Teror yang mengguncang Desa Keramat sudah melahirkan kondisi yang mencekam bagi warga.
Dimana ada banyak anak-anak yang menghilang, wanita hamil, dan bahkan orang dewasa tak luput dari serangan tersebut.
Siapakah penerornya?
Ikuti kisah selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kalung Manik
Waktu memperlihatkan pukul sepuluh pagi.
Arkan memijat kepalanya yang terasa berdenyut. Di atas mejanya, terdapat laptop, kamera dan juga segelas teh daun gaharu yang ia tidak tahu siapa yng meletakkannya di sana.
"Aku... tidur di semak?" gumannya dengan pelan.
Ingatan terakhirnya adalah ketika Dayang Sari menyodorkan teh untuknya, dan senyumnya yang terlihat misterius... Lalu semua menjadi gelap.
Dengan tangan gemetar, ia meraih kamera, lalu melihat file yang malam tadi ia gunakan untuk merekam.
Tiba-tiba saja, semua hasil rekamannya hilang tak berbekas.
"Sial!" umpatnya dengan kesal. Ia meletakkan kembali kamera tersebut, dan mengacak rambutnya dengan kasar.
Tiba-tiba saja...
Tok!
Tok!
Tok!
Pak Taslim mengetok pintu. "Kan! Bangun! Kita mau pasang kamera di tiga titik, cuma kamu yang bisa di andalkan," teriak pria tersebut.
Arkan beranjak bangkit dari tempatnya. Lalu menghampiri pria tersebut.
"Siap, Pak!" sahutnya dengan wajah datar. Sebab ia sendiri bingung dengan perasaannya. Dimana ia merasa jika wajah Dayang Sari selalu hadir di pelupuk mata dan ingatannya. Seolah mengunci pikirannya.
Arkan menutup pintu, dan menuruni anak tangga. Lalu mengikuti arah langkah Pak Taslim yang meminta bantuannya.
Arkan mulai memasang kamera di tiang depan sekolah.
Dayang Sari datang ke sekolah, meskipun anak-anak masih diliburkan, dengan alasan ingin membersihkan sekolah. Agar saat anak kembali ke sekolah, maka ruangan tetap bersih.
Ia masih menggunakan syal untuk menutupi lehernya. Kali ini berwarna hitam, dan merupakan tenunan yang berkualitas.
Arkan menoleh sejenak. Jantungnya berdegup kencang. Hal yang pertama Arkan lihat adalah kalung yang terbuat dari batu akik Kecubung Asihan berwarna ungu berkilau yang tergantung di lehernya, dan diikat dengan rantai perak.
"Pagi, Bang Arkan...," sapanya dengan santai, sembari tersenyum manis.
Sontak saja hal itu membuat Arkan semakin gugup
"Pagi juga, Bu Guru...." balas Arkan, dan saat mata mereka saling beradu pandang, Arkan seolah merasa seperti menyelam di dalam jiwa sang gadis.
"Kan... Buruan! Pakai melamun.. Kalau suka, lamar ke Damang Jaya," celetuk Pak Taslim, saat melihat Arkan bengong di atas tiang.
Wajah Arkan memerah saat diteriaki seperti itu.
Ia bergegas untuk menyelesaikannya, dan harus memasang untuk di dua titik lainnnya. Sedangkan Dayang Sari terlihat masih seperti sibuk dengan pekerjaannya.
Waktu memperlihatkan pukul sebelas siang. Arkan kembali ke sekolah setelah menyelesaikan tugas.
Ia melihat Dayang Sari sedang duduk di lantai sekolah, dan terlihat menata puzzle yang berdebu, dan baru saja ia bersihkan, untuk di simpan dalam boks kontainer.
Saat bersamaan, Arkan sudah berdiri di ambang pintu. Ia seperti di tarik langkahnya, dan akhirnya tiba ditempat Dayang Sari berada.
"Bang Arkan? Ada perlu apa? Dan mengapa menatap Dayang, seolah Dayang memiliki kesalahan yang begitu besar?
Arkan tersentak kaget. Teguran Dayang sudah membuyarkan semua lamunannya.
Ia menghela nafasnya yang terasa berat. "Bu, boleh tanya sesuatu?" ucapnya dengan nada yang terdengar gemetar.
Dayang menoleh ke arah Arkan. Tatapannya terlihat sangat dingin: "Boleh...."
Arkan melangkah maju. Semakin ia mendekat, maka degub jantungnya akan terdengar semakin memburu. Tetapi pandangannya tak lepas dari batu Wulung Asihan di leher Kasih. "Kalung Ibu sangat bagus. Itu warisan ya?"
Dayang tersentak kaget. Kemudian refleks memegang kalungnya. "Iya. Ini warisan dari almarhumah ibu saya..."
Arkan semakin mendekat. "Gak pernah dilepas ya?" tanyanya dengan rasa penasaran.
Dayang menatap dengan sinis. "Memangnya kenapa?" suaranya terdengar datar.
"Hanya penasaran saja. Sebab terlihat sangat unik," jawab Arkan berkilah.
Dayang mengulas senyum yang sangat tipis. Tapi matanya berkedip sebanyak satu kali. Bibirnya tampak berkomat-kamit membaca lirik mantra dalam hatinya.
Mendadak Arkan langsung terdiam. Ia merasakan getaran hatinya yang semakin terikat pada sang gadis.
Dayang beranjak bangkit, lalu kembali menatap pada Arkan. "Ulun sudah selesai, dan mau kunci pintu sekolah. Sebaiknya ikam pulang saja..." ucapnya pada sang pemuda.
Arkan mengangguk pelan. Ia patuh dengan apa yang di ucapkan oleh Dayang Sari.
*****
Waktu memperlihatkan pukul dua bepas siang. Arkan menghampiri Pak Taslim di balai desa.
"Kan... CCTV yang di dekat lubang air tiba-tiba buram.. Coba tolong kamu periksa kesana, bapak pantau dari sini," ucapnya dengan wajah bingung. Sebab gambar video yang di tampilkan hanya bintik-bintik seperti jutaan semut berwarna abu-abu.
"Baik, Pak... Saya akan coba periksa, apa yang menjadi penyebabnya," sahut Arkan.
Saat bersamaan, Pak Thamrin datang nyelonong memasuki balai desa.
"Tok Damang barusan bilang, kalau Kuyang takut sama kalung manik darah. Katanya itu bisa mengurungnya."
Arkan mengerutkan keningnya. Ia mengingat sesuatu. "Kalung manik darah?"
Pak Thamrin menganggukkan kepalanya pelan. "Iya. Manik merah yang warnanya cukup terang.. Katanya kalo dipakai terus, Kuyang gak bisa melepas wujudnya untuk mencari mangsa. Tetapi kalo dilepas... dia bisa berubah dengan bebas."
Arkan yang mendengarnya langsung terdiam. Otaknya sedang berputar. Ia mengingat tentang kalung manik merah di leher Dayang Sari yang tadi ia lihat saat sedang berada di sekolah.
****
Arkan berjalan menyusuri tepian aliran sungai Mahakam.
Ia berhenti di sebuah pohon besar yang berhadapan dengan pohon yang berukuran jauh lebih besar, dan di sinyalir sebagai tempat Kuyang bersembunyi.
Ia memanjat pohon tersebut, dan memeriksa cameranya, dan juga batereinya. Tetapi tidak ada masalah apapun.
Setelah selesai, ia turun dengan wajah pega.
Sesaat matanya menatap rumpun bambu yang tumbuh dengan subur. Tepian sungai yang berbatu, membuat ia merasa ingin mandi.
Arkan berjalan ketepian, dan membuka pakaiannya, lalu nyebur untuk mandi.
Tiba-tiba ia mendengar suara orang sedang mandi dari balik batu besar disebelahnya. Dan ia mendengar suara senandung menggunakan bahasa daerah. Itu adalah suara Dayang Sari.
Arkan berenang menghampiri. Ia tercengang saat melihat sang gadis yang berada di balik batu. "Loh? Bu Guru juga mandi di sini?" tanyanya dengan degupan jantung yang memburu.
Dia gak sengaja mengintip dari balik batu itu
Dayang Sari terlihat tak terkejut dengan kehadirannya. Bahkan ia sengaja membuka pakaiannya yang basah, dan membuat Arkan semakin bingung dengan dirinya.
Dayang Sari membenamkan tubuhnya di dalam air, dan menyisakan pundaknya.
Arkan menelan salivanya. Dengan rambut yang basah, membuat ia semakin terlihat cantik dan penuh pesona.
Hanya saja, rambut panjangnya sengaja ia tutupkan ke lehernya.
Sedangkan kalung manik merah darah masih melingkar di leher, dan memancarkan cahaya yang terang.
"Bukan main...." ucap Arkan keceplosan.
Dayang Sari menatapnya. Bibir merah mudanya terlihat menganga. "Siapa yang kamu maksud?"
"Eh, anu... Itu, maksud saya Pak Taslim..." jawab Arkan dan salah tingkah. Lalu ia memilih untuk pergi. Sebab jantungnya terasa hampir copot.
"Sial! Kenapa harus liat dia mandi gak pakai baju lagi..." umpat Arkan, yang mana semakin membuat ia terus saja membayangkan wajah Dayang Sari.
***
Semoga Dayang Sari dan Arkan menemukan cara agar bisa memutus mata rantai kutukan itu..
Kasihan kan Dayang Sari kalau harus jadi Kuyang terus 😭
Secara ilmu hitam itu katanya turun temurun, dan harus punya pewaris, isshh geri juga ya. 😫
Sumpah deh takut bngt, waktu itu aku lg haid, pas waktu hampir tengah malem diganggu.
Nafas nya berat dan nyaring,😫persis diatas atap dikamarku.
Saking takut nya aku baca ayat kursi, Allhamdulillah dia pergi juga, dan trdengar dia jatuh.
Sya sendiri punya suami orang Banjar, tetapi saya asli suku Dayak, salam persahabatan dan salam sehat thor ku. ☺