Di Benua Awan Merah, bakat surgawi, garis keturunan, dan dukungan klan besar adalah segalanya. Awan tidak memiliki satupun dari hal itu. Lahir dengan meridian sempit sebagai anak seorang pandai besi miskin, dunia telah menakdirkannya untuk hidup dan mati sebagai manusia fana.
Namun, Awan menolak bertekuk lutut pada takdir. Tanpa bantuan artefak dewa purba, tanpa roh guru sakti, dan tanpa pil mujarab, ia menempuh jalan kultivasi melalui siksaan fisik yang ekstrem. Saat para jenius menyerap energi alam dengan mudah sambil duduk bermeditasi, Awan mengayunkan pedang besinya puluhan ribu kali di bawah terik matahari dan badai hujan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Lautan Sihir dan Satu Ayunan Besi
Keheningan yang mencekik pelataran batu itu hanya berlangsung selama tiga tarikan napas.
Melihat Zhao Meng—salah satu jenius terkuat di reruntuhan ini—hancur hanya dengan satu ayunan pedang berkarat, kepanikan mulai merayapi hati ratusan kultivator. Namun, kepanikan di dalam kerumunan besar sering kali bermutasi menjadi histeria massal.
"Dia... dia pasti menggunakan artefak terlarang!" teriak seorang Murid Luar dari Klan Lin, wajahnya pucat namun suaranya dipaksakan lantang untuk menutupi ketakutannya. "Tubuh fana tidak mungkin memiliki tenaga seperti itu! Artefaknya pasti butuh waktu untuk diisi ulang!"
"Benar! Dia hanya satu orang tanpa Qi! Kita ada tiga ratus orang!" sahut murid lainnya dari barisan belakang. "Serang bersamaan! Tenggelamkan dia dengan sihir! Jangan biarkan dia mendekat!"
Kerakusan akan harta karun menara dan harga diri yang terluka mengalahkan akal sehat mereka.
Dalam sekejap, ratusan fluktuasi Qi meledak secara bersamaan. Udara di atas pelataran berubah warna menjadi lautan pelangi yang mematikan. Bola api, bilah angin, tombak es, paku tanah, hingga kilatan petir spiritual terbentuk di udara, diarahkan lurus ke satu titik: pemuda bertelanjang dada di tengah pelataran.
"MATI KAU, FANA!"
Ratusan serangan sihir itu diluncurkan bagaikan hujan meteor. Hawa panas, dingin, dan tajam bersatu menciptakan tekanan energi yang bisa meratakan sebuah bukit kecil.
Awan berdiri di bawah bayang-bayang lautan sihir tersebut. Rambut hitamnya berkibar liar tertiup badai Qi. Ia tidak melarikan diri, juga tidak menunjukkan raut keputusasaan.
Saat kau berhadapan dengan gelombang ombak, kau tidak memukul airnya. Kau membelah arusnya.
Awan menggeser kaki kanannya ke depan. Langkah Besi Jatuh: Jangkar Gunung.
Otot-otot perunggunya yang kini ditenagai oleh Esensi Darah Fana Purba mengembang. Urat-urat di leher dan lengannya menonjol, namun tidak lagi terlihat seperti cacing yang akan meledak, melainkan seperti rajutan kawat baja yang sangat padat.
Ia mengangkat pedang Bumi Pijar seberat tiga ratus kilogram itu tinggi-tinggi melampaui kepalanya. Ia tidak memfokuskan "Niat Pedang"-nya untuk menyerang, melainkan menyebarkannya ke seluruh bilah besi berkarat itu untuk memperkuat daya tahannya.
Menarik napas hingga rongga dadanya mengembang maksimal, Awan mengayunkan pedangnya ke bawah dengan kekuatan yang mengoyak hukum fisika.
Jurus Dasar: Menebas!
DHUUUUUARRR!
Bukan tebasan sihir, melainkan ledakan kinetik absolut. Massa tiga ratus kilogram yang digerakkan dengan kecepatan mengerikan oleh otot setara makhluk Fondasi Roh, menghantam udara dan tanah di depan Awan secara bersamaan.
Udara terkompresi hingga ke titik vakum, lalu meledak keluar membentuk gelombang kejut fisik (shockwave) berbentuk bulan sabit raksasa. Ubin pelataran batu di depannya meledak sejauh puluhan meter.
Gelombang kejut fana itu bertabrakan langsung dengan hujan ratusan sihir spiritual.
KRAASSH! BZZZT! BOOOM!
Bola-bola api padam seketika kehabisan oksigen. Tombak-tombak es hancur menjadi serbuk salju. Bilah-bilah angin terdistorsi dan berbalik arah, sementara petir spiritual tercerai-berai dihantam tekanan udara murni. Serangan ratusan kultivator itu dibelah dua layaknya tirai kertas yang dirobek oleh tangan raksasa!
"M-Mustahil!" jerit para kultivator di barisan depan saat melihat sihir mereka menguap begitu saja.
Gelombang kejut tebasan Awan tidak berhenti di situ. Sisa tekanan anginnya menyapu barisan terdepan pengepung. Belasan kultivator terpental ke udara, memuntahkan darah dengan tulang rusuk retak, seolah baru saja ditabrak oleh banteng tak kasat mata.
Belum sempat mereka mencerna mimpi buruk tersebut, suara retakan batu terdengar.
DHUM!
Awan telah menggunakan daya tolak Langkah Besi Jatuh untuk melesat maju. Kecepatannya kini tidak lagi meninggalkan bayangan, melainkan benar-benar menyerupai kilatan hitam. Ia melompat menembus sisa-sisa debu ledakannya sendiri dan mendarat tepat di jantung formasi tiga ratus kultivator tersebut.
Sang Serigala Fana telah masuk ke dalam kawanan domba spiritual.
"Serangan jarak dekat! Lindungi diri kalian!" teriak seorang kultivator yang memegang perisai baja spiritual. Ia segera menanamkan perisainya ke tanah, mengalirkan Qi elemen tanah untuk memperkuatnya.
Awan muncul tepat di depannya. Matanya datar tanpa emosi. Ia tidak menggunakan tebasan, melainkan membalikkan pedang Bumi Pijar-nya dan menggunakan sisi datar bilahnya yang lebar untuk melakukan hantaman tumpul (Menangkis yang dimodifikasi menjadi pukulan).
TANGGG!
Suara benturan logam yang sangat nyaring terdengar.
Perisai baja spiritual itu tidak terbelah, namun permukaannya melesak ke dalam membentuk cetakan pedang yang dalam. Momentum mengerikan dari pedang tiga ratus kilogram itu ditransfer langsung melewati perisai, menghantam kultivator di baliknya.
Kultivator itu menjerit saat kedua tulang lengannya patah berkeping-keping. Tubuhnya terlempar mundur layaknya boneka kain, menabrak lima kultivator lain di belakangnya hingga mereka semua bergulingan di tanah sambil memuntahkan darah.
"Monster! Dia monster!"
Seorang murid dari belakang mencoba menyelinap dan menusukkan pedang tajamnya lurus ke punggung telanjang Awan.
Clang!
Pedang spiritual tingkat rendah itu menembus jubah yang terikat di pinggang, namun saat ujungnya menyentuh kulit perunggu Awan, suara dentingan logam terdengar. Kulit Awan hanya meninggalkan titik putih, sementara pedang sang penyerang melengkung karena gagal menembus kepadatan otot fana purba tersebut.
Awan melirik ke belakang dari sudut matanya. Tanpa menoleh sepenuhnya, ia mengayunkan sikunya ke belakang, menghantam wajah kultivator malang itu.
PRAK! Hidung dan rahang kultivator itu hancur, membuatnya langsung pingsan sebelum tubuhnya menyentuh tanah.
Swush! BAM! KRAK!
Pelataran itu berubah menjadi ladang pembantaian yang tidak seimbang. Awan tidak membunuh mereka, ia hanya menggunakan sisi tumpul dan gagang pedang berkaratnya. Namun, setiap ayunan tangannya mematahkan kaki, meremukkan bahu, dan menghancurkan Dantian mereka melalui trauma benda tumpul.
Gaya bertarungnya sama sekali tidak indah. Tidak ada tarian pedang yang memukau, tidak ada cahaya surgawi. Hanya ayunan mekanis yang sangat efisien, cepat, dan brutal, persis seperti seorang penebang kayu yang sedang membereskan ranting-ranting semak belukar.
Darah mulai menggenang. Jeritan kesakitan dan rintihan menggema di mana-mana.
Dalam waktu kurang dari lima menit, lebih dari seratus kultivator telah terkapar tak berdaya. Sisa dua ratus kultivator lainnya terus mundur, wajah mereka dilukis oleh ketakutan absolut. Senjata mereka bergetar, dan lutut mereka lemas.
Mereka akhirnya menyadari satu kenyataan pahit: jumlah tidak ada artinya jika serangan mereka tidak bisa melukai sang mangsa, sementara satu sentuhan dari sang mangsa berakibat fatal bagi mereka.
Awan berhenti mengayunkan pedangnya. Ia berdiri di tengah-tengah lautan tubuh yang mengerang, napasnya sedikit teratur berkat vitalitas dari Esensi Darah Fana. Ia membiarkan ujung Bumi Pijar bersandar di lantai, meninggalkan goresan dalam pada ubin batu.
Ia menatap dua ratus kultivator yang kini merapat ketakutan di ujung pelataran.
"Dulu, saat aku membelah sepuluh ribu Kayu Besi Hitam setiap hari, tanganku berdarah, dan punggungku serasa mau patah," Awan berbicara dengan nada tenang, namun suaranya menembus jiwa mereka yang sedang gemetar. "Tapi kalian... jauh lebih rapuh dari kayu-kayu itu."
Awan mengangkat pedangnya, menyandarkannya di bahu kanannya.
"Aku bisa membunuh kalian semua di sini. Reruntuhan ini tidak memiliki hukum untuk menghukumku," kata Awan, matanya memancarkan hawa membunuh murni yang membuat beberapa murid terkencing di celana. "Tapi membunuh lalat yang ketakutan tidak akan membuat pedangku lebih tajam. Tinggalkan semua Kantong Penyimpanan dan Cincin Tata Ruang kalian di tanah, lalu enyahlah dari pandanganku. Jika ada yang masih memegang senjata dalam tiga hitungan... aku akan memastikan leher kalian terpisah dari tubuh."
"S-Satu..."
Clang! Trak!
Bahkan sebelum hitungan kedua diucapkan, ratusan pedang, tombak, dan tongkat spiritual dijatuhkan serentak ke lantai. Terdengar suara gemerincing saat puluhan Kantong Penyimpanan dilemparkan ke tanah secara acak.
Tanpa menunggu komando, dua ratus kultivator jenius dari berbagai faksi Sekte Daun Angin itu berbalik dan lari terbirit-birit, saling sikut dan dorong untuk menjauh sejauh mungkin dari pelataran Menara Warisan Pusat, seolah dewa kematian sedang bernapas di leher mereka.
Dalam waktu singkat, pelataran itu kembali sunyi, hanya menyisakan suara angin kencang dan erangan murid-murid yang terluka parah di tanah.
Awan menghembuskan napas panjang. Aura membunuh di matanya perlahan memudar. Ia menunduk menatap telapak tangannya.
"Vitalitas ini sungguh menakutkan," batinnya. "Aku baru saja mengayunkan pedang tiga ratus kilogram ratusan kali dalam mode tempur intens, tapi ototku hanya terasa hangat. Asam laktat hancur seketika sebelum sempat menumpuk."
Namun Awan tidak lengah. Ia tahu, Reruntuhan Lembah Angin hanya dibuka selama satu bulan. Berdasarkan perhitungan harinya, waktu pembukaan reruntuhan ini akan segera berakhir dalam hitungan jam. Celah spasial akan segera muncul untuk menarik mereka kembali ke sekte.
Ia berjalan santai, memunguti puluhan Kantong Penyimpanan dan cincin ruang yang ditinggalkan oleh para murid tersebut. Ia juga menghampiri tubuh Zhao Meng yang masih pingsan dan melucuti cincin spiritual tingkat tinggi dari jari jenius itu.
"Sekte akan gempar," Awan bergumam sambil memasukkan harta rampasan itu ke dalam kantongnya. "Wu Kang mati. Zhao Meng cacat parah. Ratusan Murid Luar terluka. Tetua Sekte Dalam pasti akan melakukan penyelidikan besar-besaran."
Meskipun pertarungan di reruntuhan tidak memiliki aturan, Awan hanyalah seorang manusia fana (di mata sekte) tanpa latar belakang klan. Klan Wu dan Klan Zhao pasti akan menekan sekte untuk mengeksekusinya atau menyerahkannya sebagai kambing hitam.
"Aku butuh sandaran, atau aku harus segera pergi dari sekte setelah menjual semua ini," Awan menimbang-nimbang.
Tiba-tiba, langit abu-abu di atas Reruntuhan Lembah Angin bergemuruh dahsyat. Sebuah celah spasial raksasa berwarna keunguan merobek langit, memancarkan cahaya terang yang menyapu daratan di bawahnya. Waktu satu bulan telah habis.
Cahaya spasial itu mulai menyelimuti tubuh para murid, termasuk Awan, menarik mereka ke atas untuk dikembalikan ke dunia luar.
Awan menatap pedang besi berkarat di tangannya, lalu menatap langit yang terbelah. Senyum tipis terukir di wajahnya yang berdebu.
"Biarkan saja badai datang," bisiknya saat cahaya ungu itu menelan tubuhnya.