Dua tahun lalu, Tsania memilih mengakhiri hubungannya dengan Arsen, pria yang sangat ia cintai. Bukan karena cinta itu hilang, melainkan karena sebuah rahasia pahit yang memaksanya pergi tanpa penjelasan. Sejak saat itu, mereka menjalani hidup masing-masing, menyimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Takdir mempertemukan mereka kembali dengan cara yang paling menyiksa.
Hari pertama bekerja di perusahaan impiannya berubah menjadi mimpi buruk ketika Tsania mengetahui bahwa CEO muda yang dingin, arogan, dan disegani semua orang adalah Arsen, mantan kekasih yang pernah ia tinggalkan. Kini, Arsen adalah bosnya.
Bagi Arsen, pertemuan itu bukan kebetulan, melainkan kesempatan untuk membalas rasa sakit yang selama ini ia pendam. Ia bersikap dingin, memberi tugas-tugas sulit, dan terus menguji kesabaran Tsania. Namun, di balik tatapan tajam dan sikap tak berperasaannya, masih tersimpan cinta yang tak pernah benar-benar padam.
apakah yang akan terjadi kepada mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tsania 17
"Satu hal lagi, Nu," ujar Arsen, suaranya berubah menjadi sangat serius.
"Bagaimana dengan tim detektif yang kupinta semalam?"
Danu melangkah lebih dekat, merendahkan volume suaranya hingga menjadi bisikan yang sangat tipis.
"Detektif independen yang kita sewa sudah mulai bergerak dari semalam mencari informasi kejadian tiga tahun lalu yang Valid dan mereka meminta waktu, karena kejadian harus mereka runtut dari tiga tahun ke belakang,"
"Berapa lama mereka butuh waktu?"
"Paling lambat empat hari, Arsen," jawab Danu mantap.
"Mereka aku minta melaporkan setiap kejadian yang terjadi kepada Tsania di masa itu dengan mendetail. Alasan dia meninggaklan kamu tanpa pamit dan menghilang begitu saja. Bahkan setelah satu tahun kejadian itu kita masih mencari Tsania. Namun ternyata keberadan Tsania saat itu tak pernah bisa kita temukan. Aku yakin kalau ada orang yang sudah menyembunyikan keberadaan Tsania,"
Arsen mengangguk perlahan. Manik matanya berkilat penuh dendam yang tersembunyi rapat di balik topeng kepatuhannya.
"Empat hari..." gumam Arsen.
"Makan malam pertunangan dengan Aurelia dijadwalkan hari Sabtu minggu depan. Itu artinya aku punya waktu cukup untuk mengumpulkan semua belati ini sebelum menikam balik kebohongan mereka di meja makan itu."
"Aku malah semakin yakin kalau yang melakukan hal ini adalah ayahku. Kamu tahu saat itu dia paling menentang hubunganku dengan Tsania. Dan saat itu dia meminta aku untuk masuk ke perusahaan ini sambil melanjutkan kuliahku di Singapura. Saat itu aku menolak karena tak bisa meninggalkan Tsania, aku tak bisa jauh darinya. Saat aku meminta syarat Tsania ikut, kamu tahu sendiri saat itu papaku hanya diam. Rencana perjodohan aku dan Aurelia aku yakin sudah lama di rencanakan oleh ayahku..." Arsen mengepalkan tangannya.
Di saat kepalanya mulaih dingin dan hatinya tenang, dia kembali mengingat masa lalu dengan benar. Tanpa emosi, tanpa ada rasa kesal dan amarah karena di tinggalkan tiba-tiba olehTsania.
"Tapi ingat risikonya, Arsen," sela Danu ragu.
"Kalau kamu membongkar ini semua di depan Pak Bisma dan keluarga Aurelia saat makan malam resmi nanti, kamu benar-benar akan menghancurkan hubungan dua keluarga besar. Saham Pratama Group bisa anjlok, dan Pak Bisma tidak akan pernah memaafkanmu."
Arsen menghentikan ketukan jarinya di meja. Pria itu mendongak, menatap Danu dengan sorot mata yang begitu hampa, seolah harta dan nama besar yang diagungkan ayahnya tak lebih dari sekadar tumpukan sampah yang tak bernilai.
"Kamu pikir aku peduli dengan saham atau pengampunan dari seorang ayah yang tega menjual kebahagiaan anaknya demi investasi, Nu?" tanya Arsen dengan nada datar yang mengerikan.
"Tiga tahun lalu aku kehilangan jiwa dan wanitaku karena kebohongan mereka. Jika Sabtu depan aku harus menghancurkan seluruh kekaisaran bisnis ini untuk mengembalikan nama baik Tsania, maka akan kuhancurkan sampai tak tersisa."
Danu menatap Arsen dalam diam. Ia bisa melihat bahwa Arsen yang berdiri di depannya kini bukan lagi pria pemarah yang didorong oleh dendam buta, melainkan seorang pria terluka yang siap mengorbankan seluruh dunia demi membayar penyesalannya pada satu-satunya wanita yang ia cintai.
"Baiklah," bisik Danu akhirnya, membungkuk hormat.
"Aku akan berdiri di belakangmu sampai permainan ini selesai, Arsen."
"Terima kasih, Nu," balas Arsen pelan.
"Sekarang, pergi ke rumah sakit. Pastikan pemindahan Tsania ke ruang VVIP berjalan lancar tanpa ada satu pun orang luar yang tahu."
"Siap, Pak Arsen."
Danu berbalik dan melangkah keluar dari ruangan, meninggalkan Arsen sendirian dalam keheningan ruang kerja yang megah namun terasa bagai penjara dingin.
Arsen menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi leather hitamnya. Pria itu merogoh saku kemejanya, mengeluarkan kembali cincin perak polos tanpa permata yang kusam oleh waktu. Ia mengusap permukaan dingin cincin itu dengan jemarinya yang gemetar, menempelkannya di bibirnya yang pucat.
"Bertahanlah sebentar lagi, Tsania..." bisik Arsen ke dalam keheningan ruangan yang hampa.
"Biarkan aku menjadi penjahat di matamu untuk beberapa hari ini, sampai aku bisa membawakan kebebasan dan kebenaran yang pantas kamu dapatkan."
Arsen merapikan kemeja hitamnya, mengancingkan kembali jas yang sempat ia lepaskan, lalu mengusap sisa jejak kelelahannya di depan cermin. Mata merah dan lingkaran hitam di bawah matanya tak bisa disembunyikan, namun aura dingin penuh intimidasi kembali membalut tubuh tegapnya.
Pria itu keluar dari ruang kerja CEO, menyusuri koridor pribadi, lalu melangkah menuju lift eksekutif. Tombol angka 8 ia tekan.
Lantai delapan, area kantor konsultan perencana arsitektur yang menyewa salah satu sayap gedung Pratama Group. Begitu pintu lift terbuka, suasana dinamis khas studio desain menyambutnya. Beberapa staf yang mengenali Arsen langsung menegang dan membungkuk hormat, terkejut melihat sang CEO Pratama Group mendatangi area mereka tanpa pengawalan.
"Di mana ruangan Raihan Anugrah?" tanya Arsen dingin pada seorang resepsionis yang tampak pias.
"A...ada di ujung koridor sebelah kanan, Pak Arsen... Ruangan Arsitek Utama," jawab resepsionis itu terbata-bata.
Tanpa mengucap terima kasih, Arsen melangkah tegap menuju ruangan yang ditunjuk. Ia berdiri di depan pintu kaca berbingkai kayu jati, mengetuknya dua kali secara formal, lalu menggeser pintu tersebut tanpa menunggu izin dari dalam.
Raihan yang sedang meneliti gulungan cetak biru di atas meja kerjanya mendongak. Alisnya berkerut tajam saat mengenali sosok tinggi besar yang berdiri di ambang pintunya.
"Pak Arsen?" ujar Raihan, suaranya tenang namun diwarnai nada ketegangan yang jelas. Ia meletakkan pensil gambarnya dan berdiri tegak dari kursi.
"Ada keperluan apa CEO Pratama Group mendatangi ruangan saya?"
Arsen masuk ke dalam, menutup pintu kaca di belakangnya hingga menyisakan ruang kedap suara di antara mereka berdua. Pandangan Arsen menilai penampilan Raihan dari atas ke bawah. Sederhana, kemeja gulung siku, dengan raut wajah tegas dan matang. Pria asing yang secara kebetulan berada di tempat yang tepat untuk menolong Tsania saat dirinya justru menjadi alur penderitaan wanita itu.