Di kampus, Reyhan Arkananta Wijaya adalah dosen muda yang dikenal killer karena sikap tegas dan tanpa pandang bulu yang dimilikinya. Satu kesalahan kecil saja cukup untuk membuat nilai mahasiswa melayang. Di mata Nadhira, mahasiswi semester enam yang ceroboh dan ahli panik, Pak Reyhan adalah ancaman terbesar bagi kelangsungan hidup akademisnya.
Namun, hidup Nadhira mendadak jungkir balik ketika perjodohan rahasia antar keluarga memaksanya menikah dengan sang dosen killer.
Kini, Nadhira harus menjalani dua kehidupan yang saling bertolak belakang, berpura-pura tidak saling kenal dan saling membenci di area kampus, lalu pulang ke rumah yang sama sebagai sepasang suami istri. Di tengah kejaran tenggat tugas, ancaman nilai E, gosip kampus yang memanas, dan rasa cemburu diam-diam sang dosen galak, mampukah rahasia besar mereka bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepedulian Dalam Diam
Dua bus pariwisata berukuran besar berwarna perak telah terparkir rapi di halaman utama Gedung FSD sejak pukul enam pagi. Udara pagi yang dingin dan embun tipis tak menyurutkan keriuhan puluhan mahasiswa yang sibuk memasukkan koper ke dalam bagasi bus.
Suara gelak tawa, obrolan heboh tentang destinasi kuliner, dan musik yang terputar dari pengeras suara portabel menyelimuti atmosfer keberangkatan menuju Bandung.
Nadhira melangkah di antara kerumunan bersama Kania. Sesuai janjinya semalam pada Reyhan, gadis itu mengenakan pakaian santai namun tertutup, kaus putih polos yang dilapisi jaket rajut tebal berwarna cokelat karamel, celana jins longgar, dan sepatu kets putih.
"Nad, denger-denger perjalanan ke Bandung lewat tol bisa empat sampai lima jam kalau gak macet," ujar Kania heboh seraya menyeret kopernya mendekati bagasi Bus dua.
"Lo bawa camilan banyak kan? Gue cuma sempat beli roti dua biji tadi di minimarket depan."
"Aman, gue bawa keripik sama cokelat di dalam tas punggung," jawab Nadhira terkekeh pelan.
Saat Nadhira hendak mengangkat kopernya sendiri untuk diserahkan kepada kernet bus, sebuah langkah tegap mendekat dari arah belakang.
Reyhan melintas dalam balutan mantel kasual berwarna abu-abu gelap, kemeja putih tanpa dasi, dan kacamata berbingkai tipis yang membingkai wajah kaku serta dinginnya. Pria itu membawa papan klip presensi mahasiswa di tangan kirinya.
Ketika melewati posisi Nadhira, Reyhan sama sekali tidak menoleh atau menyapa. Sesuai kesepakatan rahasia mereka, Reyhan bersikap sangat profesional, berjarak, dan dingin, seolah-olah Nadhira hanyalah satu dari puluhan mahasiswi biasa di tempat itu.
Namun, saat kernet bus sibuk menata tas lain dan Nadhira bersiap mengangkat koper mediumnya yang cukup berat ke dalam kompartemen bawah, sebuah tangan berurat tegas dengan jari-jari panjang mendadak meraih gagang koper tersebut.
Tanpa menghentikan langkahnya, tanpa sepatah kata pun, dan bahkan tanpa menatap wajah Nadhira, Reyhan mengangkat koper berat milik istrinya itu dengan satu gerakan dorongan ringan dengan begitu mudah, meluncurkannya tepat ke dalam sela bagasi bus yang aman.
Nadhira tersentak pelan. Mata bulatnya membelalak menatap punggung tegap Reyhan yang terus berjalan masuk ke dalam bus untuk memeriksa barisan kursi depan.
"Wah, Pak Reyhan baik banget ya, padahal mukanya lempeng gitu pas ngebantu ngedorong koper lo," komentar Kania polos yang berdiri di samping Nadhira, sama sekali tidak menyadari arti gerakan spontan sang dosen.
Nadhira berdehem canggung, buru-buru menutupi rasa terkejutnya. "A-ah... iya, namanya juga dosen pendamping, Kan. Biar cepet kelar kali," cicit Nadhira, sementara dadanya mendadak berdesir aneh.
Pukul enam lewat lima belas menit, Bus dua resmi melaju membelah jalanan kota menuju tol luar kota. Suasana di dalam bus sangat ramai oleh celoteh mahasiswa di barisan tengah dan belakang. Kania duduk di dekat jendela di baris kelima, sementara Nadhira duduk di sampingnya di sisi lorong.
Di barisan paling depan, Reyhan duduk seorang diri di kursi khusus pendamping. Pria tegap itu fokus menatap layar laptopnya, atau sesekali membaca dokumen kurasi perjalanan.
Wajahnya yang datar dan auranya yang intimidatif berhasil membuat anak-anak yang duduk di tiga baris terdepan tidak berani membuat kegaduhan berlebih.
Satu jam perjalanan berlalu, AC bus pariwisata mulai terasa bertiup terlalu dingin. Hawa sejuk yang berembus langsung dari atas mulai membuat beberapa mahasiswa merapatkan jaket mereka.
Nadhira, yang memiliki ketahanan rendah terhadap udara dingin, mulai bersedekap rapat. Tangannya yang mengusap lengan jaket rajutnya mulai terasa dingin bagai es. Bibirnya yang biasanya mengoceh kini terkatung kaku, dan beberapa kali ia bersin pelan.
"Aduh, dingin banget ya, Nad? AC di atas kepala kita kayaknya gak bisa dirapetin klipnya," gumam Kania yang sudah membungkus tubuhnya dengan syal tebal.
"I-iya, dingin banget..." bisik Nadhira pelan. Ia mencoba merapatkan jaket rajutnya, namun rasa menggigil di tengkuknya tak kunjung berkurang.
Karena tidak ingin membuat heboh, Nadhira hanya menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi, memejamkan mata sambil berusaha menahan rasa tidak nyaman.
Di barisan depan, tanpa ada satu orang pun yang menyadari, mata Reyhan yang tadinya menatap layar laptop melirik ke arah kaca spion tengah bus yang memantulkan lorong barisan kursi belakang.
Dari pantulan kaca kecil itu, Reyhan mengamati gerak-gerik istrinya. Ia melihat bagaimana Nadhira bersedekap kaku, bibirnya yang memucat halus, dan caranya bersin berulang kali.
Reyhan mengembuskan napas pelan melalui hidungnya. Jemari tangannya yang mengetik di atas papan ketik laptop terhenti.
Pria itu menutup laptopnya, menyimpannya ke dalam tas kerja, lalu berdiri dari kursinya. Langkah kakinya menyusuri lorong bus, membuat suasana riuh mahasiswa di sekitarnya mendadak mereda secara refleks karena segan.
Reyhan berjalan lurus ke arah bagian tengah bus, seolah-olah sedang menginspeksi kenyamanan para penumpang. Saat tiba di samping barisan kursi Nadhira dan Kania, Reyhan menghentikan langkahnya.
Pria itu menjangkau kisi-kisi AC di langit-langit atas kepala Nadhira. Dengan gerakan jemarinya yang cekatan, Reyhan memutar dan menutup katup saluran udara dingin tersebut hingga aliran angin es tidak lagi menembak langsung ke arah tubuh Nadhira.
Tak berhenti di situ, Reyhan membuka tas bahu hitam yang dibawanya. Ia mengeluarkan sebuah selimut travel tebal berbahan fleece berwarna abu-abu tua, selimut pribadi milik Reyhan yang selalu ia bawa saat perjalanan jauh.
Tanpa mengumbar kata-kata manis, dengan raut wajah yang tetap sangat dingin dan tanpa ekspresi, Reyhan meletakkan selimut tebal itu begitu saja di atas pangkuan Nadhira.
Kania yang berada di samping jendela langsung melotot kaget melihat aksi dosen paling ditakuti di FSD tersebut. Nadhira pun mendongak kaget, matanya bertabrakan langsung dengan mata cokelat gelap milik suaminya.
"Fasilitas pendingin udara di area ini mengalami gangguan aliran," ujar Reyhan dengan intonasi suara yang begitu datar.
Sebuah alasan yang disusun sempurna di depan seluruh mahasiswa yang sedang memperhatikan. "Sebagai koordinator, kamu tidak boleh sakit selama kegiatan pengayaan di Bandung. Gunakan selimut itu."
Sebelum Nadhira sempat membalas atau mengucapkan terima kasih, Reyhan sudah berbalik arah, melangkah tegap kembali ke kursinya di barisan depan tanpa menoleh lagi sedikit pun.
Kania sampai memegang lengan Nadhira dengan heboh setelah Reyhan menjauh. "Gila, Nad! Pak Reyhan itu ternyata perhatian banget ya sama mahasiswa, padahal mukanya tadi lempeng banget kayak papan gilas!"
Nadhira menarik selimut abu-abu itu hingga menutupi dadanya. Aroma harum maskulin yang sangat familiar, aroma sabun dan parfum yang biasa dihirup Nadhira setiap pagi di rumah mereka seketika merayap lembut menenangkan indra penciumannya. Rasa dingin yang merajam tubuhnya perlahan berubah menjadi kehangatan.
Nadhira menggigit bibir bawahnya, menunduk dalam-dalam untuk menyembunyikan rona merah yang mendadak membakar kedua pipinya.
"Dasar Pak Dosen kaku," batin Nadhira dengan senyuman kecil yang tak mampu ia tahan di balik lipatan selimut.
Tiga jam kemudian, bus berhenti di area peristirahatan untuk memberi kesempatan para penumpang beristirahat dan makan siang. Mahasiswa berhamburan keluar mencari toilet dan kedai makanan.
Nadhira dan Kania memilih duduk di salah satu bangku kayu di bawah rindangnya pohon di dekat kedai kopi.
Karena perutnya agak mual akibat perjalanan jauh, Nadhira hanya meminum air hangat dan enggan menyentuh makanan berat.
"Nad, gue ke toilet sebentar ya? Lu tunggu sini jangan ke mana-mana," pamit Kania seraya berlari menuju bangunan utama area peristirahatan.
"Sip, Kan," sahut Nadhira menyandarkan punggungnya di bangku kayu.
Sepeninggal Kania, area di sekitar bangku kayu itu menjadi agak sepi. Nadhira memejamkan matanya sejenak, menikmati angin kencang yang berembus pelan.
Puk.
Sebuah kantong plastik putih berlogo minimarket mendadak diletakkan di atas meja kayu persis di depan Nadhira.
Nadhira membuka matanya kaget.
Reyhan berdiri di samping meja, berpura-pura sedang memeriksa jam tangan di pergelangan tangannya. Pria itu sama sekali tidak menatap Nadhira, melainkan melempar pandangannya lurus ke arah lorong parkiran bus yang ramai.
"Pak Reyhan?" cicit Nadhira pelan, matanya liar melirik ke sekeliling, memastikan tidak ada teman-temannya yang melihat interaksi mereka.
"Di dalam kantong ada minyak kayu putih, roti lembut rasa cokelat, dan dua botol teh hangat bersuhu sedang," sahut Reyhan dengan nada suara rendah yang hanya bisa didengar oleh Nadhira. "Lambung kamu tidak boleh kosong saat perjalanan tol lanjutan. Habiskan."
Nadhira mengintip isi kantong plastik itu. Semua benda di dalamnya adalah barang-barang yang sangat ia butuhkan untuk meredakan rasa mualnya saat ini. Pria kaku ini memperhatikan detail kondisi fisiknya jauh lebih baik ketimbang dirinya sendiri.
"Pak..." Nadhira mendongak, menatap profil samping wajah suaminya yang tampak begitu tampan di bawah bayangan pohon. "Makasih ya."
Garis rahang Reyhan yang keras tampak sedikit melunak. Tanpa mengubah posisi berdirinya yang tetap tegap dan tampak berjarak bagai dosen yang sedang memantau mahasiswanya, Reyhan merendahkan suaranya satu tingkat lebih dalam.
"Tetap berada di dekat Kania. Jangan berjalan ke area parkir belakang sendirian," pesan Reyhan protektif namun sangat tenang. "Dan selimut di bus tadi... tidak perlu dikembalikan sekarang. Pakai sampai kita tiba di hotel nanti malam."
Nadhira tersenyum manis, sebuah senyuman tulus yang kali ini tidak disertai candaan konyolnya. "Iya, Pak Dosen. Saya paham."
Reyhan mengangguk tipis. Pria itu mempercepat langkahnya, berjalan pergi meninggalkan Nadhira. Nadhira merengkuh kantong plastik berisi teh hangat dan minyak kayu putih itu ke dalam pelukannya.
...Bersambung......