawaban dari ujian itu makin jelas kelihatan.
Tiga tahun pengorbanannya. Tiga tahun penyamarannya. Tiga tahun kesabarannya menahan hinaan mertua dan ipar demi menjaga harga diri Rian ... semuanya dibalas dengan pengkhianatan murahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Vonis Selanjutnya
Begitu persidangan Pengadilan Agama usai, Rian langsung digiring kembali oleh petugas kejaksaan menuju Gedung Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang terletak tak jauh untuk mendengarkan pembacaan Putusan Sela dan Penetapan Vonis Awal atas perkara tindak pidana penggelapan serta pencucian uang.
Ruang Sidang Utama Pengadilan Negeri telah dipadati oleh awak media dan pengunjung.
Bu Rini dan Sisil duduk di barisan belakang dengan wajah pucat pasi. Pakaian mereka lusuh dan mata mereka bengkak akibat menangis tanpa henti. Mereka hanya bisa menatap Rian yang digiring ke kursi pesakitan dengan rasa putus asa yang tak bertepi.
Hakim Ketua Pengadilan Negeri mengetukkan palunya tiga kali, menandai dimulainya persidangan agenda pembuktian dan vonis perkara pidana.
"Berdasarkan bukti-bukti otentik yang diajukan oleh Penuntut Umum, hasil audit investigasi independen dari Vantara Land, saksi-saksi kunci, serta pengakuan para terdakwa." Tegas Hakim Ketua dengan suara menggelegar melalui pengeras suara.
"Majelis Hakim menilai tidak ada alasan pemaaf maupun pembenar atas tindakan Terdakwa I Rian Hidayat dan Terdakwa II Eriska Wijaya."
Hakim Ketua berdiri, diikuti oleh dua Hakim Anggota, lalu membacakan amar vonis hukuman:
"Mengadili:
Menyatakan Terdakwa I Rian Hidayat terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan Tindak Pidana Penggelapan dalam Jabatan dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) secara berlanjut.
Menjatuhkan pidana penjara terhadap Terdakwa I Rian Hidayat selama 7 (TUJUH) TAHUN PENJARA serta denda sebesar Rp 1.000.000.000 (satu miliar rupiah).
Menyatakan Terdakwa II Eriska Wijaya terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan Tindak Pidana Penadahan barang hasil kejahatan dan Pencucian Uang.
Menjatuhkan pidana penjara terhadap Terdakwa II Eriska Wijaya selama 3 (TIGA) TAHUN PENJARA."
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan palu hakim menggelegar bagaikan petir di siang bolong!
"Tidakkkk! Riaaaannn!" jerit Bu Rini histeris di barisan belakang. Wanita tua itu pingsan seketika, rubuh dari kursinya ke lantai marmer. Sisil menangis meraung-raung sambil memeluk ibunya yang tak sadarkan diri.
Di kursi pesakitan, Eriska menangis histeris seraya memukuli dadanya sendiri. "Tiga tahun?! Nggak! Saya nggak mau dipenjara tiga tahun! Ini semua gara-gara kamu, Rian! Kamu penipu!" jerit Eriska histeris pada Rian sebelum diseret secara paksa oleh petugas wanita ke luar ruangan.
Rian Hidayat membeku total. Angka 7 TAHUN PENJARA dan denda 1 MILIAR RUPIAH berdengung hebat di dalam tempurung kepalanya. Tujuh tahun di dalam penjara yang dingin, kotor, dan keras! Seluruh masa mudanya, kariernya, dan masa depannya hancur berkeping-keping menjadi debu yang tak berharga.
Rian mendongak terhuyung-huyung dengan tangis parau yang pecah. Pandangan matanya yang buram oleh air mata menatap ke arah Annisa yang berdiri di barisan depan VIP.
Annisa berdiri dengan anggun di samping Fandi Prasetyo dan Pak Danu. Wajahnya tetap tenang, memancarkan wibawa dan keagungan dari seorang pimpinan. Tidak ada kepuasan dendam yang jahat di matanya—hanya ada keadilan mutlak yang telah ditagih oleh hukum.
Saat petugas kejaksaan menarik bahu Rian untuk digiring ke luar menuju mobil tahanan, Rian berteriak dengan suara parau yang amat memilukan:
"Nisaaaa! Maafkan Mas, Nisa! Maafkan Mas!" jerit Rian seraya mencoba menahan langkah kakinya. "Mas janji bakal berubah! Mas masih cinta sama kamu, Nisa! Nisaaa!"
Annisa tidak merespons. Ia bahkan tidak mengedipkan matanya. Bagi Annisa, pria berompi oranye yang terseret sambil menangis meraung-raung itu hanyalah kenangan asing yang tak lagi memiliki tempat di dalam hidupnya.
Fandi Prasetyo melangkah satu tapak di samping Annisa, menatap Rian yang digiring keluar dengan pandangan mata yang sangat dingin dan merendahkan. Fandi lalu menoleh ke arah Annisa, menyunggingkan senyuman tipis yang sangat hangat dan matang.
"Semuanya sudah selesai dengan sangat sempurna, Annisa," ucap Fandi dengan suaranya yang berat dan mantap. "Badai telah berlalu."
Annisa menoleh ke arah Fandi, menyunggingkan senyuman paling indah dan tulus dalam hidupnya.
"Terima kasih, Mas Fandi," jawab Annisa mantap. "Sekarang, mari kita kembali ke Vantara Tower. Papa sudah menunggu kita untuk meresmikan dimulainya proyek kawasan terpadu."
***
Satu jam kemudian, sebuah mobil Sedan Mercedes-Maybach hitam melaju mulus membelah jalanan utama Sudirman yang megah.
Di dalam mobil yang sejuk dan harum aromaterapi itu, Annisa Septiani duduk bersandar di kursi kulitnya yang empuk. Ia menatap ke luar jendela, memperhatikan deretan gedung pencakar langit yang menjulang tinggi di bawah langit biru Jakarta yang cerah.
Telepon genggam di tangan Annisa bergetar pelan. Sebuah panggilan video masuk dari ayahnya, Pak Yusuf Al Ghazali.
Annisa menekan tombol hijau dan mendekatkan layar ponsel ke wajahnya.
"Annisa, putri Papa," suara berat Pak Yusuf terdengar penuh kehangatan dari layar tablet. "Papa baru saja menerima kabar dari Pak Danu. Gugatan cerai sudah dikabulkan dan vonis hukum pidana untuk Rian sudah dijatuhkan."
Annisa tersenyum lembut, matanya berkaca-kaca oleh rasa haru dan kebahagiaan yang sejati. "Iya, Pa. Semuanya sudah selesai. Nisa sudah benar-benar bebas."
"Bagus, Nak. Papa sangat bangga padamu,"* ucap Pak Yusuf dengan senyuman hangat yang sangat berwibawa di layarnya. "Kembalilah ke rumah utama malam ini. Papa sudah menyuruh koki memasak makanan kesukaanmu. Dan besok, putri tunggal Al Ghazali akan memimpin rapat akbar bersama dewan direksi Vantara Group."
"Pasti, Pa. Nisa akan segera pulang ke rumah," jawab Annisa tulus.
Panggilan video pun terputus.
Annisa meletakkan ponselnya, lalu menghembuskan napas panjang yang amat lega.
Pengalaman pahit selama tiga tahun dalam penyamaran dan pernikahan bersama Rian telah membentuknya menjadi wanita yang jauh lebih kuat, bijaksana, dan tak tertandingi. Ia telah membersihkan para parasit dari hidupnya, menegakkan hukum atas pengkhianatan, dan kini kembali ke tempat yang seharusnya—sebagai Komisaris Utama Vantara Land Sub-Holding dan putri tunggal dari dinasti bisnis Vantara Group.
Di sampingnya, Fandi Prasetyo menatap Annisa dengan senyuman tipis penuh rasa hormat. Mobil Maybach hitam itu meluncur cepat memasuki pelataran megah Vantara Tower, membawa Annisa Septiani menyongsong masa depan barunya yang gilang-gemilang di puncak kejayaan.
Bersambung...
ga terima di cerai,,, sekarang abis lah riwayat mu ,,,karir ham ur leburur uang di tarik harga diri ha punya lagi tinggal.