NovelToon NovelToon
Falling In Love With My Ex Wife

Falling In Love With My Ex Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Teen
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: neng_86

kisah sepasang suami istri yang menyerah di tahun kedua pernikahan karena terlalu banyaknya pertengkaran diantara mereka.

pernikahan yang diawali dengan sebuah perjodohan antara Seraphina Anastasya dengan seorang pria dingin bernama Dikta Rey Ibrahim membuat keduanya mengalami konflik berkepanjangan dan yang diperparah oleh Dikta yang dengan sengaja tetap menjalin hubungan dengan kekasih pria itu yakni Delara Sasmita yang berujung pengkhianatan oleh Delara dengan berselingkuh dibelakang Dikta.

setelah 5 tahun, Dikta dan Sera dipertemukan kembali karena sebuah kecelakaan yang tidak disengaja oleh Sera sehingga dirinya diharuskan bertanggungjawab atas Dikta.

yuk simak kisahnya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kembali pada realita

Langkah kaki Sera terasa berat saat melangkah kembali menuju ruang rawat inap Dikta. Wajahnya masih terasa panas membara, seakan tatapan heran dan pandangan menyelidik milik Gavin masih menempel di sana.

Sera menarik napas panjang, berusaha menenangkan detak jantung yang masih berpacu kencang, sebelum perlahan mendorong pintu ruangan itu hingga terbuka.

Dikta masih terbaring di sana, mata terpejam seolah sedang terlelap. Namun saat Sera melangkah masuk, napas yang tadinya teratur perlahan berubah tertahan. Sepertinya lelaki itu sejak tadi sadar sepenuhnya dan hanya berpura-pura tertidur.

Sera berjalan mendekat dengan langkah pelan, meletakkan dua cangkir teh yang ia bawa di atas meja samping ranjang. Ia sengaja menunduk, menatap lantai, tak berani menatap wajah lelaki itu. Rasa canggung tiba-tiba menyelimuti seluruh ruangan, membuat napasnya terasa sesak. Bayangan ucapan Gavin tadi terus bergema di telinganya, membuat hatinya berdebar tak menentu, ditambah dengan kejadian tadi sebelum Gavin memergoki mereka, semakin membuat Sera gugup.

Ia memilin ujung bajunya dengan jari-jemari yang gemetar, suaranya terdengar pelan dan hampir tak terdengar membelah keheningan.

"Apa kau belum sarapan?" ucapnya tanpa berani mendongak.

Sera melirik ompreng sarapan dari rumah sakit yang masih terletak di meja nakas tanpa disentuh sedikitpun.

Tak ada jawaban.

Namun Sera dapat merasakan sepasang mata itu kini tertuju padanya, menatap lekat-lekat seperti sedang membaca segala apa yang tersembunyi di balik wajahnya yang memerah. Sera semakin menunduk dalam, meremas tangannya di pangkuan.

Tatapan mata Dikta sejak pertama kali dia mengenal laki-laki itu selalu saja bisa membekukan tubuhnya. Tak perduli mereka telah berpisah lama, nyatanya mata itu tetap saja membuat pertahanan Sera runtuh-seruntuhnya.

"Kau sudah makan?" tanya Dikta balik sesaat setelah keheningan diantara mereka.

Sera mengangkat wajahnya lalu mengangguk. "Aku tadi sudah sarapan dikantin..." sahutnya pelan.

"Baiklah... Sekarang bantu aku... Aku hendak ke kamar mandi... Sejak tadi aku cukup lama menahannya dan lagipula, aku perlu bebersih sedikit. Pasti penampilan ku sangat kucel sekali kan? Makanya kau enggan menatapku"

Demi apapun, Sera sejak tadi sudah berfikir yang tidak-tidak tapi nyatanya isi pikiran Dikta sungguh diluar prediksinya.

Dengan cepat, Sera membantu Dikta turun dari ranjang dan memapahnya menuju kamar mandi.

Jarak mereka begitu dekat, menempel satu sama lain.

Sera bisa merasakan detak jantung Dikta yang berpacu, atau mungkin Diktalah yang bisa merasakan detak jantung Sera.

Tinggi Sera yang hanya sebatas dada Dikta membuatnya bisa mencium aroma shampoo perempuan itu yang sangat dia rindukan.

"Aku tunggu diluar... Jika sudah selesai, kau bisa memanggilku..." ujar Sera setelah membantu Dikta duduk di kloset.

Dikta hanya berdehem sebagai jawabannya.

Dan setelah Sera keluar, barulah Dikta melakukannya sendiri seolah dirinya bukanlah seorang pasien korban kecelakaan.

Bibirnya tetap menyunggingkan sebuah senyum kemenangan yang sangat licik.

Sumpah demi apapun, akting Dikta sungguh luar biasa. Dan jika dia masuk nominasi award, bisa dipastikan dia akan menang.

Sera yang berdiri di depan pintu tetap memasang telinga agar kalau-kalau Dikta memanggilnya, dia bisa segera membantu.

...****************...

"Ser... Bantu aku...." ucap Dikta sedikit berteriak setelah beberapa menit berlalu.

"Ya... Kau, mau apa?" ucap Sera begitu dia masuk kedalam kamar mandi.

"Bantu aku bersihkan wajah ku" pinta Dikta tetap memasang wajah dinginnya.

Di hadapan cermin yang memantulkan bayangan mereka berdua, Sera membasahi handuk kecil dengan air hangat, lalu memerasnya hingga kering.

Ia membersihkan wajah Dikta perlahan dengan handuk basah. Jarak wajah mereka begitu dekat hingga napas hangat lelaki itu menyapu lembut di wajahnya.

"Tutup matanya sebentar" bisik Sera pelan, suaranya terdengar berat dan tertahan.

Dikta menurut, memejamkan mata perlahan. Sera mengangkat tangannya, mengusap lembut handuk itu di atas kening, turun menyapu pelipis yang terlihat sedikit lelah.

Setiap kali jemarinya tak sengaja menyentuh kulit wajah yang hangat itu, ia merasakan getaran halus yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia berusaha tetap tenang, namun jantungnya seakan hendak melompat keluar dari rongga dada.

Saat tangannya berhenti di bagian pipi, Dikta perlahan membuka mata.

Seketika napas Sera tertahan di tenggorokan.

Kedua mata itu menatapnya lekat, begitu dalam seakan ingin menyelami setiap sudut hatinya yang selama ini ia jaga rapat. Tak ada yang beranjak, tak ada yang bersuara. Hanya tatapan yang saling bertaut dan mengunci, menahan segala sesuatu yang sulit diucapkan dengan kata-kata.

Jarak di antara keduanya terasa semakin sempit.

Sera dapat mencium aroma tubuh yang ia rindukan sekian lama, bercampur wangi sabun yang lembut.

Tatapan mata Dikta bergerak pelan dari sepasang matanya, turun berhenti sejenak di bibirnya yang kini terasa kering dan panas.

Sera menelan ludah dengan susah payah, tangannya yang masih menempel di pipi lelaki itu perlahan menggenggam ujung handuk erat.

Wajah mereka semakin mendekat, seakan ada tarikan tak kasatmata yang menyatukan keduanya.

Napas mereka saling bersentuhan, hangat dan bergetar hebat. Sera tak lagi mampu memalingkan wajah, terperangkap dalam pandangan yang begitu tajam namun penuh kerinduan itu. Dunia di luar sana seperti lenyap, menyisakan hanya detak jantung yang berpacu serentak dan keheningan yang memadat di antara tatapan mereka yang tak kunjung terlepas.

Dikta perlahan menyapu bibir Sera dengan ciuman lembut.

Ciuman yang selama dua tahun pernikahan tak pernah mereka lakukan padahal dulu mereka adalah dua orang yang sah secara hukum dan agama.

Sebelah tangan Dikta menahan punggung Sera agar tak terjatuh.

Kecupan-kecupan itu berubah menjadi decapan hangat. Saling bertukar saliva. Menyatukan semua rasa, semua ego dan semua kerinduan yang tertahan lama, ditumpahkan melalui ciuman itu.

Dikta melepaskan tautan bibirnya setelah dirasa udara mulai menipis.

Kembali menatap mata Sera yang meneteskan airmata.

Telapak tangannya yang lebar mengusap pipi ranum Sera.

"Apa aku begitu menyakitimu? Apa kau begitu membenciku Sera....?" bisik Dikta.

"Sera... Lihat aku... Apa aku masih punya kesempatan untuk memiliki mu lagi? Aku sangat merindukan mu Sera... Bahkan aku juga sempat mencari mu kerumah ayah tapi tetangga mu bilang, kalian sudah pindah keluar kota.."

Airmata Sera jatuh berderai, membasahi pipi.

Bibirnya terkunci rapat meski hati kecilnya ingin berteriak jika dia juga merindukan Dikta... Sera sangat merindukan laki-laki egois ini yang sayangnya masih memiliki tempat paling istimewa dalam hatinya.

"Bilang padaku Sera... Jika kau masih mencintaiku... Bahwa kau mau kembali padaku... Kita akan mulai ini dari awal lagi... Aku mohon Sera... Katakan sesuatu...."

Sera melepaskan tangan Dikta yang masih berada dipipinya. Menelan ludah yang terasa begitu serat.

"Kita... Kita jangan bahas masa lalu lagi Dikta... Kau dan aku sudah tak ada hubungan apapun setelah ketukan palu hakim.... Aku tak ingin membahas masa lalu... "

Sera diam sejenak dan kembali menatap Dikta.

"Lagipula, saat ini aku sedang menjalin hubungan dengan seorang laki-laki bernama Arga. Dan.... Hubungan kami cukup serius... Aku disini karena ingin bertanggungjawab atas perbuatanku. Dan setelah kau sembuh, kita akan kembali pada kehidupan kita masing-masing..."

"Sekarang ayo, aku akan membantumu kembali ke ranjang dan setelahnya aku harus kembali ke hotel untuk bersih-bersih...." ucap Sera tegas.

Dikta hanya bisa menghela nafas berat.

Hatinya sakit akan penolak Sera namun dirinya juga tak bisa memaksa. Setidaknya untuk saat ini.

Dia tidak ingin Sera kabur diam-diam dan meninggalkannya.

Bersambung....

1
Dewi Andayani
Aku mampir lagi di karyamu, ya Thor😍...
Ditunggu crazy up nya💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!