"Kau itu cuma babu pembersih luka yang dibeli oleh Kakekku. Jangan pernah bermimpi bisa menjadi nyonya di rumah ini!"
Bagi Jiro, Senjani tak lebih hanya seorang wanita oportunis yang memanfaatkan kelumpuhannya demi uang. Menikahi Tuan Muda lumpuh dengan keterpaksaan karena utang, Senjani harus menelan mentah-mentah semua hinaan dan perlakuan kasar dari Tuan Muda berhati es itu.
Sebagai seorang fisioterapis, tugas Senjani hanya satu, yaitu menyembuhkan kaki Jiro yang lumpuh akibat kecelakaan tragis di masa lalu. Namun, saat jemari tangannya mulai menuntun Jiro untuk kembali berdiri, sebuah rahasia berdarah justru terkuak. Masa lalu kelam di antara keluarga mereka merobek sisa-sisa profesionalisme Senjani.
Saat Senjani memilih pergi dengan luka yang bersimbah air mata, Jiro baru menyadari bahwa sentuhan wanita itu adalah satu-satunya penyembuh bagi jiwanya yang telah lama mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghost_Writer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Restu di Atas Tanah Basah
Satu minggu setelah kegilaan di pabrik tekstil tua itu berlalu, langit Jakarta pagi ini tampak begitu cerah dan bersih, seolah menyambut lembaran baru yang suci bagi dua jiwa yang sempat terbelah takdir. Berita tentang penangkapan Grayson Nandotomo atas kasus pembunuhan berencana dan sabotase masa lalu telah mengguncang seluruh halaman depan media cetak dan televisi nasional. Nama baik perusahaan Nandotomo Group berhasil diselamatkan berkat tindakan taktis dari Jiro, namun yang paling penting bagi Senjani adalah pemulihan nama baik almarhum ayahnya secara resmi di mata hukum.
Sebuah mobil sedan mewah hitam berhenti dengan senyap di depan gerbang kompleks Pemakaman Umum Tanah Kusir. Hembusan angin pagi yang sejuk membawa aroma rumput basah yang segar setelah diguyur gerimis semalam.
Pintu penumpang belakang terbuka. Jiro melangkah keluar dari dalam kabin mobil. Kali ini, tidak ada lagi kursi roda elektrik, tidak ada lagi tongkat penyangga berkaki empat, dan tidak ada lagi pengawal yang harus memegangi lengannya. Pria itu berdiri tegak di atas kedua kakinya sendiri, dibalut setelan jas hitam resmi yang sangat rapi dan gagah. Meski langkah kakinya masih sedikit lambat dan kaku akibat sisa pemulihan saraf, setiap pijakan yang diambil oleh Jiro memancarkan ketegasan seorang pria sejati yang telah bangkit dari keterpurukannya.
Senjani melangkah keluar dari sisi pintu yang lain, mengenakan gaun panjang berwarna hitam sederhana dengan selendang putih yang melingkar longgar di kepalanya. Dia membawa sebuah keranjang anyaman kecil yang berisi kelopak bunga mawar merah dan sebotol air mawar jernih.
Jiro mengulurkan tangan kanannya, menyisipkan jemari kokohnya di sela-sela jemari Senjani, menggenggam tangan istrinya dengan kehangatan yang merayap langsung ke dalam ulu hati Senjani.
"Mas... kaki Kamu beneran udah gapapa kalau berjalan sejauh ini?" tanya Senjani dengan nada suara yang dipenuhi kekhawatiran yang tulus, menatap lutut suaminya.
Jiro menoleh, menatap istrinya dengan sepasang netra elang yang kini telah sepenuhnya mencair, memancarkan binar kasih sayang yang teramat dalam. Dia memberikan remasan lembut pada genggaman tangan mereka. "Jangan khawatir, Sayang. Hari ini adalah hari penting yang sudah kujanjikan kepadamu. Aku harus berdiri dengan tegak menggunakan kedua kakiku sendiri saat menghadap ayah mertuaku."
Mereka berdua berjalan perlahan menyusuri jalan setapak di antara gundukan tanah hijau yang rapi. Langkah kaki milik Jiro yang stabil di sampingnya membuat dada Senjani berdenyut oleh rasa haru yang membuncah. Pria yang dulu melempar bantal ke arah wajahnya di malam pertama dan mengutuk kelumpuhannya, kini sedang menggandeng tangannya menuju makam pria yang sempat dia benci setengah mati.
Langkah mereka terhenti di depan sebuah nisan marmer hitam yang terawat dengan rapi. Di atas permukaan marmer itu, terukir dengan jelas sebuah nama: Dion Kiran bin Abdullah.
Senjani bersimpuh di atas rumput hijau yang sedikit basah di samping nisan ayahnya. Air mata haru dan kerinduan yang mendalam perlahan lolos dari pelupuk mata jernihnya, mengalir membasahi pipinya yang kini mulai kembali merona kemerahan. Dia mengusap permukaan nisan kayu itu dengan jemari tangannya yang gemetar.
"Ayah..." rintih Senjani dengan suara yang bergetar hebat menahan luapan emosi. "Senjani datang, Yah... Senjani datang sama suaminya Senjani. Nama baik Ayah juga udah bersih sekarang. Semua orang udah tahu kalau Ayah adalah orang baik yang tidak bersalah..."
Jiro tidak ikut bersimpuh. Pria angkuh itu memilih untuk tetap berdiri tegak di ujung makam, memberikan penghormatan tertinggi dari seorang menantu kepada mertuanya. Dia menundukkan kepalanya sedalam empat puluh lima derajat di depan nisan Dion Kiran selama beberapa detik yang khusyuk, membiarkan keheningan makam menjadi saksi bisu penyesalan batinnya.
Setelah itu, Jiro perlahan menurunkan tubuhnya, ikut berlutut di samping Senjani di atas tanah basah, mengabaikan fakta bahwa celana kain mahalnya kini kotor oleh noda tanah. Dia mengulurkan tangan, mengusap bahu istrinya yang bergetar karena isak tangis, lalu beralih menatap nisan mertuanya dengan pandangan yang sangat serius dan jernih.
"Ayah mertua... saya Jiro Nandotomo," ucap Jiro dengan suara baritonnya yang berat, mantap, dan bergema penuh wibawa di bawah langit pagi. "Saya berdiri di sini hari ini untuk memohon maaf yang sebesar-besarnya dari lubuk hati saya yang terdalam. Maaf karena selama enam bulan ini, saya sempat menaruh dendam dan mengutuk nama Anda karena ketidaktahuan saya atas kelicikan kerabat saya, Grayson."
Jiro menjeda kalimatnya sejenak, beralih menatap Senjani yang sedang menatapnya dengan binar mata yang berkaca-kaca penuh rasa tidak percaya atas kerendahan hati suaminya. Jiro meraih tangan kanan milik Senjani, mengangkatnya ke udara, lalu mengecup punggung tangan istrinya dengan penuh kelembutan yang teramat sangat.
"Tuhan sudah membalas ketidakadilan yang Anda terima dengan cara mengirimkan putri terbaik Anda ke dalam hidup saya," lanjut Jiro, suaranya melembut namun sarat akan janji yang mutlak di hadapan nisan. "Senjani... dia bukan hanya seorang terapis yang menyembuhkan kaki lumpuh saya. Tapi dia adalah malaikat penyembuh yang telah menghidupkan kembali jiwa saya yang sudah mati akibat kebencian. Di depan Anda hari ini, saya berjanji demi harga diri dan sisa hidup saya, saya akan menjaga, melindungi, dan mencintai Senjani dengan seluruh jiwa dan raga saya. Tidak akan ada lagi air mata kesedihan atau penderitaan yang akan menyentuh hidupnya selama saya masih bernapas di dunia ini. Tolong berikan restu Anda bagi pernikahan kami."
Mendengar ikrar janji yang begitu sakral dari mulut Jiro, seluruh pertahanan dinding tegar Senjani runtuh total. Dia menghambur maju, memeluk leher tegap Jiro dengan sangat erat, menumpahkan seluruh air mata kebahagiaan dan kelegaan yang luar biasa besar di dada kokoh suaminya. Badai air mata yang sempat memisahkan mereka karena kutukan etika dan moral masa lalu, kini telah bermutasi menjadi sebuah berkah yang menyatukan hati mereka dalam ikatan yang tak kasat mata namun abadi.
Jiro membalas pelukan Senjani tak kalah erat, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher istrinya, menghirup aroma harum lavender yang selalu menjadi candu baginya. Dia membiarkan istrinya menangis sepuasnya di dalam dekapannya, menyalurkan seluruh rasa aman yang sempat hilang dari hidup wanita itu.
Setelah emosi Senjani sedikit mereda, mereka berdua bersama-sama menaburkan kelopak bunga mawar merah di atas gundukan tanah makam, lalu menyiramnya dengan air mawar yang jernih hingga aromanya merebak wangi di udara pagi.
Saat mereka bangkit berdiri untuk melangkah pergi meninggalkan kompleks pemakaman, Senjani menoleh sekali lagi ke arah nisan ayahnya. Sinar matahari pagi yang hangat tampak memantul indah di atas permukaan marmer hitam itu, seolah memberikan sebuah senyuman tak kasat mata dan restu yang tulus bagi masa depan pernikahan mereka.
Jiro merangkul pinggang kecil Senjani dengan lengan kokohnya, menuntun langkah sang istri berjalan kembali menuju mobil mewah mereka yang menunggu di gerbang depan. Kali ini, mereka tidak lagi melangkah dengan beban rasa bersalah atau ketakutan akan ancaman musuh. Langkah kaki mereka terasa sangat ringan, mantap, dan penuh percaya diri, mereka berdua melangkah bersama sebagai sepasang suami istri yang siap menyambut hari esok yang dipenuhi oleh kebahagiaan sejati di ujung takdir pernikahan mereka.