NovelToon NovelToon
SEPERTIGA (MANUSIA, DEWA DAN SILUMAN)

SEPERTIGA (MANUSIA, DEWA DAN SILUMAN)

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:419
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Handini

Lu Chen adalah seorang pemuda berusia dua puluhan yang hidup terasing di pinggiran Desa Qingfu. Di balik penampilannya yang sederhana sebagai peracik obat herbal yang pendiam, ia menyimpan sebuah rahasia besar dan mengerikan: garis keturunan gila yang menggabungkan tiga unsur sekaligus, yaitu darah manusia yang fana, cahaya dewa yang suci, dan kutukan siluman kegelapan.

Secara fisik, Lu Chen memiliki daya tarik yang kuat dengan garis wajah tegas, namun tubuhnya menyimpan ketidakseimbangan yang berbahaya. Matanya memiliki dua warna yang berbeda; mata sebelah kanan memancarkan cahaya keemasan yang hangat dan tenang, melambangkan sisa-sisa kekuatan dewanya, sementara mata sebelah kiri sering kali berubah menjadi ungu legam yang dingin saat emosinya tak terkendali. Di leher hingga sebagian wajahnya juga tersembunyi rajah alami berupa sulur-sulur hitam yang menandakan segel kutukan siluman purba.

Dari segi sifat dan kepribadian, Lu Chen adalah sosok yang sabar, lembut, dan sangat peduli

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: GUA LATIHAN DAN 3 BATU JIWA

Cahaya keemasan dari luar gua menembus celah batu. Ribuan prajurit Istana Sembilan Langit sudah mengepung kawasan gunung. Di dalam ruang yang remang-remang, hanya terdengar suara napas Chen Wuying yang berat bersahut-sahutan dengan tetesan air. Tangan Yue Lingxi masih terulur lurus di depannya—putih, dingin, dan tenang. Wuying menatap tangan itu lama. Selama tujuh belas tahun hidupnya, ia hanya terbiasa diburu, dihina, dan disembunyikan. Ini adalah kali pertama ada seseorang yang menawarkan tangan alih-alih mengacungkan golok.

Keputusan di Ujung Tanduk

"Keputusanmu?" tanya Yue Lingxi datar.

Dari luar gua, suara bentakan prajurit menggelegar. "YUE LINGXI! KAMI BERI 10 HITUNGAN! JIKA KAU TIDAK MENYERAHKAN ANOMALI ITU, KAMI AKAN MENSAPU BERSIH GUNUNG INI!"

"Tiga... dua..."

Wuying mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga darah hitam kembali menetes dari sudut bibirnya.

"Satu."

Ia meraih tangan sang Dewi. "AKU IKUT."

BOOM!

Kabut putih tebal meledak dari tubuh Yue Lingxi, menutupi seluruh ruangan gua. Ketika cahaya keemasan dari para prajurit berhasil merangsek masuk, gua tersebut sudah kosong, menyisakan bekas cakar di lantai batu.

Batu Jiwa Tiga Alam

Satu jam kemudian, di dalam gua yang jauh lebih dalam dan terisolasi, Yue Lingxi menjatuhkan Wuying ke lantai batu. "Kau bodoh. Kenapa tidak langsung pingsan saja di desa tadi?"

Wuying terbatuk mengeluarkan darah. "Kalau aku pingsan... siapa yang memegang kendali?"

Yue Lingxi terdiam sejenak. Ia lalu mengeluarkan tiga buah batu giok dari balik lengan bajunya. Batu pertama berwarna merah hangat seperti darah, batu kedua berwarna biru dingin seperti es langit, dan batu ketiga berwarna hitam legam yang berdenyut pelan bagaikan jantung.

"Ini adalah Batu Jiwa Tiga Alam," jelas Yue Lingxi. "Dibuat dari pecahan hukum langit, jurang kegelapan, dan dunia fana."

Ia menempelkan Batu Merah ke telapak tangan kanan Wuying. Seketika kehangatan menjalar ke dadanya. "Ini sisi manusiamu—belas kasih, rasa sakit, dan tekad. Jika ini padam, kau hanya akan menjadi binatang."

Berikutnya, Batu Biru ditempelkan ke tangan kiri. Dingin yang ekstrem menusuk sampai ke tulang, membuat napas Wuying membeku. "Ini sisi dewamu—hukum, potensi, dan kesombongan. Jika ini liar, kau akan menganggap semua makhluk hidup tak lebih dari semut."

Terakhir, Batu Hitam ditekan tepat di atas rajah retak di dada Wuying.

"ARGHHHHH!!!"

Rasa sakitnya ratusan kali lipat dibanding malam sebelumnya. Penglihatan Wuying langsung kabur, dan ia melihat tiga bayangan berkelebat di dalam kepalanya: seorang anak kecil yang menangis karena dicap monster, seorang pria berjubah emas di atas awan yang menuntut kepatuhan, serta sesosok monster bertanduk yang tertawa gila menuntut kehancuran.

"Bertahan!" teriak suara Yue Lingxi dari kejauhan. "Seimbangkan!"

Wuying menggigit lidahnya sendiri hingga berdarah demi mempertahankan kesadaran. Ia memadatkan seluruh rasa sakit itu ke dalam satu titik.

KRAKK!

Ketiga batu giok itu retak, namun tidak hancur. Wuying langsung ambruk dan kehilangan kesadaran.

Murid Tanpa Nama

Tiga jam kemudian, Wuying terbangun. Yue Lingxi duduk di dekat mulut gua, membelakanginya dengan bahu yang tampak lebih rileks.

"Kau lulus ujian pertama," kata Yue Lingxi tanpa menoleh.

"Jadi aku ini bom waktu?" tanya Wuying lirih.

"Bukan. Kau adalah jembatan," jawab Yue Lingxi sambil berbalik dan melemparkan bungkusan berisi pakaian hitam polos serta botol obat. "Mulai sekarang, lupakan nama Chen Wuying. Namamu adalah Mo Wuying—muridku yang terluka dalam perjalanan."

Sebelum mereka sempat berbicara lebih jauh, tanah kembali bergetar hebat. Seorang jenderal berbaju emas dengan lambang matahari besar di dadanya melayang di depan gua bersama lima ratus prajurit.

"Yue Lingxi! Kau berkhianat!" teriak Jenderal Bai Tian.

Yue Lingxi berdiri dengan anggun, jubah putihnya berkibar tanpa angin. Ia melirik Wuying sekilas. "Bisa lari?"

Wuying mengangguk mantap. "Bisa, Guru."

"Bagus. Jangan lihat ke belakang." Yue Lingxi mengangkat tangannya, membuat seluruh mulut gua membeku seketika. "Dia bukan anomali. Dia adalah muridku. Dan siapa pun yang menyentuhnya... akan berhadapan denganku."

Ratusan panah cahaya melesat. Yue Lingxi mengibaskan lengannya, mengubah semua panah itu menjadi kristal es. "LARI!"

Mereka berdua melesat menembus kegelapan hutan di bawah terangnya bulan purnama, mengawali pelarian panjang yang mempertaruhkan nyawa di bawah bayang-bayang Istana Sembilan Langit.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!