Setelah diminta mengundurkan diri dari jabatannya sebagai CEO sebuah perusahaan besar, Viola Shania memilih memulai hidup baru dengan membuka toko kue sederhana bernama Sweet Cake.
Di balik senyum manis dan kue-kue manis yang dibuatnya, tersimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Sebuah kejadian tak terduga mengubah jalan hidupnya, memaksanya menikah dengan Han Seokjin, seorang CEO dingin, angkuh, berusia 35 tahun. Han Seokjin menutup rapat pintu hatinya setelah cinta tak berbalas terhadap sepupunya sendiri.
Di tengah pernikahan yang penuh tantangan, Viola bertekad mencairkan hati suaminya.
Mampukah ia meraih cinta Seokjin, atau justru menyerah pada takdir yang tak pernah berpihak padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29.
Sagara membuka pintu ruang kerjanya dan mempersilakan Viola masuk lebih dulu.
Ruangan itu masih menyimpan banyak jejak masa lalu. Meja kerja besar dari kayu tua berada di tengah ruangan. Beberapa rak dipenuhi dokumen dan buku-buku milik mendiang ayah Sagara Aroma kayu dan kertas lama masih melekat di udara, membawa kenangan yang tidak pernah benar-benar hilang.
Viola berhenti sejenak di tengah ruangan. Sudah cukup lama ia tidak masuk ke ruangan itu. Dulu, ruangan tersebut terasa begitu hidup. Ada suara ayah Sagara yang sesekali memanggilnya untuk berdiskusi tentang masalah yang terjadi di perusahaan atau hanya sekedar berbincang ringan.
Kini, semuanya terasa berbeda. Pria baik hati yang dulu menyayanginya setulus hati sudah tiada.
Tanpa menutup pintu ruangan itu dan sengaja membiarkannya tetap terbuka lebar. Sagara berjalan menuju sofa yang berada di tengah ruangan.
"Duduklah. Ada yang ingin kubicarakan denganmu."
Mengangguk pelan, Viola duduk di sofa panjang yang berhadapan dengan Sagara.
Beberapa detik berlalu tanpa Suara.
Sagara menyandarkan tubuhnya. Ia menghela napas panjang, tetapi wajahnya tetap sulit dibaca.
"Aku yakin kau sampai datang ke sini karena sudah melihat berita itu."
Viola mengangguk pelan. "Aku memang sudah melihat berita tentang Nara dan Tuan Han. Karena itu aku datang ke sini."
Sagara kembali menghela napas panjang. Dengan gerakan kasar ia menyugar rambutnya ke belakang. Wajahnya tampak lelah. Sejak berita itu muncul, seolah tidak ada ruang di kepalanya untuk memikirkan hal lain.
"Aku yakin, kau tidak mempercayai berita itu, kan?" Viola menatapnya dengan tenang. "Kau tentu lebih mempercayai istrimu."
Sagara terdiam. Kalimat itu membuat bahunya yang sejak tadi tegang perlahan turun. Ia menundukkan wajah, meski dadanya masih terasa sesak.
"Aku sangat mempercayai Nara." Suara Sagara terdengar berat. "Tapi aku juga tidak mengabaikan rasa kecewa di hatiku."
Dahi Viola berkerut. Ia menatap Sagara dengan hati-hati. "Kau kecewa padanya?"
"Aku kecewa pada keputusannya, bukan pada kesetiaannya." Sagara mengangkat wajah. Tatapannya tegas, tetapi ada luka yang belum sempat mengering di sana.
"Nara adalah korban fitnah. Dia tidak mungkin melakukan sesuatu di luar batasannya." Suara Viola meninggi di ujung kalimat.
"Aku tahu." Sagara menarik napas panjang. Dadanya naik turun sebelum melanjutkan. "Nara tidak mungkin melakukan semua yang mereka tuduhkan. Aku tidak pernah mempercayai berita itu."
Jemarinya mengepal. "Tapi yang aku sesali adalah Nara pergi bersama Seokjin tanpa meminta izinku. Bahkan tidak mengatakan apa pun sebelumnya."
Ia menundukkan kepala. "Dia pergi begitu saja. Mungkin baginya itu bukan masalah besar. Tapi dia tidak tahu apa yang terjadi di kepalaku dan kepala orang lain ketika mengetahui dia berduaan dengan seorang pria di dalam kamar."
"Tapi Nara dan Tuan Han ... mereka masih ...." Viola menghentikan kalimatnya saat Sagara menatapnya tajam.
"Mereka memang masih terikat persaudaraan. Tapi Seokjin juga adalah pria normal," potong Sagara tegas.
Viola terdiam.
Sagara menatap pintu yang sengaja dibiarkan terbuka. Dari luar, suara langkah para Asisten rumah tangga terdengar samar. Namun, ruangan itu terasa seperti terpisah dari dunia.
"Jika sejak awal Nara mengatakan padaku bahwa Seokjin mengajaknya ke kamar itu untuk menunjukkan sesuatu ...." Sagara berhenti. Rahangnya mengeras. "Mungkin aku bisa mencegah semuanya."
Ia mengusap wajahnya perlahan. "Aku bisa ikut menemaninya. Aku bisa memastikan tidak ada ruang bagi orang-orang untuk membuat cerita seperti ini."
Pria itu tertawa kecil namun terdengar hambar. "Sayangnya, Nara memilih untuk pergi bersama Seokjin tanpa mengatakan apa pun."
Ia menatap kedua telapak tangannya. "Sekarang seluruh dunia melihat istriku sebagai wanita yang mengkhianati suaminya."
"Semua itu sudah terjadi," ujar Viola pelan. "Tolong jangan membuat Nara semakin merasa bersalah."
"Aku tidak bermaksud menyalahkannya." Sagara segera mengangkat wajah. "Aku justru menyalahkan diriku sendiri."
"Setiap kali melihat Nara menangis, rasanya seperti ada sesuatu yang meremas dadaku." Suaranya bergetar tipis.
"Sementara aku tidak bisa melakukan apa pun untuk menghentikannya." Ia menyandarkan tubuhnya ke sofa. Matanya memerah.
"Aku suaminya." Dua kata itu keluar begitu pelan. "Seharusnya aku menjadi orang pertama yang berdiri di depannya ketika dunia mulai menyerangnya."
Sagara mengepalkan tangan. "Tapi aku malah membiarkan dia menangis sendirian."
Hening.
Viola menatapnya. Untuk pertama kalinya, ia melihat jelas betapa dalam luka yang disembunyikan pria itu di balik kemarahannya.
"Aku gagal melindunginya." Suara Sagara hampir berbisik. "Dan itu lebih menyakitkan daripada semua berita yang mereka tulis."
Viola menundukkan pandangan. Ada sesuatu yang sejak tadi mengganjal pikirannya. Ia menarik napas pelan. "Sagara. Ada yang ingin kutanyakan padamu."
Sagara menatapnya.
"Semalam, ketika aku hendak mengantarkan ponsel milik Tuan Han ...." Viola berhenti sejenak. "Aku melihat Nara keluar dari kamar itu."
Wajah Sagara seketika berubah. "Kau melihat Nara?"
Viola mengangguk. "Ia berlari sambil menangis."
Sagara membeku. "Untuk apa kau datang ke kamar Seokjin?" Nada suaranya berubah. Bukan marah, tetapi penuh keterkejutan.
Viola kemudian menjelaskan semuanya. Tentang ponsel Seokjin yang dititipkan Asisten Kim padanya yang menjadi alasan ia datang ke kamar pria itu, sampai akhirnya ia berpapasan dengan Nara yang berlari keluar sambil menangis.
Sagara mendengarkan tanpa menyela. Semakin lama, wajahnya semakin sulit dibaca.
"Sebenarnya, apa yang terjadi di kamar itu?" tanya Viola. Menatap Sagara penuh tanya. Ia yakin, Nara pasti sudah menjelaskan semuanya pada Sagara tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Sagara diam. Pertanyaan itu menggantung di antara mereka.
Ia tahu jawabannya. Alasan istrinya menangis sebenarnya sesuatu yang lebih rumit daripada berita yang beredar. Nara sudah menjelaskan semuanya, Sagara sendiri bahkan sudah meluapkan emosinya pada Seokjin.
Namun, Sagara memilih tidak mengatakannya. Tidak untuk saat ini. Ia mengalihkan pandangan. "Mereka berselisih paham."
Jawaban singkat itu membuat Viola mengernyit. "Hanya itu?"
Sagara tidak menjawab. Ia berdiri perlahan. Langkahnya membawa pria itu mendekati jendela. Cahaya siang menyentuh sisi wajahnya, tetapi tidak mampu mengusir bayangan yang memenuhi pikirannya.
Lalu sebuah pikiran melintas. Sebuah ide gila. Bahkan terlalu berbahaya dan membutuhkan sebuah pengorbanan besar untuk disebut sebagai rencana.
Namun, semakin dipikirkan, semakin jelas satu kemungkinan terbentuk di kepalanya.
Sagara berbalik.
"Viola."
Tatapan Sagara membuat Viola tanpa sadar menegakkan tubuh.
"Aku ingin meminta sesuatu darimu." Sagara berucap dengan sorot mata yang sulit untuk dideskripsikan.
****Bersambung.
tpi kasian viola nikah tanpa di cintai.sll jdi lilin menerangi org lain .tpi kena tanga sndri 🙏🙏😭😭