Kinan harus memilih antara dua pilihan yang ada. Apakah dia akan terus bersembunyi dalam musim dingin yang damai atau berani melangkah menghadapi kenyataan yang sempat ia sangkal dan merasakan sesuatu yang baru. Karena terkadang, kita harus kehilangan segalanya agar kita bisa benar-benar menemukan jati diri.
Lux in Winter yang akan berisi 40 chapter ini, bukan hanya sekedar kisah tentangnya semata. Ini adalah sebuah perjalanan panjang melepaskan, mencintai dan menemukan cahaya di tempat yang paling tidak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ryn Takumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8 - Pelangi Abu
Nathan membuka pintu kaca Alleria cake shop dan Elena melangkah masuk tepat di belakangnya. Begitu pintu terbuka, aroma harum dan manisnya mentega dan coklat yang semerbak langsung menyambut mereka.
Elena tampak tak bisa menyembunyikan antusiasmenya. Matanya menjelajahi setiap sudut interior unik yang menghiasi tempat itu.
"Wah, vibe-nya bener-bener keren dan juga menenangkan deh. Emang bener kata orang-orang! Gak nyangka bakal se-cozy ini."
Nathan hanya diam, mengamati Elena yang mulai mengoceh sendiri tentang segala hal yang ia temui di sekelilingnya.
"Lantainya, langit-langitnya, desain meja kursinya dan..." Mata Elena beralih ke arah tangga. "Liat, Nath. Keren juga lampu gantungnya. Kenapa aku baru tau tempat yang kayak gini ya? Harusnya dari dulu sebelum viral."
"Terlalu sibuk dengan pekerjaanmu," sahut Nathan singkat.
Langkah mereka belum beranjak jauh dari pintu masuk. Elena masih tak kuasa memalingkan pandanganya dari keindahan interior yang didominasi warna cokelat dengan pendar lampu kuning hangat yang memberi kesan damai dan tenang meski suasana di dalamnya cukup ramai.
Tak lama kemudian, seorang pelayan menghampiri mereka dengan senyum ramah. "Kak Nathan, ya? Silahkan."
Pelayan itu menuntun mereka menuju lantai dua, menaiki tangga kayu kecil, lau mengarah ke sudut ruangan, tepat di samping jendela kaca besar yang menghadap langsung ke jalanan kota.
Elena duduk di depan Nathan dengan ekspresi bingung. Dua buku menu disodorkan oleh pelayan itu dengan sopan. "Ini buku menunya, Kak. Silahkan dilihat-lihat dulu."
"Terima kasih," jawab Nathan dengan suara pelan sembari melirik ke pelayan tersebut.
Elena mengedarkan pandangan, lalu sedikit mengerutkan kening begitu pelayan itu pergi. "Eh, seriusan ini? Berasa kayak tamu spesial," bisiknya ke arah Nathan dengan raut setengah heran, setengah kagum.
"Heran?"
"Banget. Dari awal aja udah disambut. Sampe dianter ke meja pula."
"Hampir setiap hari Minggu aku kesini," jawab Nathan, tersenyum tipis melihat ekspresi Elena.
"Masa cuman karena itu doang?"
"Dan udah bertahun-tahun. Bahkan sebelum banyak orang tahu tempat ini serta viral akhir-akhir ini kayak apa katamu," jelas Nathan.
"Hmm, sekarang jadi masuk akal sih. Anggap aja dirimu adalah pelanggan setia tempat ini. Tapi kok ya bisa-bisanya kamu gak ngasih tau aku kalo ada tempat sebagus ini dari dulu? Parah banget sih," gerutu Elena.
Nathan hanya tersenyum. Sementara itu, Elena mulai membuka buku menu, membolak-balik halaman tanpa tahu menu mana yang mau dipilih. Tak lama, pelayan tadi kembali dengan membawa nampan berisi dua gelas jus jeruk dan sepiring kue kering manis.
"Welcome drink dan snack-nya, Kak," ucapnya ramah sembari menata gelas dan piring diatas meja dengan rapi. "Apakah saya bisa mencatat pesanannya sekarang?"
Nathan mengangguk, lalu menyebutkan pesanannya terlebih dahulu. "Rainbow cake satu, tapi cherry-nya tolong diganti dengan krim cokelat saja. Lalu minumnya... hot mocca latte. Udah, itu saja."
Pelayan itu mencatat dan mengulangi pesanan Nathan, sebelum akhirnya mengalihkan pandangan ke Elena. "Kalau Kakaknya?"
Elena masih tampak kebingungan. Ia terus membolak-balik halaman buku menu seolah-olah sedang memilih pasangan hidup. Akhirnya ia menghela napas pelan. "Hmm... aku cheese croissant deh, satu. Terus minumnya... hot green tea aja," putusnya sembari menutup buku menu.
Pelayan itu mencatat pesanan Elena dan mengulanginya sekali lagi untuk memastikan tidak ada pesanan yang terlewat. "Baik. Ditunggu sebentar ya, Kak."
Setelah pelayan itu meninggalkan meja, Elena tak sengaja mendapati Nathan tampak termenung dengan mata yang masih tertuju pada punggung sang pelayan. Keheningan singkat muncul sebelum Elena akhirnya memecahkannya saat rasa penasaran muncul dibenaknya.
"Eh, Nath. Kenapa?" tanya Elena sembari memukul pelan meja.
Nathan sedikit tersentak, buyar dari lamunannya.
"Kayaknya kamu merhatiin banget pegawai tadi."
"Huh? Emang iya?"
"Hayooooo..." goda Elena santai, meski sejujurnya rasa penasarannya cukup besar.
Nathan melihat ekspresi Elena yang tampak tengah menunggu jawaban. Ia lantas memalingkan wajahnya ke luar jendela, seakan baru menyadari kalau dirinya memang sempat terlalu larut mengamati pelayan tadi.
"Gak apa. Cuman... aku belum pernah liat dia sebelumnya. Mungkin kayaknya dia emang pegawai baru," jawab Nathan santai, walau sorot matanya masih menyiratkan hal lain.
"Oh, begitu. Kirain kenapa."
"Hmm."
Nathan berusaha tetap terlihat biasa saja, meski ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya. Ia merasa ada hal yang tak biasa dari pelayan itu, tetapi ia sengaja menahannya agar Elena tidak semakin penasaran dan bertanya lebih lanjut.
Tak lama setelah obrolan ringan mereka, pelayan yang sama kembali membawa nampan berisi pesanan mereka berdua. Dengan penuh hati-hati, ia meletakkan sajian itu satu per satu di atas meja.
"Selamat menikmati, Kak," ucapnya ramah sambil mengambil kembali buku menu lalu pergi.
"Nath," panggil Elena tiba-tiba. Suaranya sedikit memelan. "Sebenernya, aku pengen ngomongin soal ini tadi pas di dojo. Tapi kayaknya emang lebih enak kalo diobrolin disini."
Nathan menatap Elena sambil menyeruput minumannya. "Soal apa? Katamu penting banget."
"Kevin." Mata Elena berbinar sangat antusias. "Katanya, dua minggu lagi dia mau balik kesini dan mampir ke dojo. Udah ama banget gak ngeliat dia langsung. Hampir setahun ya, kan?"
Nathan menaikkan sebelah alisnya. "Oh, dia."
"Iya!"
"Terus?"
"Aku kepikiran pengen ngasih dia sesuatu gitu, sebagai hadiah buat dia nanti pas udah kesini."
"Hadiah, ya..."
"Hmm. Tapi aku bingung mau ngasih apa. Kamu kan dulu cukup dekat dengan seniormu itu. Menurutmu, Kevin suka apa? Atau sesuatu yang kayak bagaimana?"
Nathan terdiam sejenak, raut wajahnya berubah seperti sedang mengingat-ingat. "Setahuku, dia kayaknya orang yang gak terlalu neko-neko dan cukup simpel sih. Tapi... coba kamu kasih sesuatu yang manis-manis gitu, kayak kue. Dulu dia paling doyan kue buatan..."
Nathan mendadak terhenti dan sengaja menelan kelanjutan kata-katanya.
"Ya pokoknya kue yang manis-manis gitu deh," ralat Nathan cepat.
Elena mengangguk, mendengarkan saran itu dengan saksama meskipun sempat menangkap perubahan samar pada ekspresi Nathan. Elena memilih untuk tidak menyinggungnya saat ini, lalu mengalihkan topik pembicaraan.
Waktu seolah berjalan lebih cepat dari biasanya. Elena menyantap potongan terakhir cheese croissant di piringnya, lalu melirik Nathan yang baru saja menuntaskan tegukan terakhir mocca latte-nya.
"Nath, Aku jadi kepikiran sesuatu deh," ujar Elena memulai kembali obrolan.
"Apa?"
"Gimana kalo aku bikin kue sendiri buat hadiah Kevin? Daripada beli ya, kan? Biar berasa lebih spesial gitu."
Nathan berusaha menahan tawanya. "Bikin sendiri?"
"Iya."
"Huh? Yakin mau bikin sendiri?" pekik Nathan tak percaya.
"Ya... yakin gak yakin juga, sih. Kalo berusaha pasti bakal ada hasilnya, kan? Tapi... masalahnya aku sendiri belum pernah bikin kue selama hidupku."
"Terus gimana kalo gagal?"
"Iya juga, ya..." Wajah Elena tampak berubah ragu. "Tapi, ya dicoba aja dulu! Atau..."
"Atau apa?" potong Nathan seolah paham apa yang akan Elana katakan.
"Atau mungkin kamu yang harus bantu aku nanti," ucap Elena dengan nada setengah bercanda.
"Jangan harap. Aku sendiri udah gak mau berurusan dengan kue atau semacamnya."
Tawa mereka pecah bersamaan, terdengar ringan tanpa beban. Tanpa terasa, matahari kian condong ke barat, melukis langit senja yang indah dan hangat.
Nathan melirik jam di pergelangan tangannya. "Udah sore," gumamnya.
"Iya juga. Cepet banget rasanya. Cabut sekarang yuk."
Keduanya bangkit dari tempat duduk. Nathan mengenakan jaketnya, sementara Elena menyampirkan tas kecil di bahunya. Mereka menuruni setiap anak tangga dengan hati-hati sembari memperhatikan suasana lantai satu yang kini jauh lebih ramai daripada lantai atas.
Nathan sempat melirik pelayan yang melayani mereka tadi. Cewek itu tampak sibuk mondar-mandir membawa nampan ke meja-meja pelanggan.
Begitu mendorong pintu keluar cake shop, semilir angin sore langsung menyapa Nathan dan Elena. Arus kendaraan masih berlalu-lalang di jalanan kota, pertanda waktu terus berputar, meninggalkan banyak hal untuk dipikirkan dan untuk dikenang.
Karena arah rumah mereka berlawanan, Nathan dan Elena berpisah tepat di depan cake shop. Jalan yang dilalui Nathan cukup padat saat di sore hari, walau tak sampai memicu kemacetan berarti.
Langit masih cukup terang ketika Nathan sampai di kos. Saat membuka pintu, ia mendapati Riki duduk di sofa, kembali menatap layar laptop dengan serius sambil memencet-mencet stik game.
Riki menyadari kehadirannya. "Eh, Nath. Tadi Mbak Riska tadi ke sini ngasih puding sama sayur di rantang buat kita. Udah aku taruh di kulkas tuh."
"Ohh.. Oke."
Riki kembali tenggelam ke dalam game-nya, sementara Nathan melangkah menuju kamarnya. Ia menaruh tas, membuka jendela, meraih handuk di balik pintu, lalu bergegas mandi.
Tak berapa lama, penampilan Nathan sudah berganti segar: kemeja putih lengan panjang, celana jeans biru yang rapi, sneakers putih serta rambut yang sudah tersisir rapi.
Riki muncul dari balik pintu depan sambil membawa sebungkus cilok, tepat sesaat setelah Nathan melangkah keluar dari pintu kos.
"Mau berangkat, Nath?" tanya Riki basa-basi.
"Hmm."
"Mau?" Riki menyodorkan jajanan yang ia bawa. Namun tanpa diduga, Nathan dengan sigap mengambil seluruh bungkus cilok itu. "Yeee... jangan semuanya juga dong."
Nathan hanya terkekeh saat Riki buru-buru merebut kembali jajan miliknya.
"Dah, berangkat dulu."
"Kampret," gerutu Riki sambil meniup ciloknya yang masih beruap.
Nathan memacu motornya melewati rute yang berbeda dari jalurnya saat pergi latihan tadi siang. Suasana jalan ini jauh lebih tenang dan lengang dari kendaraan, meski ia sempat memperhatikan beberapa mobil yang terparkir memakan bahu jalan serta dua ekor kucing yang mendadak berlarian menyeberang.
Sebelum sampai di tempat yang dituju, Nathan menyempatkan diri berhenti di depan sebuah toko bunga. Bangunannya berdiri diantara deretan rumah makan. Tak terlalu besar, tidak pula kecil, tetapi dipenuhi aneka warna dan ragam bunga.
Ia melangkah masuk, menyusuri deretan rangkaian bunga dengan raut tenang, sementara sorot matanya yang menyimpan suatu perasaan yang begitu dalam. Nathan melangkah menuju ke salah satu pegawai toko.
"Permisi," sapa Nathan pelan begitu mendekati meja kasir.
"Iya, Kak? Ada yang bisa dibantu?" tanya pegawai toko dengan senyum ramah,
"Mau ngambil pesanan atas nama Nathan."
"Oh, baik. Tunggu sebentar ya, Kak."
Sesaat kemudian, pegawai itu kembali seraya membawa satu buket bunga lili putih yang mekar sempurna. Nathan menerimanya, membisikkan ucapan terima kasih singkat, lalu bergegas pergi menuju tempat tujuannya.
Langit senja meredup berhias awan mendung. Deru angin berembus pelan, menerbangkan dedaunan kering yang berguguran perlahan menemani setiap jejak langkahnya.
Nathan menyusuri jalan setapak yang sudah berkali-kali ia lewati, menuntunnya ke satu sudut teduh di bawah rindangnya pepohonan.
Sebuah batu nisan berdiri tenang di sana, dikelilingi rumput hijau yang terawat rapi. Nathan duduk berlutut di sampingnya, mengusap lembut daun-daun gugur yang mengotori permukaan batu, lalu perlahan meletakkan buket lili putih di hadapan nisan itu.
Nathan terdiam, menatap lama sebuah nama yang terukir di sana. Bibirnya terasa berat untuk berucap. Hingga akhirnya, dengan satu tarikan napas panjang, sebuah gumaman lirih keluar dari mulutnya.
"Aku kembali lagi."
Angin berhembus kencang di sela keheningan. Tatapan Nathan masih terpaku pada nama itu.
"Tak ada yang spesial hari ini. Tak ada banyak hal yang bisa aku ceritakan padamu hari ini. Hanya saja.. hari ini aku memimpikanmu. Benar-benar terasa seolah kamu ada di depanku," gumamnya pelan, seperti sedang menyapa seseorang yang sudah lama tak ia temui.
Pandangannya perlahan mulai kosong, tetapi tak mencerminkan ketenangan maupun kedamaian. Matanya berkaca-kaca, berusaha sekuat tenaga menahan air matanya agar tak jatuh, tidak seperti dulu. Tak ada lagi yang bisa disembunyikan dari raut wajahnya selain kerinduan yang begitu dalam, yang tetap tinggal meski waktu terus berlalu.
"Maaf, aku belum bisa memenuhi pintamu hingga sekarang. Bukan karena aku tak mau. Aku hanya belum tahu... aku harus bagaimana."
Nathan terdiam sejenak, terus menatap batu nisan di depannya seolah menanti jawaban darinya.
"Atau... mungkinkah kamu sengaja meminta sesuatu yang memang tak mungkin bisa untuk kulakukan? Kalau kamu mendengarku di sana, kumohon beritahu aku."
Air matanya perlahan luruh tak terbendung lagi, membasahi pipinya tanpa ia sadari.
Senja yang sedari tadi menemaninya perlahan beranjak pergi. Langit berganti warna selaras dengan hatinya yang masih bertarung antara rindu dan pasrah. Daun-daun terus berguguran diterpa angin yang kian dingin.
"Lihatlah... berkat dirimu aku bisa sejauh ini," ucap Nathan seraya perlahan bangkit berdiri. "Semoga kamu selalu bahagia disana."
Dengan langkah yang sedikit berat, ia melangkah meninggalkan area pemakaman itu, membiarkan semua kenangan itu tetap tinggal rapi di ingatannya. Namun kali ini, ada satu hal yang terasa berbeda.
Sebelum benar-benar keluar dari area makam, Nathan sempat menghentikan langkah dan menoleh ke belakang. Ia seolah merasakan ada tatapan yang menusuk punggungnya. Namun, yang tampak hanyalah batang pohon tua tanpa bayangan.
Ia menggeleng pelan. "Mungkin hanya perasaanku."