Di SMA Nusantara, Kirei dan Arka adalah dua kutub yang tak pernah bisa bersatu. Kirei—ketua OSIS yang disiplin—membenci Arka, bad boy bertato temporer yang langganan mendapat surat teguran guru. Bagi murid lain, permusuhan sengit mereka di koridor sekolah adalah pemandangan biasa.
Namun, di balik seragam abu-abu yang mereka kenakan, ada rahasia besar yang tersembunyi. Demi janji keluarga dan menyelamatkan bisnis, Kirei dan Arka terpaksa menandatangani surat pernikahan rahasia di usia muda. Kini, dua musuh abadi ini harus tinggal di bawah satu atap yang sama dengan aturan ketat: tak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu hubungan mereka. Permusuhan, rahasia, dan kepura-puraan baru saja dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Initial Be, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab13
Sisa hawa dingin dari hujan semalam masih mengendap di lorong utama lantai dua. Gesekan sepatu dengan keramik berdengung riuh sewaktu bel masuk berdering nyaring. Tapi buat Kirei, sekelilingnya mendadak terasa kosong.
Sentuhan jemari Arka di ruang OSIS semalam seolah masih meninggalkan bekas hangat yang enggan hilang. Kenyataan bahwa Bima—sosok yang selama ini sibuk berlagak jadi pahlawan—adalah otak di balik teror foto itu bikin dadanya serasa dihimpit batu tebal.
"Rei, lo melamun?"
Suara ramah dan teratur itu memutus benang pikirannya. Bima sudah berdiri di samping meja, menyodorkan map plastik berisi lembaran berkas. Wajahnya tenang, dipadu kacamata bingkai tipis yang memancarkan perhatian hangat—begitu rapi dan sempurna sampai-sampai Kirei merasa mual melihatnya.
"Gue udah merapikan berkas pengajuan izin ke dinas," kata Bima sambil mengulas senyum tipis. "Gimana reaksi Pak Hartawan kemarin? Dia enggak memojokkan lo terlalu berat, kan?"
Kirei meraup napas dalam-dalam, memoles raut mukanya agar tetap datar. Diam-diam tangannya mengepal di bawah meja, menahan getaran emosi yang mau meledak.
"Pak Hartawan cuma minta bukti," jawab Kirei dingin, mengunci matanya pada Bima. "Dua hari. Kalau pelakunya enggak ketemu, gue sama Arka dikenain skorsing."
Bima menaikkan posisi kacamatanya lalu menghela napas prihatin—gestur yang kelihatan begitu natural. "Ini benar-benar enggak adil buat lo, Rei. Siapa pun orangnya, dia sengaja mau nyeret lo jatuh bareng Arka. Menurut gue, lo enggak usah pusing memikirkan Arka. Fokus aja ke nama baik lo sendiri."
Sandiwara yang luar biasa, desis Kirei dalam hati.
Belum sempat Kirei membalas, derap langkah ugal-ugalan terdengar mendekat dari pintu. Arka melangkah masuk dengan gaya santainya. Jaket kelas disampirkan di bahu kanan, kancing atas kemejanya dibiarkan terbuka, dan senyum miring yang memancing emosi bertengger di wajahnya.
Arka melintas di antara meja Bima dan Kirei. Matanya melirik Bima dingin, lalu dengan sengaja menyenggol bahu cowok itu sampai sedikit terhuyung.
"Ups, sori. Tangga darurat agak remang semalam, jadi mata gue kaget kena terang," celoteh Arka cukup keras, sengaja memancing perhatian barisan depan.
Raut wajah Bima mendadak kaku. Kilat curiga berkelebat cepat sebelum ia buru-buru menguasai diri. "Jaga sikap lo, Arka. Ini kelas, bukan lapangan."
Arka tak membalas. Ia melompat duduk di bangku pojok belakang, menyandarkan kepala di atas lipatan tangan seolah mau tidur. Tapi Kirei tahu, dari sudut matanya, Arka sedang mengawasi tiap gerak-gerik Bima.
Pukul 14.00 WIB.
Sesuai rencana rahasia yang disusun di rumah tadi pagi, Kirei mengeksekusi umpan pertamanya.
Saat kelas mulai sepi pascabel pulang, Kirei menghampiri meja Bima. Ia sengaja bertingkah panik sambil mengaduk-aduk tasnya.
"Bim, kunci duplikat pintu samping di ruang OSIS... lo simpan di mana?" tanya Kirei dengan nada cemas buatan.
Bima mendongak dari ponselnya, jemarinya sempat membeku sekilas. "Kunci duplikat? Ada di laci meja gue, terkunci. Kenapa, Rei?"
"Gue mau ambil berkas di ruang arsip lewat pintu samping, tapi kuncinya enggak ada di laci," umpan Kirei perlahan. "Gue takut kuncinya hilang atau... diambil sama orang yang nempel foto kemarin."
Mata Bima berkilat. Ia mendadak berdiri. "Enggak mungkin hilang. Gue selalu kunci lacinya. Ayo kita cek ke ruang OSIS."
Mereka melangkah menyusuri lorong yang mulai lengang. Kirei memimpin di depan, sementara Bima mengintil rapat di belakang. Kirei bisa merasakan aura tegang memancar dari cowok itu. Bima panik—ia sadar ada yang janggal karena kunci yang ia kembalikan diam-diam semalam justru memicu kecurigaan.
Begitu pintu ruang OSIS terdorong, Bima bergegas menuju mejanya. Tangannya merogoh saku, mengeluarkan kunci kecil, lalu memutar lubang laci bawah.
Kunci kuningan itu ada di sana, tergeletak mulus di atas kotak beludru.
Bima menghela napas lega, mengelus dadanya. "Lihat, Rei? Kuncinya ada di sini. Lo pasti salah lihat tadi."
"Gue enggak salah lihat, Bima," potong Kirei. Nadanya berubah drastis—dingin dan menusuk.
Bima berbalik, keningnya berkerut bingung. "Maksud lo?"
Pintu ruang OSIS terdorong lebar, Arka melangkah masuk. Di tangannya terayun kantong plastik transparan berisi sarung tangan kain hitam—sisa minyak pelumas kunci masih membekas di sana, hasil temuan Arka dari tong sampah dekat pintu samping pagi tadi.
"Gue jujur penasaran," cetus Arka seraya bersandar di meja utama, menatap Bima merendahkan. "Berapa lama lo latihan membobol laci meja sendiri pakai kawat, Bim? Gerak-gerik lo pas mengembalikan kunci semalam kelihatan kaku banget."
Wajah Bima mendadak pucat pasi. Rona darah menguap dari pipinya. "A-apa-apaan ini? Lo ngomong apa, Arka?!"
"Enggak usah akting lagi, Bima," sela Kirei, melangkah maju berdiri sejajar di sisi Arka. "Semalam jam tujuh, gue sama Arka ada di ruangan ini. Di balik lemari arsip. Kita lihat sendiri waktu lo masuk pakai hoodie hitam dan mengembalikan kunci itu."
Bima bungkam seketika. Kacamatanya sedikit meluncur di pangkal hidung. Hening yang mencekam mendadak mengunci mereka bertiga.
Perlahan, raut lembut dan sopan yang biasa Bima pamerkan mulai luntur. Bibirnya terangkat, membentuk sunggingan tipis yang dingin dan miring—raut asing yang tak pernah ia tunjukkan selama bertahun-tahun di SMA Nusantara.
Ia melepas kacamatanya, menyapunya dengan kain lap pelan-pelan, lalu menatap Kirei dengan mata telanjang yang memancarkan kebencian murni.
"Jadi lo menjebak gue, Kirei?" suara Bima tak lagi ramah. Berubah berat, tajam, dan sarat dendam.
"Kenapa lo lakukan ini, Bim?" cecar Kirei, dadanya bergemuruh menahan kecewa. "Gue percaya sama lo sebagai wakil gue!"
"Percaya?" Bima tertawa sinis—tawa pendek yang mengiris telinga. "Lo enggak pernah percaya sama gue, Kirei! Dua tahun gue berdiri di samping lo, membereskan semua pekerjaan lo, tapi lo selalu pasang jarak! Dan tiba-tiba... bangsat ugal-ugalan ini datang terus lo biarkan dia satu mobil bareng lo? Lo biarkan dia menyentuh lo?!"
"Jaga mulut lo," ancam Arka, suaranya memberat berbahaya. Ia melangkah maju, tapi Kirei cepat-cepat menahan lengannya.
"Foto itu baru permulaan, Kirei," bisik Bima dengan tatapan gila yang menusuk lurus ke mata Kirei. "Gue punya sesuatu yang jauh lebih bagus dari sekadar foto parkiran. Dan kalau lo enggak mau rahasia besar lo terbongkar besok pagi di depan seluruh sekolah... lo harus ikuti permainan gue."