Impian Puja untuk melangkah ke bangku kuliah dan menjadi seorang psikolog seketika sirna tepat di hari kelulusannya. Tanpa persetujuannya, Abi memintanya menikah dengan Ustadz Jeffry, putra dari sahabatnya, Kyai Ali. Tekanan kian berat ketika Umi Mina, ibu tirinya, terus mendesak Puja demi hadiah yang dijanjikan keluarga Kyai Ali, memanfaatkan kepatuhan mutlak Abi terhadap setiap kata-katanya.
Di sisi lain, Ustadz Jeffry memegang teguh prinsip berbakti dan memilih patuh pada keinginan orang tuanya untuk menyegerakan pernikahan. Ketika dua insan dengan rasa yang bertolak belakang ini disatukan—Puja yang terpaksa melipat mimpinya dan Jeffry yang pasrah pada titah sang ayah—pernikahan tersebut menjadi awal dari pergolakan batin dan kepasrahan atas takdir yang tak pernah Puja inginkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Riuh tepuk tangan dan gema riang di aula sekolah akhirnya menyurut, menyisakan euforia yang membuncah di dada setiap siswa.
Hari yang ditunggu-tunggu itu resmi tiba—hari kelulusan.
Di genggaman tangan Puja, selembar ijazah dan surat keterangan lulus tercetak rapi.
Angka-angka di sana sempurna, memvalidasi seluruh peluh, malam-malam tanpa tidur, dan perjuangan kerasnya selama tiga tahun terakhir.
Dengan langkah ringan dan senyum yang tak sanggup ia sembunyikan, Puja berjalan menuju kantin—tempat berlabuhnya seluruh tawa dan cerita mereka selama ini.
Di salah satu sudut meja panjang, enam sahabatnya sudah berkumpul. Yuana, Sulfi, Norma, Ratna, Dewi, dan Dwi melambaikan tangan heboh saat melihat sosoknya mendekat.
"Akhirnya kita lulus..." Ucap Sulfi mendesah lega, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sembari menatap langit-langit kantin seolah beban berat baru saja terangkat dari pundaknya.
Puja menganggukkan kepalanya pelan, ikut mendudukkan diri di tengah lingkaran hangat itu.
Antusiasme yang membakar dadanya tak sanggup lagi ia tahan.
"Aku sudah tidak sabar untuk ke Yogyakarta meneruskan kuliah psikologiku," bisiknya dengan mata berbinar, membayangkan gerbang universitas impian yang kini tinggal selangkah lagi berada di ruang genggamannya.
"Aduh, aduh, iya, iya! Percaya, Bu Dokter Psikologi!" seloroh Dwi dan Yuana hampir bersamaan, disambut tawa riuk dari Ratna dan Dewi yang langsung menggoda Puja dengan sebutan barunya.
Namun di tengah derak tawa yang memenuhi meja, Norma menatap Puja dengan binar cemas yang tak bisa disembunyikan.
Ia memajukan tubuhnya sedikit, memotong keriuhan sejenak.
"Tapi, apakah kamu sudah memberitahukan Abi dan Umi?" tanya Norma pelan, suaranya sarat akan kehati-hatian.
Pertanyaan sederhana itu seketika memangkas senyum di bibir Puja.
Binar bahagia di matanya meredup, berganti bayang-bayang samar yang selalu menghantuinya setiap kali nama kedua orang tuanya disebut.
Puja menggelengkan kepalanya perlahan, membiarkan keheningan tipis menyusup di antara mereka.
"Aku belum memberitahukan kepada mereka," ucap Puja lirih, menunduk menatap jemarinya yang saling bertaut erat di atas meja.
Melihat raut cemas yang tiba-tiba membayang di wajah sahabatnya, kelima gadis itu saling pandang sejenak.
Tanpa aba-aba, mereka merapat dan melingkarkan lengan, memeluk Puja bersamaan.
Pelukan hangat yang menyalurkan seluruh keberanian dan dukungan yang mereka punya.
"Bicarakan baik-baik ya, Ja. Mereka pasti bangga melihat nilaimu," bisik Norma lembut seraya mengusap punggung Puja, diangguki pelan oleh yang lainnya sebelum pelukan itu perlahan terurai.
Puja menganggukkan kepalanya, mencoba mengukir senyum tipis untuk menenangkan para sahabatnya.
Tanpa membuang waktu lagi, ia berpamitan dan melangkah menuju parkiran.
Roda sepeda onthelnya mulai berputar, membelah angin sore yang membawa aroma dedaunan basah.
Puja mengayuh pedalnya dengan irama teratur, melajukan sepeda tua itu menyusuri jalanan kampung menuju rumahnya yang sangat sederhana—sebuah bangunan berdinding papan dengan pekarangan kecil yang kini nampak tenang di bawah pendar mentari yang mulai meredup.
Sesampainya di rumah, Puja melangkah masuk dengan dada yang berdesir hangat oleh harapan.
Ia menemukan Abi tengah duduk di ruang tamu sederhana mereka.
Dengan senyum memudar penuh kehati-hatian namun terselip kebanggaan yang membuncah, Puja menyerahkan lembaran kertas di tangannya.
"Aku mendapatkan nilai sempurna, Abi," ujar Puja lembut, menunjukkan hasil kelulusannya.
Abi menerima kertas itu, menatap angka-angka di sana sejenak tanpa raut wajah yang berarti.
Puja memajukan langkahnya, mengumpulkan keberanian yang telah ia pupuk sepanjang jalan.
"Abi, aku meminta izin untuk kuliah di Yogyakarta. Aku ingin jadi psikolog," ucap Puja penuh harap, matanya berbinar membayangkan cita-cita yang sudah lama ia rangkai.
Namun, jawaban yang keluar dari bibir Abi seketika meruntuhkan seluruh pijakannya.
"Maaf, Nduk. Kamu harus menikah dengan Ustadz Jeffry."
Dunia Puja seolah berhenti berputar. Udara di sekitarnya terasa menyempit mendadak.
"Menikah?" bisik Puja, suaranya bergetar hebat.
"Abi, umurku masih delapan belas tahun. Dan seharusnya aku masih sekolah, bukan menikah. Tolong, Abi... izinkan putrimu ini sekolah."
Puja bersimpuh, mencoba membujuk dan memohon belas kasihan sang ayah.
Namun, wajah Abi tetap mengeras. Tidak ada ruang untuk negosiasi.
Di balik keputusan dingin itu, bayang-bayang Umi Mina memegang peranan penuh.
Ibu tirinya itu terus-menerus meracuni pikiran Abi sejak beberapa minggu terakhir, membujuknya dengan iming-iming imbalan materi dan hadiah berlimpah yang dijanjikan oleh keluarga Kyai Ali.
Bagi Umi Mina, Puja tak lebih dari jalan pintas menuju kemewahan yang selama ini ia idamkan.
Dan kepatuhan mutlak Abi terhadap setiap kata-kata Umi Mina membuat posisi Puja sama sekali tak berdaya.
"Lekas ganti pakaianmu! Mereka sebentar lagi akan sampai ke rumah kita," perintah Abi tanpa membantah, suaranya dingin menembus dada Puja.
"Aku nggak mau, Bi! Aku nggak mau!" jerit Puja, air matanya akhirnya pecah menembus pertahanan dirinya.
Sebelum Puja sempat berlari melarikan diri, Umi Mina melangkah maju dengan kasar.
Jemari wanita itu mencengkeram lengan Puja, menyeretnya masuk ke dalam kamar.
Tanpa rasa iba, Umi Mina memaksa melepaskan pakaian seragam Puja dan menggantinya dengan gaun panjang serta kerudung rapi.
Ia sama sekali tidak memedulikan tangisan dan isakan Puja yang memohon agar dikasihani.
"Hapus air matamu! Jangan bikin malu keluarga di depan Kyai Ali!" bentak Umi Mina seraya merapikan lipatan kain di bahu Puja secara kasar.
"Buat apa sekolah tinggi-tinggi? Pada akhirnya, perempuan itu kodratnya cuma di dapur, kasur, dan melayani suami!"
"Aku bukan Umi!" bentak Puja dengan suara bergetar yang dipenuhi rasa sakit dan kemarahan yang meluap.
Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Puja mendorong tubuh Umi Mina keluar dari kamarnya.
Langkah ibu tirinya itu terhuyung kaget sebelum Puja membanting pintu kayu kamarnya keras-keras dan memutar kunci dari dalam.
"Puja! Buka pintunya! Jangan bikin malu Abi!" gedor Umi Mina dari luar, namun Puja tak peduli.
Di dalam kamar yang sempit itu, tubuh Puja meluruh menghantam lantai kayu.
Tangisnya pecah tanpa henti. Ia meremas kain gaun yang dipaksakan padanya, menatap bayangan dirinya di cermin tua yang terasa begitu asing.
Semua mimpi yang ia rajut untuk berangkat ke Yogyakarta, nilai sempurna yang baru saja ia perjuangkan dengan peluh dan air mata, mendadak lebur tak bersisa.
Belum sempat napasnya teratur dari sedu sedan, suara deru mesin beberapa mobil terdengar memasuki pekarangan rumah mereka yang sederhana.
Suara derit rem yang berhenti tepat di depan teras seolah menjadi penanda runtuhnya seluruh harapan Puja.
Gedoran pintu dari Umi Mina seketika terhenti, berganti dengan langkah tergesa-gesa menuju pintu depan untuk menyambut tamu agung mereka.
Dari balik pintu kamar yang terkunci, Puja mendengar suara salam berdengung hangat dari luar rumah, disusul suara Abi yang menyambut mereka dengan penuh penghormatan.
Rombongan Kyai Ali telah tiba. Dan di antara derap langkah kaki di luar sana, sosok Ustadz Jeffry kini resmi menapakkan kaki, membawa takdir yang tak pernah Puja inginkan.