“Jadi ini wanita yang akan menjadi istri ku?” Suara nya rendah penuh cemooh. “Ayah benar benar berhasil menemukan wanita yang paling membosankan untuk ku”
Dreven Orsley Dastan, pewaris keluarga Dastan, dikenal sebagai pria kasar, pengacau, sekaligus cassanova yang tak pernah serius pada wanita mana pun. Namun, sebuah kecelakaan membuatnya harus duduk di kursi roda—tanpa sedikit pun mengubah sifat liarnya.
Sampai akhirnya, sang ayah menjodohkannya dengan Elnara Sevana, gadis dingin dan cerdik yang terkenal mampu membungkam siapa pun dengan tatapan dan kata-katanya. Ia bukan wanita yang mudah dipermainkan. Setiap serangan lawan selalu dipatahkan sebelum sempat menjadi ancaman.
Elara diminta untuk melahirkan pewaris untuk keluarga Dastan , dan sebagai gantinya Saham perusahaan.
Elara terkekeh sinis, "Sepertinya tidak adil. Bagaimana jika kesepakatannya begini. Aku rubah putramu menjadi anak anjing penurut dan hadiahnya adalah perceraian untukku. Ini terdengar menguntungkan bagiku"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
"Silahkan tuang teh-nya untuk suami anda, Nyonya." Kata pelayan itu dengan lembut.
Elara menatap cangkir teh di depannya dengan ekspresi datar, lalu dengan elegan mengambilnya.
Dengan gerakan anggun, dia menyerahkan teh itu kepada Dreven, sesuai dengan adat yang disebutkan sebelumnya. "Minumlah, suamiku." Ucapnya dengan nada yang terdengar manis, tetapi matanya tetap dingin.
Dreven menerima cangkir itu dengan senyum miring dari kursi rodanya. "Terima kasih, istriku yang tercinta." Nada suaranya penuh dengan ejekan halus, tetapi dia tetap membawa cangkir itu ke bibirnya dan meneguknya perlahan.
Para pelayan yang mengawasi dari samping tersenyum puas, berpikir bahwa pasangan ini benar-benar harmonis.
Setelah meneguk tehnya, Dreven menyerahkan kembali cangkir itu kepada Elara. "Sekarang giliranmu."
Elara mengambil cangkir yang sama tanpa ragu, lalu menyesapnya dengan tenang. Bibirnya menyentuh bekas bibir Dreven di cangkir itu, namun dia tidak menunjukkan reaksi apa pun.
Raviel yang duduk di kejauhan mengamati mereka dengan tatapan tajam. Senyum samar terbentuk di bibirnya, jelas puas melihat keduanya mengikuti tradisi dengan baik.
Namun, di balik interaksi itu, baik Elara maupun Dreven tahu bahwa semua ini hanya sandiwara.
Saat cangkir itu diletakkan kembali ke atas meja, Dreven berbisik pelan, cukup dekat hingga hanya Elara yang bisa mendengarnya. "Kau memainkan peranmu dengan baik."
Elara hanya diam dan tak membalas. Matanya tetap lurus ke depan, tidak memberikan kepuasan sedikit pun pada Dreven.
"Hari ini Elara harus pulang ke rumah, memberikan salam untuk kedua orang tuanya dan Dreven harus menyapa mertuanya di hari pertama menikah." Kata Raviel dengan santai.
Elara mengangkat alis tipisnya, lalu menatap Raviel dengan ekspresi datar. "Pulang ke rumah?"
Dreven yang duduk di sebelahnya mendengus pelan, jelas tidak terlalu tertarik dengan ide itu. "Kedua orang tua? Maksudnya, kita harus kembali ke rumah keluarga Roselyn?"
Raviel mengangguk santai. "Itu sudah tradisi, Dreven. Lagipula, mereka telah 'membesarkan' istrimu selama sepuluh tahun. Setidaknya tunjukkan sedikit rasa hormat."
Elara menahan tawa sinisnya. Rasa hormat? Keluarga Roselyn tidak pernah benar-benar menganggapnya sebagai bagian dari keluarga. Mereka hanya menampungnya karena ada keuntungan di baliknya.
Namun, dia tidak menunjukkan pikirannya dan hanya mengangguk pelan.
"Baiklah, aku akan pulang ke rumah keluarga Roselyn."
Dreven meliriknya, lalu mendesah seolah malas. "Kalau begitu, cepat kita selesaikan ini."
Raviel tersenyum puas. "Bagus. Mobil sudah disiapkan. Kalian bisa berangkat sekarang."
Elara berdiri dengan anggun, menata gaunnya, lalu berjalan lebih dulu keluar ruangan. Dreven menggerakkan kursi roda elektroniknya mengikuti di belakangnya, matanya tertuju pada punggung Elara yang tegak dan percaya diri.
Hari ini, dia akan kembali ke tempat yang dulu disebutnya 'rumah'. Tapi kali ini, dia kembali sebagai Nyonya Dastan.
---
"Hari ini Elara pulang, Veyla jaga raut wajahmu. Bagaimana pun kau tak boleh menunjukkan wajah kusutmu di depan tuan muda Dreven," kata Rian pada putranya.
Lauren juga tak sabar menyambut keluarga Dastan itu ke rumahnya, "Kira-kira apa yang mereka bawa ya untuk hadiah?" katanya dengan penasaran.
Veyla yang duduk di sofa hanya mengepalkan tangannya di atas pahanya, berusaha menahan ekspresi kesal yang hampir terbaca jelas di wajahnya. Sejak kemarin, dia tidak bisa berhenti memikirkan Elara.
"Aku tidak peduli dengan hadiah mereka," ucapnya dingin.
Rian menatap putranya dengan tajam. "Jaga sikapmu, Veyla. Keluarga Dastan bukan orang yang bisa kita remehkan. Elara sekarang adalah bagian dari mereka, jangan membuat masalah."
Lauren tersenyum cerah, matanya berbinar penuh antusias. "Kuharap mereka membawa perhiasan atau sesuatu yang benar-benar berharga. Lagipula, Elara cukup beruntung bisa menikah dengan keluarga sehebat Dastan. Setidaknya, dia harus berterima kasih karena kita telah merawatnya selama ini."
Suara klakson terdengar dari luar rumah.
Rian segera berdiri, membenarkan jasnya, lalu tersenyum lebar. "Mereka sudah datang. Ayo, sambut mereka dengan baik."
Lauren dengan semangat berjalan ke pintu, sementara Veyla masih duduk di tempatnya, berusaha menenangkan perasaan tak menyenangkan yang terus mengganggunya.
Di luar, sebuah mobil hitam mewah berhenti di depan rumah keluarga Roselyn. Pintu terbuka, dan dari dalam, muncul sosok Elara dengan anggun, diikuti oleh Dreven yang menggerakkan kursi roda elektroniknya dengan mulus di sampingnya.
Veyla yang melihat itu langsung berlari menghampiri Elara tanpa memikirkan Dreven yang berada di depannya. Dia memeluk wanita itu dengan erat, sangat erat seolah tak ingin melepaskannya.
"Maaf aku tak bisa menyelamatkanmu dari rencana orang tuaku."
Elara terdiam, merasakan pelukan Veyla yang begitu erat. Namun, ekspresinya tetap datar tanpa emosi. Dia tidak membalas pelukan itu, tetapi juga tidak langsung mendorongnya.
Dreven, yang sejak tadi diam di kursi rodanya, menaikkan sebelah alisnya dengan ekspresi tertarik. "Kau memeluk istri orang lain tepat di depan suaminya. Berani sekali kau." Suaranya terdengar ringan, tetapi ada ketegangan halus di dalamnya.
Veyla mengabaikannya, masih menahan Elara seolah takut wanita itu akan menghilang. "Elara, katakan padaku kalau kau tidak menginginkannya. Aku bisa melakukan sesuatu..."
Elara akhirnya menghela napas, lalu perlahan mendorong tubuh Veyla menjauh. "Sudah terlambat, Veyla." Suaranya tenang, tapi mengandung ketegasan. "Aku sudah menikah."
Veyla menatapnya dengan frustasi. "Tapi—"
"Aku tidak butuh diselamatkan." Potong Elara, kali ini dengan tatapan tajam yang membuat Veyla terdiam.
Dreven tertawa kecil, tangannya bersandar di kursi roda. "Dengar itu? Pengantin baruku tak butuh pahlawan."
Veyla mengepalkan tangannya, dadanya naik turun menahan emosi.
Di belakang mereka, Rian dan Lauren mendekat dengan senyum diplomatis. "Aduh, Veyla, jangan bertindak kekanak-kanakan. Ayo, kita masuk. Keluarga Dastan tentu sudah membawa hadiah yang luar biasa untuk kita, bukan?" kata Lauren sambil melirik Dreven dengan harapan.
Elara melirik sekilas ke arah keluarga Roselyn, lalu kembali menatap Veyla. "Kita bukan lagi bagian dari keluarga yang sama. Jadi jangan bertindak seolah kau masih bisa mencampuri hidupku."
Dengan itu, dia berjalan melewati Veyla tanpa menoleh lagi, diikuti oleh Dreven yang menggerakkan kursi rodanya dengan senyum puas melihat drama itu.
Veyla yang mendengar itu mengepalkan tangannya, hatinya terasa nyeri saat Elara mengatakan itu.
Di dalam, Lauren tampak terpukau dengan hadiah yang diberikan oleh keluarga Dastan untuknya.
Kotak-kotak hadiah yang dibawa oleh para pelayan Dastan berisi kain sutra mahal, perhiasan berkilauan, dan satu set teh porselen dari kerajaan timur yang langka. Lauren menatap barang-barang itu dengan mata berbinar, tangannya dengan lembut membelai perhiasan di dalam kotak beludru.
"Oh, ini luar biasa..." gumamnya, suaranya penuh kekaguman.
Rian tersenyum puas, sementara Veyla masih berdiri diam di sudut ruangan, ekspresinya tetap tegang sejak pertemuan tadi.
Sementara itu, Elara duduk dengan tenang di samping Dreven, sama sekali tidak tertarik dengan semua hadiah itu. Dia memperhatikan ekspresi keluarganya dengan pandangan kosong, menyadari betapa mudahnya mereka terpesona oleh kemewahan.
"Karena hadiah sudah diterima, ayo kita pulang," kata Dreven dengan datar, tangannya memutar kursi roda elektroniknya.
Elara mengangguk, dia juga tak ingin berlama-lama di sini.
"Kalian tidak ingin makan dulu?" Tanya Lauren saat melihat mereka akan pergi.
Dreven melirik Lauren dengan tatapan malas. "Tidak perlu. Kami punya makanan yang jauh lebih enak di rumah." Matanya melirik Elara sekilas, mengingat nasi goreng yang dia makan pagi itu.
Elara hanya diam, tetapi dalam hati dia setuju dengan Dreven. Berada di rumah ini lebih lama hanya akan membuatnya semakin muak.
Veyla yang sejak tadi menahan diri akhirnya bersuara, "Elara, kau bisa tinggal sedikit lebih lama, kan? Aku ingin bicara denganmu."
Elara menatap Veyla sebentar, lalu menghela napas pelan. Sebelum dia bisa menjawab, Dreven sudah menggerakkan kursi rodanya di antara mereka, menghalangi pandangan Veyla.
"Istriku tidak punya waktu untuk obrolan yang tidak perlu," katanya dengan nada dingin, matanya menatap Veyla dengan tatapan penuh peringatan.
Tatapan Veyla mengeras, tetapi dia tahu bahwa dalam situasi ini, dia tak bisa berbuat banyak.
"Kalau begitu, kami pergi," kata Dreven santai sebelum menggiring Elara keluar dari rumah keluarga Roselyn tanpa menoleh lagi.
Begitu mereka berada di dalam mobil, Elara duduk diam di samping Dreven. Keheningan menyelimuti mereka beberapa saat.
"Aku tidak suka caranya memelukmu," kata Dreven tiba-tiba, suaranya datar namun ada ketajaman di dalamnya.
Elara menoleh, menatap Dreven dengan alis terangkat. "Apa?"
"Kakak tirimu," lanjut Dreven, matanya menatap ke luar jendela. "Cara dia memelukmu. Aku tidak suka."
Elara terdiam sejenak, lalu tertawa kecil—tawa yang dingin dan tidak bersahabat. "Kau tidak suka? Sejak kapan kau peduli?"
Dreven menoleh, menatap Elara dengan tatapan tajam. "Aku mungkin tidak mencintaimu, Elara. Tapi kau masih istrimu. Dan tidak ada pria lain yang berhak menyentuhmu."
Elara mendengus, memalingkan wajahnya ke luar jendela. "Kau benar-benar pria yang aneh, Dreven. Pertama kau merendahkanku, lalu kau melindungiku. Kau tidak tahu apa yang kau inginkan."
Dreven tersenyum miring. "Mungkin aku memang tidak tahu. Tapi satu hal yang aku tahu—aku tidak suka melihat pria lain memelukmu."
"Kau cemburu?" tanya Elara dengan nada mencibir.
Dreven terdiam sejenak, lalu tertawa kecil. "Cemburu? Jangan bermimpi. Aku hanya tidak suka propertiku disentuh orang lain."
Elara mengeraskan rahangnya. "Aku bukan properti, Dreven."
"Aku tahu," jawabnya dengan nada ringan. "Kau lebih dari itu. Tapi untuk saat ini, kau adalah istriku. Dan itu sudah cukup."
Mobil melaju meninggalkan rumah keluarga Roselyn, membawa mereka kembali ke mansion Dastan. Elara menatap jalanan yang berlalu di luar jendela, pikirannya melayang pada Veyla dan tatapan sakit di matanya.
"Aku tidak bisa kembali," pikirnya. "Jalan itu sudah tertutup."
Dan di sampingnya, Dreven juga diam, memikirkan cara Veyla memeluk Elara—dan perasaan tidak nyaman yang masih menggelayut di dadanya.
"Apa yang terjadi padaku?" tanyanya dalam hati. "Kenapa aku peduli?"
Tapi jawabannya tidak datang. Yang ada hanyalah keheningan di antara mereka berdua, dan perasaan aneh yang mulai tumbuh di dalam dada Dreven—perasaan yang bahkan dia sendiri tidak bisa menjelaskannya.
Bersambung
karaktermu ini duduk di kursi roda loh. kurang-kurangi memakai kalimat yang merepresentasikan bahwa dia bisa berjalan dong. biar ga cacat logika./Frown/