NovelToon NovelToon
Kenapa Aku Dibedakan

Kenapa Aku Dibedakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Wanita Karir
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: nerissa ningrum

**"Bukankah setiap anak berhak mendapatkan kasih sayang yang sama?"**

Lalu, mengapa aku harus tumbuh dengan luka karena terus-menerus diperlakukan berbeda?

Aku hanya ingin membuktikan bahwa aku mampu berdiri di atas kakiku sendiri. Namun setiap kali selangkah lebih dekat pada impianku, takdir seolah selalu menemukan cara untuk menjatuhkanku. Belum sempat luka itu mengering, petaka lain kembali datang merenggut harapan yang susah payah kubangun.

Saat akhirnya aku memilih berdamai dengan kenyataan dan memberanikan diri membuka hati, hidup kembali mempermainkanku. Semua yang telah kuraih runtuh seketika, memaksaku kembali berdiri di titik awal... seorang diri.

Aku lelah mempertanyakan alasan di balik semua ini.

Apakah karena aku berbeda, maka aku tidak pantas dicintai?

Apakah semua perjuangan, air mata, dan pengorbananku akan berakhir sia-sia?

Ataukah... kehadiranmu adalah jawaban yang selama ini dikirimkan Tuhan untuk mengubah takdirku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nerissa ningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hidup Harus Terus Berlanjut

Suaranya nyaris tak terdengar. Bayangan Haselyn yang menangis di taman terus berputar di kepalanya. Wajah gadis itu, tatapan penuh ketakutan, dan tangis yang tak berhenti menghantam kesadarannya tanpa ampun. Ia memejamkan mata rapat-rapat. Namun semakin ia mencoba melupakan, ingatan itu justru semakin jelas.

“Aku menghancurkan hidupnya…” Kalimat itu keluar dengan suara bergetar.

Kevin mengepalkan kedua tangannya begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Dadanya terasa sesak, seolah ada beban besar yang menghimpitnya. “Tidak…” Ia menggeleng keras. “Tidak…”

Arsya yang sejak tadi berdiri mematung akhirnya melangkah mendekat. Ia belum pernah melihat Kevin kehilangan kendali seperti ini. “Tuan…” Panggilannya terdengar hati-hati.

Kevin tidak menjawab.

 “Apa yang sebenarnya terjadi?” Arsya menatap atasannya dengan kebingungan dan kekhawatiran. Pria yang selama ini selalu tenang dan mampu mengendalikan situasi kini tampak seperti seseorang yang baru saja kehilangan seluruh hidupnya.

Kevin menundukkan kepala. Bahunya bergetar pelan. “Aku melakukan sesuatu yang tidak seharusnya terjadi.” Suaranya hancur. “Aku menyakiti seseorang.”

Ruangan itu kembali sunyi. Arsya tidak tahu apa yang dimaksud Kevin, tetapi dari ekspresi dan nada suaranya, ia menyadari satu hal. Kesalahan yang dilakukan atasannya bukanlah kesalahan kecil. Dan penyesalan yang sedang menghancurkan Kevin tidak akan mampu mengubah apa pun yang telah terjadi.

Kevin menoleh tajam ke arah Arsya. Matanya merah, napasnya tidak teratur, dan wajahnya dipenuhi kepanikan yang belum pernah terlihat sebelumnya. “Cari dia sampai ketemu!” Teriakannya menggema di ruang tamu.

Arsya refleks menegakkan tubuhnya. “Hah… i-iya, Tuan.” Jawabannya terdengar tergagap. Ia benar-benar terkejut melihat kondisi atasannya yang kehilangan kendali.

Kevin tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia berbalik dan melangkah menuju tangga dengan langkah yang berat. Setiap anak tangga yang ia naiki terasa seperti hukuman yang harus ia tanggung sendiri.

Tangannya perlahan membuka kancing kemeja yang masih dikenakannya. Kemeja itu ia genggam begitu erat hingga jemarinya memutih. Sesampainya di kamar, Kevin menutup pintu dengan keras.

Brak!

Suara pintu membentur dinding. Beberapa detik kemudian, teriakan keras memenuhi ruangan. “Aaahhh!”

Kevin menyapu apa pun yang ada di atas meja. Vas bunga, bingkai foto, buku, dan lampu meja jatuh berserakan di lantai. Suara benda pecah memenuhi kamar yang luas itu.

“Kenapa…” Ia memukul dinding dengan kepalan tangannya. “Kenapa aku melakukan itu?” Suaranya pecah.

Ingatan tentang malam di taman itu datang silih berganti, menghantam kesadarannya tanpa ampun. Wajah Haselyn yang ketakutan, tangisnya, dan penolakannya terus berputar di kepalanya seperti mimpi buruk yang tidak bisa dihentikan.

Kevin mencengkeram kepalanya sendiri. “Aku bajingan…” Air matanya jatuh tanpa bisa ia bendung.

Ia terduduk di lantai, dikelilingi pecahan barang-barang yang berserakan. Bahunya bergetar hebat, sementara rasa bersalah menggerogoti dirinya sedikit demi sedikit. “Maafkan aku, Haselyn…” Suaranya nyaris hanya berupa bisikan. “Maafkan aku…”

Tangis Kevin menggema di dalam kamar yang kedap suara itu. Namun ia tahu, sekeras apa pun ia menangis, penyesalan itu tidak akan mampu menghapus luka yang telah ia tinggalkan.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Kevin menyadari bahwa ada kesalahan yang konsekuensinya mungkin akan ia tanggung seumur hidup.

****

Haselyn tiba di kontrakannya saat dini hari. Langkahnya terasa berat, seolah setiap pijakan menguras sisa tenaganya. Begitu pintu kamar tertutup, ia langsung berjalan menuju kamar mandi tanpa menyalakan lampu.

Tubuhnya jatuh perlahan di bawah guyuran shower. Air dingin membasahi rambut, wajah, dan pakaiannya, tetapi tidak mampu meredakan gemuruh yang memenuhi dadanya.

“Aku kotor… aku kotor,” gumamnya lirih.

Tangannya mengusap bekas sentuhan di tubuhnya dengan gemetar, seolah ingin menghapus jejak yang terasa masih melekat di kulitnya.

“Hiks… hiks…” Tangisnya pecah. Isak itu semakin lama semakin keras, memenuhi ruang kamar mandi yang sempit dan sunyi.

“Kenapa aku harus mengalami semua ini?” Haselyn menggosok tubuhnya dengan kasar hingga kulitnya memerah. Ia menggosok lagi, dan lagi, seolah rasa sakit pada kulitnya bisa mengalahkan rasa hancur yang memenuhi hatinya.

“Kenapa dunia begitu kejam padaku?” Suaranya serak, tenggelam di antara derasnya air yang terus mengalir.

Baru saja ia meninggalkan rumah untuk membuktikan bahwa dirinya mampu hidup mandiri. Ia ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa ia bisa bertahan tanpa bergantung pada siapa pun. Namun kenyataan menghantamnya begitu keras.

Ia masih terlalu muda. Dan dunia tidak pernah mengajarkan belas kasihan.

“Kenapa harus aku?” Dadanya terasa sesak. Napasnya memburu, sementara pikirannya dipenuhi luka yang datang bertubi-tubi.

Sejak kecil, keluarganya tidak pernah benar-benar menganggapnya ada. Pengabaian menjadi hal yang akrab baginya. Kasih sayang yang seharusnya menjadi tempat pulang justru berubah menjadi ruang kosong yang terus mengikis hatinya sedikit demi sedikit.

Kini, ketika ia mencoba berdiri di atas kakinya sendiri, hidup kembali merenggut sesuatu yang paling berharga darinya.

Haselyn terus menangis di bawah guyuran air. Air itu membasuh wajahnya, tetapi tidak mampu menghapus luka yang menganga di dalam hatinya. Tidak mampu menghilangkan jejak yang telah ditinggalkan pria itu.

Perlahan, ia mengangkat wajahnya. Mata yang semula dipenuhi kepedihan kini berubah menjadi nyala amarah yang membakar. “Aku membencimu,” bisiknya dengan suara bergetar.

Kedua tangannya mengepal kuat. “Aku sangat membencimu.”

Ia bahkan tidak mengetahui siapa nama pria itu. Tidak tahu dari mana pria itu berasal. Namun satu hal yang ia tahu…

Pria itu telah menghancurkan hidupnya dalam satu malam.

*

*

*

Haselyn terbangun dengan tubuh yang terasa lemah. Seluruh persendiannya seakan remuk, sementara kepalanya berdenyut hebat. Suhu tubuhnya meningkat karena semalaman ia berdiam terlalu lama di bawah guyuran air dingin.

Dengan susah payah, ia menyingkirkan selimut yang membungkus tubuhnya. Setiap gerakan terasa menyakitkan. Kakinya gemetar saat menyentuh lantai, tetapi ia tetap memaksa diri berdiri.

Perlahan, Haselyn melangkah menuju dapur kecil untuk mengambil makanan dan persediaan obat yang masih tersisa di kontrakannya.

Kontrakan itu telah ia sewa sejak dua tahun lalu. Awalnya hanya digunakan sebagai tempat menyimpan barang-barang pesanan dan stok usahanya. Tempat itu sederhana, jauh dari kata nyaman, tetapi menjadi saksi bisu setiap perjuangan yang ia jalani seorang diri.

Haselyn sudah terbiasa merawat dirinya sendiri ketika sakit. Tidak ada yang menyiapkan makanan hangat untuknya. Tidak ada yang mengingatkan agar ia minum obat tepat waktu. Semua harus ia lakukan sendiri.

“Kamu harus tetap kuat, Haselyn.” Kalimat itu terus ia ulang dalam hati, seperti mantra yang menahan langkahnya agar tidak runtuh.

Ia ingin membuktikan kepada kedua orang tuanya bahwa dirinya mampu bertahan hidup tanpa bergantung pada siapa pun. Ia tidak ingin terus dipandang sebagai anak yang tidak berguna, anak yang manja, atau beban bagi keluarga.

Meski semalam hidupnya baru saja hancur. Meski semalam ia kehilangan sesuatu yang seharusnya tidak pernah direnggut darinya.

Rasa sakit itu seharusnya bisa ia ceritakan kepada seseorang. Setidaknya, agar beban di dadanya sedikit berkurang. Namun kepada siapa?

Ia hidup seorang diri. Tidak memiliki tempat untuk pulang, tidak memiliki bahu untuk bersandar, dan tidak memiliki siapa pun yang bisa ia percaya sepenuhnya.

Haselyn menelan obat dengan susah payah, lalu menyandarkan tubuhnya sejenak di dinding. Napasnya masih terasa berat.

Tatapannya beralih ke arah jam dinding. Pukul sebelas siang. “Aku harus ke toko sekarang,” gumamnya pelan. “Besok adalah hari pembukaan tokoku. Aku harus memastikan semuanya benar-benar siap.”

Ia memejamkan mata sejenak, mengumpulkan sisa tenaga yang masih dimilikinya. Tubuhnya nyaris ambruk, tetapi mimpinya sudah terlalu dekat untuk ia tinggalkan begitu saja. Bertahun-tahun kerja keras, pengorbanan, dan air mata telah ia pertaruhkan demi hari itu.

Apa pun yang terjadi, ia harus tetap berdiri. Meskipun hatinya telah hancur, Haselyn memilih untuk melangkah.

1
Novansyah
bagus kk tapi kalau bisa update jangan cuma 1 bab kk kalau bisa sekali update 4 sampai 5 bab
anggita
dukung like👍, iklan☝saja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!