NovelToon NovelToon
RENKARNASI SANG PENGUASA ABSOLUT

RENKARNASI SANG PENGUASA ABSOLUT

Status: tamat
Genre:Fantasi Isekai / Reinkarnasi / Sistem / Tamat
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: AME author

Nagato, pemuda miskin dari Jepang, tewas usai menolong seorang gadis. Mendengar permintaan terakhirnya yang hanya ingin hidup tenang, Dewa Kematian melahirkannya kembali sebagai Alan di tengah Hutan Monster dengan Skill Domain Absolut—kemampuan hidup abadi dan menciptakan apa pun di wilayahnya.
Niat hati ingin hidup santai, bayangan imajinasi Alan justru tanpa sengaja mewujudkan sebuah kerajaan megah. Dianggap sebagai ancaman besar oleh Kerajaan Manusia dan Iblis, Alan terpaksa membangkitkan pasukan abadi, penyihir agung, hingga menundukkan dua Naga Kuno. Didampingi Skill berkesadaran mandiri, Alan kini menguasai kerajaan terkuat di dunia—semuanya demi satu alasan sederhana: bertahan hidup dengan tenang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

INVASI KEDUA KERAJAAN GRANVALIA

Di aula utama Kerajaan Granvalia, suasana rapat mendadak berubah menjadi sangat dingin dan penuh kepanikan.

Raja Granvalia cengkeram erat sandaran takhtanya hingga kayu berukir itu meretak. Di hadapannya, seorang prajurit pengintai berlutut dengan tubuh gemetar hebat, menyampaikan laporan yang terdengar bagai mimpi buruk.

"A-Apa yang kau katakan?!" teriak salah satu menteri dengan wajah pucat pasi. "Kerajaan di Hutan Larangan itu masih berdiri kokoh?! Bukankah pasukan kita sudah meratakannya menjadi puing-puing beberapa waktu lalu?!"

"L-Laporan itu benar, Baginda!" sahut prajurit pengintai dengan suara bergetar. "Bukan hanya berdiri utuh, tetapi benteng mereka tampak jauh lebih megah dan memancarkan pelindung sihir keemasan yang sangat rapat! Tidak ada satu pun bekas kerusakan!"

Para menteri dan dewan kerajaan mulai saling berbisik panik. Bagaimana mungkin sebuah benteng yang telah diratakan oleh sihir pembunuh massal bisa kembali utuh tanpa cela dalam hitungan hari?

"Tenang semuanya!" suara berat memecah kegaduhan ruang rapat.

Seorang pria berbadan tegap dengan zirah baja berlapis intan stepa melangkah maju. Di punggungnya terikat sebuah pedang raksasa bermata dua yang memancarkan energi sihir membara. Dialah Garen, Pahlawan Utama sekaligus manusia terkuat di Kerajaan Granvalia yang telah mencapai tingkat kekuatan langka: Level 500.

"Tidak peduli sihir ilusi apa yang mereka gunakan untuk membangun kembali tempat itu," ujar Garen dengan senyum penuh percaya diri. "Di hadapan pedangku dan sepuluh ribu prajurit pilihan Granvalia, kerajaan misterius itu akan benar-benar musnah tanpa sisa."

Raja Granvalia mengangguk mantap, rasa cemasnya sirna seketika melihat sosok Garen. "Bagus! Garen, pimpin sepuluh ribu pasukan terbaik kita! Ratakan kerajaan di Utara itu dan bawa kepala penguasanya ke hadapanku!"

Sementara itu, di Kerajaan Solaria, suasana pagi yang tenang mendadak terganggu oleh suara peringatan Sistem.

[Peringatan! Deteksi pergerakan sepuluh ribu pasukan militer dari Kerajaan Granvalia mendekati perbatasan Hutan Larangan,] suara Melodina bergema di benak Alan yang baru saja melangkah keluar ke balkon kamar utamanya.

Alan menghentikan langkahnya, lalu menghela napas panjang yang sangat berat. "Yaaah... padahal aku baru aja mau nikmatin teh pagi. Kenapa mereka hobi banget datang menyerang, sih?"

Yumi yang berdiri setia di samping Alan membungkuk anggun. "Apakah Anda ingin hamba memerintahkan penumpasan total, Tuan Alan?"

"Nggak usah sampai segitunya, Yumi," jawab Alan sambil menyandarkan tubuhnya di pagar balkon. "Biarkan Zero, Akami, dan Kayy yang mengurusnya di depan."

Di luar benteng utama Solaria, lonceng sihir pertahanan berbunyi pelan. Naga Merah Kuno yang bertugas sebagai penjaga gerbang mengepakkan sayap raksasanya, membumbung tinggi ke udara sore. Raungan megahnya menggetarkan seluruh permukaan Hutan Larangan saat ia melayang memayungi langit Solaria.

Di depan gerbang utama, tiga figur terkuat Solaria telah berdiri berjejer dengan formasi anggun: Zero (Kepala Ksatria, LV 1.500), Akami (Kepala Penyihir, LV 1.500), dan Kayy (Pahlawan Kerajaan, LV 3.000). Di belakang mereka, lima belas ribu Pasukan Abadi berdiri tegak dengan barisan yang sangat presisi.

Tak lama kemudian, gelombang sepuluh ribu pasukan Granvalia muncul dari balik pepohonan hutan. Namun, begitu melangkah keluar dari semak-semak, barisan depan Granvalia mendadak terhenti rapat.

Mata para prajurit manusia itu membelalak tegang. Di atas langit, seekor Naga Merah Kuno terbang melayang menatap mereka dengan mata reptil yang menyala. Dan di atas tanah, aura sihir dari garis depan Solaria menekan udara hingga terasa sangat berat untuk bernapas.

"N-Naga Kuno?! Kenapa ada Naga Merah Kuno di sini?!" teriak para prajurit Granvalia panik.

Garen melangkah ke barisan paling depan, mencabut pedang raksasanya yang membara. "Jangan takut! Tetap pada formasi kalian! Aku ada di sini! Naga atau prajurit sihir itu bukan apa-apa di hadapan kekuatan Level 500 milikku!"

Mendengar teriakan Pahlawan Terkuat mereka, moral pasukan Granvalia sedikit terangkat.

Namun, di pihak Solaria, Kayy hanya menatap Garen dengan pandangan polos.

"Orang itu... berisik sekali," gumam Kayy pelan. Ia menoleh ke arah Zero dan Akami. "Boleh saya yang menangani pemimpin mereka?"

Zero terkekeh pelan seraya mencabut pedang besarnya. "Silakan, Pahlawan Kayy! Tapi sisakan prajurit sisanya untukku dan Akami!"

"Serang!" seru Kayy.

WUSHHH!

Pertempuran pun meletus!

Kayy melesat maju bagaikan kilatan cahaya emas. Kecepatannya begitu tidak masuk akal hingga membelah angin medan perang dalam sekejap mata.

Garen yang melihat Kayy menerjang langsung mengangkat pedang membaranya untuk menangkis. "Bocah nekat! Terima ini—"

TAK!

Belum sempat Garen menyelesaikan serangannya, Kayy sudah berada tepat di hadapannya. Ujung pedang suci milik Kayy berhenti hanya serambut di depan tenggorokan Garen. Tekanan sihir murni dari pedang Kayy begitu dahsyat hingga membuat zirah berlapis intan milik Garen meretak instan, dan tubuh Pahlawan Level 500 itu membatu kaku karena ketakutan mutlak.

"L-Level berapa kamu sebenarnya...?" bisik Garen dengan bibir gemetar dan peluh dingin bercucuran di seluruh wajahnya.

Kayy tidak menjawab. Ia hanya mengibaskan pedangnya pelan, menciptakan gelombang angin sihir yang memantulkan Garen hingga terlempar puluhan meter ke belakang dan menghantam tanah dengan keras. Pertarungan antara dua "Pahlawan" itu berakhir hanya dalam waktu kurang dari tiga detik.

Sementara itu, Zero melompat ke tengah-tengah barisan depan musuh dengan raungan penuh kegembiraan.

"Hahaha! Luar biasa! Terus tahan seranganku jika kalian sanggup!" seru Zero seraya mengayunkan pedangnya. Setiap tebasan melingkar dari Zero menciptakan angin puyuh tebasan yang melontarkan puluhan prajurit zirah musuh ke udara tanpa bisa menyentuh armor Solaria sedikit pun.

Dari barisan belakang, Akami mengarahkan tongkat sihirnya ke tanah. "Mantra Sihir Pengikat: Roots of Eternal Silence."

Akar-akar kayu sihir berwarna hijau zamrud meledak dari dalam tanah, melilit ribuan prajurit Granvalia secara serentak, mengunci pergerakan mereka tanpa melukai nyawa mereka secara mematikan.

Dari balkon istana, Alan menyeduh teh hangatnya sambil menyaksikan pertempuran di luar perbatasan. Ia menghela napas panjang melihat betapa sepihaknya pertempuran tersebut.

"Duh... kan benar kataku," gumam Alan menggelengkan kepala. "Lawan Zero, Akami, sama Kayy mah udah pasti kalah telak. Gimana bisa perang ini terjadi lagi, sih? Nggak ada kapok-kapoknya mereka."

Di medan perang, Garen yang terbaring lemas di tanah memandang ke sekelilingnya dengan sisa kesadarannya. Pasukan kebanggaannya telah dilumpuhkan total. Pahlawan Solaria yang melawannya berada di tingkat kekuatan yang bahkan tak sanggup ia bayangkan dalam mimpi terburuknya.

"M-Mundur..." rintih Garen dengan suara serak, mengangkat tangannya yang gemetar. "Tarik mundur seluruh pasukan... Kita bukan tandingan mereka!"

Sinyal mundur pun ditiupkan secara panik. Prajurit Granvalia yang masih bisa bergerak langsung membopong Garen dan sisa-sisa pasukan mereka, berlari terbirit-birit meninggalkan perbatasan Kerajaan Solaria menuju arah barat dengan kekalahan yang jauh lebih memalukan dari sebelumnya.

Kayy menyarungkan kembali pedang sucinya, berbalik menatap ke arah balkon istana tempat Alan berdiri, lalu membungkuk penuh hormat bersama Zero dan Akami.

Alan di atas balkon membalasnya dengan lambai tangan santai. "Yah... setidaknya teh pagi hari ini tetap terasa enak."

1
𝓐. 𝓗.𝓸
terima kasih Babnya. saya suka dengan ceritanya dengan membangun kerajaan hingga mencipta pasukan lalu dengan membangun sebuah kota, cukup memuaskan di baca. 😁😊
Prayy: terimakasih atas dukungan nya saya akan menulis semenarik mungkin untuk pembaca agar terhibur mohon selalu di tunggu bab selanjutnya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!