NovelToon NovelToon
Pengasuh Hebat Kesayangan CEO Dingin

Pengasuh Hebat Kesayangan CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Reinkarnasi / Pengasuh / Penyesalan Keluarga
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Stellune

Naura diberi kesempatan hidup kedua setelah mati karena kerja dan keluarga yang terus memerasnya. Kali ini, ia menolak jadi ATM untuk orang tua dan adik laki-lakinya. Ia meninggalkan karier bergengsi di dunia keuangan Jakarta, lalu memilih bekerja sebagai pengelola rumah tangga profesional untuk keluarga elite.
Siapa sangka, keputusannya justru membawanya bertemu Arkan Pradipta, CEO dingin yang ditakuti banyak orang, tetapi kacau dalam urusan hidup sehari-hari.
Di antara kontrak kerja, rahasia masa lalu, keluarga toksik, dan perasaan yang makin sulit ditolak, Naura harus memilih: terus bersembunyi, atau merebut hidup yang sejak awal memang miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stellune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Bab 26

Naura dan Salsa berangkat ke Kudus tiga hari sebelum Lebaran.

Salsa menyetir mobil kecil milik orang tua angkatnya. Naura duduk di samping, membawa dua koper kecil dan beberapa kantong oleh-oleh. Tidak banyak. Hanya yang ia beli untuk Pakde Darma, Bude Sari, dan keluarga Pak Beni yang membesarkan Salsa.

Tidak ada satu pun untuk Harto, Sulastri, atau Bagas.

Salsa menyadarinya saat mereka berhenti di rest area.

"Kak."

"Hm?"

"Kakak benar-benar nggak beli apa pun untuk mereka?"

Naura sedang membuka tutup botol air mineral. "Tidak."

Salsa menatapnya dengan campuran kagum dan takut.

"Dulu Kakak beli paling banyak untuk mereka."

"Dulu aku masih berharap."

Salsa tidak langsung menjawab.

Di luar mobil, orang-orang berlalu-lalang membawa anak, koper, dan kardus oleh-oleh. Suasana mudik selalu aneh bagi Naura. Semua orang terlihat pulang ke tempat yang dirindukan. Ia dulu pulang ke tempat yang membuat dadanya sesak, hanya karena kata orang, Lebaran harus sungkem kepada orang tua.

Salsa memegang setir, pandangannya ke depan.

"Kakak masih sakit hati sama aku?"

Naura menoleh cepat.

"Kenapa tanya begitu?"

"Karena dulu aku yang pergi dari rumah itu. Aku diangkat anak Pak Beni dan Bu Lilis. Hidupku jadi lebih baik. Kakak yang tertinggal."

Naura menatap adiknya lama.

Salsa masih kecil waktu itu. Sulastri berkata keluarga Pak Beni tidak punya anak dan ingin mengangkat Salsa. Semua orang menyebutnya rezeki. Tapi Naura ingat uang yang masuk ke tangan Harto. Ingat Sulastri membeli gelang emas kecil setelahnya. Ingat Bagas mendapat sepeda baru.

Ia juga ingat Salsa menangis di depan rumah, memegang boneka lusuh, tidak mengerti kenapa harus ikut orang lain.

Tetapi keluarga Pak Beni mencintai Salsa.

Itu satu-satunya alasan Naura tidak hancur sepenuhnya.

"Sa," kata Naura pelan, "kamu waktu itu anak-anak. Yang salah bukan kamu."

Mata Salsa memerah.

"Tapi Kakak sering datang diam-diam lihat aku."

"Karena aku kangen."

"Aku juga."

Naura menggenggam tangan adiknya.

"Kita sama-sama selamat dengan cara berbeda."

Salsa mengangguk sambil menghapus air mata cepat-cepat.

"Jangan bikin aku nangis di rest area. Nanti eyeliner luntur."

Naura tertawa.

Perjalanan berlanjut. Jalan tol padat, tapi tidak macet parah. Mereka bergantian memutar lagu lama, membeli tahu bakso, dan membicarakan hal-hal ringan.

Namun semakin dekat ke Kudus, dada Naura semakin berat.

Ponselnya sudah beberapa kali bergetar.

Sulastri.

Harto.

Bagas.

Ia tidak mengangkat.

Pesan masuk dari Sulastri:

`Kamu pulang hari ini kan? Jangan bikin malu. Tetangga sudah tanya.`

Bagas:

`Bawain uang cash. Di rumah banyak kebutuhan Lebaran.`

Naura menatap pesan itu tanpa ekspresi.

Salsa melirik. "Mereka?"

"Iya."

"Kita langsung ke rumah Pakde?"

"Langsung."

"Kalau mereka datang?"

"Kita lihat cara mereka datang."

Salsa mengangguk.

Salsa mengencangkan pegangan pada ponselnya. Sejak kecil, ia paling takut melihat rumah ramai saat orang dewasa bertengkar. Di Jakarta, ia bisa kabur ke kamar kos, ke lokasi syuting, atau ke kafe murah dekat kampus. Di Kudus, semua suara menempel pada dinding rumah tetangga.

"Kalau Mbak capek, kita balik malam ini juga," katanya.

Naura menoleh sebentar.

"Kamu juga capek."

"Aku masih sanggup."

"Aku tahu."

Naura menurunkan kaca sedikit. Angin sore masuk membawa bau tanah basah dan daun pisang. Ia pernah membenci jalan pulang karena setiap tikungan terasa seperti panggilan untuk menyerah. Hari itu, rasa takutnya masih ada, tetapi ia tidak lagi sendirian di kursi depan.

"Kita tidak kabur," kata Naura. "Kita pulang ke rumah yang benar."

Sore menjelang magrib, mereka masuk jalan kampung. Rumah-rumah mulai ramai. Anak-anak bermain petasan kecil. Ibu-ibu duduk di teras sambil membersihkan toples kue. Bau opor, bawang goreng, dan asap dari dapur bercampur di udara.

Naura mengenal jalan itu.

Terlalu mengenal.

Di ujung gang, rumah Harto dan Sulastri berdiri lebih besar daripada dulu. Dua lantai, cat hijau muda, pagar besi. Rumah itu dibangun dari uang yang bertahun-tahun ia kirim.

Namun Salsa tidak berhenti di sana.

Ia melewati rumah itu.

Naura melihat sekilas dari jendela.

Di teras, Sulastri berdiri.

Mata mereka bertemu.

Wajah Sulastri berubah.

Salsa menekan gas sedikit.

"Jangan berhenti," bisik Naura.

"Aku nggak mau berhenti."

Mobil berhenti di rumah Pakde Darma, hanya beberapa rumah dari sana. Rumah itu lebih sederhana, satu lantai, halaman bersih, pohon jambu di samping. Lampu teras sudah menyala.

Bude Sari keluar bahkan sebelum mobil mati.

"Naura!"

Suara itu membuat dada Naura pecah.

Ia turun dari mobil.

Bude Sari memeluknya erat. Tidak bertanya oleh-oleh. Tidak bertanya gaji. Tidak bertanya kenapa lama tidak pulang.

Hanya memeluk.

"Kamu kurusan atau Bude yang kangen?" Bude Sari melepas pelukan, memegang wajahnya.

Naura tersenyum. "Bude selalu bilang begitu."

Pakde Darma keluar dari dalam rumah, memakai sarung dan kaus putih.

Wajahnya keras seperti biasa, tetapi matanya hangat.

"Pulang juga."

Naura menunduk mencium tangannya.

"Pakde."

Pakde Darma menepuk kepalanya pelan. "Masuk. Makanan sudah siap."

Salsa ikut mencium tangan mereka.

Bude Sari langsung menariknya. "Salsa makin cantik. Sini, Bude lihat."

Rumah itu penuh aroma sayur lodeh, ayam goreng, dan sambal terasi. Di meja ada empat piring. Bukan kebetulan. Mereka memang menunggu.

Naura melihat piring-piring itu.

Matanya panas.

Dulu, setiap pulang ke rumah Harto, ia sering menemukan dapur dingin. Sulastri akan berkata, "Kamu kan sudah besar. Kalau lapar masak sendiri."

Di sini, ia selalu punya piring.

Bude Sari menyadari tatapannya.

"Kenapa? Lauknya kurang?"

Naura menggeleng cepat.

"Cukup, Bude. Banyak."

Pakde Darma duduk. "Makan dulu. Cerita nanti."

Mereka makan.

Tidak ada yang menagih uang.

Tidak ada yang bertanya gaji.

Pakde hanya bertanya apakah jalan macet. Bude bertanya apakah Naura masih suka sambal terasi. Salsa bercerita sedikit soal syuting, membuat Bude berkali-kali beristigfar karena dunia artis terdengar terlalu liar.

Naura tertawa untuk pertama kalinya di kampung itu tanpa rasa takut.

Setelah makan, suara dari luar terdengar.

Pagar dibuka keras.

"Naura!"

Sulastri.

Salsa langsung menegang.

Bude Sari menaruh gelas dengan pelan. Wajahnya berubah.

Pakde Darma berdiri.

Naura juga berdiri, tetapi Pakde mengangkat tangan.

"Duduk."

"Pakde..."

"Kamu tamu di rumah ini. Biar Pakde yang buka pintu."

Kalimat itu membuat Naura terdiam.

Tamu.

Di rumah ini, ia bukan anak yang harus maju menerima pukulan.

Pakde Darma berjalan ke teras.

Suara Sulastri langsung terdengar lebih keras.

"Mas Darma, Naura ada di sini kan? Dia lewat rumah sendiri tapi tidak mampir. Anak macam apa itu?"

Pakde Darma menjawab tenang.

"Rumah sendiri yang mana, Lastri?"

Sulastri terdiam.

Pakde melanjutkan, suaranya tidak keras, tapi tegas.

"Kalau kamu datang baik-baik untuk silaturahmi, masuk. Kalau datang untuk ribut, pulang."

Di ruang makan, Naura menggenggam ujung meja.

Salsa memegang tangannya.

Malam pertama di Kudus baru dimulai.

Dan kali ini, Naura tidak berdiri sendirian.

1
Rahman Hayati
mantul lanjut terus
jgn setengah 2 ya
Lili Inggrid
ceritanya bagus
Yusar bin ajo
cerita yg sangat bagus sekali
Yusar bin ajo
semangat ya author ceritanya sangat bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!